One Step Closer

2280 Words
Kepalanya masih terasa sedikit pening, dan tubuhnya terasa agak berat untuk digerakan, namun Keysha berusaha membuka matanya. Benar, ia merasa tertidur tapi entah kenapa ia tidur tidak begitu sepenuhnya tenang seakan ada yang mengganjal. Samar-samar pandangannya kembali normal, pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit dan gorden serta tembok serba putih, tempat yang begitu asing baginya. Dengan susah payah ia menoleh ke sampingnya. “Key, syukurlah kamu sudah bangun.” Wajah yang tadinya cemas menjadi sumringah khas Lala. Key mengernyitkan dahi, mencoba mengingat sesuatu. Lala paham bahwa key kebingungan. “Tadi kamu pingsan Key, aku khawatir sekali…” cerita Lala dramatis. Benar, kini Key sudah mulai ingat potongan-potongan kejadian sebelum dunianya tiba-tiba menjadi gelap dan tubuhnya terasa ringan seketika dan tak ingat apa-apa. Saat itu juga terdengar suara pintu diketuk dan terbuka, “Lala, apakah Keysha sudah siuman?” tanya suara lelaki yang baru datang itu, sepertinya Key familiar dengan suara itu namun belum cukup tersambung untuk segera tau siapa dia. Key kembali mengernyitkan dahi ke arah Lala, mengisyaratkan bertanya siapa yang barusan datang. Dengan senyum jahil Lala berbisik, "Si idola yang tadi menggendongmu”. Key masih belum paham sampai lelaki tersebut izin untuk masuk ke ruangan Key berbaring. “Maaf ya aku masuk.” Lelaki itu menyibakkan tirai putih sedikit sambil menenteng nampan mungil berisi segelas teh hangat, “Keysha, minum ini dulu.” Key amat terkejut melihat siapa yang datang, Kak Aldo! dan ia bahkan reflek akan berdiri untuk segera membawa nampan yang dibawa sang ketua panitia ospek tersebut. “Keysha, kamu berbaring saja tak usah berdiri dulu, tubuhmu belum sepenuhnya pulih.” Tegas Aldo. “Iya dih Key, kamu kan baru aja siuman, sini kubantu baringkan kembali.” Lala segera membantunya berbaring dengan posisi yang nyaman. Aldo tersenyum melihatnya, matanya melihat sekitar dan menemukan bantal lain di dalam ruangan itu yang tidak terpakai dan meminta Lala untuk mengganjal kaki Key agar posisi kakinya lebih tinggi sekitar 30 cm dari kepalanya. Hal itu dilakukan supaya aliran darah bisa lancar ke otak sehingga berangsur-angsur pulih. Selanjutnya ia meminta Lala untuk membantu Key meminum teh hangat. Lagi-lagi juniornya patuh terhadap perintah Aldo. Tentu saja, lagian mereka kan juga saling peduli. “Minumlah, teh manis sangat bagus untuk mengembalikan energi yang dibutuhkan tubuh paska pingsan.” Jelas Aldo. “Baik Kak, terimakasih.” masih dengan patuh Key meneguk teh manis itu. “Keysha, Lala, kalian tak perlu melanjutkan ospek hari ini dulu. Ini juga demi kebaikan bersama.” Lanjut Aldo sebelum pamit pergi kembali memimpin jalannya ospek. “Baik, Kak.” Jawab keduanya kompakan.  Setelah memastikan lelaki itu sudah tak terdengar langkah kakinya. Kedua sahabat itu mulai heboh sendiri. “La, serius ini? Atau aku lagi mimpi sih?” entah kenapa jantungnya masih berdegup kencang, ada sensasi aneh yang juga mampu membuat perutnya tergelitik, bukan karena sakit yang tadi dialaminya tapi lebih seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di perutnya. Lala mencubit hidung Key, dan reflek Key meringis kesakitan, “Sakit La!” “Berarti ini tandanya nyata.” Lala tertawa jahil lagi sembari kedua telapaknya mencubit-cubit pipi Key. “Wah, malunya…” Kini Key jadi salah tingkah sendiri. “Tapi suka kan…” Goda Lala lagi. Key mengangguk malu-malu. “By the way, kenapa si kamu tadi tiba-tiba pingsan kaya gitu, belum pernah loh kamu kaya gini.” Pertanyaan Lala tetiba menyadarkannya, dan segera melongok ke bawah dudukannya, syukurlah sepertinya masih sempat tertolong tidak ada noda di sana. “La, kamu bawa roti nggak?” tanyanya hati-hati. “Hah? Roti? Kamu kelaparan sampai pingsan gitu ya?" Segera Lala berdiri dan akan membeli makanan, namun tangan Key mencegahnya, “Bukan, La. Roti yang buat ini.” Key menjelaskan dan tangannya menunjuk-nunjuk ke arah bawah. "Oalah, kamu butuh pembalut!" Ujar Lala lantang dan segera menutup mulutnya, tumben dia loading lama mikir. "Ada mbak, ini saya ambilkan!" Sahut seorang wanita dari luar ruangan. Key dan Lala terperanjat baru menyadari ada seseorang selain mereka di sana. Mereka pun saling menyalahkan karena suara mereka terdengar nyaring. Akhirnya Lala keluar, ternyata memang ada petugas kesehatan yang berjaga di sana. Lala kembali masuk dan menyerahkan pembalut itu sembari cengengesan. "Jadi karena datang bulan pertama kamu pingsan?" "Iya, dan itu sangat nyeri. Mungkin kalau sekedar hari pertama tak apa, tapi ini disertai cemas gegara aku takut bikin kesalahan lagi." Key menarik nafas kembali, "Untung sekarang udah baikan." Lanjutnya. "Baik sekali, ada hikmah dibalik musibah pula." Lala terkekeh. Key membenarkan perkataan Lala. Seperti takdir ia bisa begitu dekat dengan seniornya itu. Bagaimana tidak, awal di gerbang kampus sudah bertabrakan dengannya, kemudian dapat hukuman darinya, sekarang dapat perhatian darinya juga. Bukankah semua itu terlalu aneh hanya disebut sekedar kebetulan? *** Entah bagaimana ceritanya, bahkan Key juga bingung sendiri sejak hari itu ia dan Aldo menjadi semakin sering berinteraksi. Setiap bertemu dengannya, lelaki itu selalu menanyakan keadaannya. Bahkan sering memberinya sekotak s**u untuk menambah nutrisi katanya. Ingin Key berkata, alasannya pingsan itu bukan karena lemas kekurangan energi karena kurang makan atau sebagainya, tapi lebih karena hal kewanitaan, namun yah sudahlah tensi juga apabila jujur. Terlalu tabu untuk dibicarakan ke seorang lelaki soal perkara itu. Mengetahui hal tersebut Lala tentu saja dengan semangat mendukung dan berharap mereka bisa jadian, apalagi sinyal-sinyal sudah jelas diberikan. Hanya Doni yang tak setuju bilang kemungkinan mereka bisa jadian. Tentu saja hal itu membuat Key dan Lala bertanya-tanya. “Kalian bahkan belum genap seminggu mengenalnya, bagaimana mungkin kalian bisa gamblang menilai lelaki itu baik?” tanya Doni di suatu kesempatan seusai ospek hari ke tiga usai. Mereka terdiam sejenak. Hembusan angin sepoi-sepoi dan rindangnya pohon membuat tiga sahabat itu betah berlama-lama di bawahnya. “Begini saja deh ya, kalian sembari berhati-hati nilai orang tapi juga jangan over nanggapi kebaikan lelaki yang baru kalian kenal, kita waspada kemungkinan terburuknya, siapa tau ada udang di balik batu kan. Baiknya agar tidak terlalu sakit saat jatuh, lebih baik jangan terlalu mudah terbang terbawa suasana.” Lanjut Doni diplomatis. Key merenung, sebenarnya apa yang dikatakan Doni memang ada benarnya juga, bukankah sejauh ini ia memang merasa salah tingkah sendiri mendapat perhatian seniornya itu. Namun, juga entah kenapa feeling Keysha sudah positif saja ke Aldo. Mungkinkah karena rasa kagum sudah merubahnya menjadi cinta? Sehingga ia lalai dalam menilai. *** Aldo memasuki rumahnya, disana ia mendapati Bu Mira dan Nina sedang ngobrol di ruang keluarga. Ada sesuatu yang mereka tunggu darinya sepertinya, karena ketika melihat dirinya nongol, dengan sigap mereka bertanya. “Kak, masih belum ketemu ya siapa nama gadis yang sudah membantu Bunda? Udah lama loh sejak kejadian itu, harusnya Kakak sudah nemu” Belum sempat meletakkan p****t, sudah diberondong pertanyaan oleh adiknya itu. Aldo tak lekas menjawab kekepoan adiknya, ia justru dengan manja mengisyaratkan bahwa tenggorokannya kering. Nina yang paham lantas mengambilkan air mineral dingin dari dalam kulkas. “Terimakasih, dek.” ujar Aldo sembari ikut nimbrung dengan mereka. “Kamu beneran belum nemu sama sekali gadis itu, Al?” Bu Mira tak kalah keponya. “Maksud Bunda, Kekeyi?” Goda Aldo. Bu Mira geleng-geleng, “Bukan, Al”. “Ken-ken?” Bu Mira geleng-geleng lagi, “Dih, waktu itu kan udah ditanya, bukan. Yah, kenapa pikun banget si Bunda ini.” ujar Bu Mira kesal karena tidak bisa mengingat-ingat. Aldo tertawa kecil melihat ekspresi Bundanya itu, “Bagaimana kalau Keysha?” akhirnya Aldo menjawab dengan serius, dan entah kenapa ia yakin seratus persen kali ini nama yang disebutkannya benar. Bu Mira terbelalak, manik-manik matanya seakan bersinar “Nah, itu dia! Nama gadis itu Keysha...kalau tidak salah Keysha Larasati!” Dengan girang seperti memenangkan lotere Bu Mira bisa menemukan nama itu. “Wah, akhirnya Bunda mengingat nama calon kakak iparku.” Saut Nina terkekeh. “Cerita dong Kak, soal bagaimana Kak Keysha yang Kakak kenal sejauh ini.” sambung Nina lagi. Bu Mira juga menuntut untuk Al segera bercerita. Akhirnya dengan detail Aldo bercerita juga sesuai permintaan mereka, mulai dari awal bertemu sampai sejauh ini soal kedekatannya dengan juniornya itu, bahkan ia juga bercerita tentang Keysha yang sempat pingsan karena mungkin tidak sarapan menurutnya. “Pingsan? Kasihan sekali.” Dengan cemas Bu Mira berceloteh. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul dibenak wanita paruh baya itu. “Iya, ya kasian. Yah kakak kok baru cerita setelah sekian lama si.” sesal Nina. “Hahaha, iya maaf ya Kakak baru kasih tau, Kakak hanya ingin meyakinkan diri dulu apakah benar Keysha orangnya sebelum memberi tau kalian. Karena kebetulan kalian bertanya, ya sudah Kakak jawab. Selesai kan tugas kakak?” Kata Aldo seperti telah menyelesaikan misi. “Belum dong Al, ada tugas selanjutnya, Bunda ingin ketemu dengan Key secara langsung kembali.” Harap Bu Mira. “Gimana caranya?” tanya Nina “Keysha sudah bilang bakal kesini lagi.” Jawab Bu Mira enteng. “Nah, Keysha kan sedang sibuk Bunda. Bisa saja dia sudah tidak ingat kata-katanya yang akan berkunjung kesini lagi.” Aldo mengingatkan Bu Mira supaya tak terlalu berharap. “Ya, kalau tidak bisa menemui Bunda, sebaiknya Bunda yang menemuinya.” Balasnya yakin. Jawaban Bu Mira hanya ditanggapi bercanda oleh anak-anaknya. *** Hari kelima ospek, ketika para mahasiswa baru diminta untuk membuat tugas,Aldo dan panitia lain melakukan rapat sebentar sebelum jam istirahat tiba. Ia semakin disibukkan dengan rencana kegiatan penutupan ospek tahun ini dengan cara sisa dua hari ospek dilaksanakan di sebuah Villa di daerah Semarang atas yaitu Bandungan. Ia harus memastikan bahwa setiap orang yang ditugaskan di seksi panitia masing-masing berjalan sesuai rencana. Di tengah-tengah briefing itulah tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan saat membuka betapa terkejut Aldo ternyata ada pesan dari Bundanya bahwa wanita yang menjadi nomor satu di hidupnya itu sudah berada di bangku taman fakultas ekonomi. Seusai membalas ke Bundanya untuk menunggu sejenak, ia melanjutkan sisa briefing dan selang beberapa menit usai. Aldo juga memerintahkan untuk mereka dan para mahasiswa baru istirahat. Dengan segera ia menuju ke tempat Bu Mira berada. “Bunda, kenapa tidak bilang ke Aldo terlebih dahulu kalau mau kesini?” Tanya Aldo hati-hati, Bundanya suka sekali jalan-jalan sendiri padahal keadaan kakinya sedang tidak baik. “Kejutan!” Bu Mira menyambut kedatangan putranya.  “Iniloh, Bunda membawakan bekal buatmu.” Bu Mira mengangkat apa yang dibawanya ke Aldo, namun pandangan mata Bu Mira sedang tidak fokus ke anaknya, mata wanita itu tampak sibuk mencari-cari sesuatu. Aldo curiga. “Hemm, Bunda lagi mencari Keysha ya?” tebaknya dan yakin seratus persen benar. Bu Mira nyengir mendengar jawaban Aldo. Tapi tetap, matanya masih terus mencari sosok gadis itu. Beruntung, karena tak begitu lama muncul Key diantara kerumunan mahasiswa baru yang baru saja dibubarkan untuk istirahat. Mata Bu Mira berbinar, secerah mentari pagi dan tanpa menunggu lama wanita itu memanggil  "Nak Keysha!" Lala yang kebetulan mendengar suara panggilan itu dan meminta sahabatnya berhenti, "Key, sepertinya Ibu yang di sana manggil kamu deh." Key menoleh, Bu Mira melambaikan tangan ke padanya. Ada jeda beberapa detik untuk mengingat siapa kiranya wanita itu, wajahnya seperti pernah bertemu, "Bu Mira!"  Akhirnya Key ingat dan sumringah karena tak menyangka akan bertemu di kampusnya. "Yaudah, kamu temui aja. Aku duluan ya sama Doni." Pamit Lala, dan Key mengiyakan. Selanjutnya ia berjalan menuju ke arah Bu Mira. "Apa kabar, Tante?" Sapanya ramah. "Baik, Nak Keysha. Gimana ospeknya?" Balas Bu Mira. "Syukur lancar, Tante. Ngomong-ngomong kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini." Ujar Key masih belum sadar ada sosok lelaki tak jauh dari mereka. "ah iya, Tante sengaja ke kampus buat anterin bekal buat anak tante." Dengan senyum gembira ia menunjuk lelaki di belakang mereka. Key menoleh. Dan alangkah kagetnya ia menemukan sosok seniornya berdiri tegak.  "Kak Aldo?". "Hei Keysha, sepertinya Bunda dan kamu sudah saling kenal ya." Tanya lelaki itu. Keysha mengiyakan dan sedikit menjelaskan bahwa mereka kenal semingguan lalu. "Ini Tante juga bawakan bekal untuk Nak Keysha. Ada kue kering buatan Tante di situ." Bu Mira menyodorkan sebuah bekal ke Key, tentu saja hal itu membuatnya bingung. Namun dengan segera Bu Mira menjelaskan, "Iya Tante bawain sekalian siapa tau bisa ketemu Nak Keysha di sini. Bukankah saat itu Tante bilang bahwa anak Tante juga kuliah di sini?" Dengan polos Key mengiyakan percaya saja, "Iya benar juga, Keysha ingat. Terimakasih Tante." Dalam benak Aldo justru lain, ia menduga Bundanya datang ke kampus niat utamanya memang ingin menemui Keysha, terlebih baru kemarin ia memberi tahu soal keberadaan gadis itu sebagai juniornya, dan sekarang beliau di aini. Akal-akalan Bunda saja ini, tidak pernah sebelumnya beliau jauh-jauh ke kampusnya hanya untuk mengirim bekal. Tapi mau gimana lagi, meski ia dan adiknya Nina sudah meminta Bundanya untuk tetap di rumah saja, tetap saja tekatnya apabila sudah ada kemauan tidak bisa dicegah. Geli sendiri Aldo menyaksikan mereka. "Kapan Nak Keysha jadi ke rumah Tante? Pintu terbuka lebar loh." Bu Mira melancarkan aksi selanjutnya, Aldo yang merasa tak enak dengan Keysha meminta Bu Mira untuk tidak minta aneh-aneh. "Bunda, sabar atuh. Keysha kan lagi sibuk-sibuknya jadi mahasiswa baru." Aldo berusaha memberi pengertian. "Benar begitu, Nak?" Seakan tak mau tau, ia berusaha meminta penjelasan ke Key sekaligus berharap bisa membujuknya. "Tidak apa-apa kok, saya ada waktu." Ucapnya sopan. "Wah, bagus sekali! Tante tunggu ya sampai Nak Keysha pulang, nanti kita ke rumah Tante bareng." Dengan antusias Bu Mira menawarkan diri. "Nggak usah Tante, biar Tante pulang duluan saja tidak apa-apa. Nanti saya bisa kesana sendiri, lagian ini masih lama bila tante nunggu." Key merasa tak enak sendiri. "Bunda jangan gitu dong, begini saja nanti kan Aldo juga balik ke rumah, kami bisa boncengan kesana bareng naik motor. Bagaimana Keysha?" Usul Aldo tiba-tiba, yang entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Dibonceng Kak Aldo? Batinnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya merasa malu-malu. Dengan ragu-ragu Key mengiyakan. Seakan-akan tidak ada pilihan untuknya selain menerima kesempatan yang tidak akan ada tawaran di lain waktu itu. Tawaran yang mungkin saja membawanya ke sebuah takdir ikatan cinta. Bukankah hadirnya Bu Mira seperti benang merah tersendiri buatnya juga.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD