Rusuh

1146 Words
"Heran gue sama lo. Bisa ya punya kepdan tingkat akut begitu? Dimana-mana yang namanya orang cakep gak akan bilang cakep ke orang lain. Lah, lo mah beda dari yang lainnya," ucap Refa jengah. Fajar pun menoleh ke arah Refa dengan tatapan datarnya dan berkata, "Gue emang gak suka sama orang lain. Gue ya gue! Gak ada di kamus seorang Fajar sama kayak yang lain." Orang tuh dimana-mana kalau cakep gak akan ngaku cakep kepada orang lain. Ini mah kebalikan bukannya ngomong kalau dia gak cakep atau merendah ini malahan meninggi di depan orang banyak. Ampun banget sama Fajar." "Karena itu hanya Fajar yang memiliki sebuah kehebatan itu. Cobalah kalau bukan Fajar yang ada mereka malahan sukanya insecure banget dengan semua yang mereka miliki. Dengerin aku ya kalau ada apa-apa itu jangan suka insecure karena itu gak pantes kalian miliki." "Insecure mah emang bawaan kali," ujar Refa. "Itulah belajarnya separuh-separuh. Orang tuh ya jangan suka insecure karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cobalah buka mata kalian agar kalian lebih menghargai apa yang kalian miliki saat ini." Fajar pun meninggalkan Refa dan yang lainnya. "Dasar badebah!" umpat Refa sambil menatap Fajar dengan jengah. Gue pun hanya menggelengkan kepala dengan santai, bisa-bisanya mereka berantem di dalam kelas kayak gitu. Fajar dan Refa terkenal seperti kucing dan tikus kalo ketemu, itu merupakan sesuatu yang lumrah terjadi di dalam kelas ini. Mereka akur di beberapa waktu tertentu saja, kayak kalo Fajar menang lomba, Refa rangking, gue menang turnamen dan masih banyak lagi. Gue pun menatap Refa dengan tatapan sebal. "Kenapa lo liatin gue sampe segitunya?" tanya Refa bingung. "Bisa gak sih, kalian itu gak ribut sehari aja? Bosen gue dengernya. Kalo gak ribut, ya kalian ngambek, kalo gak ngambek kalian marahan. Maunya apa?" tanya gue kesal. "Tanya aja sana Fajarnya, dia maunya apa?" jawab Refa santai. Gue pun menggeleng melihat sikap Refa yang sebal dengan sikap Fajar pagi ini. "Cel! Cowo lo ngambek nih!" seru Ojan, yang merupakan teman sebangku Fajar. Gue pun menatap Ojan dengan tatapan tajam. Ojan yang menyadari tatapan gue pun langsung menunjukkan cengiran khasnya. Gue pun langsung bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Fajar yang sedang bermain ponselnya. "Yaudah gue cabut dulu ya. Bye!" ucap Ojan sambil berlalu meninggalkan gue dan Fajar. Setelah Ojan pergi meninggalkan kami berdua, gue memutuskan untuk duduk di sebelah Fajar. Tanpa babibubebo Fajar pun menyandarkan kepalanya di pundak gue sambil memaikan ponselnya. Terdengar suara siul dan teriakan heboh dari dalam kelas. "ASIK AMAT WOI!" "MASIH PAGI INI. KENAPA DRAMA KOREA MUNCUL DI DEPAN MATA GUE!" "TOLONG MB, MAS. KASIAN SAMA PARA JOMBLO YANG AMBYAR LIAT KALIAN BERDUA." "PLEASE DAH, MASIH PAGI LIAT ORANG PACARAN DI KELAS." "HUH! MATA SUCI GUE TERNODAI OLEH KALIAN BERDUA." "UNTUNG KALIAN BERDUA BERPRESTASI YA. KALO ENGGA DAH DI DUPAK LO DARI KELAS INI!" "IRI BILANG BOS!" seru Fajar "Huuuuuu, buchen lo Jar!" seru satu kelas. Gue pun hanya mendelik sebal melihat kelakuan mereka semua. Fajar pun memasang earphonenya di telinganya dan telinga gue. Dia memasang earphone agar mengurangi cibiran dari orang-orang yang ada di sekitarnya. "Kenapa gak lo pake dua-duanya?" tanya gue bingung. "Kalo gue pake dua-duanya, kuping lo panas denger cibiran mereka yang gak guna. Gosip mulu kerjaannya," jawab Fajar sambil menenggelamkan wajahnya di cengkruk leher gue dan memejamkan matanya. "Masih pagi lo dah ngantuk? Begadang?" tanya gue sambil mengelus pelan punggung