Senin pagi, Karina udah duduk di kereta Jakarta-Semarang jam enam. Weekend kemarin lewat terlalu cepat—tiga hari di rumah, jaga Papa, dan entah kenapa kepikiran terus soal Devandra. Ponselnya nggak berhenti berdering sejak kemarin malem. Notifikasi WA, email kantor, sama... chat dari "Prof" yang mulai bikin dia senyum-senyum sendiri.
Karina buka chat terakhir dari Devandra.
"Udah nyampe Jakarta? Hati-hati di jalan."
"Belum, masih di kereta. Thanks ya, kemarin makan siangnya seru."
"Seru? Padahal gue kirain lo masih kesel sama gue."
"Emang. Tapi lo lumayan menghibur."
"Menghibur doang? Sakit hati nih. 💔"
Karina ketawa kecil. Cowok ini dramatic banget.
"Yaudah, lo apa dong?"
"Misterius, menawan, intellectually stimulating?"
"Pede. Banget."
"Kepercayaan diri itu menarik, Karina."
Wajah Karina panas. Gombal atau serius? Susah bedainnya sama Devandra.
"Fokus kerja dulu deh, Prof. Nanti sore video call ya buat bahas S3."
"Deal. Semoga lancar hari ini."
Karina naruh ponsel, berusaha fokus sama pemandangan yang berlalu di luar jendela. Tapi pikirannya kemana-mana. Papa kemarin nanya lagi soal Devandra—gimana kesan pertama, apa mereka bisa jadi temen, kapan ketemu lagi. Karina jawab seadanya, tapi dalam hati dia sendiri bingung.
Devandra itu... rumit. Satu sisi, dia pintar, lucu, terus terang. Sisi lain, ada aura "gue tahu mau apa, dan gue pasti dapetin" yang bikin Karina sedikit waspada. Tapi kenapa malah menarik ya?
"Rin! Lo kemana aja sih weekend kemarin?" Reza langsung nyergap begitu Karina masuk kantor.
"Semarang. Papa sempet drop, tapi udah mendingan."
"Syukurlah. Eh, lo keliatan beda deh."
"Beda gimana?"
"Beda aja. Glowing gitu. Ada yang lo sembunyiin?"
Karina ngelak. "Nggak ada apa-apa."
"Bohong. Gue kenal lo, Rin. Lo tuh kalau ada sesuatu, suka senyum-senyum sendiri kayak gini."
"Emang gue senyum-senyum sendiri?"
"Dari tadi."
Karina langsung nutup mulut, sadar dia emang senyum tanpa alasan jelas.
"Cerita dong. Ketemu siapa di Semarang?"
"Nggak ada siapa-siapa. Cuma keluarga."
"Keluarga yang mana? Yang cowok?"
"Reza!"
"Aha! Ketemu cowok! Siapa? Mantan? Temen lama?"
Sebelum Karina bisa jawab, Pak Dion keluar dari ruangannya.
"Pagi, team. Rina, gimana Papa-nya?"
"Udah stabil, Pak. Thanks."
"Bagus. Kalian siap-siap ya, klien dari kemarin pengen meeting lagi. Ada revisi campaign."
Karina langsung mode kerja. "Kapan, Pak?"
"Jam dua siang. Persiapan dari sekarang."
"Siap."
Meeting itu berjalan lancar, tapi makan waktu sampe jam lima. Karina baru sempet buka ponsel pas udah di mobil online mau pulang ke apartemen.
15 missed calls. Semua dari Devandra.
Jantung Karina langsung deg-degan. Kenapa dia nelpon berkali-kali? Ada apa-apa sama Papa?
Dia langsung balik telpon.
"Halo?"
"Akhirnya! Gue udah nelpon dari tadi."
"Maaf, meeting. Ada apa? Papa kenapa-kenapa?"
"Papa lo baik-baik aja. Gue yang ada masalah."
"Masalah apa?"
Hening sebentar. Suara Devandra kedengeran... beda. Lebih serius.
"Gue di Jakarta."
"Ha?"
"Gue di Jakarta sekarang. Ada meeting mendadak sama klien. Tadinya mau balik Semarang hari ini, tapi meeting besok pagi juga ada."
"Oh... terus?"
"Lo bisa ketemu gue sekarang?"
Karina bingung. "Sekarang? Buat apa?"
"Ada yang mau gue omongin. Penting."
"Ngomong aja lewat telpon."
"Nggak bisa. Harus ketemu langsung."
"Devandra, gue capek. Meeting dari siang, macet, pengen istirahat—"
"Please."
Nada suaranya beda. Hampir... putus asa.
"Emang kenapa sih?"
"Lo bisa ke cafe deket apartemen lo? Yang di seberang Starbucks."
Karina kaget. "Lo tau apartemen gue dimana?"
"Gue... stalking i********: lo dikit."
"Serem."
"Gue tau. Tapi urgent banget. Lima belas menit aja."
Karina diam, mempertimbangkan. Ada yang aneh dari cara Devandra ngomong. Biasanya dia percaya diri, sekarang kedengeran... gelisah.
"Oke. Tapi beneran lima belas menit."
"Thanks. Gue tunggu di sana."
Cafe Kopi Kita emang deket banget sama apartemen Karina. Cuma jalan kaki tiga menit. Begitu masuk, dia langsung liat Devandra duduk di pojok, tatapan kosong ke arah jendela. Dia pakai kemeja putih yang udah agak kusut, rambut acak-acakan. Beda banget dari Devandra yang biasanya rapi.
"Hei," sapa Karina, duduk di hadapannya.
Devandra mendongak. "Thanks udah mau dateng."
"Lo keliatan... berantakan. Ada apa?"
Devandra tertawa pahit. "Langsung to the point. Gue suka itu."
"Jadi?"
"Karina... gue butuh bantuan lo."
"Bantuan apa?"
Devandra diam lama, seperti nyusun kata-kata dengan hati-hati.
"Gue punya masalah sama keluarga gue. Khususnya, sama ekspektasi mereka soal gue."
"Ekspektasi gimana?"
"Nikah."
Karina hampir tersedak kopi yang belum dia pesan. "Ha?"
"Bokap-nyokap gue udah mulai pressure. Gue umur 32, udah mapan, udah waktunya menikah dan berkeluarga. Mereka udah siapin daftar cewek-cewek yang 'cocok' buat gue."
"Terus?"
"Gue nggak mau dijodohin. Gue mau milih sendiri."
"Ya udah, bilang aja."
"Lo pikir gampang? Bokap gue tuh keras kepala. Kalau udah mutusin sesuatu, susah diubah. Dan sekarang dia udah mutusin gue harus nikah tahun ini."
Karina mulai paham kemana arah pembicaraan ini. "Jadi...?"
"Gue butuh... pacar palsu."
"APA?"
Beberapa orang di cafe noleh. Karina langsung kecilkan suara.
"Lo gila?"
"Denger dulu. Gue nggak minta yang ribet. Cuma butuh seseorang yang bisa gue bawa ke acara keluarga, dinner, hal-hal kayak gitu. Buat nunjukin ke bokap-nyokap kalau gue udah ada yang 'serius'."
"Kenapa gue?"
"Karena lo sempurna buat ini."
"Sempurna gimana?"
"Lo pintar, mandiri, punya karir bagus. Persis tipe yang bakal disukai orang tua gue. Plus..." dia ragu sebentar, "mereka udah kenal sama lo. Udah ada kesan yang baik."
Karina melongo. "Lo udah mikirin ini dari kemarin?"
"Sejak gue pulang dari rumah lo."
"Devandra, ini gila. Gue nggak bisa—"
"Gue bayar."
"Apa?"
"Gue bayar lo. Anggep aja kerja sampingan."
"Lo pikir gue apa? Escort?"
"Bukan! Gue nggak maksud gitu." Devandra mengusap wajahnya frustasi. "Gue cuma... putus asa, Karina. Bokap gue udah ngatur dinner sama anak kliennya Jumat ini. Kalau gue nggak bawa pacar, gue bakal dipaksa kenalan sama cewek itu."
"Terus kenapa nggak lo kenalan aja? Siapa tau cocok."
"Karena gue nggak mau dipaksa. Gue pengen hidup gue gue yang tentuin."
Karina menatap Devandra lama-lama. Ada sesuatu di matanya—frustrasi, tapi juga keputusasaan.
"Lo beneran putus asa ya?"
"Banget."
"Terus kalau gue setuju, berapa lama?"
"Sebulan. Maksimal dua bulan. Sampe bokap gue yakin gue udah 'stabil' sama hubungan gue."
"Terus kalau udah selesai?"
"Kita putus secara baik-baik. Gue bilang ke orang tua kalau kita beda visi masa depan atau gimana gitu. Putus bersih."
Karina diam, mencerna proposal gila ini.
"Lo sadar kan ini bisa ribet banget?"
"Gue tau. Makanya gue minta sama lo. Lo orang yang... rasional. Kita bisa handle ini secara profesional."
"Profesional?"
"Iya. Kayak perjanjian bisnis. Nggak pakai perasaan, batasan yang jelas, saling menguntungkan."
"Saling menguntungkan? Gue dapet apa?"
"Gue ajarin lo S3, gratis. Plus jaringan—bokap gue punya relasi yang luas. Bisa ngebantu karir lo."
Karina terdiam lagi. Proposal ini gila, tapi... nggak sepenuhnya nggak masuk akal. Dia emang butuh mentor buat S3, dan networking selalu berguna.
"Karina?"
"Gue mikir."
"Berapa lama?"
"Gue kasih jawaban besok."
"Oke." Devandra nampak sedikit lega. "Thanks udah mau dengerin."
"Jangan berharap banyak. Ini gila, lo tau kan?"
"Gue tau. Tapi gue nggak punya pilihan lain."
Mereka diam sejenak. Suasana cafe yang biasanya nyaman sekarang terasa berat.
"Satu pertanyaan," kata Karina.
"Apa?"
"Kenapa lo nggak minta tolong mantan atau temen cewek lo?"
Wajah Devandra mengeras. "Rumit."
"Rumit gimana?"
"Gue... ada masalah kepercayaan sama mantan. Dan temen cewek gue kebanyakan udah married atau bakal bikin ini jadi rumit."
"Masalah kepercayaan?"
"Cerita lain waktu."
Karina manggut, nggak maksa. "Oke. Gue pulang dulu."
"Gue anter?"
"Nggak usah. Deket kok."
Devandra berdiri juga. "Karina?"
"Iya?"
"Apapun keputusan lo, gue appreciate lo udah mau dengerin."
"Lihat nanti."
Karina keluar dari cafe dengan kepala penuh pertanyaan. Proposal Devandra itu gila, tapi... kenapa ada bagian dari dirinya yang mulai mempertimbangkannya?
Di apartemen, dia rebahan sambil menatap langit-langit. Ponselnya berdering—Papa.
"Rin, gimana hari pertama balik kerja?"
"Lancar, Pa."
"Syukurlah. Oh iya, Papa dengar dari Om Rian, Devandra lagi di Jakarta ya?"
Jantung Karina hampir copot. "Papa denger dari mana?"
"Om Rian tadi telpon. Katanya Devandra ada meeting. Dia tanya, apa kamu udah ketemu."
"Belum, Pa. Karina kan sibuk."
"Ya udah, kalau ada waktu ketemu aja. Devandra kan bisa bantuin lo soal kuliah."
"Iya, Pa."
Setelah telpon putus, Karina menatap ponselnya lama-lama. Ada pesan yang terlewat dari Devandra.
"Thanks lagi buat hari ini. Nggak ada tekanan, tapi tolong pertimbangkan serius. Gue beneran butuh ini."
Karina ngetik-hapus beberapa kali sebelum akhirnya membalas.
"Besok gue kasih tau."
"Oke. Selamat malam, Karina."
"Selamat malam."
Karina melempar ponsel ke kasur, tapi tidur nggak datang-datang. Pikirannya kemana-mana. Proposal gila Devandra, Papa yang mulai pressure halus soal marriage, karir yang lagi naik...
Dan entah kenapa, ada suara kecil di hatinya yang bisik: "Mungkin ini bisa jalan."
Tapi apa dia cukup berani buat mencoba?