3. Pertemuan Kedua yang Canggung

1391 Words
Sabtu pagi, jam delapan lewat, Karina masih meringkuk di kasur rumah masa kecilnya. Kamar ini nggak banyak berubah—poster band-band jaman SMA masih nempel di dinding, meja belajar yang sudah agak miring, dan boneka beruang pemberian Mama yang duduk di sudut. Ponselnya berdering. Papa. "Rin, kamu udah bangun?" "Baru aja, Pa. Kenapa?" "Papa di rumah sekarang. Udah boleh pulang dari rumah sakit kemarin sore. Kamu ke sini ya, ada yang mau Papa omongin." Karina mengucek mata. "Tentang apa, Pa?" "Kamu sama keluarga Om Rian makan siang bareng hari ini." Dadanya langsung sesak. "Pa, Karina kan bilang mau mikir dulu—" "Papa tahu. Makanya ini bukan apa-apa, cuma makan bareng. Om Rian kangen sama kamu, dan tante Sari juga pengen ketemu. Santai aja." Karina menghela napas panjang. "Baik, Pa. Jam berapa?" "Jam satu. Di rumah Om Rian. Kamu inget alamatnya kan?" Setelah sambungan putus, Karina menatap langit-langit kamar. "Ya ampun, Rin. Kamu kenapa janji sih kemarin?" Rumah Om Rian di komplek Bukit Permata masih sama seperti dulu—gerbang hijau, taman kecil di depan, dan mobil BMW yang selalu mengkilap. Karina parkir di samping rumah, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan bel. "Karina!" Tante Sari buka pintu dengan senyum lebar. "Aduh, kamu makin cantik aja. Masuk, masuk." "Halo, Tante. Apa kabar?" "Sehat. Papa kamu gimana? Kemarin kami nggak sempet lama-lama jenguk." "Udah membaik, Tante. Kemarin sore udah boleh pulang." "Syukurlah. Ayo masuk, Devandra udah nungguin di dalam." Karina mengikuti Tante Sari ke ruang tengah. Dan di situ, duduk santai sambil main ponsel, Devandra. Hari ini dia pakai kemeja biru muda dan celana kain—jauh lebih kasual dari kemarin. Rambut klimisnya sedikit acak-acakan, tapi entah kenapa malah bikin dia keliatan lebih... approachable. "Hei," katanya tanpa menoleh, masih fokus sama layar. "Hai," jawab Karina kaku. Devandra akhirnya mendongak. "Lo hari ini lebih rapi dari kemarin. Nggak bawa kopi kan?" Wajah Karina langsung memerah. "Itu... kemarin kan nggak sengaja." "Tau kok. Cuma pengen mastiin aja." Dia nyengir tipis. Tante Sari yang dengar cekikikan. "Wah, ada kejadian apa ini?" "Pertama kali ketemu, pas kemarin Karina numpahin kopi ke baju Devandra, Ma." Jawab Devandra. "Udah-udah, Karina kan tadi bilang nggak sengaja." sahut Tante Sari. "Jangan diganggu terus. Karina, maaf ya, emang anak ini suka ngambekan." Karina terkekeh pelan. "Nggak apa-apa, Tante. Emang salah Karina kemarin." "Udah, udah, kalian duduk dulu. Makan siangnya sebentar lagi siap." Tante Sari masuk ke dapur. Karina duduk di sofa satu lagi, agak jauh dari Devandra. Suasana canggung langsung menyelimuti. "Jadi..." Devandra naruh ponselnya. "Kamu kerja di Jakarta?" "Iya. Marketing di agency." "Suka?" "Suka banget. Adrenalin, challenging, bikin nagih." "Gaji gede?" Karina hampir tersedak ludahnya sendiri. "Kok nanya gitu?" "Penasaran aja. Katanya cewek zaman sekarang lebih milih karir ketimbang nikah. Gue pengen tau worth it nggak." "Worth it banget. Hidup gue bukan cuma soal nikah doang." Devandra manggut-manggut. "Good. Gue juga nggak