belakang Fajar. "Iya, semalem gue ngerjain laporan gue, ya lo tau lah gue gimana?" tanya Fajar sambil tertidur. "Yaudah kalo misalnya lo ngantuk tidur aja, kalo ada guru nanti gue bangunin," jawab gue sambil tersenyum simpul. Tak lama kemudian, gue pun merasakan nafas Fajar yang mulai teratur. Ojan pun menghampiri gue sambil membuka mulutnya ingin berbicara. Gue pun dengan sigap mengkode Ojan untuk tidak berbicara sama sekali. Gue pun menyuruh Ojan untuk mendekat kearah gue. Ojan yang mengerti langsung mebungkuk ke arah gue, "Untuk hari ini, lo duduk sama Refa dulu." Ojan pun langsung mengangguk pelan dan mengambil tas serta jaketnya. Setelah mengambil tas dan jaketnya, Ojan pun kembali dengan tas, jaket, dan beberapa buku gue di tangannya. Ojan dengan sigap menata tas, jaket dan buku gue dengan rapih di atas meja. "Thanks Jan!" ucap gue sambil tersenyum. "Santuy aja kali, kayak sama siapa aja lo ini. Btw agaknya Fajar agak sensitif hari ini. Jadi, lo sabar-sabar aja ya ngadepin sikap dia yang manja," ucap Ojan. "Iya, gue dah paham sama sikap Fajar, Jan. Lo tenang aja, Fajar sama gue dah kenal lama. Jadi, gue dah kenal deket sama Fajar. Udah balik ke tempat nanti Bu Izma dateng," ucap gue sambil menyuruh Ojan pergi. Tak lama kemudian suara gaduh di lorong pun terdengar sangat nyaring. Semua orang saling berpandangan mendengar kejadian itu. Bruk! Bruk! Bruk! Suara pukulan tersebut terdengar sangat nyaring sampai ke dalam kelas. Rizal selaku ketua kelas langsung keluar melihat apa yang terjadi di depan dan di susul oleh Dani. "TETEP DI KELAS! GUE SAMA RIZAL YANG LIAT. KALIAN SANTUY AJA!" seru Dani sambil berlari mengejar Rizal. Mendengar suara teriakan dari Dani, Fajar pun merasa terusik dan menggeliat kecil. Gue pun langsung mengelus pelan punggungnya, agar Fajar tidak bangun. Fajar yang merasa risih dengan keributan yang ada, akhirnya membuka matanya perlahan. "Ada apa?" tanya Fajar dengan suara serak khas bangun tidur. "Biasa lah, ada yang ribut di depan kelas," jawab gue menenangkan Fajar. "Yang ke depan siapa?" tanya Fajar. "Bang Rizal sama Kak Dani. Katanya kita suruh tunggu di kelas aja," jawab gue santai. "Ko, gak bangunin gue?" tanya Fajar lagi. "Lo aja tidurnya pules banget. Gak mungkin kita semua tega bangunin lo. Oh ya, lo jangan keluar dulu deh. Dari kemarin juga lo dah nyelesain banyak masalah. Gue gak mau lo ikutan di dalemnya. Gue gak mau lo masuk BK, Jar" jelas gue sambil menundukkan kepala. "Itu tugas gue sebagai OSIS. Lo tenang aja, gue akan aman ko. Kalo lo khawatirin gue terus kayak gini, yang ada gue yang gak tenang. Kan lo tau sendiri OSIS gimana? Jadi pahamin ya kerjaan gue," ucap Fajar santai. Gue pun langsung terdiam mendengar perkataan Fajar. "Gue tau lo dah biasa ngatasin hal kayak gini. Kalau untuk di dalam sekolah gue gak terlalu pusing Jar. Gue tau pekerjaan lo di OSIS gimana? Tapi, waktu semakin berlalu yang buat gue dan lo merasa jauh. Kita sibuk di dunia masing-masing, lo sibuk di OSIS dan band lo, sedangkan gue duduk di rumah aja." Fajar langsung menatap menggoda ke arah Cella. "Apaan lo natap gue kayak gitu!" seru Cella. "Bilang aja sih lo kangen sama gue. Jar kapan kita jalan berdua? Jar kapan lo ngajak gue jalan ke tempat wisata lagi? Jar kapan lo mau ngajak gue main ke rumah lo? Udah aturan lo tinggal tudep aja kalau lo pengen jalan atau gak kangen sama gue Cel. Gak ada yang marah ko kalau lo kangen sama gue. Kan lo tau pesona Fajar tidak pernah luntur." Cella menatap jengah ke arah Fajar yang sedang membanggakan diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD