02. Saat Profesionalisme Retak

1101 Words
Sentuhan ringan di tangannya membuat Gavin tersadar. Jarinya refleks menegang sebelum dia menyadari apa yang terjadi. Dia menunduk, menatap tangan yang disentuh Alea, lalu mengangkat pandangan, bertemu mata wanita itu kembali. Alea tersenyum, senyum yang terlihat tulus. “Kau benar Gavin, kan?” Pertanyaan itu membuatnya diam sesaat. Lima tahun, tak lebih lama dari kebersamaan yang pernah mereka ukir. Dan Alea masih harus memastikan? Gavin mengangguk kecil. “Ya. Kau tak salah ingat.” Sentuhan di tangannya segera ditarik, seolah Alea baru menyadari jarak yang seharusnya ada. Namun justru saat itulah, Gavin merasakan sesuatu yang tak seharusnya, ketidaksukaan karena kehilangan sentuhan itu. “Aku tak mengira kita akan bertemu di sini,” lanjut Alea. Gavin menatapnya lebih saksama. Ucapan itu terdengar jujur. Terlalu jujur untuk dianggap basa-basi. Padahal Alea tahu betul di mana dia melamar pekerjaan, perusahaan milik keluarga Gavin. Fakta yang seharusnya membuat pertemuan ini tak terhindarkan. Atau … mungkinkah ada hal yang tak dia ketahui? Gavin mengalihkan pandangan, berusaha menata ulang ekspresinya. “Ini hari pertamamu bekerja?” Alea mengangguk kecil. “Iya. Aku cukup gugup, tapi … aku juga tak sabar.” Nada suaranya ringan, nyaris bersemangat. Ada binar di matanya yang sulit diabaikan, binar yang terlalu familiar. Tanpa sadar, sudut bibir Gavin terangkat. Dia ingat Alea yang dulu. Cara yang sama saat dia mengajaknya bolos kelas hanya untuk mencari sesuatu yang terasa hidup di luar pagar sekolah. Gavin segera menegakkan wajahnya kembali. “Itu wajar,” katanya datar. “Hari pertama memang selalu terasa seperti itu.” Lift berhenti di salah satu lantai. Pintu terbuka. Dua orang staf masuk, memecah ruang sempit itu. Udara yang tadinya terasa berat mendadak berubah formal. Alea sedikit menjauh, menggenggam kembali tasnya. Senyumnya memudar, berganti dengan sikap profesional. Gavin menatap angka lantai yang kembali bergerak naik. Obrolan itu terlalu singkat, dan justru karena itu, Gavin menginginkan lebih. Dia melirik Alea dari sudut matanya. Wanita itu kini menunduk, berdiri di sudut lift yang paling jauh darinya, seolah jarak adalah pilihan yang sengaja dia ambil. Sikap itu membuat d**a Gavin mengencang tanpa alasan yang jelas. Apakah ini akan menjadi satu-satunya percakapan mereka? Gavin kembali menatap lurus ke depan. Terlalu cepat untuk menarik kesimpulan, katanya pada diri sendiri. Terlalu cepat untuk berharap. Namun jemarinya bergerak sendiri, menyentuh punggung tangannya, tempat sentuhan Alea tadi sempat tertinggal, hangatnya seolah belum sepenuhnya hilang. Dan di balik semua logika yang dia bangun rapi, satu pikiran yang tak seharusnya muncul, dia berharap ini bukan yang terakhir. Pintu lift terbuka. Gavin melangkah keluar tanpa menoleh kembali. Dia berjalan lurus seolah apa pun yang terjadi di dalam lift barusan tak pernah ada. Begitu tiba di ruangannya, Dion sudah berdiri di sana. “Selamat pagi, Mr. Gavin. Hari yang cerah, bukan?” Gavin berjalan ke kursinya, lalu duduk tanpa melihat ke arah sahabatnya. “Terlalu bahagia pagi begini,” katanya datar. “Kurasa ada hal bagus terjadi di hidupmu?” Dion terkekeh, mengikuti Gavin mendekat ke meja. Dia bersenandung kecil sebelum berkata, "Kencanku berjalan lancar kemarin. Bahkan kami—” Dia menepuk kedua tangannya sekali, penuh arti. Gavin melirik gerakan itu sekilas, lalu meringis. “Masih pagi dan kau sudah mencemari otakku.” “Itu berbagi kasih sayang,” balas Dion santai. Dia bersandar ke meja Gavin, melipat tangan di d**a. “Hubungan kami cukup tegang