suka cewek yang cuma ngandalin cowok." "Memangnya lo tipe yang gimana?" "Yang bisa mandiri, punya passion sendiri, nggak manja." Karina diam sejenak. "Berarti lo nggak suka dijagain?" "Bukan gitu. Gue suka jagain orang, tapi gue nggak mau jadi tempat bergantung sepenuhnya. Capek." "Pengalaman buruk?" Mata Devandra berubah serius. "Bisa dibilang begitu." Sebelum Karina bisa nanya lebih lanjut, Om Rian keluar dari kamar. "Hei, Karina! Papa kamu gimana? Udah pulang kan?" "Udah, Om. Alhamdulillah kondisinya stabil." "Syukurlah. Kamu duduk aja sama Devandra, biar kenal dulu. Ini anak baik kok, cuma mulutnya agak nyelekit." "Pa..." protes Devandra. "Bener kan?" Om Rian ketawa. "Karina, jangan diambil hati ya kalau dia ngomong aneh-aneh." "Iya, Om." Tante Sari keluar dari dapur. "Yuk makan! Karina, kamu suka gado-gado kan?" "Suka banget, Tante!" Mereka pindah ke ruang makan. Meja bundar kayu jati dengan kursi empat buah. Karina duduk berseberangan dengan Devandra, Om Rian dan Tante Sari di samping kanan-kiri. "Jadi Karina," Om Rian mulai sambil menyendok nasi, "Kamu mau lanjut S3?" "Iya, Om. Tapi masih planning sih. Masih fokus karir dulu." "Devandra bisa bantuin tuh. Dia kan baru selesai S3 Business Management." Karina melirik Devandra. "Dimana kuliahnya?" "Melbourne. Tiga setengah tahun." "Wah, jauh. Nggak rindu Indonesia?" "Rindu sih, tapi worth it. Dapat banyak perspective baru." "Devandra sekarang udah mulai bantu-bantu bisnis papanya," sambung Tante Sari bangga. "Bisnis apa, Om?" "Property sama konsultan keuangan. Devandra yang handle bagian konsultannya." Karina manggut-manggut. "Pantesan kemarin bilang dosen killer." Devandra nyengir. "Gue emang galak kalau ngajar. Tapi kalau lo serius mau belajar, gue bisa bantuin." "Beneran?" "Iya. Asal lo nggak cengeng kalau dikritik." "Gue nggak cengeng!" "Proof it." Mereka saling tatap beberapa detik. Ada semacam challenge di mata Devandra yang bikin Karina penasaran. "Oke deal. Tapi gue bayar ya. Gue nggak suka hutang budi." "Nggak usah bayar. Consider it as... investasi." "Investasi apa?" "Investasi pertemanan." Karina bingung, tapi angguk aja. Sisa makan siang berlangsung lebih santai. Om Rian cerita soal bisnis, Tante Sari nanyain kenalan Karina di Jakarta, dan Devandra sesekali nyeletuk komentar yang bikin semua orang ketawa. Karina mulai ngerti—cowok ini emang punya sense of humor yang kering, tapi nggak menyebalkan. Sehabis makan, mereka ngobrol-ngobrol di teras belakang. Om Rian dan Tante Sari masuk ke dalam, ninggalin Karina sama Devandra berdua. "Jadi..." Devandra nyandar di pagar teras. "Gimana? Gue masih keliatan nyebelin?" Karina ketawa. "Lumayan berkurang sih." "Progress." "Lo... beda dari yang gue kira." "Maksudnya?" "Kemarin gue kira lo tipe yang sombong, perfectionist, nggak sabaran. Ternyata lo cuma... blunt." "Blunt?" "Iya. Ngomong apa adanya, nggak pake basa-basi. Gue suka sih, refreshing." Devandra menatapnya agak lama. "Lo juga beda dari yang gue kira." "Gimana?" "Gue kira lo tipe workaholic yang nggak punya waktu buat hal lain. Ternyata lo... warm." "Warm?" "Iya. Hangat. Cara lo ngomong soal papa lo, cara lo dengerin cerita bokap-nyokap gue... keliatan care banget." Karina tersipu. "Ya iyalah, basic courtesy." "Nggak semua orang punya itu." Hening sejenak. Angin sore mengibar rambut Karina, dan Devandra memperhatikannya tanpa berkedip. "Jadi..." Karina berdehem. "Kapan bisa mulai prepare belajar buat S3-nya?" "Terserah lo. Gue flexible." "Minggu depan gimana? Gue balik Jakarta Senin." "Bisa. Video call aja dulu, nanti kalau gue ke Jakarta kita meeting." "Lo sering ke Jakarta?" "Sebulan sekali. Ada klien di sana." "Oh." Devandra merogoh ponselnya. "Kasih nomor lo." Karina ragu sebentar, tapi akhirnya ngasih. Ponsel Devandra langsung berdering. "Udah. Sekarang lo punya nomor gue juga." "Thanks." "Karina..." suara Devandra pelan. "Gue tau ini aneh, tapi gue seneng hari ini." "Kenapa aneh?" "Biasanya gue nggak suka dijodohin. Tapi sama lo... nggak berasa dipaksa." Jantung Karina berdebar nggak karuan. "Iya sih. Gue juga nggak berasa awkward lagi." "Good." Mereka diam lagi, tapi kali ini nggak canggung. Malah... nyaman. "Devandra!" teriak Tante Sari dari dalam. "Mama mau pergi ke tante Ira! Kamu antar Karina pulang ya!" "Siap!" sahut Devandra. Lalu menatap Karina. "Gue anter pulang?" "Nggak usah, gue bawa mobil sendiri." "Gue tau. Tapi gue pengen." "Kenapa?" "Supaya gue tau rumah lo. Siapa tau suatu hari gue perlu jemput lo." Karina bingung. "Buat apa?" Devandra nyengir. "Ya nggak tau. Mungkin Lo sakit, atau mobil rusak lagi, atau..." "Atau?" "Atau lo kangen sama gue." Wajah Karina panas. "Percaya diri banget." "Gue cuma optimis." Akhirnya Karina setuju diantar. Sepanjang jalan, mereka ngobrol santai soal musik, film, sama tempat makan enak di Semarang. Devandra ternyata punya selera yang mirip sama Karina—suka film thriller, nggak suka makanan pedas, dan obsesi sama kopi. "Ini rumah lo?" tanya Devandra pas berhenti di depan rumah Karina. "Iya. Makasih ya udah anter." "Sama-sama." Devandra diam sejenak. "Karina?" "Iya?" "Gue harap kita bisa temenan. Beneran temenan, maksud gue. Bukan karena dipaksa orang tua." Karina tersenyum. "Gue juga harap begitu." "Good. Sampai ketemu lagi." "Sampai ketemu." Karina keluar dari mobil, melambai sebentar, lalu masuk ke rumah. Dari jendela ruang tamu, dia lihat Devandra masih parkir di depan, ngetik di ponsel. Beberapa detik kemudian, ponsel Karina berdering. "Thanks buat hari ini. Gue seneng kenal lo." Karina tersenyum, ngetik balasan. "Sama. Jangan lupa janjinya ya, mau ajarin gue prepare buat S3." "Deal. Tapi inget, gue dosen killer." "Siap, Prof!" "Prof? Gue suka itu. 😏" Karina geleng-geleng kepala, tapi bibirnya nggak bisa berhenti senyum. Hari ini beda dari ekspektasinya. Devandra ternyata nggak seburuk yang dia kira. Tapi kenapa dadanya berdebar-debar gini ya? "Rin!" suara Papa dari kamar. "Kamu udah pulang?" "Udah, Pa!" sahut Karina, berusaha kedengeran normal. "Gimana makan siangnya? Devandra baik kan?" Karina diam sejenak, menatap ponselnya yang masih nunjukkin chat dari Devandra. "Iya, Pa. Dia... baik." Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, Karina nggak bohong pas ngomong itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD