Karina belum pernah segugup ini sejak presentasi pertama di depan klien besar. Jam lima sore, dia udah bolak-balik buka lemari, coba lima outfit berbeda, terus buang semua pilihan itu ke kasur.
"Sopan tapi stylish," gumamnya, mengulang kata-kata Devandra. "Sopan tapi stylish. Artinya apa coba?"
Akhirnya dia pilih dress midi warna navy, cardigan cream, sama heels yang nggak terlalu tinggi. Sopan cukup buat ortunya Devandra, tapi tetep keliatan rapi. Makeup natural, rambut diikat setengah. Perfect.
Atau nggak.
Ponselnya berdering. Devandra.
"Gue udah di bawah."
"Sebentar, gue turun."
"Lo nervous?"
"Nggak."
"Bohong. Gue denger suara lo gemetar."
Karina nutup telpon, ambil tas, tarik napas dalam-dalam. Ini cuma dinner keluarga. Acting jadi pacar palsu. Gampang, kan?
Begitu turun, dia liat Devandra berdiri di samping BMW hitam, pakai kemeja putih dan celana formal. Rambut klimisnya ditata rapi, dan entah kenapa dia keliatan... berbeda. Lebih dewasa, lebih serius.
"Lo keliatan cantik," katanya pas Karina mendekat.
"Lo juga keliatan... rapi."
"Thanks. Ready?"
Karina ngangguk, meski dalam hati screaming.
Perjalanan ke Kelapa Gading diisi dengan brifing dadakan. Devandra cerita tentang kebiasaan keluarganya, topik yang aman buat dibahas, dan—yang paling penting—gimana cara mereka harus berinteraksi.
"Inget, kita udah 'deket' hampir sebulan," kata Devandra sambil nyetir. "Jadi jangan terlalu formal, tapi juga jangan terlalu mesra."
"Jelaskan 'nggak terlalu mesra'."
"Ya kayak... lo bisa sentuh lengan gue kalau lagi ngomong, atau gue bisa tarik kursi buat lo. Hal wajar pasangan."
"Hal wajar pasangan," ulang Karina. "Oke. Terus kalau mereka nanya tentang hubungan kita?"
"Bilang aja kita lagi menikmati prosesnya. Nggak mau buru-buru, tapi ngerasa positif soal ini."
"Ngerasa positif soal ini?"
"Iya. Samar tapi positif."
Mereka sampai di komplek mewah dengan gerbang tinggi dan security ketat. Rumah keluarga Rudiatmojo yang udah familiar itu tetep bikin Karina sedikit minder. Bukan karena kaget, tapi karena sekarang dia datang dengan status yang beda.
"Nervous?" tanya Devandra.
"Lumayan. Rasanya beda datang kesini sebagai... pacar."
Devandra parkir di garasi yang biasa. Karina inget terakhir kali dia kesini cuma sebagai tamu biasa.
"Napas," kata Devandra, ngeliat Karina yang kaku. "Lo bakal baik-baik aja."
"Gue tau. Cuma... terakhir kesini kan beda konteksnya."
"Iya. Tapi mereka udah suka sama lo kok."
Mereka masuk lewat pintu samping yang udah familiar. Lorong luas dengan lukisan mahal di dinding, lantai marmer yang mengkilap—semuanya sama kayak waktu pertama Karina kesini. Bedanya, sekarang dia datang sebagai "pacar" Devandra.
"Ndra?" suara perempuan dari arah ruang keluarga. "Kamu udah sampai?"
"Iya, Ma! Bareng Karina!"
Tante Sari muncul, pakai dress anggun warna burgundy. Senyumnya hangat, tapi matanya merhatiin Karina dari atas ke bawah dalam dua detik.
"Karina! Senang banget kamu bisa datang. Masuk, masuk."
"Terima kasih sudah mengundang, Tante."
Om Rian keluar dari ruang kerja, pakai kemeja dan celana formal meski di rumah. Aura atasan-nya kental banget.
"Karina, selamat datang di rumah kami. Devandra udah cerita banyak tentang kamu."
Devandra cerita banyak? Karina lempar pandangan bingung ke Devandra, yang cuma nyengir.
"Semoga yang baik-baik, Om."
"Tentu saja. Yuk, kita makan malam dulu. Mama udah siapin masakan favorit Devandra."
Ruang makan mereka sebesar ruang tamu apartemen Karina. Meja kayu jati untuk delapan orang, dengan peralatan makan yang keliatan mahal. Tante Sari udah nyiapin nasi gudeg, ayam bakar, sayur lodeh, sama sambal yang aromanya bikin perut Karina langsung keroncongan.
"Wah, masakan Jawa semua," kata Karina. "Kelihatannya enak banget, Tante."
"Devandra bilang kamu suka masakan Jawa. Mama sengaja masak ini."
Karina kaget. Kapan Devandra bilang dia suka masakan Jawa? Oh iya, pas mereka bikin cerita tadi pagi. Detail yang dia udah lupa.
Mereka duduk berseberangan—Karina di samping Devandra, Om Rian dan Tante Sari di sisi lain. Suasana awkward sebentar sebelum Om Rian mulai ngobrol.
"Jadi Karina, Devandra bilang kamu kerja di marketing agency?"
"Iya, Om. Di Jakarta. Bidang kampanye dan branding."
"Suka?"
"Suka banget. Susah, tapi seru."
"Bagus. Om menghargai perempuan yang punya semangat kerja."
Tante Sari sentil Om Rian pelan. "Jangan interogasi, Pa. Karina bukan yang lagi wawancara kerja."
"Nggak apa-apa, Tante," kata Karina sambil ketawa. "Karina suka ditanya-tanya. Berarti Om peduli."
Om Rian tersenyum setuju. Langkah pertama, berhasil.
"Gimana kalian bisa deket? Tante kirain kalian nggak mau terusin kenalan setelah kunjungan Papamu di rumah sakit," tanya Tante Sari sambil nyuapin nasi ke piring Karina. "Devandra nggak pernah cerita detail."
Karina dan Devandra tuker pandangan cepat.
"Awalnya kita kenalan sewaktu Papa dirumah sakit dan di jengukin sama Om Rian terus ada Devandra juga," kata Karina. "Habis itu setelah kenalan kita jadi deket dan Devandra sering kontak Karina dan kita juga ketemuan di Jakarta, Tante."
"Terus lama-lama ngobrol," sambung Devandra. "Ternyata banyak yang sama. Film favorit, buku, tempat hang out."
"Romantis banget," kata Tante Sari. "Kayak jodoh yang dipertemukan keadaan."
Karina hampir tersedak gudeg. "Iya, Tante. Nggak nyangka banget."
"Devandra orangnya susah deket sama orang," kata Om Rian. "Dia pilih-pilih banget. Om gak nyangka dia bakalan mau dekat sama kamu setelah Om dan Papamu kenalkan."
"Papa..." protes Devandra.
"Bener kan? Terakhir kali kamu bawa cewek ke rumah kapan? Tiga tahun lalu?"
Karina notice Devandra agak tegang. Ada history yang dia belum tau.
"Yang penting sekarang," kata Devandra cepat. "Karina dan Devandra nyaman sama satu sama lain."
"Nyaman gimana?" tanya Tante Sari dengan mata berbinar. "Maksudnya, serius nggak nih?"
Ya ampun. Pertanyaan yang mereka takutin.
"Kita lagi enjoy prosesnya, Tante," jawab Karina, ngingat yang udah dilatih sama Devandra. "Nggak mau buru-buru, tapi... ngerasa positif soal ini."
"Feel good about it," ulang Tante Sari sambil tersenyum. "Itu bagus. Devandra juga butuh orang yang sabar sama dia."
"Sabar kenapa?" tanya Karina, genuinely curious.
"Dia tuh workaholic," kata Om Rian. "Kerjaan nomor satu, yang lain nomor dua."
"Eh, nggak juga," bantah Devandra. "Karina juga workaholic kok. Kita saling ngerti."
"Bener," kata Karina. "Gue appreciate dia yang fokus sama tujuannya. Nggak manja, nggak ngerepotin."
"Perfect match dong," kata Tante Sari girang.
Mereka lanjut makan sambil ngobrol tentang pekerjaan, hobi, sama rencana weekend. Karina surprisingly nyaman sama obrolan mereka. Om Rian ternyata lucu, Tante Sari perhatian banget, dan suasananya hangat meski rumahnya bikin minder.
Pas dessert disajin, Om Rian tiba-tiba jadi serius.
"Karina, Om mau tanya sesuatu."
"Iya, Om?"
"Kamu liat masa depan kamu gimana? Maksudnya, lima tahun ke depan?"
Pertanyaan berat. Karina tau Om Rian sebenernya nanya: lo mau nikah sama anak gue atau nggak?
"Karina pengen terus berkembang di karir, tapi Karina juga sadar kalau hidup nggak cuma soal kerja," jawab Karina hati-hati. "Karina mau punya keluarga sendiri suatu hari nanti."
"Suatu hari nanti atau...?"
"Pa," ingetin Devandra. "Terlalu cepat."
"Nggak apa-apa," kata Karina. "Karina ngerti kekhawatiran Om. Karina orangnya suka planning, tapi Karina juga percaya sama timing yang tepat."
"Jawaban bagus," kata Om Rian. "Devandra, kamu beruntung."
Devandra nyentuh tangan Karina di atas meja—gerakan kecil yang keliatan natural, tapi bikin jantung Karina berdetak nggak karuan.
"Devandra yang beruntung," kata Devandra, menatap Karina. "Karina luar biasa."
Ada sesuatu di mata Devandra yang bikin Karina bingung. Itu acting atau...?
"Aww," kata Tante Sari. "Kalian sweet banget. Mama senang banget liat Devandra kayak gini."
Setelah makan malam, mereka pindah ke ruang tamu buat ngopi dan ngobrol santai. Tante Sari tunjukin foto-foto Devandra kecil (memalukan banget), Om Rian cerita tentang business dan kasih advice tentang karir, dan Devandra kebanyakan diam sambil sesekali komentar atau ngelempar pandangan ke Karina.
Jam sepuluh, mereka pamit.
"Karina, kapan-kapan main ke sini lagi ya," kata Tante Sari sambil peluk Karina. "Tante senang banget kenalan sama kamu."
"Terima kasih, Tante. Karina juga senang."
"Devandra, jangan lupa jaga Karina baik-baik," kata Om Rian sambil tepuk pundak anaknya.
"Pasti, Pa."
Di mobil, mereka diam sebentar sebelum Devandra ketawa.
"Lo keren tadi."
"Serius?"
"Serius. Bokap gue terkesan banget. Biasanya dia susah banget setuju sama siapapun."
"Tante Sari juga baik banget. Gue kira bakal lebih... bikin minder."
"Mereka emang orang baik. Cuma... overprotektif sama gue."
"Karena mantan yang tiga tahun lalu itu?"
Devandra wajahnya berubah. "Itu... rumit."
"Lo nggak mau cerita?"
"Lain kali. Sekarang, yuk nikmatin kesuksesan kita. Misi berhasil."
Tapi Karina merasa ada yang mengganjal. Pas Devandra bilang "Gue yang beruntung" sama sentuh tangannya tadi, itu nggak berasa kayak pura-pura. Dan cara dia liat Karina...
"Devandra?"
"Iya?"
"Tadi pas lo bilang gue luar biasa... lo serius atau pura-pura?"
Devandra diam lama. Terlalu lama.
"Emang penting?"
"Entah. Gue cuma... bingung."
"Bingung kenapa?"
"Karena gue juga ngerasa... ada sesuatu. Dan itu nggak seharusnya terjadi."
Mereka sampai di apartemen Karina. Devandra matiin mesin, tapi nggak ada yang keluar.
"Karina..."
"Iya?"
"Thanks buat malam ini. Lo keren banget."
"Sama-sama."
"Dan soal yang lo bilang tadi... mungkin itu wajar. Kita ngabisin waktu bareng, jadi ada chemistry... batasnya jadi kabur."
"Jadi kita harus gimana?"
"Ikutin rencana. Enam minggu, terus selesai."
"Bener. Ikutin rencana."
Tapi pas Karina keluar mobil dan Devandra nyalain mesin lagi, ada perasaan aneh di dadanya. Kayak ada yang penting baru berakhir, padahal semuanya baru mulai.
Di apartemen, dia liat reflection-nya di cermin. Masih pakai dress navy, masih keliatan rapi, tapi ada sesuatu di matanya yang beda.
Ponselnya berdering. Chat dari Devandra.
"Tidur yang nyenyak, Rin. Lo keren banget tadi."
Karina menatap text itu lama banget sebelum balas.
"Thanks, Andra. Keluarga lo baik banget."
"Mereka udah suka sama lo. Itu bahaya."
"Bahaya kenapa?"
"Buat rencana kita."
Karina nggak bales lagi. Dia rebahan sambil mikir—kalau rencana mereka memang udah hancur dari awal gimana? Kalau pura-pura cinta sama seseorang itu cara tercepat buat beneran jatuh cinta?
Dan yang paling menakutkan: kalau Devandra juga mikir hal yang sama?