At Aldo's Home

1760 Words
Dengan menyesal Keysha meminta maaf ke kedua sahabatnya karena ia sama sekali tak sempat bertemu seperti biasanya saat jam istirahat. Bahkan satu jamnya hampir ia habiskan bersama Bu Mira dan Aldo. Ketika ia menjelaskan ke mereka perihal rencananya akan ke rumah Bu Mira yang juga tak lain adalah Ibu dari Aldo, reaksi Lala sangat antusias, gadis itu mendukung penuh untuk kelancaran takdir cintanya, sedangkan Doni masih tidak terlalu berkomentar banyak dan hanya berpesan untuknya berhati-hati. Bukankah tak ada yang memang bisa Doni lakukan selain berpesan dan tidak memaksa, yang penting ia sudah memperingatkan Keysha. Menit demi menit menjelang ospek hari kelima ini berakhir dirasa begitu lama. Perhatian Key tak lepas dari sosok Aldo yang nanti akan mengajaknya berboncengan bersama. Lelaki itu tepat sedang berada di depannya, sedang menjelaskan perihal dua hari ospek terakhir yang akan diadakan di sebuah Villa di Semarang atas. Setiap Aldo memberikan instruksi, berbicara sangatlah menawan di matanya. Key masih meragu benarkah ia mulai merasakan cinta ataukah hanya sekedar kagum ke Aldo? “Key, ini helmnya.” Aldo mengeluarkan helm extra dari bagasi motor dan menyodorkannya ke Keysha. Tak ada respon dari Key yang masih mematung tegang seusai menyaksikan Aldo mengenakan helmnya sendiri. “Key?” Ulangnya lagi. Entah kenapa Key hobi sekali bengong sendiri seperti itu sehingga lawan bicaranya harus mengulang apa yang dikatakan. “Eh, iya Kak. Terimakasih.” Key meraih helm itu dan memakainya. Karena sedikit kesusahan dan tidak terbiasa dengan helm tersebut, akhirnya ia hanya mengenakannya saja tanpa mengunci pengait tali helmnya. Melihat hal tersebut, Aldo berusaha membantu, “Rada susah ya. Maaf, aku bantu sebentar ya.” Tanpa menunggu jawaban gadis berambut sebahu itu, Aldo sudah memasangkan pengait helm yang dikenakan Key. “Sampai terdengar suara Klik, supaya aman.” Tambahnya lagi disertai senyum manis simpul yang diperlihatkannya. Alamak! Membuat wajah Key sudah mirip kepiting rebus saja, dengan gagap dia hanya menjawab sekenanya. Untung helm sudah terpasang, jadi Kakak seniornya itu tak akan melihat perubahan wajahnya yang drastis. “Ayo, naik Key!” Aldo sudah berada di atas motor, dan masih gugup Key menaiki motor itu. Ia masih berpikir bagaimana untuk posisi nanti ketika berboncengan dengan Aldo? Duduk dengan nyaman dan tidak membuatnya canggung. Karena tak mau membuat Aldo menunggu lama, Key putuskan untuk segera menaiki motor itu. Tasnya sengaja diletakkan diantaranya dan Aldo dan ketika motor mulai melaju, dia berpegangan pada behel motor. Dua hal itu dirasa Key lebih pantas ketika ia berboncengan dengan lelaki selain Papanya dan adiknya. Motor sudah meninggalkan kampus mereka. Memasuki jalan pantura, kendaraan padat merayap. Menjelang sore adalah waktu dimana para pekerja pulang setelah delapan jam bekerja, serta para siswa dan mahasiswa pulang sekolah setelah seharian menimba ilmu. Belum begitu jauh dari kampusnya, sebuah kereta akan lewat. Suara sirine ketika palang menutup membawa melodi tersendiri untuk keheningan yang dirasakan Key, padahal faktanya di luar itu suasana amatlah riuh. “Maaf, ya Keysha. Kami jadi merepotkanmu dengan mengajakmu ke rumah.” Kata Aldo memecah keheningan yang dari tadi tercipta. “Nggak apa-apa, Kak. saya juga sudah janji dan sedang longgar waktu juga.”  Balasnya apa adanya. “Terimakasih ya.” Aldo mengucapkan itu sembari menoleh dan membuka kaca helmnya tepat ketika kereta lewat, mungkin dilakukannya supaya suaranya terdengar jelas. Deg! Tuh kan lagi-lagi berubah menjadi kepiting rebus. Damage! Batin Key dan iya pun mengangguk sopan. Untung kereta yang barusan lewat tadi tak memiliki banyak gerbong, jadi tak perlu menunggu lama suara sirine terdengar kembali, palang pintu kereta api dibuka dan seketika suara klakson dari para pengendara dibunyikan saling bersahut-sahutan. Aldo kembali fokus ke kemudinya. Key akhirnya bisa bernafas lega, menenangkan kembali dirinya untuk bisa bersikap normal. Heran kenapa susah sekali berusaha bersikap biasa saja ketika berdekatan dengan orang yang disukainya, batinnya gemas.  