Bertemu keluarga Leo

1059 Words
Ara pun duduk, ia belum tahu harus ngapain. Ia juga belum kenal dengan suami tengilnya. Hingga akhirnya Ara ketiduran di sofa, dengan ponsel yang ia taruh di atas d**a. Leo turun dari kamarnya, awalnya ia ingin menyuruh Ara untuk mandi, namun melihat Ara yang tertidur pulas, ia pun mengurungkan niatnya. langkah kakinya berjalan menuju sang istri. Lalu ia pun berjongkok di hadapan istrinya, mengambil ponsel yang layarnya berkedip, nampak notif yang tampak dari pop up. Pesan chat dari grub chat bersama murid-muridnya. "Jadi, kamu seorang gurukah?" gumam Leo, ia pun menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. "ternyata kamu sangat cantik, bibirmu manis. Aku suka itu," lanjut Leo lagi. Ia mendekatkan kepalanya, sedikit lagi bibirnya akan menempel di bibir sang istri, Leo memejamkan mata, merasakan hembusan napas hangat istri dadakannya. Plak..!! "Anjing!!" umpat Leo, sebab Ara yang tiba-tiba menampar mulutnya yang sudah di monyongkan untuk mencium Ara. "Dasar m***m!! mau apa, lu!" bentak Ara, ia terduduk. Tangannya melindungi tubuhnya, takut jika Leo akan macam-macam dengan dirinya. Leo menjitak kening Ara, "Njirr! ngagetin aja." protes Leo. Lalu ia membuang muka. "mandi sono, terus kita keluar. Nyari makan, aku udah laper banget," suruh Leo. Tanpa menatap lawan bicaranya, Ara sendiri ia mengelus keningnya yang menjadi panas, sebab tangan iseng suami berondongnya. Leo pun berdiri, kakinya melangkah menuju balkon. Sampai di balkon, ia mengeluarkan sebungkus rokok dan juga pemantiknya, membuka bungkus lalu mengambilnya sebatang, menyelipkan sebatang rokok di antara sela jarinya lalu ia menempelkan ke bibir nya, membakar ujung rokok tersebut, detik berikutnya Leo mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya. Pikirannya sedang melayang, malam nanti akan ada pertemuan dengan calon istri yang akan di jodohkan sama Leo. Leo di jodohkan, sebab selama ini ia tak pernah memiliki hubungan dengan seorang perempuan. Padahal sebenarnya selama ini Leo memiliki kekasih yang kuliah di luar Negeri, ia sudah pacaran sejak awal kelas dua belas. Hanya saja si wanita tersebut memilih kuliah di Malaysia, ikut dengan ayahnya sebab mamanya telah meninggal dunia. Menjalani hubungan jarak jauh itu memanglah tidak mudah, Leo sendiri mengalami yang namanya putus nyambung. Namun sudah hampir tiga tahun ini, mereka masih bertahan. *** Setelah adzan maghrib Leo mengajak Ara ke salon, Leo bertekat untuk memperkenalkan Ara sebagai pacarnya. Sebab, ia tak ingin di jodohkan dengan wanita manapun. Setengah jam berlalu, Ara mematut diri di depan cermin. Ia memakai lensa mata, lalu menyimpan kaca matanya di tas yang ia bawa. Mata Leo tak berkedip menatap wanita cantik yang merupakan istrinya tersebut, "Cantik," gumam Leo tanpa sadar. Ara pun menoleh ke sumber suara, entah kenapa ia merasa malu dengan pengakuan suaminya. "Gaunnya cantik," ralat Leo, ia tersadar dengan apa yang di katakan tadi, ia merasa gengsi mengakui kecantikan istrinya. Seketika itu, Ara membuang muka. Leo pun menarik tangan Ara menuju tempat pembayaran. "Bayar," suruh Leo seenaknya, Ara terkejut bukan main. Ini yang ngajakin ke salon suami tengilnya, katanya harusnya berdandan sebelum makan malam, Ara pun ikut saja apa yang di inginkan Leo, namun ia tak nyangka jika dirinya yang harus membayarnya. Ara sadar, bahkan sore tadi ia juga di minta uangnya untuk diberikan ke satpam. Dengan muka yang tertekuk tak enak di pandang, terpaksa Ara membayar tagihan salonnya. "Udah tenang, 'ntar aku ganti kalo kartu ATM aku udah di balik. Sementara malam ini kamu harus menolongku." katanya saat keduanya sudah sampai di tempat parkiran. Males berdebat, Ara hanya diam. Lalu ia pun naik ke boncengan motor suaminya. Tangannya menarik tangan Ara untuk ia lingkarkan di perut Leo, Ara menahannya, ia tak mau jika harus memeluk suaminya tersebut. Tapi, Leo si pemaksa tentu ia akan memaksa sampai berhasil, "Aku mau ngebut ya, aku gak mau kena kasus kelalaian telah menjatuhkan anak orang di jalan raya," ucap Leo, asal. Dengan terpaksa pun Ara menurutinya. Leo tak menyukai Ara berpegangan pada bahunya. Setengah jam berlalu, di sebuah restauran berbintang lima, Leo memarkirkan sepeda motornya, ia turun dari motornya setelah Ara turun terlebih dahulu. Leo menggenggam erat tangan Ara, Ara menatap bengis ke arah suaminya, yang sayangnya ia baru menyadari jika wajah suaminya sangat imut dan tampan. Meskipun sikapnya yang tengil dan seenaknya tapi Ara tahu, lelaki yang tak lain adalah suaminya tersebut memanglah sangat tampan. "Aku akan memperkenalkan kamu dengan keluargaku, kaamu harus bantu aku, kita harus kelihatan mesra di depan mereka, okey?" pinta Leo. Ara malas, ia tak mengiyakan namun juga tak menolak. Ia tetap melangkah mengikuti suaminya menuju pintu masuk restaurant tersebut. Di ruang private yang telah di booking keluarga Hayashi, nampak pria dan wanita duduk di meja panjang, menunggu kedatangan Leo dan kekasih Leo katanya. Yah, Leo telah memberitahukan ke ibunya, jika ia akan mengenalkan pacarnya. "Maaf, saya terlambat." ucap Leo, ia membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf sebab datang terlambat. Semua yang sedang duduk pun menoleh, menatap ke arah Leo. Terutama kedua orang tuanya. "Siapa yang kamu bawa, Leo?" tanya Neneknya. "Ini pacar Leo, Omma. Ara namanya," jawab Leo sesopan mungkin, ia pun memberi kode ke Ara untuk menunduk sebagai tanda hormat. "Selamat malam, Sa-saya Ara, pacar Leo," Ara memperkenalkan diri sesuai intruksi Leo. Gadis remaja yang duduk dengan riasan sederhana dan rambut di kuncir kuda pun menoleh, "Ibu Kiara," panggilnya. Ara terkejut, jika yang memanggilnya adalah salah satu muridnya di tempat ia mengajar. "Eh, siapa ya?" Ara lupa dengan nama muridnya, yang cenderung lebih pendiam itu. "Hanami, Bu. Murid ibu di kelas Sepuluh A," jawab gadis remaja tersebut, "Eh, Hanami kembarannya Kenzhie?" tanya Ara memastikan, Dengan antusias Hanami mengangguk. "Ih, kok ibu pacaran ama Kak Leo, kasihan kak Kenzhie looh, ntar patah hati." gurau Hanami, Kenzhie yang baru dari toilet merasa namanya disebut pun menyahut, "Apaan sih bawa-bawa aku segala," protes Kenzhie, yang ketampanannya tak kalah menarik dari Leo. "Ken," panggil Ara, seketika itu Kenzhie menoleh, matanya berbinar saat melihat guru idolanya ada di depan matanya. "Bu Kiara," panggilnya, dengan hormat Kenzhie menghampiri Ara, lalu meraih tangan Ara untuk berjabat tangan dan mencium punggung tangannya, Kenzhie sangat manis. Beda jauh dengan kakaknya yang sedikit petakilan. "Kamu adiknya Leo?" tanya Ara. Kenzhie menoleh malas ke arah kakaknya. "Bukan, dia bukan kakak Kenzhi, Kenzhie gak mau punya kakak berandal kaya dia," ejeknya. Leo seketika menatap tak suka adiknya, "Aku juga ogah punya adik culun kek kamu," Leo tak ingin kalah. "Mom, coret saja adik dari KK," suruh Leo, ke ibunya. "Kamu nanti yang Mommy coret, sudah duduk kamu, Mommy mo nanya." suruh ibunya. Leo merangkul mesra Ara, ia ingin menunjukkan kemseraannya di depan keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD