Penthouse

1415 Words
"Apa!!!" keduanya sama-sama terkejut, mereka saling bersitatap, lalu membuang muka. "Kalau kalian tak ingin menikah, kalian harus pergi dari sini, dan membayar denda seratus juta," ucap salah seorang yang merupakan sekretaris desa. Leo memicingkan mata, "Oke!" jawabnya, yakin. Ara sendiri menggeleng, "Tidak! harus kemana aku pergi, aku juga tak ada uang sebanyak itu," sahut, Ara. "Baiknya sih kalian menikah, supaya tak berbuat zinah lagi di kemudian hari," ucap Ibu kos. Ara merasa frustasi, bagaimana dia mau menikah, dengan orang yang baru di temuinya, bahkan namanya saja ia tak tahu. Jika dirinya bayar denda, itu juga tak mungkin. Ara ada uang, tapi uang yang Ara bawa tidak sebanyak itu. Dan jika harus pindah ia juga tak mungkin langsung dapat kos baru. Apalagi yang dekat dengan tempat ngajar dan juga kampusnya. Hari ini hari sabtu, setiap hari sabtu sekolah libur, biasanya Ara akan membuat soal ulangan untuk menguji muridnya setiap minggunya, dan juga ia akan mengerjakan tugas kuliah, nya. Namun sekarang yang terjadi malah ia harus kena masalah. Leo terdiam, ia baru ingat. Dirinya sedang bertengkar dengan kedua orang tuanya, baik ATM, kartu kredit telah di bekukan sementara oleh orang tuanya. Ia hanya di izinkan memakai sepeda motor untuk akses kemana-mana. Mobil pun telah di sita. Sedangkan uang jajan ia hanya di beri seratus ribu setiap harinya. "Bangke!!" umpatnya. "Oke! Gue akan nikahi dia sekarang juga," lanjutnya. Tak ada cara lain lagi, bukankah itu juga sebuah keuntungan, ia bisa memperkenalkan Ara sebagai pacarnya. Sebab keluarganya berniat akan menjodohkannya dengan anak teman bokapnya. *** "Siap-siap kemasi semua barang-barangmu, kamu harus ikut aku," titah Leo. Ara yang baru meluruskan kakinya menoleh, mereka baru saja kembali dari kantor pencatatan sipil. Keduanya kini sudah sah menjadi sepasang suami-istri menurut agama dan hukum Negara. Ara pun masih mengenakan kebaya, dan Leo memakai kemeja batik. Mereka menikah dengan wali hakim, itu juga tentu atas izin orang tua Ara. Orang tua Ara yang memang ada di luar kota tak bisa untuk ke Jakarta. Menemui putrinya yang memang sudah lama tinggal di kota Jakarta. Leo mendengus kesal, sebab ucapannya tidak di hiraukan. "Eh aku ngomong sama kamu, ya!" kesal Leo. Ara pun menoleh, jengah melihat pemuda yang kini nampak bekas membiru sebab bekas pukulan di wajahnya. "Sana kalo lu mau pergi, gue mah ogah." jawab Ara, dengan nada tak kalah ketusnya. "Eh, ingat ya. Aku ini suamimu sekarang," ucap Leo, sedikit kesal. Ara menatap malas ke arah Leo, "Terus?" tanya Ara, dengan nada menantang. "Istri itu harus nurut sama suami," kembali Leo berucap. "Ish, males. Punya suami masih bocil," ucap Ara dengan nada remeh. Leo melotot, meskipun usianya memang lebih muda, ia tak suka di panggil 'bocil'. Leo pun menghampiri Ara, yang masih duduk dengan meluruskan kakinya, Leo menarik lengan tangan Ara, membuat yang di tarik menoleh ke arah Ara. Dan.... "Emmbh... Eughh," suara lenguhan keluar dari bibir tipis Ara, saat Leo memaksa nyium bibir mungil tersebut. Awalnya Leo hanya ingin mencicipi bibir yang terus bergerak menantangnya, namun ternyata ia malah terbuai dengan bibir Ara yang memiliki aroma vanila dan terasa manis di lidahnya. "Apa-apaan sih kamu itu!" sentak Ara, matanya melotot. Menatap bengis ke lelaki yang sialnya adalah suaminya sendiri. Leo tersenyum smirk. "Aku gak nyangka, bibirmu manis juga, aku suka." ucapnya, dengan mengedipkan satu mata. Ara reflek melotot mendengar penuturan Leo. "Awas, jika berani cium gue lagi," ucap Ara, ia melotot tak suka itu. Namun Leo malah tersenyum, ia merasa apa yang di katakan Ara, adalah sesuatu yang lucu. Leo pun berdiri, tatapannya tertuju ke atas lemari, lalu ia meraih benda yang ada di atas lemari tersebut, yaitu koper. Kemudian tangannya dengan cekatan memasukan asal pakaian Ara yang ada di dalam lemari tersebut. "Eh eh eh.. Mau di bawa kemana pakaian gue?" tanya Ara, tangannya menahan pakaian yang akan kembali di masukan ke dalam koper. "Bantuin kamu berkemas, biar gak lama," jawabnya dengan nada dingin. "Gue gak mau pergi dari sini," ucap Ara. "Ya udah, kalo kamu gak mau pergi, aku bisa ya minta ibu kos untuk mengusir kamu dari sini, karena kamu gak mau nurut sama suami." jawabnya, santai. "Silakan saja," jawab Ara. Leo tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia berdiri lalu keluar dari kamar tempat tinggal Ara. Tanpa sepatah kata pun. Tidak lama kemudian, ia pun datang dengan ibu kos, "Itu bu, Orang itu tak mau