2 tahun kemudian...
Kini aku sedang berkuliah di salah satu Universitas yang ada di Jakarta. Dan tidak terasa, sekarang aku sudah semester 3 fakultas Hukum.
"Meidy!" aku yang hendak melangkah pergi ke tempat parkiran, seketika terhenti.
"Lala! Ada apa?" tanyaku pada Lala, ia adalah teman ku sejak aku kuliah.
"Didepan pos satpam, ada seorang tentara mencari mu." jawab Lala.
"Tentara? Siapa?"
"Yaa mana aku tau siapa. Sudah cepat kamu temui dia!"
"Oke-oke. Makasih info nya,"
"Siap. Ya sudah aku pergi dulu,"
Aku mempercepat langkah ku menuju pos satpam menemui seorang tentara yang katanya tengah mencari ku.
"Assalamualaikum, Pak." salam ku pada pak satpam
"Wa'alaikumsalam, ada apa, mbak?"
"Maaf, tadi ada tentara disini?" tanyaku sopan
"Ya, dia ada disamping pos, mbak." jawab pak satpam.
"Ohh ya sudah, makasih, pak."
Aku pun berjalan dan melihat kesamping pos satpam dan benar ada tentara mengenakan baju pdl nya yang sedang berdiri membelakangi ku.
"Permisi, ada apa anda memanggil saya?" tanyaku. Tentara itu pun menoleh
"Assalamualaikum, dek."
"Hah?! Kak Fernan!" ucapku tak percaya siapa tentara yang sedang berdiri didepan ku ini. Dia adalah kak Fernando, laki-laki yang sudah pergi tugas 2 tahun lamanya di Lebanon, dan kini ia kembali ke tanah air. Perasaan senang ku tidak dapat di bendung lagi. Lama sudah aku menunggu nya.
Tanpa kusadari, air mata ku sudah meluncur bebas dari tempatnya.
"Hai, kenapa menangis, hm?" tanya kak Fernan sambil menghapus air mataku.
"Apa ini benar-benar kak Fernan ku yang sudah menghilang dan kini kembali lagi?"
"Ya. Ini aku, Mei. Lettu Fernando Angkasapura," ucap kak Fernan. Tanpa aba-aba aku langsung memeluk nya, entahlah aku ini kenapa, yang pasti aku ingin lakukan saja. Mungkin kak Fernan risih karena aku memeluknya dan itu mendapat tatapan-tatapan dari mahasiswa/i yang melintas.
"Ma..maaf kak,"
"Sudah, tidak masalah. Kamu sudah pulang kan?" aku mengangguk
"Kalau gitu aku akan mengantarmu kerumah, Ayo!"
"Sebentar aku akan mengambil mobil ku diparkiran,"
"Baiklah, biar aku saja yang mengambilnya." aku pun memberikan kunci mobilku pada kak Fernan.
***
Ting!
Assalamualaikum. Temui saya di depan rumah mu!
Aku membulatkan mata melihat nomor yang tidak kukenal tiba-tiba saja mengirim ku pesan w******p. Segera aku berjalan ke balkon melihat siapa orang yang menunggu ku disana.
Namun, nampak nya tidak ada siapa-siapa. Aku bisa melihat di depan rumah tidak ada orang satu pun. Ayolah, lagi pula ini masih pagi, jam 6.
Ting!
Cepat turun! Dan bukakan pintu nya!
Lagi, orang itu mengirim pesan lagi. Astagfirullah, bagaimana ini? Aku sedang sendirian dirumah tidak ada orang sama sekali. Ayah dan Ibu ku sedang di Bandung dan anak buah Ayah sudah pergi entah kemana.
Ting!
Haii, cepatlah! Buka pintu nya atau saya akan mendobrak pintu nya. Saya tau, kamu sudah bangun tidur sekarang.
Astagfirullah, aku berbuat apa? Apa yang harus aku lakukan? Membuka pintu nya? Tapi takutnya itu adalah orang jahat.
Aku mengotak-atik ponsel ku dan mencari nomor anak buah Ayah ku.
"Ha...halo, assalamualaikum, om."
"Wa'alaikumsalam, ada apa, kak?"
"Om lagi dimana? Ini aku ketakutan"
"Ketakutan kenapa, kak?"
"Ini om tadi ada yang pesan saya buat bukain pintu, tapi saya tidak tau siapa yang kirim saya pesan. Maka nya saya ketakutan, om."
"Astagfirullah, iya kak. Om langsung kerumah ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aku mondar-mandir tidak jelas, saking ketakutan nya. Aduhh lagian siapa sih orang itu? Kalau dia mau berbuat jahat, kenapa harus di komplek tentara begini? Mau dihajar apa?
Ting!
Hai, cepatlah buka pintu nya! Lama aku menunggu.
Ketakutan ku semakin bertambah, aduhh bagaimana ini?
Aku pun bertekad, aku keluar kamar dan turun kelantai bawah. Benar-benar orang ini membuat aku mati ketakutan. Saat di tangga, terdengar suara ketukan pintu yang sedikit keras. Bagaimana ia bisa masuk? Bukannya pintu pagar nya sudah terkunci? Astagfirullah, aku lupa mengunci nya.
