Author pov
Malam ini, Asya sedang duduk sendiri dibalkon kamarnya. Menatap malam gelap disinari bulan purnama yang indah. Ia sangat merindukan sahabat nya, sejak kuliah mereka tidak saling berjumpa. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan sebuah peristiwa.
Flashback on...
"Bang, kita mau kemana?" tanya gadis itu sambil menatap pria yang sedang fokus menyetir.
"Hm, kamu lihat saja nanti ya." pria itu menjawab sambil tersenyum hangat.
Mereka pun sampai di sebuah tempat yang asing dimata Asya. Asya melihat sekeliling dan mulai tertarik dengan suasana disana.
"Ayo! Abang mau ajak kamu makan disana!" pria itu menarik lembut tangan Asya dan menuntun nya masuk kedalam rumah makan sederhana tapi terkesan mewah.
Mereka pun makan dengan tenang dan mereka juga menikmati santapan ditemanin pemandangan yang alami.
"Asya, abang mau bicara." Asya yang asik memotret pemandangan dengan ponsel nya pun terhenti dan menatap pria itu depan nya.
"Bicara apa?"
"Hm, abang tau abang itu bukan orang yang romantis atau sebagainya. Abang hanyalah manusia biasa dan abang berhak menyukai seseorang." ucapnya
"Maksud abang?" Asya menatap binggung, ia tidak mengerti ucapan pria itu.
"Huh, dari awal kamu berteman dengan Meidy, abang mulai tertarik sama kamu, Sya. Abang-- abang suka sama kamu, Sya."
Jederrr!
Bagaikan petir disiang hari. Asya terdiam sambil menatap pria didepan, pria itu adalah abang dari sahabat nya, Meidy. Dia abang Nando. Pria yang ternyata menyukai nya diam-diam.
"Jadi, maukah kamu menjadi pasangan dan pendamping abang?" tanya Nando memecahkan lamunan Asya. Asya kembali menatap Nando. Pria yang selama ini sudah ia anggap sebagai abang nya juga, dan sekarang ia meminta Asya untuk menjadi pendamping nya? Apa itu tidak salah?
"Ak--aku.." Asya menarik nafas nya dan menghembuskan nya perlahan.
"Kamu boleh memikirkan nya dulu, Sya. Abang kasih waktu buat kamu." ucap Nando. Ia tau kalau Asya masih terkejut mendengar ucapannya.
3 hari berlalu...
"Asya!" Nando terkejut ketika mendapati Asya yang duduk disamping nya. Kini Asya memang sedang main dirumahnya.
"Abang, aku sudah memikirkan nya." Nando langsung menatap Asya dengan penuh harapan, berharap Asya menerimanya.
"Maaf, bang. Asya gak bisa terima." Nando terdiam dan menampilkan wajah nya yang dingin dan datar. Tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Asya pun menyadari perubahan raut wajah Nando.
"Maaf, bang Nando itu keputusan Asya. Maaf buat abang--"
"Sudah, tidak masalah. Itu hak kamu untuk menolak atau menerima." potong cepat Nando sedikit menyinggung senyum tipis, itu pun terpaksa. Ingat!
Setelah itu, Nando langsung beranjak meninggalkan Asya di bangku halaman belakang. Ia berlalu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Flashback off..
Asya menggelengkan kepala nya. Ia sungguh mengecewakan Nando saat itu. Asya tau, bahwa Nando sangat berharap Asya bisa menerima nya. Namun, dengan teganya Asya mematahkan harapan itu.
Dulu ia mempunyai alasan untuk tidak menerima Nando, alasannya ia masih ingin fokus kuliah. Hanya itu alasan nya. Namun, selang seminggu Asya menerima Fadlan untuk menjadi kekasih nya. Bodoh. Memang bodoh. Tapi mau bagaimana lagi.
Nando pun tau kabar nya kalau Asya menjadi kekasih Fadlan, adik angkatan nya dulu. Mendengar kabar itu, Nando awal nya ragu dan tidak percaya. Namun, apa boleh buat? Memang itu benar ada nya.
***
Meidy menatap abang nya yang sedang duduk termenung di bangku halaman belakang. Entah apa yang menganggu pikiran abang nya itu.
"Abang." Nando menatap adik kecil nya yang berdiri disamping nya.
"Hm," Meidy pun duduk di sebelah abang nya. Mengusap pelan punggung abang nya.
"Abang dari tadi melamun terus, ada masalah?" Nando menggeleng
"Lalu, apa yang abang pikirkan?"
"Nothing problem,"
"Bohong. Abang bohong. Kenapa abang jadi berubah begini, hm?"
"Abang gak berubah, dek. Kan kamu lihat sendiri, abang masih seperti yang dulu." Meidy menggeleng. Ia tau, abang nya ini sedang berbohong.
"Terserah abang. Inti nya abang bohong dan berubah." Meidy berdiri dan meninggalkan Nando.
Nando mengerti apa yang dimaksud adek kecil nya itu. Namun, ia tidak ingin memberitahu adek nya. Nando pun beranjak dan melangkah menuju kamar adek nya.
"Dek."
"Apa?"
"Hm, mau jalan-jalan?" ajak Nando sambil tersenyum
"Nggak mau. Sebelum abang jujur, aku gak mau." Nando menatap binggung sang adek. Nando pun menarik kursi belajar dan duduk disana.
"Apa? Memang abang berbohong? Apa yang harus abang ucapkan jujur sama kamu?"
"Semua nya. Tidak ada terkecuali," Meidy menatap abang nya yang terdiam. "Ayolah, bang. Jujur sama aku. Abang banyak perubahan sejak abang menyatakan perasaan sama Asya."
"Perubahan? Abang rasa gak ada perubahan." ucap nya datar.
"Ya, abang banyak perubahan. Mulai dari sikap, sifat dan tingkah abang."
"Kamu mengamati? Sebutkan apa saja perubahan nya!"
"Abang itu dulu--"
"Nando, Meidy!" pintu terbuka, nampak Ibu berdiri sambil bersedekap.
"Ibu?"
"Aduhh, kalian ini ya. Ayah sama Ibu nya pulang bukan nya disambut malah ngerumpi dikamar." ucap Ibu. Meidy dan Nando pun menyalami tangan ibunya.
"Kenapa ibu gak kasih kabar? Kan bisa Nando jemput tadi."
"Sudahlah, bang. Kamu itu ya, pulang tugas gak bilang-bilang, berangkat dadakan." cibir ibu.
"Ya memang begitu, mau bagaimana lagi?"
"Bang, kamu itu sudah hampir 2 tahun setengah pergi tugas. Sebenarnya kamu tugas dimana sih?"
"Itu rahasia, Bu." Nando menatap ibunya yang kita menatap nya rindu. Nando berdiri dan memeluk nya. "Maafkan Nando ya, Bu. Maaf Nando lama bertugas." Nando meneteskan air mata nya yang sedari tadi ia tahan.
"Gak apa-apa, bang. Ibu maklumi." Ibu melepaskan pelukan dan mengusap wajah putra sulung nya. "Tapi seperti nya adek mu itu yang gak bisa maklumi. Dia selalu uring-uringan, nangis gak jelas. Pusing Ibu sama Ayah lihat nya."
"Apa sih, Bu? Kok jadi aku yang kena. Perasaan aku gak kayak gitu deh. Ibu salah kali."
"Tuh kan gak mau ngaku lagi, bang. Dia itu kayak orang habis ditinggal pacar nya aja kalau lagi nangis. 3 jam gak berhenti dan gak mau makan pula."
***
Ting!
Mei, aku mau ketemuan.
Meidy menatap pesan w******p dari sahabat nya. Sahabat nya yang pergi meninggalkan nya kini kembali.
Sudah pulang? Bukan nya kamu ada di Palembang? Send.
Tanpa tunggu lama, pesan nya pun langsung dibalas.
Sudah. Aku sekarang ada dirumah.
Mau ketemu dimana? Cafe? Send
Boleh. Aku jemput kamu ya.
Oke.
Aku bergegas mengganti pakaian ku dan sedikit memoles make up diwajah ku. Bersiap-siap untuk pergi.
"Bu, aku izin keluar ya." ucapku saat menemui Ibu sedang duduk di ruang tengah
"Mau keluar kemana, dek?"
"Mau pergi sama Asya, Bu."
"Asya? Bukan nya dia di Palembang?"
"Dia sudah pulang ke Jakarta."
"Ya sudah, hati-hati ya." aku menyalami tangan Ibu dan berlalu.
Saat membuka pintu, rupanya Asya sudah menunggu. Ia mengendarai mobil sedan berwarna hitam. Saat ingin masuk, aku melihat bang Nando berdiri di jendela kamarnya sambil memperhatikan ku dengan tatapan sulit diartikan.
"Assalamualaikum, Mei." Asya tersenyum menyambutku.
"Wa'alaikumsalam. Kamu apa kabar?" Asya perlahan melaju mobil nya.
"Alhamdulillah kabar baik. Aku harap kamu pun begitu."
"Ya, aku pun baik. Sya, lama kita gak ketemu ya." ucapku
"Ya. Aku merindukan mu dan 2 sahabatku."
Meidy merasakan perubahan pada sahabatnya itu. Semenjak ia tau Asya menolak abang nya. Asya jadi sedikit menjauhi nya.
"Bohong. Kamu bohong, Sya." sanggah nya.
Asya menatap binggung sahabat nya itu.
"Mei, aku gak ngerti maksud kamu. Kita obrolkan itu nanti." Meidy menghela nafas dan mengangguk.
Saat sampai di sebuah cafe, Meidy dan Asya berdiam diri. Tidak ada yang membuka pembicaraan diantara mereka.
"Mei!" Meidy mendongak dan menatap Asya
"Apa maksud kamu tadi?"
Meidy menghela nafas nya perlahan dan menenangkan diri.
"Sudahlah, lupakan aja." mereka kembali terdiam.
"Kamu gak berusaha menghindar dari seseorang?" Asya menatap binggung sahabat nya
"Ya, aku yakin. Aku gak menghindar dari siapa pun, Mei."
"Huh, lupakan. Lalu, bagaimana hubungan mu dengan kak Fadlan?"
"Ya begitu, baik-baik aja. Gak ada masalah serius," jawab Asya santai. "Mei, apa abang kamu sudah kembali?" entah apa yang membuat Asya mengeluarkan pertanyaan itu.
"Bang Nando maksud kamu?" Asya mengangguk cepat.
"Sudah, dia nyampe dua hari yang lalu.Tapi dia sedikit berubah."
"Berubah?"
"Ya, dia jadi cuek, dingin, datar, dan pendiam. Entahlah aku jadi merasa kehilangan abangku."
"Sejak kapan dia begitu?"
"Setelah dia menyatakan perasaan nya sama kamu, Sya." jawab Meidy lirih tapi masih bisa di dengar oleh Asya. Asya terdiam.