menuruti apa kata suaminya," adu Leo. "Njirr!! Dasar bocil cepu," umpat Ara. "Ara, maaf bukannya mau mengusir kamu, tapi kamar ini sudah saya kasih ke orang yang mau ngekos di sini malam ini, jadi karena kamu sudah menikah dan kos ini tidak memperbolehkan pasangan suami-istri tinggal di kos saya jadi sebaiknya kamu ikutin apa kata suamimu," ucap Ibu kos. Apa yang di katakan ibu kos ada benarnya, dari peraturan awal memang tak di perbolehkan ada pasangan suami istri yang tinggal di kos ini. Semua anak kos adalah perempuan. Ara terdiam sejenak, sedangkan ia melirik Leo yang kini berdiri dengan menyandarkan punggungnya di tembok sedangkan tangannya sibuk bermain HP. Sejam kemudian barang-barang milik Ara sudah berada di mobil taksi. Leo sendiri sudah nangkring di atas motor sport-nya. Sedangkan Ara, ia sedang berpamitan dengan teman-teman kos lainnya. "Sering-sering main ke sini, ya? gue pasti kesepian tanp lu," ucap perempuan dengan rambut cokelat sebahu. Ara pun hanya menggangguk saja, Setelah cukup berpamitannya Ara bergegas ke mobil taksi. Namun sebelum ia sampai ke mobil, tangannya sudah di tarik Leo, "Kamu sama aku," ucapnya dengan suara datar. Ara yang sudah capek dan malas berdebat pun ia memilih menurut. Leo mulai memutar kunci motor setelah Ara sudah duduk di belakangnya. Lalu ia pun menjalankan motor tersebut, keluar halaman kos milik istrinya. Satu jam Leo masih membawa motor muter-muter tak jelas, membuat Ara kesal, pasalnya Leo juga bungkam tak mau menjawab pertanyaan Ara. Ara tiba-tiba mencubit pinggang Leo cukup kencang, "Aaah!! kenapa kamu cubit aku? kamu mau kita jatuh dari motor?" kesal Leo. Ara memanyunkan bibirnya, "Lagian ini sudah kesekian kalinya lu muter di jalan ini," kesal Ara. Leo tak menjawab, ia pun hanya tertawa melihat kekesalan istrinya. Leo orangnya sulit bergaul, tapi entah kenapa ia dengan mudahnya bisa langsung mulai nyaman dengan Ara. Seseorang yang kini telah sah menjadi istrinya. Motor sport pun berbelok ke kiri, masuk ke sebuah halaman gedung apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Motor itu di parkir kan di halaman tanpa membawanya ke baseman bawah tanah. "Turun," titah Leo. "Mau ngapain ke sini? dari tadi lu muterin gedung ini sampai tak terhitung," kesal Ara. Leo diam tak ada niatan untuk menjawab. Seorang satpam pun menghampiri keduanya, "Mas Leo, semuanya sudah beres," ucap satpam tersebut, Leo tersenyum, lalu ia berkata "Thanks pak, Pak Slamet memang bisa di andalkan," pujinya. "pinjem dompet," ucap Leo, ke Ara yang sedang berdiri dengan wajah cemberut. Ara pun tak mau menanggapinya, ia menyerahkan dompet tanpa banyak protes. Leo membuka dompet istrinya, yang sayangnya cuma ada uang cash tiga ratus ribu. Ia pun ambil semua lalu di serahkan ke satpam tersebut. "Maaf, pak uangnya cuma ada segini," ucap Leo. Ara pun menoleh, baru menyadari jika uang miliknya kini berpindah tangan, "Eh eh eh. Itu uang gue. Main ambil saja," kesal Ara. "Idih, cuma tiga ratus doank, aku pinjem 'ntar juga aku balikin." jawabnya cuek. "Hah, kenapa gue sial sih, harus ketemu cowok gak jelas modelan gini. Muka aja tampan tapi duit gak ada," umpat Ara. Tentu hanya bisa di dengar telinga sendiri. Leo menarik tangan Ara, lalu memasuki lobby apartemen. Ia pun langsung melangkah menuju lift. Tiiiing...!!! Lift sudah sampai tujuan, lantai teratas di gedung apartemen ini. "Mau ngapain kita ke sini?" tanya Ara, pasalnya ia juga tahu jika penthouse adalah unit apartemen termewah dan termahal. Apalagi cowok tengil di sampingnya tak punya uang. Buktinya tadi uang Ara di ambil. "Mulai saat ini kita tingal di sini," jawab Leo. Ara menatap remeh ke Leo, "Alah sok-sokan, duit aja minjem ke gue, sok kaya pakai tinggal di apartemen mewah segala," ejek Ara. Bukannya sakit hati, namun setiap apa yang di katakan Ara malah membuatnya semakin gemas. Tanpa kata Leo menarik tangan Ara, menuju depan unit penthouse. Lalu ia mengarahkan sidik jarinya, seketika itu pintu terbuka lebar. Membuat mata Ara terbuka lebar, apalagi saat melihat isi dalam penthouse tersebut baru lihat saja sudah tahu, bagaimana kemewahan penthouse yang katanya milik suaminya tersebut. "Anggap saja rumah sendiri," ucap Leo. Kembali membawa Ara masuk ke unitnya. Seakan ini hanya mimpi, baru pertama kali ia masuk ke hunian mewah seperti saat sekarang ini. Leo mengunci pintunya, lalu ia pun menaiki undakan tangga yang meliuk cantik menuju kamar utama di sana. Membiarkan Ara yang masih terkagum dengan tempat tinggal suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD