9. Karina Ragu

1491 Words
Dua minggu setelah Devandra balik ke Semarang, rutinitas chat harian mereka udah jadi kebiasaan. Setiap pagi sebelum kerja, siang pas break, dan malam sebelum tidur. Kadang video call sampai tengah malam, ngobrol tentang hal-hal random yang bikin Karina tertawa sendiri. Tapi makin lama, ada sesuatu yang mengganjal. "Gue mau tanya sesuatu," kata Karina pas mereka lagi video call malam Jumat. "Apa?" Devandra keliatan lagi rebahan di kamar hotelnya—dia lagi ada kerjaan di Bandung. "Tentang mantan lo yang tiga tahun lalu itu." Wajah Devandra langsung berubah. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?" "Karena gue merasa lo masih nyembunyiin sesuatu dari gue." "Karina..." "Dev, kita udah hampir dua bulan kenal. Lo udah bilang lo suka sama gue. Tapi gue masih nggak tau apa-apa tentang masa lalu lo." Devandra diam sebentar. "Lo pengen tau apa?" "Semuanya. Siapa dia, kenapa kalian putus, kenapa lo jadi susah percaya sama perempuan." "It's complicated." "Jangan 'it's complicated' gue. Gue capek denger jawaban itu." Devandra mengusap wajahnya. "Oke. Tapi nggak sekarang. Besok gue balik Jakarta buat meeting. Kita ketemu, gue cerita semuanya." "Janji?" "Janji." "Oke. Tapi Dev?" "Iya?" "Kalau lo nggak siap cerita, berarti lo belum siap buat hubungan yang serius sama gue." Setelah video call berakhir, Karina menatap layar ponselnya lama. Ada perasaan was-was yang nggak bisa dia abaikan. Semua cowok yang dia kenal, kalau udah mulai serius, pasti terbuka soal masa lalunya. Tapi Devandra? Masih banyak yang dia sembunyiin. Sabtu malam, Karina lagi makan malam sama Nadia di restoran deket apartemennya. "Lo keliatan stress," kata Nadia sambil makan pasta. "Ada apa?" "Cowok." "Ooh, yang mysterious dari Semarang itu?" "Lo tau dari mana?" "Reza cerita. Dia bilang lo udah punya gebetan tapi nggak mau ngaku." Karina menghela napas. "Gue bingung, Nad." "Bingung kenapa?" "Gue nggak tau dia serius atau nggak sama gue." "Kenapa bisa ragu? Dia nggak treat lo baik?" "Treat gue baik. Terlalu baik malah." "Terus masalahnya apa?" "Dia nggak mau terbuka soal masa lalunya. Gue nanya tentang mantannya, dia selalu ngindarin." Nadia mikir sebentar. "Maybe dia belum siap cerita. Bukan berarti dia nggak serius." "Atau maybe dia nyembunyiin sesuatu yang besar." "Kayak apa?" "Entah. Mungkin dia masih belum move on. Mungkin mantannya masih ada di hidupnya. Mungkin ada anak." "Wah, lo overthinking banget deh." "Gue nggak overthinking. Gue cuma realistis." "Rin, lo suka sama dia nggak?" "Suka." "Dia bikin lo bahagia nggak?" "Iya." "Terus kenapa dipersulit? Enjoy aja dulu. Nanti juga dia bakal cerita sendiri kalau udah siap." "Tapi gimana kalau ternyata ceritanya bikin gue nggak mau lanjut sama dia?" "Ya deal with it pas udah terjadi. Jangan mikirin yang belum terjadi." Karina main-main spagetti di piringnya. "Gue cuma... gue udah terlalu invest sama dia. Takut kecewa." "Investment itu ada risikonya, Rin. Lo nggak bisa expect zero risk." "Gue tau. Tapi gue nggak mau bodoh juga." "Lo nggak bodoh. Lo cuma jatuh cinta." "Siapa bilang gue jatuh cinta?" Nadia nyengir. "Lo sendiri. Dari cara lo ngomong tentang dia, cara lo kuatir, cara lo takut kehilangan dia. Itu semua tanda-tanda orang yang udah jatuh cinta." Karina diam. Jatuh cinta. Apa dia udah sampe segitunya? "Kalau gue emang udah jatuh cinta sama dia, terus dia ternyata masih ada perasaan sama mantannya, gimana?" "Ya sakit. Tapi hidup lo nggak berakhir." "Thanks buat supportnya," kata Karina sarkastik. "Gue cuma realistis. Lo nggak bisa control perasaan orang lain, Rin. Yang bisa lo control cuma perasaan lo sendiri." "Terus menurut lo, gue harus gimana?" "Jujur sama dia. Bilang lo butuh keterbukaan kalau mau lanjut. Kalau dia nggak bisa kasih, ya berarti dia belum siap buat hubungan yang serius." "Dan kalau dia masih nggak mau cerita?" "Ya lo putuskan sendiri, worth it nggak nunggu dia siap." Minggu sore, Devandra chat kalau dia udah sampai Jakarta dan mau ketemu Karina malam itu. Mereka janjian di tempat yang sama kayak pertama kali mereka dinner bareng—restoran Korea di Kemang. Karina datang lebih dulu, duduk di meja yang sama kayak dua minggu lalu. Tapi kali ini suasana hatinya beda. Dia nervous, tapi nggak excited. Lebih ke was-was. "Hei," sapa Devandra pas datang. Dia keliatan capek, mata agak sayu. "Hei. Meetingnya gimana?" "Lancar. Tapi melelahkan." Dia duduk di hadapan Karina. "Lo udah order?" "Belum. Gue tunggu lo." Mereka order makanan dalam hening yang nggak nyaman. Biasanya mereka langsung ngobrol, tapi sekarang ada jarak yang terasa. "Jadi," kata Karina setelah makanan datang, "lo mau cerita?" Devandra ambil napas dalam-dalam. "Namanya Valerie. Kita pacaran tiga tahun." "Terus?" "Gue pikir dia the one. Sampe gue mau lamar dia." Karina ngerasa dadanya sakit. "Terus kenapa putus?" "Karena dia selingkuh." "Oh." "Nggak cuma selingkuh. Dia selingkuh sama sahabat gue sendiri." "Sial." "Dan yang paling sakit, mereka udah jalan hampir setahun di belakang gue. Semua orang tau kecuali gue." Karina nggak tau mau bilang apa. "Gue... sorry." "Gue ketahuan pas gue mau surprise dia di apartemennya. Ternyata yang surprise malah gue." "Dev..." "Sejak itu, gue susah percaya sama perempuan. Susah percaya sama siapapun, sebenernya." Karina manggut-manggut. "Makanya lo jadi protective sama privasi lo." "Iya. Dan makanya gue takut buka diri sama lo." "Takut kenapa?" "Takut lo juga bakal ninggalin gue." "Tapi lo nggak pernah kasih gue kesempatan buat prove kalau gue nggak kayak dia." Devandra natap Karina lama. "Lo bener." "Dev, gue ngerti lo pernah disakitin. Tapi lo nggak bisa terus-terusan hidup dalam ketakutan." "Gue tau." "Dan lo nggak bisa expect gue sabar nunggu lo siap tanpa batas waktu." "Maksudnya?" "Maksudnya gue butuh clarity. Gue butuh tau lo serius sama gue atau lo cuma lagi nyoba-nyoba lagi." "Gue serius sama lo." "Tapi lo masih nggak sepenuhnya percaya sama gue." Devandra diam. "Dev, gue mau nanya sesuatu dan gue mau jawaban jujur." "Apa?" "Lo udah move on dari Valerie?" Devandra ragu sebentar. Dan ragu itu cukup buat ngasih Karina jawaban. "Lo belum move on," kata Karina pelan. "Bukan begitu..." "Bukan begitu gimana? Lo masih mikirin dia?" "Kadang." "Lo masih sakit sama dia?" "Iya." "Lo masih ngebandingin gue sama dia?" "..." Hening. "Dev, gue nggak bisa bersaing sama bayangan dari masa lalu lo." "Gue nggak minta lo bersaing." "Tapi faktanya gue harus. Setiap kali gue mau deket sama lo, lo mundur. Setiap kali gue mau tau lebih dalam tentang lo, lo nutup diri." "Karina..." "Gue capek, Dev. Gue capek jadi satu-satunya yang terbuka dalam hubungan ini." "Lo nggak sendirian..." "Gue sendirian. Lo hadir, lo kasih waktu, tapi hati lo nggak sepenuhnya buat gue." Devandra kelihatan sakit denger kata-kata Karina. "Gue... gue nggak tau gimana caranya." "Caranya gimana?" "Cara percaya lagi." Karina ngerasa hatinya hancur. Bukan karena Devandra nggak cinta sama dia, tapi karena dia tau Devandra cinta tapi nggak bisa ngasih sepenuhnya. "Maybe kita terlalu cepet," kata Karina pelan. "Maksudnya?" "Maksudnya maybe lo belum siap buat relationship. Maybe lo masih butuh waktu buat heal." "Jadi lo mau putus sama gue?" "Gue nggak mau putus. Tapi gue juga nggak mau stuck di tempat kayak gini." "Terus lo mau gimana?" Karina mikir lama. "Gue mau lo cari bantuan." "Bantuan apa?" "Terapi. Counseling. Apapun yang bisa bantuin lo move on dari masa lalu lo." "Karina..." "Dev, gue sayang sama lo. Tapi gue nggak bisa heal lo. Itu bukan tanggung jawab gue." "Terus kita gimana?" "Kita... break dulu. Sampe lo beneran siap." "Break berapa lama?" "Sampe lo yakin lo udah bisa ngasih hati lo sepenuhnya ke orang lain." Devandra natap Karina dengan mata yang berkaca-kaca. "Lo yakin?" "Gue nggak yakin. Tapi ini yang terbaik buat kita berdua." "Gue nggak mau kehilangan lo." "Lo nggak akan kehilangan gue. Gue cuma... nggak bisa nunggu dalam ketidakpastian." "Jadi kita nggak contact sama sekali?" "Contact boleh. Tapi nggak kayak sekarang. Kita kembali jadi temen." "Dan kalau gue udah ready?" "Kalau lo udah ready, dan gue masih available, kita liat lagi." "Dan kalau lo udah sama orang lain?" Karina tersenyum sedih. "Ya berarti kita nggak jodoh." Mereka makan sisa dinner dalam hening. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. "Gue tetep mau jadi fake boyfriend lo sampe kontrak kita selesai," kata Devandra tiba-tiba. "Nggak usah. Gue bakal bilang ke Papa kalau kita putus." "Terus gimana sama deadline lo?" "Gue pikirin sendiri." "Karina, gue nggak bisa biarin lo handle itu sendirian." "Lo udah bantuin gue cukup banyak." "Tapi ini tanggung jawab gue juga..." "Nggak. Ini hidup gue. Gue yang harus handle." Pas mereka keluar dari restoran, Devandra nahan tangan Karina. "Gue bener-bener sayang sama lo," katanya. "Gue tau. Gue juga sayang sama lo." "Gue akan usaha. Gue janji." "Jangan janji sama gue. Janji sama diri lo sendiri." Devandra peluk Karina. Erat, putus asa, kayak nggak mau lepas. "Gue akan kembali. Gue akan jadi versi yang lebih baik dari diri gue." "Gue tunggu," bisik Karina. "Tapi gue nggak akan tunggu selamanya." Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, Karina yang ninggalin Devandra duluan. Di taksi pulang, air mata yang udah dia tahan dari tadi akhirnya tumpah. Dia nangis bukan karena kehilangan Devandra, tapi karena kehilangan harapan bahwa mereka bisa jadi sesuatu yang nyata. Tapi dalam hatinya, dia tau dia udah buat keputusan yang benar. Dia nggak bisa cinta sama orang yang nggak bisa cinta sama diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD