1. Hal yang Tak Pernah Terlintas
Ruang meeting itu terasa hangat. Tapi bukan karena suhu ruangan-melainkan ketegangan yang menggantung seperti kabut tipis.
Karina berdiri tegak di ujung meja panjang, memegang pointer di tangan kanan. Senyum tipis yang sudah ia latih berulang kali di depan cermin kini menghiasi wajahnya. Rambut pendeknya ditata rapi, jas biru navy menambah aura profesional sekaligus pesona. Di belakangnya, layar LED memamerkan slide terakhir dari presentasi timnya.
Remote presentasi di tangannya bergetar sedikit. Bukan karena gugup, tapi karena adrenalin yang mengalir deras dalam tubuhnya.
"...dan berdasarkan analisa pasar tiga bulan terakhir, pendekatan segmentasi emosional terbukti meningkatkan engagement rate sebesar dua puluh delapan persen," ucap Karina, suaranya tenang tapi tegas. "Kami yakin kampanye Hati yang Tumbuh akan menyentuh pasar Bapak secara personal dan luas."
Slide berganti, menampilkan grafik biru yang menanjak tajam-buah kerja keras tim yang dibangun dengan kopi, begadang, dan semangat.
Karina menatap ke arah pria di seberangnya: Pak Aryan, klien utama mereka. Usianya sekitar lima puluhan, dengan rambut memutih di pelipis dan mata yang tajam menilai segalanya.
Hening. Hanya suara AC yang terdengar. Lalu Pak Aryan bersandar, tersenyum kecil.
"Saya suka pendekatannya. Ini bukan cuma jualan, ini menyentuh. Saya pikir... kita lanjut saja ke tahap berikutnya. Tim saya akan menandatangani kontraknya minggu ini."
Karina mengangguk, menahan kegembiraan yang hampir meledak di d**a.
"Terima kasih, Pak. Kami akan siapkan semua kebutuhan kampanye secepatnya. Saya pribadi yang akan memantau timeline-nya."
Ia menjabat tangan Pak Aryan dengan hormat. Detik itu, ia tahu-timnya menang.
Begitu keluar dari ruangan, Reza sudah berdiri di lorong, menunggu dengan mata berbinar.
"Lo gila, Rin," katanya sambil memeluk map di dadanya. "Tadi tuh lo kayak CEO yang udah dua dekade presentasi di TED Talk."
Karina tertawa ringan, melepaskan beban yang menggantung sejak pagi.
"Aduh, jangan CEO dulu, cukup manajer marketing yang belum makan nasi dari pagi."
Reza menyodorkan botol air mineral, dan Karina meneguknya cepat. Ia ingin menikmati momen ini-sejenak saja.
Tapi kemudian, ponselnya bergetar.
Nama di layar membuat dadanya mengerut.
Bu Reni - Suster Jaga Papa
Jantung Karina mencelos. Ia langsung mengangkat.
"Halo, Bu?"
"Karina, Papa kamu tadi sesak napas. Sekarang sudah diobservasi dokter, tapi kami putuskan bawa ke rumah sakit. Jangan panik, ya.
Tapi... kalau bisa kamu pulang dulu."
Karina membeku beberapa detik. Lalu cepat-cepat bangkit.
"Sekarang juga saya ke sana, Bu. Tolong temani Papa, jangan ditinggal sendiri."
Sambungan berakhir. Reza menatapnya khawatir.
"Rin? Ada apa?"
"Papa masuk rumah sakit."
Karina buru-buru mengambil tas, meraih jasnya, dan bergegas. Ketukan cepat di pintu ruang kerja Pak Dion, bosnya, menyusul beberapa detik kemudian.
"Maaf, Pak. Saya baru dapat kabar, Papa saya dirawat. Saya mau pulang ke Semarang hari ini."
Pak Dion menatapnya serius, lalu mengangguk perlahan.
"Semoga nggak parah, ya. Kamu izin dulu saja. Keluarga lebih penting."
"Terima kasih, Pak. Semua urusan klien sudah saya siapkan. Timeline saya serahkan ke Reza, dan saya tetap akan update weekly via email."
"Good job, Rin. Semoga Papamu cepat pulih."
Sore itu, Karina berada di dalam kereta menuju Semarang. Pemandangan di balik jendela berubah cepat-gedung tinggi berganti sawah dan langit sore. Tapi waktu terasa melambat di dalam dirinya. Ada terlalu banyak rasa: khawatir, lelah, takut... dan rindu.
Di ponselnya, foto lama muncul-Mama, Papa, dan Karina kecil tersenyum dalam pelukan. Senyum Mama begitu hangat, seakan masih hidup di antara mereka.
"Coba Mama masih di sini..." pikir Karina, menggigit bibirnya. "Mama pasti bantuin aku."
Air matanya menggenang. Tapi cepat-cepat ia hapus. Ia tidak ingin terlihat lemah-bahkan oleh dirinya sendiri.
"Aku nggak akan kalah sama keadaan," bisiknya. "Aku harus kuat. Buat Papa."
Begitu sampai di rumah sakit, hawa dingin langsung menusuk kulit. Karina berlari kecil menuju ruang perawatan.
Dan di sana, ia melihat Papa. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak kecil di balik selimut dan tabung oksigen. Tapi matanya terbuka saat Karina menggenggam tangannya.
"Papa..." suara Karina tercekat.
"Karina... kamu pulang..." bisik Papa lemah.
"Iya, Pa. Aku pulang."
"Kerjanya gimana?"
"Beres, Pa. Tim Karina menang tender hari ini."
Senyum tipis muncul di wajah Papa.
"Anak Papa hebat."
Karina mencium tangan Papa dengan lembut. Ia duduk di sisi ranjang, tetap menggenggam tangan itu erat.
"Kamu tahu nggak..." suara Papa pelan, seperti datang dari tempat jauh, "tadi malam Papa mimpiin Mama. Dia bilang... kamu sekarang makin mirip dia."
Karina terdiam. Hatinya bergetar. Air di matanya mendidih, tapi tetap ia tahan.
"Karina..." Papa menarik napas pendek. "Kamu harapan Papa satu-satunya. Sebelum Papa pergi... Papa cuma punya satu keinginan..."
"Apa, Pa?"
"Lihat kamu menikah."
Karina terdiam. Lidahnya kelu. Ia memandang Papa yang menatapnya penuh harap, penuh cinta.
"Tapi Pa... Karina masih mau kejar mimpi. Karina masih pengin berdiri lebih tinggi. Tapi... Karina yakin Papa masih akan lihat semua itu. Umur Papa panjang."
"Papa tahu tubuh Papa sendiri, Rin," bisik Papa. "Napas ini... makin pendek. Tapi itu bukan yang paling bikin Papa sedih."
"Terus... apa, Pa?" tanya Karina pelan.
"Papa nggak takut mati, Rin. Papa cuma takut ninggalin kamu sendirian."
Tangis Karina akhirnya tumpah. Ia menunduk, memeluk tangan Papa yang kini terasa lebih dingin dari biasanya.
"Aku nggak sendiri, Pa. Aku kuat. Aku bisa."
"Tapi siapa yang bakal jagain kamu kalau Papa nggak ada? Siapa yang bakal bilang 'jangan kerja terus, Rin, makan dulu'? Siapa yang bisa kamu peluk pas kamu capek?"
"Papa jangan gitu. Karina belum siap..."
"Makanya, Papa minta satu hal..."
Karina menggigit bibirnya.
"Papa mau kamu menikah."
Karina menggeleng cepat, matanya merah.
"Pa..."
"Kamu boleh tetap kerja, tetap kejar mimpi. Tapi punya teman hidup itu penting. Hidup ini capek, Rin. Papa nggak mau kamu terus lari sendirian."
Sunyi. Lalu suara mesin detak jantung kembali mengisi ruang.
Karina akhirnya bicara, lirih.
"Kalau itu bikin Papa tenang... Karina akan coba. Tapi jangan paksa Karina nikah sama orang yang Karina nggak cinta."
Senyum lega muncul di bibir Papa.
"Papa nggak minta kamu nikah besok. Tapi... minggu ini, Papa udah bilang ke Om Rian. Dia mau jenguk. Dia bawa anaknya."
Karina menoleh cepat.
"Papa jodohin aku?"
"Bukan jodohin. Cuma kenalin. Namanya Devandra Rudiatmojo. Papa suka cara dia kerja. Anak baik."
"Pa... Karina nggak suka dijodohin."
"Tahu. Tapi kamu juga nggak pernah buka pintu. Jadi Papa bantu buka dikit, ya?"
Karina menghela napas, lalu tertawa getir.
"Jebakan paling halus sepanjang masa, nih."
"Papa cuma pengen kamu ada dalam pelukan yang aman. Bukan dalam kesepian."
Karina menggenggam tangan Papa, lebih erat dari sebelumnya.
"Oke. Karina akan ketemu Devandra. Tapi janji ya, Pa..."
"Apa?"
"Jangan mikir mau pergi terus. Fokus sembuh dulu."
Papa mengangguk, dan untuk pertama kalinya hari itu-ia terlihat tenang.
Karina menggenggam tangan Papa lebih erat, berharap waktu mau berhenti, walau hanya sebentar saja.