bc

Gairah Terlarang Saudara Angkat

book_age18+
6
FOLLOW
1K
READ
forbidden
family
HE
second chance
stepfather
heir/heiress
drama
bxg
campus
childhood crush
illness
like
intro-logo
Blurb

Sejak kecil, Arga mencintai sahabatnya, Lionar. Namun, setelah ayah Arga menikahi ibu Lionar, mereka harus menjadi saudara tiri. Arga memilih menjauh untuk menyembunyikan perasaannya, sementara Lionar terus berusaha memahami perubahan sikapnya. Di tengah hubungan mereka yang rumit, penyakit sang ibu membuat kehidupan keduanya semakin sulit.

chap-preview
Free preview
Bab 1 Malam Terakhir Bersama Mama
** "Ga, yang sabar ya..." Suara tetangganya tertahan di dekat pagar, tempat bendera kuning sudah berkibar menembus kegelapan malam. Pulang dari kampus, Arga tertegun melihat rumahnya penuh dengan orang-orang yang berkumpul. Dia segera turun dari motor dan berlari masuk ke dalam rumah. Saat menginjakan kaki, dia melihat Mamanya sudah terbujur kaku ditutupi oleh kain putih. Selama satu tahun terakhir, Arga selalu percaya bahwa penyakit kanker yang diderita mamanya masih bisa disembuhkan. Dia percaya pada setiap perkataan dokter, percaya pada pengobatan yang dijalani mamanya, bahkan percaya ketika mamanya mengatakan bahwa suatu hari mereka akan kembali melakukan banyak hal bersama. "Mama kenapa tinggalin Arga?" Arga memeluk mamanya dengan erat. Ayahnya mengusap punggung Arga dengan lembut. "Mama kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, Arga." "Enggak! Mama bilang akan sembuh. Mama janji mau ngajak kita main, Ayah." Tangannya memeluk erat. Dan tangisnya terdengar begitu sesak. Semua orang mendoakan Mamanya dan Arga hanya duduk menatap kosong. Pikirannya begitu kalut dan Dia masih sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang selama ini selalu menunggunya pulang kini tidak akan pernah membuka pintu untuknya lagi. Beberapa saat kemudian, seorang kerabat mendekati Bram. Mereka berbincang sebentar. "Ram, sebaiknya Arga dibawa istirahat. Besok masih ada banyak yang harus dipersiapkan." Bisiknya pelan, karena melihat Arga sudah terlihat kacau. Bram mengangguk pelan. "Iya." Dia kemudian menghampiri Arga dan menyentuh bahunya. "Ayo, Ga. Istirahat dulu." Arga tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju kepada mamanya. "Aku mau di sini sama Mama." Bram terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Baik. Ayah temani." Malam itu, Bram duduk di samping putranya. Tidak banyak kata yang keluar dari keduanya. Mereka hanya duduk dalam kesunyian, ditemani doa-doa yang terus terdengar dari orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Arga tidak tahu bagaimana hidupnya setelah malam itu. Yang dia tahu, rumah yang selama ini menjadi tempat paling nyaman baginya kini terasa begitu asing. Semua orang selesai melaksanakan sholat jenazah dan setelah itu pemakaman akan segera dilakukan malam ini juga. Keluarga yang lain pun sudah siap mengantar mama Arga ke tempat peristirahatan terakhirnya. Beberapa orang mulai membawa jenazah menuju pemakaman. Suara langkah kaki dan lantunan doa terdengar samar di telinga Arga. Dia berjalan mengikuti rombongan dengan tatapan kosong. Bram berjalan di sampingnya. Sesekali pria itu melirik putranya yang sejak tadi tidak mengatakan apa pun. "Ga, kamu nggak apa-apa?" tanya Bram pelan sambil mengusap bahu anaknya. Arga hanya menggeleng. "Aku masih enggak percaya, Yah." Bram menarik napas panjang. "Ayah juga." Sesampainya di pemakaman, suasana kembali dipenuhi doa. Arga berdiri beberapa langkah dari makam yang sudah disiapkan. Tatapannya tidak pernah lepas dari jenazah mamanya. Saat tubuh mamanya perlahan diturunkan ke dalam liang lahat, Arga mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak kuasa menahan sesak di dalam dadanya. "Mama...," gumamnya lirih. Bram berdiri di belakang Arga dan menepuk bahunya. "Ikhlaskan Mama, Ga." Air mata kembali mengalir di pipi Arga. "Bagaimana Arga bisa ikhlas, Yah?" suaranya bergetar. "Arga belum siap." Bram tidak langsung menjawab. Dia tahu tidak ada seorang pun yang benar-benar siap kehilangan orang yang dicintainya. "Kita semua enggak pernah siap kehilangan seseorang," jawab Bram akhirnya. "Tapi kita harus tetap melanjutkan hidup." Arga menundukkan kepalanya, melanjutkan hidup. Kalimat itu terdengar begitu mudah bagi orang lain, tetapi bagi Arga, rasanya seperti sesuatu yang mustahil dilakukan. Beberapa saat kemudian, tanah mulai menutupi makam mamanya. Arga hanya berdiri diam menyaksikan semuanya. Dia berharap waktu bisa berhenti malam itu. Namun, ternyata waktu tetap berjalan. Setelah semua proses pemakaman selesai, satu per satu orang mulai meninggalkan area makam. Bram masih berdiri di samping Arga. "Ayo pulang, Ga." ajaknya dengan suara sangat hati-hati. Arga menatap makam mamanya untuk terakhir kali sebelum mengangguk kecil. "Iya, Yah." Keduanya berjalan meninggalkan pemakaman dalam diam. Namun, sejak malam itu, ada sesuatu dalam diri Arga yang ikut terkubur bersama mamanya. Di mana senyumnya hilang, kemurunganbyang dia tunjukkan. Dan kelembutan sosok Arga yang selama ini dikenal keluarganya. *** Pagi ini hari begitu cerah, tapi tidak secerah wajah Arga. Dia terlihat sangat kacau, karena semalaman dia tidak tidur. Bram mengetuk pintu, memanggil nama Arga berulang kali dan tidak ada jawaban membuat Bram khawatir. Tanpa banyak kata, Bram membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia miliki. "Arga!" pekiknya. Bram menghampiri arga yang sedang duduk di pojok tempat tidur, sambil melamun. "Sadar Arga! Kalau Mama kamu lihat, dia akan sedih." Bram mencengkram bahu Arga. Arga mengabaikan Bram. Dia hanya menunduk dengan tatapan kosong, seolah tidak mendengar satu pun perkataan ayahnya. "Arga!" Bram kembali mengguncang bahunya. "Ayah sedang bicara sama kamu." "Aku dengar." Akhirnya dengan suara serak. Bram menghela napas berat."Kalau dengar, kenapa kamu diam?" Arga mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembap setelah semalaman menangis. "Terus aku harus bagaimana, Yah?" Bram terdiam, tidak ada suara yang dia keluarkan. anaknya yang terlihat ceria kini benar-benar rapuh. "Harus pura-pura semuanya baik-baik saja?" lanjut Arga. "Harus bangun, sarapan, lalu menjalani hari seperti Mama masih ada?" Dan lagi, Bram ikut merasakan sesaknya menjadi Arga."Enggak ada yang meminta kamu pura-pura baik-baik saja." "Lalu?" Tatapannya berubah tajam. Bram menghela napas panjang. "Ayah cuma ingin kamu keluar dari kamar." Arga tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. "Untuk apa, Ayah?" "Untuk sarapan. Kamu belum makan sejak kemarin." Bram mencoba bersabar dan mempelankan suaranya. Arga menggeleng kepala."Aku enggak lapar." "Arga." panggil Bram dengan suara pasrah. Arga berteriak,"Aku bilang aku enggak lapar!" Suara Arga meninggi. Bram terdiam beberapa saat, menatap putranya yang kini berbeda dari Arga yang dia kenal. Biasanya Arga akan menuruti perkataannya. Bahkan ketika sedang lelah, putranya tidak pernah membentaknya seperti ini. Namun, Bram memilih menahan emosinya. "Kamu boleh marah, boleh sedih, tapi jangan menyiksa diri sendiri." Arga kembali menunduk. "Aku cuma mau sendiri." Bram mengamati wajah putranya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Bram berdiri dan melangkah keluar kamar. Bram menoleh sebentar, sebelum pergi dari kamar."Baik. Ayah kasih kamu waktu." Bram berbalik hendak meninggalkan kamar, tetapi langkahnya terhenti di depan pintu. "Kalau kamu butuh Ayah, panggil." Arga tidak menjawab. Pintu kamar kembali tertutup. Arga masih duduk di tempatnya, menatap lantai tanpa tujuan. Di luar kamar, Bram berdiri cukup lama. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan kesedihan yang sejak semalam dia pendam. Dia kehilangan istrinya. Dan sekarang, dia merasa seperti kehilangan putranya juga. Sementara itu, Arga kembali memandangi kamar yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat. Pandangannya berhenti pada sebuah foto keluarga yang berada di atas meja. Foto dirinya bersama Mama dan Ayah. "Arga rindu, Mah." Arga meraih foto itu dengan tangan gemetar. "Mama...." Air matanya kembali jatuh. Sejak hari itu, Arga tidak lagi menjadi anak yang sama, senyumnya perlahan menghilang. Keceriaannya perlahan padam. Bahkan rumah yang dahulu menjadi tempat ternyaman baginya kini terasa asing. Bram hanya bisa menatap putranya dari kejauhan. “Apa yang harus Ayah lakukan, Nak?”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.4K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.7K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook