bab 7

1136 Words
Berkas-berkas matahari yang semula tak mengganggu kini cahayanya semakin menusuk mata milik Hasan yang masih terkatup. Gumaman khas bangun tidur terdengar dari mulut miliknya. Perlahan Hasan membuka kepolak matanya yang masih terasa memberat, kemudian meregangkan tubuh dengan membentangkan tangan. Hasan mengangkat tubuh, duduk dan menyender di dipan ranjang. Kedua iris matanya mengedar, dia merasakan ada yang hal aneh, tapi entah apa. Sedikit demi sedikit kembali Hasan menajamkan indra penglihatannya. Kamar yang di d******i warna biru, meja rias dari kayu jati juga lemari pakaian tak luput dari bidikannya. Hingga pada satu titik tubuh Hasan tercekat. Lingerie yang telah koyak tesampir di sisi bibir ranjang. Kembali mata Hasan membulat sempurna ketika ia melihat bercak darah yang setengah mengering di atas sprei putih tersebut. Hasan mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya, beberapa kali telapak tangan ia gunakan untuk memukul-mukul sisi kanan pelipis miliknya. Mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Sampai pada suara juga katel dan serok yang beradu menyadarkan Hasan. “Ini tidak mungkinkan?” Tubuh Hasan menegang. Dia masih berusaha menepis bahwa wanita yang ia gauli adalah sekar, istrinya. “Darah?” gumamnya. Jika benar wanita itu adalah Sekar artinya selama ini praduga nya salah bahwa Sekar hendak menjebaknya atas dirinya yang sudah ternoda. Lantas apa alasan Sekar sengaja memberi Hasan obat tidur malam itu? pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepala Hasan. Menurunkan tungkai dari atas ranjang, perlahan Hasan menuju tempat suara orang memasak berada. Di sana Sekar sedang berdiri. Dengan kepiawaiannya, wanita itu begitu lihai memainkan pisau di tangan. Namun, bukan itu yang mencuri perhatian Hasan, melainkan mata sembab wanita berusia 20 tahun tersebut. Pemandangan itu semakin meyakinkan praduga. Bahwa wanita yang ia tiduri adalah Sekar. Kaki yang Hasan pakai untuk berpijak mendadak seperti jelly yang tak memiliki kekuatan menopang berat tubuhnya. Hasan segera kembali ke kamar, menyambar handuk lalu bergegas ke kamar mandi. “Sial.” Hasan memukulkan tangan kanan berkali-kali ke tembok berkeramik di depannya. Air dari shower yang menggantung di atas kepala tak mampu mendinginkan otak Hasan yang mendidih. Ia marah pada dirinya yang karena telah masuk ke dalam situasi seperti ini. Dan juga ia marah kepada Sekar karena membiarkan dirinya menjamah tubuh wanita itu. “Kenapa tidak menolak!? Bodoh!” Hasan terus merutuk di dalam kamar mandi. Sesekali ia benturkan kepala di dinding keramik. Bayangan Sekar kecil yang sering merengek meminta tolong agar Hasan membantu Sekar saat kecil memenuhi benak Hasan. Rasanya di sini Hasan merasa sebagai penjahat. Bagaimana pun Sekar bagi Hasan adalah adik kecilnya. Hingga ada sesuatu yang ia lupakan, bahwa kini Sekar adalah istrinya. Dingin air mengguyur seluruh bagian tubuh Hasan. Hasan masih terus larut dalam rutukan dan penyesalan, sampai ia lupa bahwa kulit di bawah jemarinya sudah berkerut. Aktifitas menyiksa diri itu terhenti saat irama ketukan terdengar di indra pendengaran. “Mas” Hasan enggan menjawab. “Mas, makan dulu. Masakan sudah matang.” “Sial!” umpatnya. Memutar keran air. Menghela napas berat, Hasan menyambar handuk putih yang menggantung dengan kasar. Dengan rasa kesal dibalut dengan wajah membenci, Hasan keluar dari tempat ia membersihkan diri. Sekar menelan saliva kasar melihat pria bertubuh indah yang menyapa netra, meski ini bukan yang pertama kali. Namun, tubuh berotot itu tetap saja menciptakan sensasi setruman pada syaraf tubuh wanita itu. Menahan rasa aneh yang terus merambat naik dari ujung kaki hingga atas ubun-ubun. Sekar menggigit bibir bawahnya. Hasan yang melihat tingkah Sekar semakin dibuat geram, “Kamu ingin menggodaku dengan gerak bibirmu? Dalam mimpimu saja.” Hanya dengan satu tarikan napas saja Hasan berhasil mengeluarkan kalimat yang mampu mengoyak habis harga diri Sekar. Gelegar aneh yang sedari tadi terus aktif di dalam tubuh Sekar mendadak menghilang dengan mudahnya. Seperti seekor lalat yang terbang cepat hanya karta satu hentakan kaki. “Tunggu di meja makan! Kita akan membicarakan hal serius,” titah Hasan. Sekar menjawab dengan anggukan kecil. Dengan hati yang tercabik, Sekar melangkah keluar kamar, membiarkan Hasan mengenakan pakaian. *** Tak ada percakapan layaknya rumah tangga pada umumnya, sepasang manusia yang telah mengikrarkan janji itu sibuk dengan lamunannya sendiri. Terlebih Hasan yang terus sibuk dengan kecamuk pikirannya. Di sela-sela suapan, Sekar mengekor kan pandangan ke arah Hasan, sesekali ia memilin daster batik yang ia gunakan. Sekar ingin membelah keheningan, tapi ia tak tahu harus mulai dari mana. “Sekar.” Dentingan sendok di meja kaca terdengar. Sekar mendongakkan kepala. Menatap takut pada sepasang mata yang kini menghunus tajam. “Kita harus bicara.” “Apa yang terjadi tadi pagi adalah sebuah kesalahan, aku harap kamu nggak mengartikannya lain.” Sekar menundukkan kembali pandangan. Pilihan tangan pada daster di bawah lutut semakin erat. Tidak cukupkah Hasan hanya mengoyak hatinya sekali saja?. “Ini semua salahmu!” tuduh Hasan. Sekar kembali menengadah, mulutnya menganga. Tak menyangka Hasan akan menyalahkan dirinya. Ini salahnya? Jelas dalam hati ia berontak dituduh seperti itu. “Iya ini salahmu! Aku mabuk, tak sadarkan diri. Dan kamu? Kamu waras! Kenapa nggak menolak. Kamu bisa menghindar, meninggalkan aku sendiri dari pada harus menyerahkan diri semudah itu.” Dengan bibir bergetar Sekar menjawab, “Itu kewajiban ku, Mas.” “Omong kosong! Wanita jahat sepertimu mana ngerti tentang kewajiban, hah?!" Hasan mendengkus sebal. "Jika kamu tau hak dan kewajiban, harusnya kamu tau juga tentang dosa. Tanggung alim, dibuat lebih alim sekalian. Tapi nggak mungkin sih, orang alim nggk mungkin kamu menjebak laki-laki buat tidur bareng.” Hasan berucap dengan sinisnya. Dan Sekar masih bergeming dengan disekap pilu. “Dan kamu tahu Sekar?!” Hasan menjeda sebentar ucapannya, mempersiapkan diri melihat pemandangan yang akhir-akhir cukup menyenangkan baginya. ”Saat mandi tadi ingatanku berangsur kembali, dan yang paling menjijikan adalah mengingat ekspresi mukamu yang menikmati semuanya. Ya, ampun Sekar, tidak tahukah kamu bagaimana aku tadi membersihan diri? Setengah botol sabun cair habis cuma untuk menghapus jejakmu.” Tangan Sekar gemetar, mata yang semula mendung berubah menjadi rinai. “Lalu kenapa tak menolak pinta Mama mu? Kamu bisa menolak jika tak mau menikahimu.” Keberanian menjawab itu adalah hasil dari racun-racun dalam mulut Hasan, yang masuk dan semakin menjalar masuk ke dalam aliran darah milik Sekar. Bukan salah Sekar jika racun itu ia muntah kan agar tak melumpuhkan syaraf di otaknya. “Andai bisa. Sudah pasti aku menolaknya!” jawab Hasan. Tatapan mereka beradu, Hasan dengan kobaran api, dan Sekar dengan tatapan mendung nya. Dan lagi ucapan Hasan bagai sebilah pisau tajam yang terus di asah di atas batu, sehingga tak perlu lagi ditanya tentang seberapa ukuran ketajaman. Andai bukan karena mertuanya yang terus saja tak henti menasehati tentang menjadi istri yang baik, andai saja ia tak merasa berhutang budi pada Marni, andai semua rasa tak nyaman itu bisa ia hancurkan, maka sudah bisa dipastikan racun yang keluar dari mulut sekar tak kalah mematikan. Sabar, surga pahalanya. Hanya itu yang bisa Sekar gaung-gaungkan setiap ucapan Hasan menusuk jantungnya. Mengingat pahala dan surga, seperti ada satu cawan air yang turun dari surga, hingga kembalilah asa yang sempat kuncup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD