Gavin memasuki ruang pertemuan dengan langkah tenang dan terukur. Percakapan yang semula terdengar di beberapa sudut ruangan meredup, lalu berhenti sepenuhnya.
Di perusahaan ini, kehadirannya selalu menjadi sinyal. Beberapa staf meluruskan punggung. Ada yang buru-buru menyimpan ponsel, ada pula yang sekadar menundukkan kepala singkat sebagai bentuk hormat.
Gavin membalas seperlunya, ekspresinya netral. Jas gelap yang dikenakannya jatuh sempurna, seolah memang diciptakan untuknya. Dia melangkah ke posisi yang telah disiapkan, berdiri di depan ruangan.
Pandangan matanya menyapu sekeliling, lalu dia melihatnya. Alea berdiri di barisan staf baru, di antara wajah-wajah yang asing baginya.
“Selamat datang di Vale Group,” ucapnya singkat.
Dia memberi isyarat pada kepala divisi operasional untuk melanjutkan agenda. Perkenalan singkat dimulai. Satu per satu nama disebut, latar belakang dijelaskan secara ringkas.
Gavin mendengarkan tanpa benar-benar mendengar. Ketika nama itu akhirnya disebut, fokusnya terpecah.
“Alea Miller,” ucap kepala divisi itu singkat. “Staf baru.”
Ada jeda sepersekian detik sebelum Alea melangkah maju. Dia mengangkat kepala, matanya bertemu dengan Gavin. Tak lama. Cukup untuk memastikan satu hal, wanita itu mengenalinya. Dan fakta itu membuat dadanya mengencang.
Alea menunduk sopan, memperkenalkan diri dengan suara yang terkendali.
Gavin mengangguk singkat, ekspresinya tak berubah.
Tak satu pun di ruangan itu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat seorang pemimpin perusahaan menyambut staf barunya. Mereka tak melihat rahang Gavin yang sedikit mengeras. Tak mendengar napasnya yang tertahan terlalu lama.
Tanpa menunggu sesi itu benar-benar berakhir, Gavin berpamitan singkat. Dia berbalik, melangkah keluar ruangan. Tangannya mengepal sesaat di sisi tubuh, lalu kembali rileks.
Ada ketidakpuasan yang menggantung, tapi dia tak punya alasan lain untuk tinggal.
Begitu Gavin sampai di ruangannya, sesuatu berubah. Dia melepaskan jasnya, menyampirkan di sandaran kursi, lalu berdiri sejenak tanpa tujuan jelas. Alih-alih merasa lega, pikirannya justru kembali ke satu sosok yang berusaha keras dia abaikan.
Dia membenci kenyataan bahwa bayangan wanita itu selalu muncul. Cara dia berdiri di antara staf baru, ekspresinya yang berusaha tenang, sorot matanya saat menatap ke depan—semuanya terasa terlalu jelas.
Gavin duduk di kursinya, mencoba kembali ke ritme kerja. Namun, fokusnya terpecah oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dia undang.
Apakah Alea sudah memahami alur kerjanya?
Apakah dia ditempatkan di tim yang tepat?
Apakah hari pertamanya berjalan lancar, atau justru canggung?
Sebagai atasan, memperhatikan adaptasi staf baru adalah bagian dari tanggung jawabnya. Tak ada yang aneh dari itu. Setidaknya, itulah narasi yang dia bangun untuk dirinya sendiri.
Jari-jarinya terhenti di atas papan ketik. Layar di depannya menyala, menunggu perintah yang tak kunjung dia berikan.
Gavin menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sesaat. Lingkaran ini harus diputus. Dia tak bisa membiarkan pikirannya terus berputar tanpa arah, mencari-cari pembenaran yang makin tipis.
Dan jawabannya, mau tak mau, mengarah pada satu hal, yaitu berbicara dengan Alea.
Menjelang waktu pulang kerja, Gavin berdiri di lorong kantor. Dia berpura-pura sibuk—mengetuk dinding seolah memastikan strukturnya kokoh, lalu melirik jam tangannya yang sebenarnya belum berubah sejak lima menit lalu. Dia membuka ponsel, menggulir layar tanpa benar-benar membaca apa pun, lalu menyimpannya kembali ke saku jas.
Sikapnya cukup wajar untuk sekilas pandang. Namun bagi beberapa pegawai yang lewat, keberadaannya di sana terasa … janggal.
Bagi Gavin, itu bukan hal aneh. Dia berdiri di tempat yang menurutnya strategis, dengan sudut pandang yang tepat ke salah satu ruangan di ujung lorong. Ruangan tempat Alea bekerja hari ini.
Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Akhirnya, pintu itu terbuka. Alea melangkah keluar, membawa tas di bahunya. Dia tak sendirian. Beberapa pegawai lain menyusul, tertawa ringan, membicarakan hal remeh khas akhir hari kerja.
Gavin tak bergerak. Belum.
Dia mengangkat ponselnya ke telinga, berpura-pura menerima panggilan. Nada suaranya rendah, formal, terdengar cukup meyakinkan bagi siapa pun yang lewat.
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, wanita itu menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat. Cukup singkat untuk menimbulkan jeda.
Langkah Alea melambat. Ekspresinya menyiratkan pertanyaan yang sama dengan pegawai lain, apa yang dilakukan atasan mereka di sini?
Alea ragu sepersekian detik sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.
Baru setelah jarak beberapa meter tercipta, Gavin mulai berjalan, menyusul dari belakang sambil tetap berpura-pura terlibat percakapan.
Lorong itu makin sepi. Satu per satu pegawai berbelok menuju lift atau tangga darurat. Saat mereka akhirnya sejajar, Gavin segera menyimpan ponselnya.
“Alea—”
Wanita itu terperanjat. Sebuah teriakan kecil lolos dari bibirnya saat menyadari kehadiran Gavin di sampingnya. Keduanya berhenti bersamaan, saling menatap dengan ekspresi yang sama-sama terkejut.
Tangan Gavin refleks terangkat di udara. “Aku … tak melakukan apa pun.”
Alea menghela napas, wajahnya masih menyisakan ekspresi khawatir. “Kau datang tiba-tiba …” Tatapannya kembali pada Gavin. “Ada apa?"
Gavin menurunkan tangannya, merapikan kembali sikapnya. “Aku hanya ingin memastikan hari pertamamu berjalan lancar.”
Alea mengernyit tipis, jelas tak langsung menerima penjelasan itu. "Secara langsung?"
Pertanyaan sederhana. Dampaknya tidak.
"Sebagai teman satu sekolah," tambah Gavin cepat. Bahkan di telinganya sendiri, itu terdengar canggung.
Keheningan kembali jatuh di antara mereka.
“Sejauh ini, tak ada masalah," kata Alea akhirnya.
“Bagus. Syukurlah,” balas Gavin, nadanya kaku. Dia menyadari, Alea tak terlihat seperti orang yang ingin melanjutkan percakapan. Dan kesadaran itu entah kenapa membuat dadanya terasa lebih sempit.
“Aku harus pergi.” Alea memperbaiki letak tas di bahunya, bersiap melangkah.
Saat itulah Gavin melihatnya.
Cincin tipis melingkar di jari manis Alea. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang tak dia siapkan. Fakta itu datang terlambat, tapi cukup untuk merapikan sekaligus mengacaukan semuanya. Alea sudah menikah. Sementara dia—gelisah, resah—karena kehadiran istri orang yang kembali masuk ke hidupnya.
Ironis. Dan tak pantas.
“Baiklah,” ucap Gavin, memaksa senyum yang terasa asing di wajahnya sendiri.
Alea melangkah pergi. Satu langkah. Dua. Makin jauh. Tanpa menoleh. Begitu Alea menghilang di ujung lorong, Gavin berbalik dan mengusap wajahnya frustrasi. Napasnya keluar kasar. Apa yang baru saja dia lakukan?
Tentu saja, Alea tak datang kembali ke hidupnya dengan maksud apa pun. Bukan untuk mengorek masa lalu. Bukan untuk membuka kembali sesuatu yang seharusnya sudah terkubur. Gavin akhirnya mengakui itu, meski pengakuan itu terasa pahit.
Masalahnya bukan Alea.
Masalahnya adalah dirinya sendiri.
Di tengah pikirannya yang berantakan, sebuah bayangan berhenti di depannya.
“Gavin?”
Dia menoleh. Dion berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya menunjukkan campuran heran dan curiga. Tatapannya menyapu lorong yang hampir kosong.
“Apa kau barusan bertemu Alea?” tebak Dion. Nada suaranya terdengar santai, tapi matanya terlalu awas untuk melewatkan detail kecil, termasuk fakta bahwa lorong ini bukan jalur yang biasa Gavin gunakan saat pulang.
Gavin tak langsung menjawab. Tangannya terangkat, menyentuh pundak Dion seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri tegak.
“Tolong aku,” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar. Matanya menatap Dion dengan keputusasaan yang jarang, hampir tak pernah dia perlihatkan. “Bantu aku menyingkirkannya dari pikiranku.”
Dion membeku. Dia mengenal Gavin terlalu lama untuk tak menyadari betapa seriusnya permintaan itu. Tangannya refleks menahan lengan Gavin, seolah memastikan pria di depannya takkan runtuh.
“Gav .…” Dion menelan ludah. Ingatannya melompat ke masa lalu, ke hari ketika Gavin mengetahui Alea akan menikah. Ekspresi ini. Nada suara ini. Kekacauan yang sama, hanya dibungkus lebih rapi.
“Dia sudah menikah,” lanjut Gavin, seperti bicara pada dirinya sendiri. “Dan aku seharusnya tak merasa seperti ini.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Tak ada yang menjawab. Tak ada yang membantah. Dan Gavin sadar, masalah ini bukan tentang Alea yang kembali. Melainkan tentang dirinya yang tak pernah benar-benar pergi.