akhir-akhir ini. Jadi ini … pencapaian.” Dia meregangkan tangan ke atas. “Akhirnya aku bisa bekerja dengan tenang sekarang.” Gavin menatap Dion sesaat, ada simpati tipis di sana. Dia masih ingat betul betapa berantakan fokus Dion beberapa waktu lalu. “Aku akan minta mereka menghapus artikel tentang rumor kita,” kata Gavin akhirnya. “Itu pasti sangat menyulitkanmu.” Dion berhenti tersenyum. “Apa maksudmu?” “Aku tahu,” jawab Gavin singkat. “Meskipun kau tak mengatakannya. Pacarmu itu, kalau sudah cemburu, logikanya ikut hilang.” Dia mengangkat pandangan. “Dia bahkan percaya rumor kita.” Dion menghela napas, lalu mengangguk kecil. “Aku sudah menduganya.” Gavin mencondongkan tubuh ke depan, jemarinya saling bertaut. “Ini salahku. Aku yang jadi bahan gosip, kau yang kena imbas.” Dion menatapnya, ekspresinya melunak. “Hei,” katanya pelan. “Aku tahu risikonya sejak lama. Lagi pula, kalau orang lain mau percaya hal yang tak masuk akal, itu bukan tanggung jawab kita.” Gavin terdiam. Untuk sesaat, pikirannya melayang ke satu wajah lain, wanita yang berdiri terlalu jauh di sudut lift tadi pagi. “Aku sudah bertemu Alea.” Lipatan tangan Dion mengendur. Seluruh perhatiannya kini tertuju pada Gavin. “Benarkah?” Nada suaranya otomatis menurun. “Kalian mengobrol?” Gavin mengangguk kecil. “Hanya obrolan singkat. Di lift.” Dion tak langsung menanggapi. Dia menatap Gavin beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tak diucapkan. “Dengan posisi kalian sekarang,” ucap Dion akhirnya, lebih hati-hati, “pasti agak sulit untuk berinteraksi secara normal.” Dia memiringkan kepala. “Kalau begitu … mau aku aturkan waktu pertemuan resmi untuk kalian?” Gavin mendongak. Ketertarikan itu muncul begitu cepat hingga hampir tak sempat dia sembunyikan, lalu menghilang, digantikan ekspresi netral yang biasa dia kenakan. “Tak perlu,” jawabnya singkat. Namun jeda sepersekian detik sebelum kata-kata itu keluar sudah cukup memberi tahu Dion bahwa pertanyaan barusan bukan ide buruk. Gavin menambahkan, “Kalau memang ada urusan kerja yang mengharuskan kami bertemu, biarkan terjadi secara profesional.” Dion menghela napas pelan, senyum tipis muncul di wajahnya. “Kau selalu pandai berpura-pura tak peduli.” Gavin tak membalas. Tapi jari-jarinya mengetuk meja, gerakan kecil yang mengkhianati pikirannya. “Baiklah. Jika berubah pikiran, kau bisa mengatakannya tanpa ragu,” ujar Dion sambil beranjak dari meja. “Dan sebagai teman satu sekolah, sebaiknya aku juga menyapanya.” Gavin tetap diam, tatapannya tertuju pada layar di depannya, berusaha terlihat tak terpengaruh. “Oh, ya,” Dion berhenti sejenak di ambang pintu. “Katanya staf baru akan diperkenalkan secara singkat pagi ini. Divisi operasional sudah mengatur agenda. Kalau kau sempat hadir, mereka akan sangat menghargainya. Prosedur standar.” Gavin mengangkat pandangan. Informasi itu tertangkap jelas olehnya. Dia tahu bagaimana mekanismenya. Penyambutan singkat, perkenalan formal, beberapa kalimat klise tentang budaya kerja. Hal yang biasa. Apa dia akan datang? Sebagai pemimpin perusahaan, kehadirannya bukan hal aneh. Bahkan bisa dibilang wajar. Dia punya hak—dan tanggung jawab—untuk berada di sana. Tak ada yang bisa mempertanyakan itu. Gavin menegakkan punggungnya. “Jadwalkan saja,” katanya akhirnya, suaranya tenang. “Aku akan turun sebentar.” Dion menahan senyum yang hampir muncul. “Kupikir begitu.” Gavin tak menanggapi. Namun saat Dion pergi, dia kembali pada pikirannya. Dia tak sedang mencari alasan untuk melihat Alea. Dia hanya kebetulan memiliki alasan yang tepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD