“Hai ganteng, si cantik datang lagi khusus untuk menemuimu.” sesosok wanita cantik datang tanpa permisi dan muncul begitu saja di depannya. Seperti malam-malam sebelumnya, rutinitas makhluk berwujud sosok lelaki tak kasat mata ini adalah memandangi malam dan mengagumi ciptaan-Nya lewat jendela rumah itu. Lelaki itu masih terdiam acuh tak acuh disapa seperti itu.
“Jangan kaku gitu dong, ayo kita ngobrol.” ajak wanita itu dengan genit, sekarang posisinya berpindah, yang awalnya di depan jendela lalu ia terbang dengan lihai bak burung ke arah dahan sebuah pohon yang tepat berada di depan jendela itu dan duduk di atasnya dengan nyaman. Masih tak tak ada tanggapan, ternyata bagi sosok lelaki itu memandangi malam dengan penuh bintang dan bulan yang bersinar terang adalah sesuatu yang amat berharga dari pada menggubris wanita itu.
"Kamu masih belum mengingat namamu saat hidup ya?" Wanita berambut hitam panjang sepanjang sampai mata kaki itu masih mencoba mengobrol. Masih tidak ada respon. Seperti tak kenal menyerah, sosok ini masih saja berceloteh sendiri.
"Bagaimana kalo kamu kupanggil Mi Amor saja?" Usulnya kemudian, menampakan seringai giginya yang putih bersih ke arah si lelaki. Kini lelaki itu tertarik untuk menanggapi. "Mi Amor?"
Wanita yang mirip sosok Mbak Kunti itu girang, "Iya, temanku yang berkebangsaan Spanyol sering kudengar ia memanggil temannya dengan sebutan Mi Amor. Kurasa nama itu cocok juga untukmu." Jelas si wanita.
"Kamu bisa memanggilku Si Manis Jembatan Mberok." Tambahnya memperkenalkan diri entah sudah keberapa kali ia menyebutkan namanya sejak awal pertemuan mereka. Kali ini lelaki itu hanya mengernyitkan dahi.
"Kamu tahu kan, si manis jembatan Ancol? Asal kamu tau, sebenarnya dia sejenis seperti aku juga loh, kalau bahasa umum sering dibilang Mbak Kunti, tapi lantaran dulu di jembatan ancol pernah ada gadis yang terbunuh di sana dan kebetulan saja tuh kunti sering nongol di situ, orang-orang menyebutnya Si Manis Jembatan Ancol." Makhluk yang menyebut diri Si Manis Jembatan Mberok itu kembali terbang, sekedar meregangkan badannya lalu sekarang hinggap ke pucuk pohon bambu yang memagari area rumah itu. Apabila ada manusia sungguhan yang melihat pemandangan mengerikan itu, aku berani bertaruh mungkin saja orang itu akan ketakutan luar biasa dan lari terbirit-b***t.
"Mi Amor, asal kamu tahu saja ya. Awalnya aku juga tak mengingat namaku ketika masih hidup atau memang dari awal aku seperti ini hahaha. Karena nama Si Manis Jembatan Ancol cukup populer di kalangan per dedemitan, akhirnya aku memutuskan untuk menamaiku sesuai nama jembatan yang terkenal di Semarang itu. Ide bagus kan?." Kini ia mengakhiri ceritanya dengan lengkingan tawa yang sangat panjang dan mengerikan seperti suara Mak Lampir. Lalu ia pergi terbang entah kemana tanpa permisi. Dalam kondisi normal seharusnya ia menutup kedua telinganya mendengar itu, namun hari ini adalah hari ke sepuluh Si Kunti berkunjung menemuinya tiap malam sejak Kunti yang menyebut dirinya Si Manis Jembatan Mberok itu tak sengaja numpang lewat dengan terbang bebas di atas rumah yang lelaki itu diami. Saat itulah Si Manis iseng melongok ke bawah dan mendapati sosok tampan sedang berdiam diri di jendela dan Si Manis tergoda untuk menghampiri. Menjadikan sosok lelaki itu sudah terbiasa dengan suara lengkingan mengerikan dan tingkah aneh Si Manis.
Jujur, sebenarnya meski ia tidak yakin siapa namanya sebelumnya atau mungkin tak bernama sekalipun, samar-samar ada sebuah nama yang sering terngiang-ngiang di ingatannya. Suara familiar orang-orang yang sepertinya ditujukan kepadanya untuk memanggilnya. Tapi entahlah, mungkin saja itu sekedar imajinasinya dan ia benar-benar tak bernama.
***
Malam ini Key disibukkan dengan persiapannya untuk dua hari acara menginap besok. Kamarnya terlihat acak-acakan. Banyak hal yang harus dipastikan agar tidak kelupaan dan mempersulitnya. Tanpa ia sadari tau-tau jam sudah lewat tengah hari. Sebenarnya Keysha sudah menguap berulang-ulang sejak beberapa jam lalu, tapi demi persiapan inilah memaksanya untuk tetap terjaga. Saking ngantuknya ia memutuskan untuk rebahan sejenak terlebih dahulu, namun pada akhirnya ia kebablasan juga dan melupakan rutinitas malamnya untuk menggosok gigi plus memakai skincare. Lelah luar biasa membuatnya cepat terlelap tidur dan tau-tau dia sudah berada di tempat berbeda. Key mengamati sekitar dan merasa yakin ia sudah tidak berada di kamarnya lagi. Key berusaha menajamkan penglihatannya namun hanya gelap sejauh mata memandang. Sunyi dan sepi.
“Halo!” Teriaknya. Namun ia hanya mendapatkan gema dari suaranya saja yang terdengar berulang-ulang. Tempat macam apa ini?
“Halo, ada orang di sini?” Ia masih berusaha memanggil siapa tau ada orang yang menjawab. Sia-sia, lagi suaranya menggema.
Kini Key mulai takut berada di tempat itu. bagaimana mungkin ia berada di ruang yang keseluruhannya gelap dan tak ada suara bahkan suara serangga sekalipun tak satupun terdengar. Sudah bagaikan mimpi buruk. Dengan penuh hati-hati ia mulai melangkahkan kakinya, tangannya mencoba meraba-raba, siapa tau ada pintu atau jalan keluar yang bisa disentuhnya dan ketika dibuka ada cahaya masuk, namun beberapa menit sudah ia melakukan itu, nyatanya Key tak menemukan apapun untuk berpegangan, semua terasa hampa. Karena menganggap sia-sia usahanya, ia mulai pasrah, meringkuk sembari memeluk kedua kakinya yang mulai terasa membeku ujung-ujung jarinya.
“Seseorang, tolong aku…” Rintihnya.
Tepat saat itu, datang sosok lelaki yang merasa terpanggil.
“Keysha..” Panggil sumber suara itu lirih nan lembut.
Key mendongak, dan mengucek kedua matanya yang basah. Pas ketika ia yakin dengan penglihatannya, Key terbelalak. Lelaki itu! Lelaki berwajah terang yang tak pernah dikenalnya namun pernah menolongnya dari kejaran lelaki beringas dan ratusan ular derik tempo lalu.
“Kau datang! Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau selalu menolongku?” Key berdiri dan terlonjak senang lalu menyodor berbagai pertanyaan yang hinggap di benaknya. Lelaki itu hanya tersenyum menanggapi, ia memberikan sebuah jubah bulu dan memakaikannya ke tubuh Key yang tampak kedinginan. Tangannya meraih tangan Key dan mengajaknya untuk ikut dengannya. Bagaikan terhipnotis, Key pun hanya menuruti.
Lelaki misterius itu tampak seperti meraih knop pintu dengan yakin yang bahkan Key sendiri tak bisa melihat sama sekali selain gelap pekat yang menyelubungi.
Krek!!!
Suaranya seperti sebuah pintu kayu usang yang bergesekan dengan engsel pintu yang berkarat. Namun, pemandangan setelahnya adalah sebuah serbuan cahaya yang sangat menyilaukan sampai-sampai Key harus menghalangi kedua matanya dengan tangan yang sedang tidak digandeng lelaki itu.
“Bukalah matamu, Keysha.” Perintah lelaki itu, dan dia sedang berbicara kepadanya! Betapa mahal demi mendengar suaranya.
“Kau membawaku kemana dan siapa sebenarnya kamu?” Key masih berusaha bertanya dan berharap kali ini lelaki itu mau menjawabnya. Degan hati-hati ia membuka kelopak matanya dan mencoba melihat wajah itu, sedikit-sedikit ia menyipitkan matanya, lantara belum terbiasa sinar terang yang masuk ke bola matanya setelah dari ruang gelap tanpa setitik cahaya pun.
Dia bisa melihat senyum sang lelaki namun tak begitu jelas rupanya, “Ingat aku Keysha, aku menunggumu.” hanya itu jawabannya. Jawaban yang semakin membuat Keysha terbengong bingung.
Key mulai mencoba mengalihkan pandangannya dari lelaki itu dan mencoba melihat sekitar mereka. Samar-samar penglihatannya mulai jelas. Hamparan sabana penuh dengan bunga edelweis bertebaran di sana, ini mirip seperti ketika ia mendaki Gunung Merbabu lewat jalur Selo dengan berbagai tanaman dataran tinggi yang bertebaran di sana, bedanya hamparan sabana ini dipenuhi oleh satu jenis tanaman saja, bunga edelweis. Key yang awalnya takut tiba-tiba ia berjingkrak girang melihat ciptaan yang luar biasa tersebut, hamparan edelweis, langit biru dengan beberapa awan yang menghiasi, hembusan angin sepoi-sepoi, dan suasana yang begitu hangat. Key sadar tempat ini benar-benar hangat, hangat sekali, berbeda dengan tempat tadi, saat dia mencoba menoleh ke belakang, tempat itu sudah tidak ada, ruang hampa nan gelap itu lenyap begitu saja. Tidak hanya itu, kemana pula perginya lelaki malaikat tadi?
“Hei, kau dimana? Jangan tinggalkan aku di sini sendiri!” teriaknya mulai takut lagi sembari mengangkat kedua tangannya seolah melambai-lambai meminta pertolongan.
Usahanya tak sia-sia, tiba-tiba tangannya ada yang meraih! Dan ia pun membuka matanya.
“Kak Keysha, ada apa? Kenapa kayak teriak-teriak begitu?”
Ketika membuka mata itulah ia mendapati kedua tangannya sedang digenggam adiknya. Devan memandangnya dengan tatapan cemas.
“Devan? Eh tidak apa-apa hahaha.” Key salah tingkah dan menyeka peluh yang ada di pelipisnya.
“Huh! Kakak ini selalu begitu, bikin kaget saja. Tidak bisa ya kalau tidur itu yang tenang, baca doa sebelum tidur. Yakin deh, kakak lupa baca doa kan?” cerocos Devan lagi dengan kesal. Key ingat betul bahwa ia memang lupa membaca doa karena semalam ia memang sebenarnya tidak ada niatan untuk tidur dulu. Key pun menggangguku.
“Tuh kan, makanya kakak diganggu dan mimpi aneh-aneh terus. Ndableg (Bebal) si dibilangin.” Mendengar Key dibilang Ndableg oleh adiknya, seketika tangannya meraih kepala sang adik dan mencooba menoyor kepalanya.
“Ih, nggak boleh bilang Ndableg ke orang yang lebih tua! Kurang ajar tahu!.” Ujar Key sambil terus mengulas-ulas kepala Devan dan baru dilepaskan jika adiknya tulus meminta maaf dan tidak mengulanginya dengan menyebutnya seperti itu.
“Iya, kak. Ampun, devan tidak akan mengulangi lagi.” Tangan Key mulai melonggar, saat ada kesempatan, Devan langsung secepat kilat kabur keluar dari kamar Key. Setidaknya perintah untuk membangunkan kakaknya sudah dilaksanakan.
Key mendengus kesal menyaksikan melihat adiknya melesat pergi. Suasana kembali hening. Sesaat ia kembali teringat akan mimpinya barusan, “Sebenarnya siapa dia? Kenapa terus-terusan muncul di dalam mimpiku?” Merasa tak memiliki titik temu ia menguap berkali-kali, lalu melihat jam weker di atas meja belajarnya. 04.45 pagi. Ia ingat sudah meminta Mamanya untuk membangunkan dia jam setengah lima, karena ia harus bersiap-siap untuk ospek hari-hari terakhir dan masih punya banyak waktu apabila ada yang kurang dipersiapkan saat ia mengeceknya. Meminta orang lain membangunkan jauh lebih efektif daripada ketika ia mengatur alarm namun suaranya tak cukup keras untuk membangunkan dirinya.
“Oke, semangat diriku!!!” key beranjak berdiri dan membuka gorden serta jendela kamarnya, lalu menghirup udara yang masih terlalu pagi. Amat segar. Ia sempatkan beberapa menit untuk olahraga kecil sembari menikmati aroma segar udara pagi yang sangat dngin, embun di sekitar teralis kaca jendelanya menandakan betapa dingin pagi itu.
Siapa sebenarnya lelaki itu? Aldo? Jelas bukan jika dilihat dari postur tubuhnya. Gumamnya bertanya dan menjawab sendiri.
“Ok, lupakan. Kita lihat kenyataan yang ada di depan mata. Hari-hari indahmu akan dimulai Key sayang…” Ujarnya pada diri sendiri dan tiba-tiba ia jadi teringat kejadian kemarin. Aldo., “Mungkin kisah cintaku akan dimulai hari ini.” lanjutnya sembari menatap pandangan lurus kedepan.