8. Paparazzi Internal

1585 Words
Senin pagi setelah malam yang berkesan di Ancol, Karina masuk kantor dengan perasaan aneh. Masih ada sisa-sisa kebahagiaan dari kemarin, tapi juga ada kekhawatiran yang mengganjal. Hubungannya sama Devandra makin nggak jelas statusnya. "Pagi, Rin," sapa Reza dengan mata mencurigakan. "Lo keliatan... bersinar." "Biasa aja." "Nggak biasa. Ini udah tiga minggu berturut-turut lo glow up terus. Spill dong, siapa orangnya?" Karina duduk di mejanya, buka laptop sambil berusaha netral. "Nggak ada orang." "Bohong besar. Kemarin gue liat lo dijemput cowok ganteng. Siapa itu?" "Temen." "Temen apaan? Gue kenal semua temen lo, nggak ada yang seganteng itu." Sebelum Karina bisa jawab, ponselnya berdering. Chat dari Devandra. "Selamat pagi. Udah sampai kantor?" "Udah. Lo udah di hotel?" "Udah. Thanks buat kemarin malam. Gue seneng banget." Karina nggak bisa nahan senyum. "Sama. Kapan balik Semarang?" "Sore ini. Tapi gue pengen ketemu lo lagi sebelum pulang." "TUHHH!" teriak Reza sambil nunjuk layar ponsel Karina. "Lo senyum lagi! Siapa yang chat? Jangan bohong!" Karina cepat-cepat tutup ponsel. "Klien." "Klien yang bikin lo senyum kayak orang bodoh? Gue nggak percaya." "Reza, fokus kerja deh." "Nggak mau. Gue penasaran banget. Lo udah berapa lama nyembunyiin ini?" "Nyembunyiin apa?" "Pacar lo." "Gue nggak punya pacar." "Oke, gebetan. Temen tapi mesra. Apalah istilahnya sekarang." Karina menghela napas. Reza itu temen baik, tapi kalau udah penasaran, dia kayak anjing yang nggak mau lepas tulang. "Reza, please. Ini bukan apa-apa." "Bukan apa-apa tapi lo glow up? Bukan apa-apa tapi lo sering senyum sendiri? Bukan apa-apa tapi ada cowok ganteng yang jemput lo?" "Lo stalking gue ya?" "Bukan stalking. Namanya sahabat yang peduli." Karina liat Reza yang ngeliatin dia dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. Dia tau Reza nggak akan berhenti sampai dapet jawaban. "Oke fine. Ada seseorang." "AHA! Gue tau! Siapa? Kerja dimana? Gimana kalian ketemu?" "Reza..." "Cerita dong! Gue udah nunggu lo punya cowok bertahun-tahun!" "Dia bukan cowok gue." "Terus apa? Hubungan nggak jelas?" Karina diam. Hubungan nggak jelas. Mungkin itu kata yang tepat buat hubungannya sama Devandra sekarang. "Rumit," jawab Karina akhirnya. "Rumit gimana? Dia udah punya pacar? Atau dia playboy?" "Bukan. Cuma... rumit aja." "Rumit tapi lo seneng?" Karina mikir sebentar. "Iya." "Ya udah, cerita dong. Gue nggak akan judge." Karina ngeliat sekeliling kantor. Masih pagi, belum banyak orang. Dia ambil napas dalam-dalam. "Nama dia Devandra. Orang Semarang. Kita ketemu lewat keluarga." "Ohhh, jodoh keluarga. Romantis dong." "Bukan jodoh keluarga. Cuma... kebetulan ketemu." "Terus gimana? Lo langsung suka?" "Nggak. Awalnya dia menyebalkan." "Tapi sekarang?" "Sekarang..." Karina senyum tipis, "sekarang gue bingung sama perasaan gue sendiri." "Kenapa bingung? Lo suka dia atau nggak?" "Gue suka dia. Tapi ada komplikasi." "Komplikasi apa?" Karina nggak bisa cerita tentang kontrak fake dating. "Pokoknya rumit." "Dia suka lo nggak?" "Dia bilang suka." "Terus masalahnya apa?" "Gue nggak tau ini asli atau nggak." Reza mikir sebentar. "Lo kenapa bisa ragu? Dia ngapain yang bikin lo curiga?" "Bukan gitu. Cuma... situasinya complicated." "Rin, lo tuh overthinking. Kalau dia treat lo baik, kalau lo seneng sama dia, kenapa nggak dicoba aja?" "Gampang bilangnya." "Emang gampang. Lo tuh suka mikir terlalu banyak. Kadang perasaan itu nggak perlu dianalisa, tapi dirasain." Sebelum Karina bisa jawab, Pak Dion keluar dari ruangannya. "Team meeting dalam lima menit. Ada klien baru yang mau presentasi hari ini." Reza bisik ke Karina, "Nanti siang lo cerita lanjutannya ya. Gue belum puas." Meeting berlangsung sampe jam dua siang. Klien baru ternyata demanding banget dan minta revisi berkali-kali. Pas selesai, Karina udah pusing dan lapar. Ponselnya penuh chat dari Devandra. "Lo udah makan siang?" "Meeting masih jalan ya? Gue tunggu." "Gue order makanan buat lo. Semoga lo suka." Dan yang terakhir, dua puluh menit lalu: "Gue di cafe seberang kantor lo. Bawa makanan." Karina langsung ambil tas dan turun ke bawah. Di cafe seberang kantor, dia liat Devandra duduk di meja pojok dengan dua kotak makanan di depannya. "Lo udah lama nunggu?" tanya Karina sambil duduk. "Sejam. Nggak apa-apa, gue baca-baca email." "Maaf, meeting-nya molor." "Gue order nasi gudeg. Lo suka kan?" "Suka banget. Thanks." Mereka makan sambil ngobrol ringan tentang kerjaan masing-masing. Ada something different tentang Devandra hari ini. Dia lebih perhatian, lebih gentle. "Lo kenapa liat gue terus?" tanya Devandra sambil senyum. "Nggak kenapa. Lo aja yang keliatan beda." "Beda gimana?" "Lebih... nggak tau deh. Happy?" "Mungkin karena gue emang happy." "Kenapa?" "Karena lo." Karina ngerasa pipinya panas. "Jangan gombal deh." "Bukan gombal. Serius." "Dev..." "Iya?" "Kemarin lo bilang lo suka sama gue. Lo yakin?" "Yakin banget. Kenapa?" "Gue cuma... masih bingung aja." "Bingung kenapa?" "Karena gue nggak pernah ngerasa kayak gini. Gue nggak tau ini normal atau nggak." Devandra natap Karina lama. "Normal itu relatif. Yang penting, lo nyaman nggak sama gue?" "Nyaman." "Lo seneng nggak pas ketemu gue?" "Seneng." "Lo kangen nggak kalau gue nggak ada?" Karina diam sebentar. "Iya." "Ya udah. Itu cukup." "Sesimple itu?" "Sesimple itu." Mereka lanjut makan dalam hening yang nyaman. Tapi tiba-tiba, Karina liat seseorang yang familiar di luar jendela cafe. Reza. Dan dia lagi natap mereka dengan mata melotot. "Mati gue!," gumam Karina. "Kenapa?" tanya Devandra. "Temen kantor gue. Dia liat kita." Devandra noleh ke arah jendela. Reza langsung pura-pura liat yang lain, tapi keliatan banget dia lagi stalking. "Dia yang tadi pagi nanya-nanya tentang gue?" "Iya. Dia tipe yang nggak bisa simpen rahasia." "Terus?" "Terus gue mati. Dia bakal introgasi gue sampe besok." Devandra ketawa. "Lo takut dia tau?" "Bukan takut. Cuma... gue belum siap jelasin hubungan kita ke orang lain." "Karena kita sendiri belum tau hubungan kita apa?" "Exactly." "Ya udah, bilang aja kita temenan." "Temenan yang suka pegangan tangan?" Devandra liat tangan mereka yang lagi bertautan di atas meja. "Bener juga." "Dev, gue harus balik ke kantor." "Oke. Gue juga mau balik hotel, siap-siap check out." "Kapan lo ke Jakarta lagi?" "Mungkin dua minggu lagi. Ada meeting follow up sama klien." "Chat gue ya kalau udah sampe Semarang." "Pasti." Devandra bangun duluan, tapi sebelum keluar cafe, dia balik lagi dan cium puncak kepala Karina. Gentle, spontan, dan bikin jantung Karina langsung berdetak kencang. "See you soon," bisiknya. Dan dia pergi, ninggalin Karina yang masih shook sama apa yang baru terjadi. Dari luar jendela, Reza ngeliatin dengan mulut menganga. "KARINA VITHA KUSUMA!" Reza langsung nyergap begitu Karina masuk lift. "Apa?" "SIAPA ITU? DAN KENAPA DIA CIUM LO?" "Reza, pelan-pelan suaranya." "Pelan gimana? Gue baru aja liat lo di-kiss sama cowok yang lo bilang 'cuma temen'!" "Dia cium kepala gue doang." "DOANG? ITU GESTURE PACAR, KARINA!" Lift terbuka di lantai kantor mereka. Beberapa orang noleh karena suara Reza. "Reza, please. Nanti di meja gue." Begitu sampai di meja, Reza langsung duduk di kursi sebelah Karina dengan mata penuh tuntutan. "Cerita. Sekarang. Everything." "Reza..." "Jangan 'Reza' gue. Lo udah bohong dari tadi pagi. Gue mau tau semuanya." Karina menghela napas. "Oke. Tapi lo janji nggak cerita ke siapa-siapa." "Janji." "Dan lo nggak boleh judge." "Oke, oke. Cerita!" "Nama dia Devandra. Orang Semarang. Kita... complicated." "Complicated gimana?" "Complicated aja." "Karina, gue nggak mau jawaban diplomat. Gue mau jawaban jujur." Karina mikir. Dia nggak bisa cerita tentang fake dating, tapi dia bisa cerita sebagian. "Kami ketemu lewat keluarga. Awalnya cuma temenan. Tapi lama-lama ada perasaan." "Terus sekarang kalian status apa?" "Nggak tau." "Maksudnya nggak tau?" "Maksudnya kita lagi... cari tau." "Cari tau apaan? Lo udah pacaran atau belum?" "Belum official." "Tapi dia udah treat lo kayak pacar?" "Iya." "Dan lo juga ngerasa kayak punya pacar?" "Iya." "Ya berarti kalian pacaran, bodoh!" "Reza, nggak sesimple itu." "Kenapa nggak simple? Lo suka dia, dia suka lo, kalian sering ketemu, dia perhatian sama lo. Itu namanya pacaran." "Ada hal-hal yang lo nggak tau." "Kayak apa?" "Pokoknya ada." Reza natap Karina dengan mata curiga. "Lo nyembunyiin sesuatu." "Semua orang pasti nyembunyiin sesuatu." "Rin, gue best friend lo. Kalau lo ada masalah, cerita ke gue." "Gue nggak ada masalah." "Tapi lo keliatan worried." Karina diam. Dia memang worried. Worried sama perasaannya yang makin dalam. Worried sama Devandra yang masih ada rahasia. Worried sama Papa yang kondisinya naik turun. Worried sama deadline yang makin deket. "Gue cuma... takut aja." "Takut kenapa?" "Takut kecewa." "Kenapa lo bakal kecewa?" "Karena gue nggak tau dia serius atau nggak." "Rin, dari yang gue liat tadi, dia keliatan serius banget sama lo." "Lo kenal dia dari mana?" "Gue nggak kenal dia. Tapi gue kenal lo. Dan gue belum pernah liat lo sebahagia ini." Karina tersenyum tipis. "Emang keliatan?" "Banget. Lo kayak... hidup lagi." "Hidup lagi?" "Iya. Selama ini lo cuma kerja, kerja, kerja. Sekarang lo ada yang bikin semangat selain kerjaan." "Terus menurut lo, gue harus gimana?" "Enjoy aja. Jangan overthinking. Kalau dia bikin lo bahagia, nikmatin aja." "Dan kalau ternyata dia nggak serius?" "Ya deal with it kalau udah terjadi. Jangan mikirin yang belum terjadi." Karina manggut-manggut. Maybe Reza ada benarnya. Maybe dia terlalu banyak mikir. "Thanks, Rez." "Sama-sama. Tapi gue mau ketemu dia." "Ha?" "Gue mau liat sendiri cowok yang bikin sahabat gue jadi kayak gini." "Reza, nggak usah deh." "Usah. Gue mau pastiin dia worthy buat lo." "Lo bukan bapak gue." "Tapi gue best friend lo. Dan itu lebih protective dari bapak." Karina ketawa. "Oke, oke. Nanti kalau dia ke Jakarta lagi." "Deal." Sisa hari itu, Karina kerja sambil sesekali mikirin omongan Reza. Maybe dia memang overthinking. Maybe dia harus lebih enjoy sama apa yang terjadi. Pas jam pulang kantor, ponselnya berdering. "Gue udah sampai Semarang. Thanks buat hari ini." "Sama-sama. Hati-hati ya." "Lo udah sampai rumah?" "Belum, masih di jalan." "Chat gue kalau udah sampai." "Iya." "Karina?" "Iya?" "Gue kangen lo." Karina senyum sendiri di dalam taksi. "Gue juga." Dan untuk pertama kalinya, dia ngetik balasan itu tanpa ragu-ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD