bc

Ketika Dunia Berhenti

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
scary
like
intro-logo
Blurb

Aruna Maheswara,gadis kantoran yang berakhir menjadi senjata biologis.Sebuah perubahan yang sangat drastis hingga ia pun sulit mencerna hal-hal itu.Sebuah pandemi yang tanpa ia sadari ada sesuatu hal yang aneh pada tubuhnya.Apakah perubahan yang dimaksud?Dan apakah aruna mampu bertahan pada pandemi mengerikan itu?Mari kita simak bersama-sama.

chap-preview
Free preview
Chapter 1 : Kabar Buruk Pertama
Cahaya layar monitor menerangi wajah dari Aruna Maheswara,tokoh utama kita saat ini.Dengan kantong mata yang sudah mengelap seutuhnya,ia tetap saja bersikukuh untuk menyelesaikan semua materi rapat yang akan digunakannya besok hari.Sebuah loyalitas yang sangat disukai oleh perusahaan manapun didunia ini. Sejak dari pukul 7 malam,ia terus mengerjakannya seorang diri diruangan kamar kos yang hanya berukuran 3x3 cukup minimalis untuk ukuran seseorang yang kini sudah menjabat sebagai seorang manager disebuah perusahaan properti besar. Rasa kantuk terus menurunkan konsentrasinya,kesal dengan dirinya sendiri.Ia pun memutuskan untuk pergi keluar kamar dan menuju kearah dapur umum untuk membuat segelas kopi,menekan rasa kelelahan dan juga rasa kantuk dengan segelas kafein. Setibanya di depan pintu dapur,seorang gadis tiba-tiba mendorong pintu itu sehingga membuat Aruna kaget dan reflek menjauh dari pintu hingga ia pun terhindar dari benturan. "Eh kaget!ada Kak Aruna,masih bangun kak?" Aruna menganggukan kepalanya perlahan, "Iya nih,kamu juga kok belum tidur malah ada disini mana bikin mie lagi." Gadis itu terkekeh dan mencoba menawarkan semangkuk mie kuahnya kepada aruna, "Laper kak,ini coba mie buatan ku Kak." Aruna mengelengkan kepalanya, "Ga usah,kamu makan aja sana.Cepat!" Saat gadis itu sudah berdiri diambang pintu,ia sempat-sempatnya menoleh. "Jaga kesehatan ya,Kak.Jangan diem-diem meninggal sendirian didalam kamar ya," ujarnya dengan sangat santai kepada Aruna yang tertegun sejenak. "Eh... Jangan gitu dong,doa yang baik-baik." "Iya deh...Maaf tapi,untuk sekarang yang aku omongin itu serius loh kak!" Setelah obrolan yang sangat bermanfaat itu,Aruna bergegas memasak air panas dengan cara manual dan menuangkan kedalam gelas berisi kopi instan yang sudah ia siapkan diawal. Diperjalanan menuju kamar kosnya,Aruna sesekali melihat ada bayangan seseorang yang seolah berjalan melewati dirinya tetapi saat diperiksa berulang,tidak ada siapapun. masuk kedalam kamar kos,Aruna kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda sejenak itu.Hampir 2 jam berlalu,akhirnya materi rapatnya selesai sepenuhnya tepat di pukul 6 pagi. Tanpa ada istirahat sejenak pun,Aruna bahkan belum puas berbaring diatas tempat tidurnya.Kini dia harus berangkat bekerja dan menghadiri rapat penting yang akan berpengaruh besar pada karir kedepannya. Dengan publik speaking yang baik,memberikan kesan profesional yang siapapun akan tertarik untuk memiliki karyawan yang sangat bekerja keras seperti Aruna Maheswara. Para atasan yang mendengar penjelasan Aruna,semua orang langsung memujinya. Namun,dibalik itu semua ternyata apa yang berhasil aruna dapatkan.Tanpa ia sadari ada seseorang yang sangat ingin merebut itu semua darinya. Setelah berbulan-bulan disibukan dengan berbagai macam pekerjaan yang menyita seluruh waktunya,kini ia bisa bernafas lega dan lebih bersantai sebab pekerjaanya sudah sepenuhnya selesai dan mendapatkan hasil yang mempuaskan,membayar semua hal yang sudah ia lakukan. Di jam istirahat,Aruna berjalan keluar menuju cafe yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja.Menikmati suara cafe yang nyaman dengan segelas ice americano dan juga sepotong stroberi cake. Notifikasi handphonenya terus saja muncul,memperlihatkan pesan dari Ibunya yang terus mempertanyakan uang bulanan yang belum juga dikirimkan kepadanya seolah Aruna sedang berhutang kepadanya.Dengan ekspresi yang sangat murung,Aruna mejangkau handphonenya dan membalas pesan yang sangat enggan untuk ia baca setiap kali mendekati tanggal gajian. Selesai membalas dan mengirimkan uang bernominal 1 juta kerekening Ibunya,tangan seseorang tiba-tiba saja menepuk pundak kirinya yang membuat Aruna kaget dan hampir saja menjatuhkan handphonenya. "Hei... Apa lagi yang kamu pikirkan seserius itu?Bukannya proyek kita disetujui dan kamu jadi penangung jawabnya?Tapi,kamu masih aja murung." Tanya Bagas Wiratama,Teman Laki-laki yang sangat akrab dengan Aruna sejak ia baru masuk ke perusahaan,tempatnya bekerja saat ini. Aruna menghela nafas dan bersandar di kursinya, "Biasa orang rumah nanyain uang bulanan," jawab aruna dengan nada rendah. Bagas yang sudah tau semua cerita keluarga dari aruna sendiri sejak tahun pertama mereka bekerja,ia sangat tidak heran saat mendengar keluhan itu seolah itu adalah keluhan rutin dari sahabatnya. "Belum juga gajian udah ditagih aja ya,kamu baik banget loh.Kalau aku sih,mending ga usah di bales biar mereka ga terlalu bergantung." Aruna terkekeh, "Kalau bisa... bayangin aja,kalau aku bisa kayak gitu.Jangankan mobil,rumah pun bisa aku beli." Bagas tertawa kencang dan merebut ice americano milik Aruna, "Percaya sih aku... Udah pasti kamu bakalan slowliving sih,ngingat kamu yang superduper menghemat buanget." Menatap lurus kearah segelas ice americano miliknya yang sudah habis,menyisakan beberapa butir es batu didalamnya. "Enak ya?" tanya Aruna dengan nada sinis. "Umm... kureng sih,pake gula ya." "Tapi dihabisin,aku baru 2 kali sedot loh,sialan." "Etss... Jangan kasar-kasar,Bu Manager.Oh ya,ada korek ga sih pen nyebat dikit nih pait mulut." Aruna mengelengkan kepalanya bersamaan dengan helaan nafas panjang,menyikapi tingkah menyebalkan temannya yang sudah sangat menganggu.Tanpa berkata apa-apa,Aruna pun berjalan menuju pintu dan berniat untuk kembali ke ruang kerjanya. Bagas tetap saja menanyakan korek kepada Aruna yang tetap berjalan lurus,mengabaikan Bagas yang terus mencelotehkan hal yang sama secara berulang.Saat mereka sudah berada di anak tangga terakhir,Bagas tidak sengaja melihat Vania yang satu devisi dengannya.Dia terus menatap kesal kearah Aruna seperti seorang penyihir yang akan memberikan kutukan. Setelah Vania melewati mereka.Bagas mendekat kearah Aruna dan membahas tentang apa yang ia lihat tadi. "Aruna,aku ngasih tau aja ni ya.Kamu mending lebih hati-hati deh sama vania,aku ngerasa kalau dia bakal celakain kamu." Aruna malah tertawa,menganggapi itu hanyalah sekedar candaan belaka. "Ada masalah sama pacarnya kali,biasa badmood.Udah sih,mending kita fokus kearah berjalannya proyek kita." Seminggu setelah rapat penting itu,Aruna yang masih sibuk meninjau berjalannya hasil proyeknya.Tiba-tiba handphonenya berdering tepat ketika Aruna masih sibuk berbincang-bincang dengan beberapa orang yang bertanggung jawab keberlanjutan proyeknya. Dengan tidak enak hati,Aruna meminta waktu sejenak agar bisa menjawab panggilan telepon terlebih dahulu.Beberapa langkah menjauh dari tempatnya berada di awal,Aruna pun menjawab panggilan itu dengan perasaan gundah yang sulit dijelaskan.Sebab panggilan telepon itu dari Staf keuangan perusahaannya,Fajar Pratama. Dengan tarikan nafas dalam dan helaan yang panjang,Aruna menyapa terlebih dahulu. "Runa,maaf ni yaa.Saya minta penjelasan saja,barang kali pencatatan saya ada terlewat...Jadi,gini di tanggal 13 bulan lalu,Kamu ada pengeluaran besar selain bahan proyek kh?soalnya ini pengeluarannya 5x lipat dari dana proyek yang ditetapkan." "Hah?"jawaban reflek yang langsung keluar dari mulut Aruna,sebuah respon natural ketika seseorang terkejut. "Jadi,gimana ada tidak?pembukuan sudah harus di tutup hari ini,mohon penjelasannya ya.Saya tunggu di kantor," jelas Fajar yang langsung menutup teleponnya. Mendengar itu,Aruna terdiam.Merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Staf keuangan yang tidak mungkin bercanda tentang hal sepenting itu.Dengan kegelisahan yang terus mengusiknya,ia pun bergegas menuju kantor setelah perpamitan dengan rekan kerja lainnya di lokasi proyek. Dengan langkah yang tergesa-gesa,nafas yang terengah-engah dan air mata yang sudah berlinang.Aruna bergegas masuk ke dalam ruangan kerja Fajar yang kebetulan sudah ada Adrian Wicaksono,Direktur Operasional. Aruna berusaha menenangkan dirinya dan berdiri depan atasannya yang sudah siap mendengarkan penjelasan Aruna tentang permasalahan yang sudah merugikan dan juga membuatnya kehilangan beberapa klien penting yang susah payah ia mempertahankan. Aruna menjelaskan semua ia ketahui,dari bukti transaksi,pesan yang berkaitan dengan pengeluaran dan juga struks pembelian kebutuhan proyek yang memang sudah ia data serinci mungkin. Fajar dan juga Adrian terdiam sejenak,mencoba mencari celah yang mungkin saja terlewat oleh mereka.Disaat semua orang yang berkaitan diminta pendapat secara terpisah,suasana kantor menjadi sangat berbeda dan membuat Aruna merasa dikucilkan oleh beberapa rekan kerjanya. Aruna yang tidak terlalu peduli akan hal itu,ia pun hanya memfokuskan diri untuk menyelesaikan semua pekerjaannya hingga Adrian mengirimkan email secara pribadi kepadanya agar segera masuk keruangannya sekarang juga. Aruna yang sudah sangat putus asa,berusaha untuk siap menerima apapun keputusan yang ditetapkan oleh atasannya. Adrian pun menjelaskan beberapa hal yang sudah ia data sesuai dengan pengakuan beberapa rekan kerjanya yang memiliki kaitan dengan proyek yang menjadi tanggung jawabnya saat ini. "Dan karena itu,Saya sebagai Direktur Operasional mengalihkan penanggung jawab proyek ini kepada Vania Kusumawardani.Maaf sekali Aruna,atas keputusan saya saat ini.Seperti yang sudah kamu ketahui kalau keputusan ini bukanlah kemauan saya pribadi tetapi keputusan bersama dari berbagai pihak." Dengan air mata yang berlinang,nafas yang tidak karuan dan juga tubuh yang gemetar.Aruna berusaha tersenyum dan menganggukan kepalanya perlahan. "Saya paham,Pak.Anda bukanlah atasan yang egois,Anda adalah seseorang yang bijaksana dan tentu saja apa yang sudah anda tetapkan saat ini melalui pertimbangan yang cukup panjang." Adrian menghela nafasnya dan memberikan surat pemutusan kontrak yang membuat Aruna terduduk tidak berdaya,membayangkan bagaimana respon ibunya nanti. "Saya diberhentikan,Pak?Apa tidak ada kesempatan untuk saya lagi,sekali saja Pak.Saya mohon," ucap Aruna yang nangis tersedu-sedu dibawah kaki Adrian Wicaksono,Direktur Operasional. Adrian menepuk pundak kanan Aruna, "Maafkan saya,Runa.Saya tidak bisa membantu kamu mempertahankan posisi mu... Tetapi,saya berjanji akan mengurus pesangon mu agar bisa cair sepenuhnya tanpa keterlambatan."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.6M
bc

The Silver Wolf

read
615.6K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
907.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook