Tiga hari setelah break sama Devandra, Karina merasa hampa. Bukan sedih yang dramatis, tapi lebih ke... kosong. Kayak ada bagian dari rutinitas hariannya yang hilang.
Nggak ada lagi chat selamat pagi. Nggak ada lagi video call malam. Nggak ada lagi seseorang yang nanya "udah makan belum?" di siang hari.
"Lo keliatan zombie," kata Reza sambil nyeruput kopi di pantry. "Putus sama cowok Semarang?"
"Gimana lo tau?"
"Lo nggak senyum-senyum sendiri lagi. Plus, kemarin gue liat lo beli es krim tiga cup sekaligus di minimarket."
Karina menghela napas. "Kami... break."
"Break atau putus?"
"Break. Dia butuh waktu buat benerin masalah pribadinya."
"Masalah apa?"
"Susah move on dari mantan."
"Ah, cowok macam apa itu. Lo udah di depan mata, masih mikirin mantan."
"Reza..."
"Gue serius, Rin. Lo terlalu baik sama dia. Harusnya lo bilang: mau gue atau mantan lo. Tentuin."
"Hidup nggak sesimple itu."
"Emang nggak simple. Tapi lo juga nggak boleh terlalu pengertian sampe dirugiin."
Karina diam sambil mikir. Apa dia terlalu pengertian? Apa dia seharusnya lebih tegas?
"Anyway," lanjut Reza, "lo masih mau nungguin dia?"
"Gue nggak tau. Mungkin."
"Berapa lama?"
"Nggak tau juga."
"Rin, lo masih muda. Jangan buang-buang waktu nungguin cowok yang nggak yakin sama perasaannya."
Malamnya, Karina lagi rebahan di apartemen sambil nonton Netflix yang nggak jelas alurnya. Ponselnya berdering—Papa.
"Rin, gimana kabarnya?"
"Baik, Pa. Papa gimana? Udah minum obat?"
"Udah. Papa mau tanya, kapan Devandra main ke rumah lagi? Papa kangen ngobrol sama dia."
Karina terdiam. Dia belum bilang ke Papa soal break mereka.
"Papa kenapa diam?"
"Eh, iya Pa. Dia lagi sibuk banget sama kerjaan."
"Ya udah, bilang ke dia kalau Papa nunggu kedatangannya ya."
"Iya, Pa."
"Oh iya, Papa juga mau bilang sesuatu."
"Apa, Pa?"
"Kondisi Papa akhir-akhir ini naik turun. Dokter bilang Papa harus lebih banyak istirahat."
Jantung Karina langsung berdetak cepat. "Maksudnya gimana, Pa?"
"Bukan apa-apa. Cuma Papa jadi mikir... mungkin Papa nggak punya banyak waktu."
"Papa jangan ngomong kayak gitu."
"Rin, Papa cuma mau mastiin. Kamu sama Devandra serius nggak?"
Karina nggak tau mau jawab apa. "Pa..."
"Kalau serius, Papa pengen segera liat kamu menikah. Papa pengen pastiin kamu ada yang jaga sebelum Papa pergi."
Air mata Karina mulai menggenang. "Papa nggak akan pergi kemana-mana."
"Papa realistis, Rin. Dan Papa cuma punya satu permintaan."
"Apa, Pa?"
"Nikah sebelum ulang tahun kamu yang ke-30."
"Papa..."
"Papa tau ini berat. Tapi Papa nggak bisa tenang kalau kamu sendirian."
"Tapi Pa, Karina masih muda. Belum tentu harus nikah sekarang."
"Rin, Papa nggak minta kamu nikah sama sembarang orang. Papa minta kamu nikah sama orang yang kamu cinta. Dan Papa tau kamu cinta sama Devandra."
Karina terdiam. Papa nggak tau kalau dia sama Devandra lagi break.
"Papa kasih kamu waktu sampe ulang tahun kamu. Tiga bulan lagi. Kalau kamu belum nikah, Papa nggak akan kasih warisan ke kamu."
"Papa, Karina nggak peduli sama warisan."
"Papa tau. Tapi Papa peduli sama masa depan kamu."
Setelah telpon berakhir, Karina nangis sejadi-jadinya. Tiga bulan. Dia cuma punya tiga bulan buat nikah atau Papa nggak akan tenang.
Tapi gimana caranya? Devandra lagi proses healing. Dia nggak bisa maksa Devandra balik cuma karena deadline Papa.
Keesokan harinya, Karina masih pusing mikirin omongan Papa. Di kantor, dia susah fokus kerja. Pikirannya kemana-mana.
Siang itu, pas lagi makan siang sendirian di food court mall, seseorang duduk di hadapannya.
"Boleh duduk di sini?"
Karina mendongak. Cowok tinggi, rambut ikal, senyum ramah, pakai kemeja kasual. Ganteng, tapi bukan tipe Karina.
"Silakan," jawab Karina.
"Makasih. Gue Aditya. Lo sendiri?"
"Karina."
"Kerja di sekitar sini?"
"Iya. Lo?"
"Gue punya toko buku di lantai dua. Baru buka dua bulan."
"Oh, yang Books & Beyond itu?"
"Iya! Lo pernah ke sana?"
"Belum. Tapi gue sering lewat."
"Lo suka baca?"
"Suka banget."
"Genre apa?"
"Fiction, biography, self-help. Lo?"
"Sama. Makanya gue buka toko buku. Passion gue dari kecil."
Mereka ngobrol santai sambil makan. Aditya ternyata asik, funny, dan nggak maksa. Dia cerita tentang toko bukunya, passion dia buat literature, rencana dia mau bikin book club.
"Lo mau join book club gue?" tanya Aditya pas mereka udah selesai makan.
"Kapan?"
"Sabtu malam. Minggu ini kita bahas 'The Seven Husbands of Evelyn Hugo'."
"Wah, gue udah baca itu. Bagus banget."
"Perfect! Berarti lo bisa sharing opinion."
"Boleh deh. Dimana?"
"Di toko gue. Gue sediain snacks sama coffee."
Karina mikir sebentar. Mungkin dia butuh distraksi. Mungkin dia butuh aktivitas baru buat ngilangin pikiran tentang Devandra.
"Oke, gue datang."
"Great! Ini nomor gue." Aditya kasih kartu nama. "Chat gue kalau lo butuh detail."
Sabtu malam, Karina datang ke Books & Beyond. Toko bukunya cozy banget—rak-rak kayu, pencahayaan hangat, sudut baca yang nyaman. Ada lima orang lain yang udah datang, mix cowok-cewek umur dua puluhan.
"Karina! Lo datang!" sapa Aditya antusias. "Sini, gue kenalin sama yang lain."
Book club-nya ternyata seru. Mereka diskusi buku dengan passion, sharing pendapat tanpa judge, debat sehat tentang karakter. Karina ngerasa... refreshed. Udah lama dia nggak ngobrol tentang hal-hal yang dia sukai tanpa harus mikirin drama relationship.
"Lo insightful banget," kata Aditya pas book club udah selesai dan yang lain udah pada pulang. "Analysis lo tentang Evelyn Hugo's character development keren."
"Thanks. Gue emang suka analisa karakter."
"Keliatan. Lo background-nya apa? Literature?"
"Marketing. Tapi gue memang suka baca dari kecil."
"Cool. Lo mau kopi? Gue baru beli mesin espresso baru."
"Boleh."
Mereka duduk di area baca sambil minum kopi. Suasana toko yang sepi dan pencahayaan redup bikin suasana jadi akrab.
"Gue boleh tanya sesuatu?" kata Aditya.
"Apa?"
"Lo single?"
Karina ragu sebentar. "Complicated."
"Ah, the classic answer."
"Emang complicated."
"Mau cerita? Gue good listener."
Karina mikir. Mungkin dia butuh perspektif dari orang luar.
"Gue baru break sama seseorang. Dia lagi proses healing dari hubungan sebelumnya."
"Ouch. Tough situation."
"Iya. Gue bingung harus nungguin dia atau move on."
"Menurut gue sih, kalau seseorang butuh 'break' buat healing, berarti dia emang belum siap buat relationship. Lo nggak salah kalau mau move on."
"Tapi gue sayang sama dia."
"Sayang itu nggak cukup, Karina. Lo butuh seseorang yang all-in sama lo."
Karina diam sambil mikir. Aditya ada benarnya.
"Anyway," lanjut Aditya, "gue nggak bermaksud nge-push atau gimana. Cuma kalau lo butuh temen buat ngobrol atau distraksi, gue ready."
"Thanks. Gue makasih banget."
"Lo mau datang lagi minggu depan? Kita bahas 'Atomic Habits'."
"Boleh. Gue butuh habit yang lebih baik anyway."
Aditya ketawa. "Same here."
Minggu-minggu berikutnya, Karina rutin datang ke book club. Dia juga sering mampir ke toko buku Aditya sekedar browsing atau ngobrol. Aditya ternyata gampang diajak ngobrol, nggak ada drama, nggak ada beban masa lalu.
Tapi Karina tau dia nggak bisa jatuh cinta sama Aditya. Ada chemistry, tapi nggak ada rasa lebih. Aditya lebih kayak temen yang nyaman, bukan calon pacar.
Yang bikin Karina sedih, dia masih mikirin Devandra. Masih berharap Devandra chat atau telpon. Masih nunggu kabar kalau dia udah siap.
Tapi udah hampir sebulan, nggak ada kabar sama sekali.
"Mungkin gue harus terima kenyataan kalau kita emang nggak jodoh," gumam Karina sambil liat foto mereka yang masih jadi wallpaper ponsel.
Dia ambil napas dalam, buka gallery, dan hapus semua foto sama Devandra.
Waktunya buat move on.
Tapi pas dia mau tidur, ponselnya berdering. Chat dari nomor yang udah familiar.
"Karina, ini gue. Devandra. Boleh kita ketemu? Ada yang mau gue omongin."
Jantung Karina langsung berdetak kencang.
"Kapan?"
"Besok malam? Please. It's important."
Karina menatap layar ponsel lama. Part of her pengen bilang nggak. Part of her masih curious.
"Oke. Jam 7. Tempat biasa."
"Thanks. See you tomorrow."
Karina lempar ponsel ke kasur dan tutup mata.
Tomorrow, dia akan tau apakah keputusan dia buat sebulan lalu sudah tepat, atau dia bakal nyesel selamanya.