Aldo menyadari bahwa gadis yang diboncengnya ternyata cukup pendiam. Untuk menghidupkan suasana sesekali ia bercerita soal keluarganya dan bertanya jawab dan meminta pendapat akan sebuah issue. Rencananya berhasil, karena dengan begitu Key menjadi lebih aktif bicara dan semangat beropini apabila dipancing terlebih dahulu seperti itu. Diam-diam Key juga merasa takjub dengan cara Aldo tersebut karena juga membuat dirinya bisa lebih leluasa. Ketegangan mulai mengendur, yang ada rasa nyaman sepanjang perjalanan terjalin. Memasuki perumahan tempat kediaman Aldo berada, mentari sudah mulai ramah, menyisakan kehangatan bagi makhluk di bumi terutama di bagian Semarang atas ini. Key sudah mulai mengenal lingkungan perumahan ini, karena dulu ia mengantar Bu Mira dengan jalan kaki, membuatnya paham betul setiap seluk beluk yang dijejakinya. Aldo menyembunyikan klakson motornya, sempat sesaat mengagetkan Key. Hal itu dilakukan lelaki itu untuk menyapa petugas satpam yang sedang berjaga di gerbang perumahan. “Pak.” Aldo melambaikan tangan ke satpam itu, dan bukan satpam bernama Bejo seperti yang pernah Key jumpai saat pertama kali ke tempat ini. Mungkin sedang pembagian jam shift kerja pikirnya. “Baik, Mas. Monggo (Silahkan).” Balas si satpam tak kalah ramah. Sesampainya di rumah yang serba berwarna putih yang familiar, mereka berhenti. Di sana sudah berdiri Bu Mira dan Nina menyambut kedatangan Aldo dan Keysha. Key disambut dengan sangat hangat bak tamu agung yang memang sudah lama dinanti-nantikan kedatangannya. “Tante hari ini bahagia sekali Nak Keysha mau berkunjung. Mari masuk.” sambut Bu Mira dan dilanjutkan perkenalan oleh Nina.  “Welcome to our Home, Kak Keysha. By the way, Kak Aldo dan Bunda udah banyak cerita soal Kakak loh.” mendengar hal itu membuat Key jadi tersipu sendiri, “Benarkah?” balasnya dengan senyum dan Aldo mengiyakan. Fakta bahwa seniornya dan Bu Mira sering membicarakannya entah kenapa membuat Key berbunga-bunga dan tampaknya perasaannya tidak akan bertepuk sebelah tangan. Di sana ia sudah disuguhi berbagai macam makanan. “Ini kami bikin lumpia sendiri loh Nak Key, rebungnya kami olah sedemikian rupa jadi bikin orang bakal ketagihan saat mencicipinya.” Bu Mira menyodorkan sepotong lumpia rebung khas semarang ke Key, “Wah, jajanan favorit saya ini, saya cobain ya Tan.” Ujar Key sembari menusuk salah satu lumpia yang terletak di paling atas. Ketika menggigit bagian ujung lumpia, bau rebung sama sekali tak tercium, Padahal beberapa orang yang tak begitu suka lumpia rebung karena aroma rebungnya yang kuat yang membuat mereka enggan memakannya. “Enak sekali, Tante.” Puji Key Jujur. “Hehehe, iya kan, nanti Tante bungkusin buat Key ya.” Balas Bu Mira. Suasana kekeluargaan begitu kuat ikatannya di sana. Di sela-sela makan rendang yang juga tersedia di sana, mereka sempatkan untuk mengobrol hangat. Baik Keluarga Aldo maupun Key sudah jauh berkurang kecanggungannya. Seusai makan bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga. Nina mengambil sebuah album foto dari dalam lemari. Key duduk di sofa berwarna putih tulang ia diapit oleh Bu Mira dan Nina sedangkan Aldo duduk di sofa lain yang muat hanya untuk satu orang. Di lembar awal ada foto keluarga lengkap, Bu Mira, mendiang suaminya, beserta seorang anak kecil laki-laki yang pastinya itu Aldo karena wajahnya ketika dewasa masih sama dan bayi perempuan yang ada di pangkuan Bu Mira itu sudah pasti Nina. Betapa keluarga yang lengkap dan tampak bahagia terlihat dari potret di sana. Key merasakan tatapan mereka saat melihat foto itu, ada rasa haru yang mereka tampakan namun mereka juga tampak sudah ikhlas akan kepergian salah satu anggota keluarga yang dicintainya, kepala keluarga mereka. Saat membuka lembar berikutnya, ada dua foto yang memperlihatkan dua bayi sedang tengkurap dan tanpa mengenakan kain sehelai pun. Kemungkinan foto-foto itu sengaja diambil saat usia mereka sekitar lima bulanan. Foto bayi yang pertama tampak lebih memudar gambarnya dari foto bayi kedua. Menyadari hal itu Aldo terlonjak dari tempat duduknya dan berusaha mengambil foto bayi pertama tersebut.  “Jangan yang ini. Malu-maluin.” Ujarnya setelah mendapatkan potret itu lalu menyelipkan di saku celananya. Mereka tergelak tawa akan hal itu. Melihat lembar-lembar berikutnya Aldo mendekat dan duduk bersandar di sebelah Bu Mira bak anak manja. Entah mengapa gambaran Key bersama keluarga itu rasanya ingin diabadikan. Ia merasa sangat nyaman berada di posisinya sekarang. Hari sudah menjelang petang, Key ingat ia telah berpesan kepada keluarganya akan pulang terlambat namun Papa dan Mamanya sudah beberapa kali menghubunginya untuk memastikan segera pulang sebelum hari benar-benar gelap. Ia pun berpamitan pulang dan tampak keluarga itu masih ingin bersama-sama dengannya. Aldo mengantar Key pulang. Kali ini sudah tidak ada lagi kecanggungan. Kebersamaan dan keakraban yang diterimanya dalam keluarga itu sudah memudarkan kecanggungan itu. Meski begitu Key tetap masih menjaga jarak berboncengan dengan lawan jenis, tas di antara mereka sebagai penghalang dan berpegangan ke behel motor. Sepanjang perjalanan pulang key memandangi punggung Aldo, masih tidak menyangka hanya dalam kurun waktu sebentar ia sudah sedekat ini dengan lelaki yang sebelumnya tak pernah dikenalnya dan bahkan pernah menghukumnya di depan ratusan orang. Key tersenyum sendiri mengingatnya. Citt!! Suara motor Aldo yang mengerem mendadak, dengan reflek kedua tangan Key berpegangan di pinggul Aldo. “Keysha, are you ok?” Aldo memastikan kondisi orang yang diboncengnya. “Iya, Kak. Saya nggak apa-apa.” jawab Key seusai hilang rasa terkejutnya. “Maaf ya, ada kendaraan di depan mendadak ngerem.” Aldo merasa menyesal, namun Key tidak mempermasalahkan tersebut. Ketika Key tersadar ternyata kedua tangannya masih berada di pinggul Aldo, ia pun cepat-cepat melepaskan. “Kenapa kamu lepaskan peganganmu, Key? Sudah benar kamu berpegangan padaku demi keselamatan bersama.” Komentar Aldo, dan membuat Key jadi salah tingkah sendiri dan mematuhi untuk meletakkan lagi kedua tangannya di sana. Key tersenyum sendiri sepanjang sisa perjalanan, semua kejadian yang dialami membuatnya tersenyum tanpa kendali. Sesekali Aldo mengecek Key dari pantulan cermin motor, dan samar-samar ia menyaksikan juga senyum gadis itu yang menularinya untuk ikut tersenyum. Jalanan yang masih ramai dan suara deru motor kendaraan adalah saksi dua insan ini timbul rasa ketertarikan yang sangat besar di antara keduanya. Lampu-lampu di jalanan mulai dinyalakan tatkala mereka melewatinya, membentuk seperti cahaya seperti khusus dipersembahkan untuk mereka. Sesampainya di rumah Keysha, ia segera pamit ke Key dan Pak Joko yang kebetulan sedang mencari udara segar di halaman rumah. Aldo juga tak lupa meminta maaf karena telat membawa pulang anak gadisnya. Dengan ramah Pak Joko memakluminya dan berterima kasih pula ke Aldo. namun, ketika diajak masuk ke rumah dengan sopan Aldo menolak, lantaran ia harus kembali ke kampus untuk persiapan penutupan ospek. Setelah Aldo dan motornya tak nampak, Key dan Papanya masuk ke dalam rumah bersama. “Ternyata anak perempuan Papa udah dewasa ya.” Ujar Papa sarat akan makna sambil mencubit hidung anaknya tersebut. “Papa...bukan begitu.” Sahut Key mengelak. “Tidak apa-apa, Nak. Kamu sudah dewasa. Lain kali Papa minta dikenalin ya sama pacarmu itu.” “Bukan Pa, Keysha belum punya pacar!” Melihat anaknya terus ngotot, membuat Pak Joko hanya tergelak tawa dan menyaksikan cemberut dengan rona merah di pipi anak gadisnya itu. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD