Next...
Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, aku terbangun dari tidurku...
"Sya! Asya.. Bangun sholat ashar dulu.." aku menguncang badan Asya
Asya pun mengecuk mata nya khas orang bangun tidur.
"Hmm... Emang nya jam berapa?" tanya Asya
"Jam 4 sore." aku pun beranjak dan masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu...
Setelah sholat, aku dan Asya bergantian untuk mandi sore. Sambil menunggu Asya selesai mandi, aku turun kelantai bawah..
"Bang! Abang!" panggilku sambil menelusuri tiap ruang.
"Kok sepi ya?" ucapku
Tak lama pintu rumah terbuka. Aku pun berjalan ke depan... Aku mendapati bang Ferdi.
"Habis darimana, bang?" tanyaku
"Eh? Hmmm ini habis beli ketoprak di depan komplek. Kamu dan Asya kan tadi belum makan siang, jadi panggil Asya sana!" pinta bang Ferdi
"Asya lagi mandi, bang."
"Ya sudah kamu makan nanti dulu, tunggu Asya ya." aku pun mengiyakan ucapan bang Ferdi. Tak lama Asya berjalan di tangga.
"Mei! Mei!" panggilnya
"Iya? Kenapa?"
"Aku udah selesai, sana kata nya kamu mau mandi."
"Nanti dulu. Kamu ke ruang makan aja sini!" pintaku. Asya pun berjalan keruang makan
"Sini, Sya. Kita makan, abang tadi sudah belikan ketoprak. Kamu gak makan siang kan tadi?" aku pun menggeleng cepat.
"Ya sudah ayo sini!" ajak bang Ferdi.
Akhirnya kami makan bersama. Setelah 15 menit makan, aku segera ke kamar untuk mandi sore. Selesai mandi sore, aku duduk di balkon kamarku.
"Dek!" panggil bang Ferdi sambil membuka pintu kamarku.
"Iya?" bang Ferdi menghampiri ku di balkon
"Kenapa, bang? Asya mana?" tanyaku tanpa menoleh kearahnya
"Asya ada dibawah. Dek, abang mau ke RS. Kamu mau ikut?"
"Hmm gak deh, bang. Aku titip salam aja." entah kenapa aku malas ke RS, padahal tadi pagi aku merenggek untuk ke RS melihat bang Nando yang belum sadarkan diri.
"Yakin?" segera aku mengangguk mantap.
Tak lama handphone bang Ferdi berdering... Bang Ferdi merogoh saku celana nya dan menerima panggilan telfon tersebut.
"Ya, assalamualaikum."
"..."
"Yang bener, Bu?"
"..."
"Alhamdulillah. Ada nih lagi sama Ferdi."
"..."
"Iya. Wa'alaikumsalam"
Bang Ferdi mengakhiri panggilan. Aku melihat bang Ferdi heran, pasalnya senyum terlukis diwajah nya.
"Kenapa, bang?" tanyaku heran
"Apa?" eh malah balik nanya
"Abang kenapa senyum gitu?" fixx si abang malah tambah tersenyum. Macam orgil saja abangku. Bukan nya jawab pertanyaan ku malah senyum terus... Wahh kesambet setan nih orang... Hehe
"Abang gak kesambet kan?" tanyaku sambil menatapnya menyelidik.
"Apaan sih dek, abang gak papa." ucapnya
"Lagian senyum2 kek orang kesambet tau gak? Ada apaan sih?" tiba-tiba bang Ferdi meneteskan air mata dan langsung memelukku. Eh? Kenapa sih? Jadi binggung sendiri. Tadi senyum-senyum, sekarang nangis. Wahh beneran kesambet setan nih...
"Loh kok malah nangis sih?" ucapku heran
"Alhamdulillah dek Alhamdulillah.." itulah ucapan yang dikeluarkan dari mulutnya. Nah tambah binggung sumpah.
"Alhamdulillah kenapa, bang?"
"B.. Bang Nando-" belum sempat bang Ferdi menyelesaikan ucapan nya, langsung aku memotong nya.
"Kenapa? Bang Nando kenapa?" tanyaku
"Alhamdulillah, bang Nando sudah sadarkan diri." Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih engkau telah menyadarkan abangku...
Aku pun seketika menangis dan memeluk bang Ferdi erat.
"Ya udah, bang. Sekarang kita ke RS. Ayo bang!" aku melepaskan pelukan ku dan menarik tangan bang Ferdi
"Lah? Katanya gak masuk ke RS."
"Ishh ini beda situasi... Hehe.. Ayolah bang!" aku terus menarik tangan bang Ferdi. Alhasil bang Ferdi menuruti. Aku dan Asya bersiap ke RS.
***
Sampai di RS, aku segera berjalan ke kamar inap bang Nando.
"Assalamualaikum" salamku sambil membuka pintu ruangan bang Nando. Saat aku masuk ke ruangan inap bang Nando, betapa senang nya hati ku ketika melihat abang ku sudah duduk di atas ranjang dan tersenyum ke arahku. Segera aku berlarian ke tempat ranjang nya sambil merentangkan tanganku...
Aku langsung memeluk bang Nando dengan erat...
"Abang.." ucapku lirih... Tanpa kusadari, air mata ku sudah menetes...
Sepertinya bang Nando menyadari kalau aku sudah menangis.
"Sudahlah ,dek. Jangan menangis... Abang sudah sadar sekarang.." ucap bang Nando pelan, suara nya seperti orang hilang suara. Sedikit serak...
"Hiks... Abang jahat... Kenapa abang sadar nya lama? Lihat mataku sudah seperti orang babak belur karena menangisi abang yang belum sadarkan diri." ucapku sambil melepaskan pelukan ku dan menunjuk mataku yang sudah sembab.
"Haha kamu lucu, dek. Kamu kayak mata panda begitu.." Lah nih orang, baru juga sadar. Sudah ledek orang.
"Ishh... Ini kan salah abang."
"Eh kok salah abang? Kan abang butuhnya doa bukan tangisan kamu." ucap bang Nando... Mendengar itu, 1 ruangan menertawakan ku...
"Ishh kok malah pada ketawa.." kesalku
"Haha lagian kamu, dek. Ada-ada saja. Kan Ibu sudah bilang, jangan tangisi abang mu tapi doakan lah dia.." ucap Ibu
"Meidy gak nangis, Bu. Cuma sedih.." ucapku
"Sama aja adek kecil.." ucap bang Nando sambil mengacak-acak rambutku... Hmm kebiasaan deh..
"Mulai deh." ketus ku. Bang Nando menghentikan aktivitas nya mengacak-acak rambutku.
"Sya, sini! Dari tadi duduk mulu." pintaku. Asya beranjak dan mendekat
"Kamu gak mau bilang apa gitu sama bang Nando?" tanyaku jahil sambil melirik bang Nando yang nampak nya salah tingkah... Hadehh...
"Eh?! Hmm ngomong apa ya?" pikir Asya.
Aku pun menyusun rencana untuk mendekatkan Asya dan bang Nando saat ini. Aku pun memikirkan sebuah ide.
"Bang Ferdi, anterin aku ke kantin RS yukk!" ajakku pada bang Ferdi yang sedang memainkan handphone nya.
"Ngapain?" tanya bang Ferdi binggung. Aku pun segera memberikan kode pada nya.
Bang Ferdi pun mengangguk, "Ya udah. Ayolah! Abang haus mau cari minum." bang Ferdi beranjak dan mendekati pintu.
"Bang, Asya, aku ke kantin dulu ya." pamitku. Aku langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari mereka. Alhasil mereka cuma berdua, karena Ibu dan Ayah sudah pulang. Hehe...
"Dek, kamu ini ada-ada saja. Nanti si Asya salting lagi." ucap bang Ferdi sambil duduk dibangku kantin RS.
"Haha gak papa lah, bang."ucapku sambil cengir kuda.
Bang Ferdi hanya menggeleng-gelengkan kepala nya.
Lumayan lama aku meninggalkan Asya dan bang Nando dikamar inap, kurang lebih 1 jam. Akhirnya aku memutuskan mengajak bang Ferdi kembali ke kamar inap bang Nando.
Saat aku masuk, aku mendapati Asya tertidur di bangku sebelah ranjang rawat bang Nando dan bang Nando pun sudah tertidur juga. Aku dan bang Ferdi saling pandang tak percaya.
Saat aku menutup pintu, bang Nando terbangun... Aku melihat bang Nando, ia melemparkan tatapan seperti orang ingin membunuh.
"Kenapa,bang?" tanyaku
"Ini rencana kamu kan, Mei?" tanya bang Nando
Aku pun binggung ingin menjawab apa. "Apaan sih,bang? Meidy ngajak ke kantin karena dia haus sama lapar. Lu tau sendirikan Meidy kek gimana. Walaupun udah dikasih makan, tapi minta makan lagi." timpal bang Ferdi. Hussfff selamat. Tapi ada benar nya juga apa yang diucapkan bang Ferdi.
"Bohong!"
"Lah? Kapan gua pernah bohong sama lu, bang? Seriusan. Gua gak bohong. Nihh lihat. Gua bawa cemilan punya Meidy." bang Ferdi menunjukkan kantong plastik yang berisi makanan ringan punyaku.
Bang Nando pun tak lagi berucap. Dia diam dan mengalihkan pandangan nya kesamping, melihat Asya yang tertidur di samping ranjang nya. Kemudian, bang Nando bangun dan ingin beranjak dari ranjang nya...
"Eh mau ngapain, bang?" tanya bang Ferdi
"Mau mindahin Asya ke sofa. Awas kau!" bang Nando mengusir bang Ferdi yang sedang duduk di sofa
"Eh gak usah, bang. Biar gua aja. Lu baru sadar, tenaga lu belum sepenuhnya pulih." cegah bang Ferdi. Bang Ferdi menggendong Asya dan membaringkan Asya di sofa. Aku pun pindah duduk di kursi yang tadi Asya duduki, tapi aku menggeser nya menjauh dari ranjang abang.
"Lohh mau kemana, dek?" tanya bang Nando
"Mau duduk." jawabku sekena nya.
"Bang, gua keluar ya. Cari angin." ucap bang Ferdi
"Ngapain cari angin? Ini AC udah dingin begini juga. Masih kurang?" tanya bang Nando
"Gak. Gua sekalian--" bang Ferdi mengangkat tangan nya dan membentuk V sambil diletakkan di depan mulut nya. Bang Nando mengangguk mengerti.