Aku berjalan ke kamar Ayah ku dan mencari double stik milik Ayahku. Setelah ketemu, aku berjalan mendekati pintu. Namun, saat ingin membuka kunci, aku mendengar suara om Dana sudah datang. Terdengar om Dana sedang berbincang dengan orang itu. Aduhh aku semakin takut jadinya.
Tok...tokk
"Assalamualaikum, kak. Kakak bukain pintu nya, kak." teriak om Dana dari luar. Aku dengan ragu membuka pintu nya.
Saat pintu terbuka, nampak om Dana dan orang tidak dikenal itu, ia sedang berdiri sambil menelfon. Aku pun menarik om Dana masuk
"Wa'alaikumsalam, om itu siapa? Om jangan dekat-dekat, siapa tau dia orang jahat." ucapku sedikit berbisik
"Orang jahat?"
"Iya, itu orang didepan. Dia yang kirim aku pesan," om Dana terkekeh.
"Ish kok ketawa? Dia itu..."
"Apa? Orang jahat? Kalau iya saya orang jahat bagaimana?" sigap aku langsung membalikkan badan ku dan memainkan double stik, aku memang pandai memainkan nya. Om Dana sedikit terkejut dengan aksi ku dan ia sedikit bergeser.
Namun, tak kalah terkejut nya dengan ku. Aku langsung menghentikan aksi ku dan menatap wajah pria bertubuh tegap di depan ku.
"Bagus. Sejak abang tinggal tugas, kamu jadi semakin pintar main nya." ucapnya
"Abang?!" teriak ku. Ia terkekeh dan merentangkan tangan nya. Tanpa aba-aba, aku langsung memeluk nya erat sekali. Lama aku tidak menjumpai nya, entah kemana ia pergi tugas sampai hampir 2 tahun setengah ia baru saja kembali.
Satu kalimat yang bisa kuucapkan, 'aku merindukan mu.' hanya itu saja. Tidak ada yang lain nya.
"Masih menyebut abang dengan sebutan orang jahat?" tanya nya terkekeh
Aku melepaskan pelukan ku dan menatap nya, "Lagian nomor nya beda begini, aku kira siapa."
"Lalu tidak jadi melanjutkan aksi yang tadi? Kamu pintar," ucapnya.
Ayolah, tidak ada yang berubah dari abangku ini. Kalian lupa siapa nama nya? Muhammad Anando Syahputra, abang pertamaku. Sedangkan abang kedua ku, sudah menikah dan sekarang ia pindah tugas di Palembang, Sumatera Selatan.
Tidak ada sedikit yang berubah dari bang Nando, ia masih sama seperti saat ia pamitan berangkat tugas. Dan status nya masih sama, single belum menikah. Aku masih heran kenapa ia masih saja betah sendiri. Aku memang masih maklum karena ia belum bisa move on dari sahabatku, Asya.
"Sudahlah, lupakan saja. Abang sekarang istirahat aja dikamar, kasihan baru nyampe."
"Ya sudah abang ke kamar ya."
Bang Nando pergi menjauh dan masuk kedalam kamar nya sambil menggendong ransel yang besar itu.
"Kak, Nando tidak berubah ya." ucap om Dana
"Iyalah, memang nya abang itu power render apa?" candaku
"Bukan begitu, maksudnya---"
"Iya, sama seperti waktu pertama berangkat tugas." om Dana menatapku tajam saat aku memotong omongan nya.
"Kebiasaan deh ya, kak. Selalu motong omongan orang," om Dana pergi melangkah kedapur. Huh, ngambek mulu tuh jadi tentara.
"Om, jangan ngambek kenapa! Kan cuma motong dikit omongan nya," ucapku sambil mengikuti nya.
"Sama aja, kak. Tidak sopan."
"Ish ngambek mulu, kek anak kecil aja. Anda tentara apa anak kecil sih? Ribet!" umpatku
"Om dengar loh, kak. Mau dibilangin sama Bapak atau Nando?" ancam nya
"Eh eh jangan dong. Om jangan ya, jangan." om Dana menghiraukan aku dan melenggang pergi begitu saja.
"Makanya dek jangan suka motong omongan orang, marah tuh bang Dana nya. Biarin aja abang mah, nanti juga dicuekin selama nya sama dia." aku membalikkan badan dan melihat abang Nando berdiri sambil bersedekap.
Aku terdiam dan mengejar om Dana yang entah sudah kemana ia pergi. Ayolah kalau om Dana marah atau ngambek, auto dicuekin, gak disapa atau apapun itu.
"Huaaaaa om Dana!!!!" teriak ku sambil mengejar om Dana yang sedang berjalan. Beberapa ibu-ibu persit menatapku aneh dan tertawa, aku pun merasa malu sendiri. Tapi masa bodo ah, toh mereka sudah tau. Om Dana terus berjalan tanpa mau menghentikan langkah nya ataupun menoleh kebelakang.