7. Devandra ke Jakarta

1263 Words
Dua minggu setelah dinner di rumah keluarga Devandra, Karina udah mulai terbiasa dengan rutinitas aneh mereka. Chat setiap hari, telpon malam, bahkan video call pas Devandra ngajarin dia tentang S3. Yang tadinya terasa palsu, sekarang mulai... natural. Terlalu natural. "Rin, lo keliatan beda lagi," kata Reza sambil nyeruput kopi di pantry kantor. "Glowing terus dari dua minggu lalu." "Biasa aja kali." "Bohong. Lo sering senyum-senyum sendiri lagi. Pasti ada cowok." Karina hampir tersedak air mineral. "Nggak ada cowok." "Ada. Gue yakin ada. Siapa? Orang Semarang?" Sebelum Karina bisa jawab, ponselnya berdering. Chat dari Devandra. "Besok gue ke Jakarta. Ada meeting klien sampe sore. Mau dinner bareng?" Jantung Karina langsung berdebar. Kenapa dia excited gini? "Boleh. Dimana?" "Lo yang tentuin. Gue ikut aja." "Tuh kan!" teriak Reza. "Lo senyum lagi! Siapa yang chat?" "Klien," bohong Karina. "Klien mana yang bikin lo senyum kayak gitu? Gue kenal semua klien kita, nggak ada yang ganteng." Karina kabur ke meja kerjanya sebelum Reza makin curiga. ------- Keesokan harinya, Karina nervous nggak jelas. Ini pertama kalinya mereka ketemu di Jakarta—territory dia. Rasanya beda. Di Semarang, mereka ada dalam bubble keluarga. Di Jakarta, mereka cuma... Karina sama Devandra. Tanpa audience. Tanpa perlu acting. Terus mereka harus gimana? Jam lima sore, ponsel Karina berdering. "Gue udah selesai meeting. Lo dimana?" "Masih kantor. Mau dijemput?" "Kirim alamat. Gue kesana." Tiga puluh menit kemudian, Devandra udah nongol di lobby kantor pakai kemeja biru dan celana kain. Rambut agak berantakan karena angin, tapi malah bikin dia keliatan lebih... ramah. "Hei," sapa Devandra pas Karina turun. "Hei. Gimana meetingnya?" "Lancar. Klien tertarik sama proposal kita." Mereka jalan keluar kantor bareng. Beberapa rekan kerja Karina yang lagi pulang liat mereka dengan pandangan penasaran. "Temen dari Semarang," bisik Karina ke Mira yang lewat. "Ganteng," bisik balik Mira sambil nyengir. Di parkiran, Devandra buka pintu mobil buat Karina. Gerakan simple yang nggak perlu dia lakuin karena nggak ada yang liat, tapi dia tetep lakuin. "Thanks," kata Karina, bingung kenapa dia jadi nervous. "Jadi, mau makan dimana?" "Ada tempat bagus di Kemang. Lo suka makanan Korea?" "Suka. Ajakin aja." Perjalanan ke Kemang diisi obrolan ringan tentang kerjaan, Jakarta yang macet, sama rencana weekend. Nggak ada yang forced, nggak ada script yang harus diikutin. Natural aja. Dan itu yang bikin Karina bingung. Restoran Korea yang Karina pilih cozy, nggak terlalu rame, perfect buat ngobrol. Mereka dapat meja di pojok yang agak private. "Tempatnya enak," kata Devandra sambil liat menu. "Lo sering kesini?" "Sesekali. Sama temen kantor biasanya." "Sama Reza?" "Iya, kenapa?" "Nggak kenapa. Dia suka sama lo nggak?" Karina hampir tersedak kimchi. "Ha? Enggak lah. Dia temen baik." "Yakin? Cara dia liat lo kemarin pas gue jemput..." "Devandra, Reza itu tipe yang nggak suka sama cewek" "Oh." Devandra keliatan lega. "Oke." "Kenapa lo nanya gitu?" "Cuma... penasaran." Ada hening sebentar. Karina perhatiin Devandra yang lagi fokus sama bulgogi di depannya. "Dev?" "Iya?" "Kita lagi ngapain sih?" Devandra mendongak. "Maksudnya?" "Maksudnya... ini. Dinner bareng, ngobrol natural, lu nanyain soal temen-temen gue. Ini masih bagian dari kontrak kita atau...?" Devandra naruh sumpitnya. "Apa menurut lo?" "Gue nggak tau. Makanya gue nanya." "Karina..." Devandra diam sebentar. "Gue juga bingung." "Bingung kenapa?" "Karena yang gue rasain sekarang... nggak sesuai sama rencana." Jantung Karina berdetak kencang. "Maksudnya?" "Maksudnya gue mulai..." dia ragu, "gue mulai suka sama lu. Beneran suka." Karina ngerasa dunianya berhenti sebentar. "Dev..." "Gue tau ini nggak seharusnya terjadi. Kita udah bikin aturan. Tapi gue nggak bisa kontrol perasaan gue." "Terus sekarang gimana?" "Gue nggak tau. Lu gimana? Lu ngerasa apa?" Karina diam lama. Sejujurnya, dia juga ngerasa hal yang sama. Chat mereka yang makin personal, video call yang kelamaan, cara dia excited setiap kali ponsel berdering... "Gue juga..." bisik Karina. "Gue juga mulai ngerasa sesuatu." "Sesuatu gimana?" "Kayak... pengen ketemu lu bukan cuma karena agreement kita. Pengen ngobrol sama lu bukan cuma buat acting di depan orang tua lu." Devandra tersenyum tipis. "Jadi kita sama-sama dalam masalah." "Besar." "Terus kita mau gimana?" Karina mikir. "Gue nggak tau. Ini ribet banget." "Ribet kenapa?" "Karena... karena ini started from something fake. Gimana kita tau ini genuine atau cuma efek dari acting terlalu lama?" Devandra manggut. "Valid point." "Dan kontrak kita masih jalan. Lu masih butuh gue buat yakinkan orang tua lu." "Iya." "Plus gue masih nggak tau tentang mantan lu yang tiga tahun lalu itu." Wajah Devandra berubah. "Itu..." "Lu nggak perlu cerita sekarang. Tapi eventually, kalau kita mau serius, gue perlu tau." "Gue ngerti." Mereka makan dalam hening beberapa menit. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. "Jadi," kata Devandra akhirnya, "kita gimana sekarang?" "Kita... lanjutin kontrak kayak biasa. Tapi kita juga eksplor perasaan ini. Pelan-pelan." "Maksudnya?" "Maksudnya kita tetep jadi pacar palsu di depan keluarga lo. Tapi di antara kita berdua... kita coba jujur sama perasaan kita." "Dan kalau ternyata ini cuma ilusi?" "Ya kita putus sesuai rencana awal." "Dan kalau ternyata ini real?" Karina tersenyum. "Kita liat aja." Devandra ngulang tangan di atas meja, nyentuh tangan Karina. Kali ini bukan buat acting. Kali ini buat dirinya sendiri. "Deal?" "Deal." Tapi pas mereka jalan keluar restoran, Karina nggak bisa ngindarin perasaan bahwa mereka baru aja buka pintu yang sebaiknya tetep tertutup. Dan ada sesuatu di mata Devandra—sesuatu yang dia sembunyiin—yang bikin Karina bertanya-tanya: seberapa banyak yang belum dia tau tentang cowok ini? Di mobil, Devandra nyalain musik pelan. "Lo mau pulang langsung atau jalan-jalan dulu?" "Jalan-jalan dulu. Gue pengen nunjukin lo Jakarta malamnya." "Boleh deh." Mereka drive keliling Jakarta—Monas yang terang benderang, Kota Tua yang masih rame, terus berakhir di Ancol yang sepi. "Jakarta cantik juga malem-malem," kata Devandra sambil liat pemandangan laut. "Iya. Gue suka sini kalau lagi butuh mikir." "Sering mikir?" "Akhir-akhir ini, iya." "Mikirin apa?" Karina liat Devandra. "Mikirin lo." "Hal baik atau hal buruk?" "Campur." "Bisa diperjelas?" "Hal baik: lo lebih perhatian dan genuine dari yang gue kira. Hal buruk: gue mulai terlalu peduli." "Terlalu peduli itu masalah?" "Kalau objeknya orang yang masih nyimpen banyak rahasia, iya." Devandra diam. "Wajar sih." "Dev?" "Iya?" "Lo yakin nggak yang lo rasain sama gue ini bukan cuma... gampang aja?" "Maksudnya?" "Maksudnya gue ada, gue available, gue cocok sama kriteria orang tua lo. Lo yakin nggak ini cuma karena gue pilihan yang gampang?" Devandra natap Karina lama. "Lo mau jawaban yang jujur?" "Selalu." "Di awal, mungkin iya. Lo memang pilihan yang gampang. Tapi sekarang..." dia ambil tangan Karina, "sekarang gue nggak bisa bayangin fake dating sama orang lain. Nggak bisa bayangin ngobrol sampai jam dua pagi sama orang lain. Nggak bisa bayangin nervous karena mau ketemu orang lain." "Lo nervous mau ketemu gue?" "Dari kemarin siang." Karina tersenyum. "Gue juga." "Jadi kita sama-sama aneh." "Officially." Mereka duduk diam-diam di tepi pantai, denger suara ombak sama angin malam. Suasananya damai banget. Nggak ada beban, nggak ada peran yang harus dimainkan, nggak ada yang liat. Cuma mereka berdua, berusaha mengerti apa yang terjadi di antara mereka. "Karina?" "Iya?" "Thanks." "Buat apa?" "Buat jujur. Buat mau nyoba ini." "Thanks juga." "Buat apa?" "Buat berani admit perasaan lu." Pas Devandra anter Karina pulang, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Nggak dramatis, tapi halus. Cara mereka liat satu sama lain, cara mereka ngobrol, cara mereka... nyaman. "Chat gue kalau udah sampai hotel," kata Karina pas turun dari mobil. "Baik." "Hati-hati di jalan." "Pasti." Karina ngelambai sampai mobil Devandra hilang, baru dia naik ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Excited, nervous, bingung, tapi juga... senang. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir, dia nggak mikirin Papa, nggak mikirin deadline pernikahan, nggak mikirin pressure dari keluarga. Dia cuma mikirin Devandra. Dan itu mungkin bahaya. Tapi untuk malam ini, dia nggak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD