2. Pertemuan yang Berkesan?

899 Words
Setelah kejadian yang menimpa papanya dan perkataan yang disampaikan oleh papanya, Karina tidak bisa tidur semalam. Pikirannya tidak tenang dan sedikit bingung untuk langkah yang akan diambilnya supaya dia bisa menolak permintaan papanya untuk menjodohkan Karina dengan pria asing yang sama sekali belum dia kenal. Setelah papanya beristirahat kemarin malam, Karina kembali ke rumah untuk meletakan semua peralatan dan tas bawaannya. Kemudian dia menyegarkan diri dan saat pagi hari tiba sekitar jam 10 pagi dia kembali ke rumah sakit untuk menjaga papanya. Saat di jalan, tak disangka mobil Karina tiba-tiba berhenti dan tidak mau hidup lagi, Pak Anto yang merupakan supir keluarga Karina mencoba memeriksanya, dan mengatakan kalau ada korslet di kelistrikan mobilnya sehingga harus dibawa ke bengkel. "Pak, ada apa?" tanya Karina. "Sebentar Non, saya cek dulu," jawab Pak Anto. Kemudian Pak Anto kembali mengatakan kondisi mobilnya. "Non Karina, maaf, sepertinya mobilnya harus dibawa ke bengkel non, karena saya lihat ada kabel yang terbakar." "Ya, jadi gimana dong Pak? Bapak bisa telpon bengkel untuk di derek gak Pak? Karina pesan kendaraan online saja dari sini Pak." "Bisa Non." Kemudian karena pergi setelah naik kendaraan yang dipesannya online, sebelum ke rumah sakit dia mampir dahulu untuk membeli kopi. Sesampainya di cafe, Karina memesan kopi s**u kemudian dia pergi menuju ke rumah sakit. Saat berjalan menuju ke ruangan papanya, Karina ditelpon oleh Reza teman kantornya untuk memberitahukan mengenai perkembangan project mereka sebelumnya. Karena tidak fokus jalan, Karina menabrak seorang pria dan tidak sengaja menumpahkan kopinya dan mengenai baju pria itu. Karina meminta maaf kepada pria itu akan tetapi respon pria itu cukup garang, "Mba kalau tidak bisa multitasking coba lakukan 1 kegiatan dulu deh agar lebih fokus." Karina meminta maaf kembali tetapi pria itu langsung pergi, Karina sedikit manyun dan komat-kamit mengenai hal itu. Sesampainya di ruangan papanya Karina melihat ada sesosok pria yang seumuran dengan papanya, itu adalah Om Rian. Karina tidak menyangka akan secepat ini bertemu dengan pria itu, akan tetapi dia tidak melihat anak Om Rian atau siapa pun selain papanya dan Om Rian di ruangan itu. "Eh kamu sudah datang Rin, kenalin ini Om Rian, kamu masih ingat kan?" "Halo Karina, ini Om Rian papanya Devandra." "Oh iya, apa kabar Om? Bagaimana keadaan Tante dan semuanya?" "Tante sehat, Devandra dan Jelita juga sehat." "Syukurlah Om." "Om tidak sangka ternyata kamu sudah dewasa sekarang ya? Gak terasa banget waktu ini." "Iya Om." "Oh iya Om datang kesini bareng Devandra loh, kalau Tante dan Jelita ada keperluan mendadak jadi gak bisa jengukin papa kamu." "Oh iya Om, tapi Karina belum lihat siapa-siapa Om." "Iya tadi dia keluar sebentar ke toilet." Kemudian tak berapa lama kemudian seorang pria masuk ke dalam ruangan itu, kemudian Om Rian mengatakan, "Hei kamu kemana saja Ndra, ini Karina dan Om Surya sudah nungguin, kenalin Karina, ini anak Om Devandra." Ketika Karina ingin menjabat tangannya, Karina kaget ternyata pria itu adalah orang yang dia tabrak tadi. Wajah Karina sedikit memerah karena sedikit malu. "Kenalkan saya Devandra, loh kamu kan?" Sebelum menyelesaikan kalimatnya Karina langsung memotong "Karina, saya Karina Vitha Kusuma." Kemudian papa Devandra mengatakan lagi "Kamu dari mana saja? Kok lama Ndra?" Kemudian Devandra tersenyum sedikit sinis dan menjawab, "Tadi Devandra dihadang sama orang Pa, jadi baju Devandra kotor banget kena tumpahan kopi, terus ambil baju ganti dulu di mobil, maaf banget kelamaan." Sahut papa Devandra, "Oh begitu, yaudah deh gak apa-apa kalau begitu." Devandra kemudian bertanya kepada papa Karina "Bagaimana keadaan Om Surya?" Papa Karina menjawab "Sudah lumayan membaik dari kemarin kok, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Kamu sudah selesai S3 nya?" Devandra menjawab. "Andra baik Om, kuliah sudah selesai juga dan semuanya lancar." Papa Karina menjawab "Syukurlah jika lancar," kemudian menyambung lagi "BTW Rina kamu bilang kamu ada rencana lanjut S3 kan tapi di bisnis, coba deh kamu belajar atau tanya-tanya mas Andra, karena dia ahli itu di bidangnya." Karina menjawab dengan hati-hati dan sedikit segan. "Eh iya Pa, nanti Karina diskusikan ke mas Devandra kalau memang ada waktu." Devandra menjawab. "Boleh kok Om, saya ada waktu, tapi saya bukan guru yang ramah ya Om, saya kayak dosen killer Om." Kemudian Karina menjawab. "Karina gak apa-apa dimarahin kok, apalagi gak ada fee nya." Papa Karina dan papa Devandra pun tertawa mendengar pernyataan itu. Suasana di ruangan itu sudah tidak tegang lagi setelah beberapa saat, saat hampir sore Devandra dan papanya izin pamit pulang. Dan setelah di ruangan itu hanya tersisa Karina dan papanya, papa Karina tiba-tiba berbicara. "Bagaimana Rin menurut kamu? Devandra anaknya baik? Kamu suka gak?" "Apaan sih Pa, baru juga ketemu sekali Pa, mana bisa langsung kilat dong putusin mau apa dan bagaimana Pa?" "Iya, iya papa ngerti kok, papa cuman kepengen tahu first impression kamu saja." "Gak tahu deh Pa, nanti saja deh bahasnya Pa, sekarang kita fokus kesehatan papa saja." "Ya papa ingin kamu jangan lama-lama mutusinnya, kalau memang kalian cocok, papa berharap segera nikahin kamu sebelum papa pergi." "Ih papa ngomong begitu lagi deh, papa tenang saja, papa pasti ada kok di nikahan Karina, sama siapapun orangnya papa pasti ada." "Papa cuman mau yang terbaik untuk kamu Rin, dan bisa jagain kamu." "Iya Pa Karina tahu, kita doain saja dulu kesehatan papa baru doain jodoh Karina." "Tapi kalau kamu memang suka dia dan kalian cocok jangan lama-lama ya Rin." "Ihhhh.. papa.. chill dong Pa." Kemudian Karina dan papanya berbincang dan bernostalgia saat mama Karina masih hidup, mengingat kenangan itu membuat mereka bahagia dan merasa dekat dengan mama Karina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD