Dua minggu setelah confession di studio, Karina dan Cakra duduk di teras belakang rumah sambil minum kopi pagi. Papa lagi jalan-jalan di taman depan sama Bu Reni, kondisinya udah jauh membaik dan dokter bilang dia bisa hidup normal asalkan jaga pola makan dan rutin olahraga ringan. "Sayang," kata Karina sambil main-main cincin di jari manisnya—cincin yang Cakra kasih waktu proposal yang ditolak dulu, tapi sekarang udah dia pakai lagi. "Aku mau tanya sesuatu." "Apa?" "Kamu masih mau nikah sama aku?" Cakra hampir tersedak kopi. "Pertanyaan apa itu? Tentu aja mau." "Baguslah," Karina senyum misterius. "Karena aku mau melamar kamu." "Ha?" Karina berdiri, ambil sesuatu dari saku kardigan-nya. Kotak cincin kecil yang dia beli kemarin diam-diam pas ke Jakarta. "Cakra Adhinatha," kata Kari

