5. Kontrak 30 Hari

1243 Words
Karina bangun jam lima pagi dengan mata bengkak. Semalaman mikirin proposal gila Devandra sampe nggak bisa tidur. Pro dan cons berputar-putar di kepala—dari yang masuk akal sampe yang absurd. Untung: Bimbingan S3 gratis, networking, Papa nggak bakal pressure soal jodoh (setidaknya sementara). Rugi: Bohong ke keluarga, risiko ketahuan, perasaan bisa jadi ribet. Tapi yang paling bikin dia mikir keras—Papa kemarin bilang "Papa berharap segera nikahin lo sebelum Papa pergi." Nada suaranya beda. Lebih... mendesak. Karina ambil ponsel, buka chat Devandra. Cowok itu kirim pesan jam 2 pagi. "Nggak bisa tidur. Mungkin lo juga. Apapun keputusan lo, gue akan hormatin." "Tapi biar lo tau—ini bukan cuma soal gue ngindarin jodohan ortu. Gue beneran pikir kita bisa saling bantu." Karina ngetik pesan, hapus, ngetik lagi. Akhirnya: "Ketemu jam 7 pagi. Cafe yang sama. Kita perlu bahas detail." Balasannya langsung masuk. "Gue akan di sana." Devandra udah duduk di meja yang sama, dengan dua cup kopi dan croissant. Karina heran—cowok ini tidur atau nggak sih? "Lo keliatan ancur," kata Devandra pas Karina duduk. "Makasih. Sangat menawan." "Gue serius. Berarti lo mikirin ini dengan serius." Karina ambil kopi yang udah disiapinnya. "Oke. Gue mau dengerin proposal lo lebih detail. Tapi gue punya syarat." Mata Devandra langsung berbinar. "Lo pertimbangkan?" "Pertimbangkan. Belum setuju." "Oke. Syaratnya apa?" "Pertama, gue mau tau kenapa lo desperate banget sampe rela pura-pura pacaran." Devandra diam sebentar, seperti mempertimbangkan seberapa banyak yang mau diceritakan. "Bokap gue... tradisional banget soal warisan keluarga. Dia lihat pernikahan bukan cuma soal cinta, tapi soal meneruskan keturunan, kemitraan bisnis, status sosial. Gue udah nolak lima jodohan dalam dua tahun terakhir." "Terus?" "Terakhir kali gue nolak, dia bilang kalau gue nggak bawa 'calon' dalam tiga bulan, dia bakal atur pernikahan sama anak klien terbesar kami. Nggak bisa ditawar." "Sial." "Iya. Dan pernikahan itu ya merger bisnis. Gue nggak mau hidup gue jadi transaksi." Karina manggut-manggut. "Oke, gue ngerti motivasi lo. Sekarang, tepatnya apa yang lo harapkan dari gue?" Devandra keluarin catatan dari ponselnya. "Gue udah bikin daftar." "Lo serius bikin daftar?" "Gue suka perencanaan." Dia geser ponselnya ke Karina. "Ini kegiatan yang mungkin kita harus datangi bareng." Karina baca daftarnya: 1. Makan malam keluarga (bulanan) 2. Ulang tahun Bokap (3 minggu lagi) 3. Acara anniversary perusahaan (bulan depan) 4. Kunjungan dadakan ke rumah ortu 5. Posting sosial media (sesekali) "Posting sosial media?" "Bokap gue stalking IG gue. Dia perlu liat bukti kalau kita... deket." "Deket itu gimana?" "Foto berdua. Pegangan tangan. Hal normal hubungan pacaran." Karina ngerasa dadanya sesak. "Ini jadi serius ya?" "Sangat serius. Makanya gue butuh orang yang bisa gue percaya." "Dan lo percaya sama gue?" "Iya. Aneh memang, tapi iya." Mereka diam sebentar. Karina scroll daftarnya lagi. "Oke. Giliran gue kasih syarat." "Silakan." "Pertama, nggak ada yang fisik selain yang perlu buat penampilan di depan umum. Pegangan tangan, sentuh lengan dikit, segitu aja." "Setuju." "Kedua, kita tetep hidup masing-masing. Gue nggak mau ini ngaruh ke kerjaan atau hubungan asli gue." "Tentu." "Ketiga, timeline yang jelas. Lo bilang satu sampai dua bulan. Gue mau tanggal akhir yang pasti." Devandra mikir. "Gimana... enam minggu dari hari ini. Cukup waktu buat yakinkan ortu gue, nggak terlalu lama sampe jadi ribet." "Enam minggu." Karina ngitung di kepala. "Itu pertengahan Oktober." "Iya." "Keempat, strategi akhir. Gimana cara kita 'putus' tanpa bikin orang tua lo curiga?" "Kita pikirin nanti aja. Mungkin keputusan bersama buat fokus ke karir, tujuan hidup yang beda, yang masuk akal." "Dan kelima..." Karina ragu. "Kalau salah satu dari kita jadi beneran suka gimana?" Devandra menatapnya tajam. "Itu nggak akan terjadi." "Kok bisa yakin?" "Karena gue nggak suka yang namanya ikatan emosional. Dan lo... lo terlalu pintar buat jatuh cinta sama orang dalam hubungan palsu." Karina nggak tau kenapa pernyataan itu sedikit menyakitkan. "Bener. Terlalu pintar." "Itu pujian." "Oke." Hening lagi. Devandra main-main sendok kopinya. "Jadi... jawaban lo apa?" Karina menarik napas panjang. Ini gila. Tapi... "Oke." "Oke?" "Gue setuju." Senyum lega langsung muncul di wajah Devandra. "Serius?" "Jangan bikin gue nyesel." "Lo nggak akan nyesel. Gue janji." "Kapan kita mulai?" "Malem ini." "MALEM INI?" "Bokap undang gue makan malam di rumah. Katanya ada 'kejutan'. Gue yakin itu kejutannya adalah cewek yang mau dijodohin. Timing yang pas buat kenalkan lo." Karina ngerasa mau pingsan. "Devandra, gue belum siap—" "Lo pasti bisa. Jadi diri sendiri aja." "Jadi diri sendiri? Gue bahkan nggak tau cerita kita gimana! Pertama ketemu dimana? Udah pacaran berapa lama? Background gue apa?" "Santai." Devandra ambil ponselnya lagi. "Yuk bikin cerita kita sekarang." Mereka ngabisin sejam bikin cerita yang rumit. Resminya, mereka ketemu lewat Papa Karina sama Om Rian, mulai dari temen, pelan-pelan jadi deket dalam sebulan terakhir. Sederhana, masuk akal, hampir bener. "Gimana soal kemesraan?" tanya Karina. "Maksudnya, kalau di depan orang tua lo." "Natural aja. Pegangan tangan, duduk deket, sesekali sentuh lengan. Nggak yang lebay." "Terus panggilan sayang?" "Lo maunya apa?" Karina mikir. "Rin aja mungkin? Yang nggak terlalu mesra." "Rin. Oke. Lo bisa panggil gue... terserah yang natural." "Oke... Andra?" "Boleh." Mereka tuker detail lainnya—film favorit (buat ngobrol), hobi yang sama, bahkan lelucon dalam yang harus mereka buat. Pas udah selesai, Karina kerasa kayak lagi belajar buat ujian dadakan. "Satu lagi," kata Devandra. "Mama gue bakal suka sama lo, tapi dia juga sangat... jeli. Dia bakal perhatiin semuanya." "Bagus. Nggak ada tekanan." "Terus Papa gue... dia intimidating di awal, tapi dia menghargai kecerdasan dan kemandirian. Jangan takut aja." "Dicatat." Devandra liat jam. "Gue harus pergi. Meeting tiga puluh menit lagi. Gue jemput lo jam tujuh?" Karina baru sadar dia belum nanya—makan malamnya dimana? "Rumah orang tua gue. Kelapa Gading." "Wah, mewah." "Iya. Berpakaian... bagus, tapi jangan keliatan terlalu berusaha. Sopan tapi stylish." "Gue tau cara berpakaian, Devandra." "Iya. Maaf." Mereka berdiri bareng. Kecangggungan tiba-tiba ngisi udara. "Jadi..." Karina mulai. "Kita beneran mau lakuin ini." "Kita beneran mau lakuin ini." "Dan malem ini gue bakal dikenalkan sebagai pacar lo." "Iya." "Ke keluarga lo." "Uh-huh." "Sambil bohong habis-habisan." "Secara teknis, ini penyampaian kebenaran selektif." Karina geleng-geleng kepala. "Gue nggak percaya udah setuju." "Hei." Devandra sentuh lengannya pelan. "Kalau lo mau mundur—" "Nggak. Gue udah bilang iya, maksud gue beneran. Cuma... nervous." "Lo pasti bisa." "Darimana lo tau?" "Karena lo bisa handle gue, dan gue jauh lebih susah dari orang tua gue." Karina nggak bisa nahan ketawa. "Itu... actually menenangkan." "Sampai ketemu jam tujuh, pacar." "Sampai ketemu jam tujuh, pacar." Ngomong kata itu bikin semuanya jadi nyata. Pas Karina jalan balik ke apartemen, ponselnya berdering dengan pesan dari Reza yang nanya soal aura misterius kemarin, dari Papa yang nanya tentang harinya, dan dari Nadia yang nanya kapan bisa ketemu. Semua hal normal yang tiba-tiba kerasa nggak nyata. Beberapa jam lagi, dia bakal duduk di meja makan, pura-pura jatuh cinta sama orang yang baru dia kenal, bohong ke orang yang baru ketemu, sementara hidup aslinya tetep jalan di sekitarnya. "Gue ngapain sih?" bisiknya ke diri sendiri. Tapi entah kenapa, ada bagian dari dirinya yang... excited. Mungkin karena serunya tantangan ini. Mungkin karena penasaran sama dunia Devandra. Atau mungkin, cuma mungkin, ini hal pertama yang menarik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Ponselnya berdering lagi. Devandra. "Makasih udah mau iya. Gue tau ini gila." "Bener-bener gila. Tapi yuk liat kemana arahnya." "Tim konspirasi?" "Tim konspirasi." Karina save kontaknya jadi "Andra 💼" dan langsung kerasa aneh. Enam minggu lagi, semua ini bakal berakhir. Mereka bakal balik ke hidup masing-masing, dan ini cuma jadi cerita aneh buat diceritain suatu hari nanti. Emang bisa salah apa sih?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD