Hari ini, setelah sholat shubuh berjamaah dengan Asya dan bang Ferdi. Aku langsung mandi dan merapikan kamar dan rumah.
"Dek, kamu kok tumbenan?" tanya bang Ferdi
"Tumbenan apa?"
"Yaa tumben aja kamu jadi rapi-rapi rumah.. Ada apa?"
"Gak papa. Cuma pengen rapi-rapi aja, gak masalah kan." aku pun lanjut membersihkan rumah dengan telaten. Entah aku kesambet apa, sampai aku seperti ini.
Asya pov
Aku tau apa yang dirasakan oleh Meidy saat ini. Ia terpuruk ketika mendapatkan abang nya sudah tergeletak di kamar inap RS. Aku tau dia sedang menyibukkan dirinya dengan merapikan rumah, itu dia lakukan agar ia tidak sedih dan teringat pada abang nya yang sedang di RS.
"Mei, aku bantu ya." ucapku sambil menghampiri Meidy yang sedang menyiram tanaman.
"Gak usah, Sya. Aku bisa sendiri kok." ia pun tersenyum dan melanjutkan aktivitas nya menyiram tanaman. Aku tau, ia memaksakan untuk tersenyum dihadapan ku. Itu untuk menyembunyikan kesedihan nya.
"Sudahlah, Mei. Kamu gak usah pura-pura tersenyum di depanku. Aku ini sahabat mu, aku tau dan hatam sifat dan tingkah laku mu di saat kamu sedih atau senang." ucapku sambil mendekati nya.
"Sudahlah, Sya. Aku melakukan ini agar aku tidak menangisi bang Nando yang sedang di RS." aku pun memeluknya. Kemudian, Meidy meletakkan selang air kebawah dan berbalik badan dan ia segera memelukku erat. Tangisan kami pun seketika pecah di pagi hari... Kemudian, aku mendengar suara samar-samar bang Ferdi dari dalam.
"Lohh dek ada apa? Kok nangis?" tanya bang Ferdi. Kemudian, bang Ferdi berjalan mendekati kami... Dan memeluk kami dengan erat.
"Sudahlah jangan menangis, pagi-pagi sudah nangis aja."
Aku dan Meidy terdiam. Kemudian, bang Ferdi melepaskan pelukkan nya. Aku dan Meidy pun juga melepaskan pelukan.
"Sudah ya adek abang, jangan menangis lagi. Lihat tuhh mata kamu sembab begitu." ucap bang Ferdi sambil mengusap air mata Meidy. Meidy terdiam, hanya ada isakan yang terdengar. Sedangkan aku? Aku sudah mengusap air mataku dan sudah tidak menangis lagi.
"Abang tau apa yang kamu rasakan sekarang, abang juga pernah menjadi di posisi kamu saat ini, dek. Ingat, waktu kamu sakit tipes dan dilarikan juga ke rumah sakit? Disitu abang juga menjadi kesepian karena tidak ada orang yang bisa abang jadikan bahan ledekan atau sebagainya. Abang juga terus-menerus menangis seperti kamu, tapi itu semua hanya sesaat. Karena bang Nando bilang 'kita jangan menangisi orang yang sedang di rawat, seharusnya kita mendoakan orang tersebut agar diberikan sembuhan'. Akhirnya abang gak bersedih dan gak menangis lagi, abang terus berdoa untuk kamu. Dan akhirnya, kamu sembuh dan keluar dari RS."
"I... Iya, Meidy ingat. Tapi aku gak bisa, bang."
"Gak ada kata 'gak bisa'. Kamu harus bisa, kan tadi shubuh sudah doakan abang. Sekarang kamu harus tetap mengirimkan doa agar abang Nando segera sadar dan diberikan sembuhan. Oke?" Meidy hanya mengangguk...
****
Meidy pov
Setelah acara tangis-menangis didepan halaman depan. Aku, Asya dan bang Ferdi sarapan di meja makan. Ohiya, soal keadaan bang Nando, sekarang dia belum juga sadarkan diri. Entah kenapa dia belum sadarkan diri juga, aku selalu mengirimkan doa untuk bang Nando...
Setelah sarapan, aku duduk dibalkon kamarku. Sekarang aku sendiri dirumah, karena Asya dan bang Ferdi pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Karena bahan makanan di kulkas sudah habis.
Ting.. Tong..
Terdengar suara bel rumah berbunyi, seperti nya ada orang yang menekan nya. Mungkin tamu atau anggota Ayah. Segera aku turun kebawah, membuka pintu.
"Iya, sebentar." ucapku sambil berjalan ke pintu pagar. Segera aku membuka pagar dan menampakan seorang pria perawakan tinggi dan memakai topi hitam yang berdiri membelakangi ku.
"Maaf cari siapa ya?" tanyaku sopan
Orang itu membalikkan badan nya. "Kak Riko!" ucapku. Ia pun tersenyum dan melepaskan topi nya. Kak Riko adalah satu angkatan atau letting dengan bang Ferdi saat ini. Kami sudah saling dekat sebelumnya.
"Ayo, kak. Masuk!" ajaku. Alhasil kami duduk di bangku halaman depan.
"Hayy, apa kabar?" tanya nya
"Kabar baik. Kakak sendiri?"
"Alhamdulillah kabar baik juga. Kamu sendiri?"
"Iya. Kakak ke mana aja? Sudah 6 bulan hilang bagai ditelan bumi."
"Hehehe maaf dek, 6 bulan lalu kakak dikirim tugas ke Kalimantan."
"Ohhh aku kira kakak sudah pindah tugas atau sudah menikah atau apa lah itu. Sampai lupa mampir kerumah."
"Hahaha mana mungkin kakak pindah tugas gak bilang-bilang. Terus apa tadi kamu bilang? Menikah? Hahaha aku sampai dengan sekarang belum menikah, dek. Bagaimana mau menikah pacar atau calon nya aja gak punya..."
"Hahah belum dapat juga? Aku kira kakak pulang dari Kalimantan bawa gitu gandengan, eh ternyata nggak." ucapku
"Hahaha kamu ini bisa saja." ia pun mengacak-acak rambutku
"Kebiasaan deh. Eh iya kak, gimana rasa nya dikirim tugas ke Kalimantan?" tanyaku
"Yaa gitulah, dek. Kenapa?"
"Pasti berat ya.."
"Berat?"
"Iya berat, soalnya inget kejadian di kali pas lagi sama mantan.. Hahaha" (krik banget, Mei. Sumpah dah gak lucu.. Yaelah thor hiburan sedikit boleh lah.)
"Hahaha gila gak lucu banget... Tapi pengen ketawa... Hahahaha" eh dia malah ketawa tadi bilang gak lucu.
"Jitak pala orang dosa gak sih, kak?" tanyaku sambil meliriknya
"Haha canda, dek... Damai..damai"
"Hahahahaha aku juga becanda, kak. Tapi muka nya biasa aja dong..." seketika kak Riko tersipu...
"Jhahaha pipi nya merona... Hahaha aduhh perut ku sakit.. Hahaha" aku tertawa tanpa henti sambil memegangi perutku
'Biarlah kau tertawa lepas, dek. Agar kau melupakan sejenak tentang bang Nando.' ucap Riko dalam hati.
"Ahh sudahlah, kak. Capek ketawa mulu..." ucapku
"Maka nya jangan kebanyakan ketawa."
"Dek, jalan-jalan yuk! Ngapain sih dirumah mulu? Gak bosen apa?"
"Ngapain bosen? Tohh ini tempat ku dilahirkan... Gak ah, dirumah aja. Aku gak mau senang-senang diatas derita orang." ucapku
"Derita orang? Maksud nya?"
"Sudahlah, kak. Kakak gak usah hibur aku dengan cara apapun. Aku tau kakak kesini buat bikin aku melupakan sejenak kondisi bang Nando kan?" ucapku menebak nya
"Nggak kok."
"Sudahlah. Sebenarnya kakak udah tau kalau bang Nando dirawat, terus kakak main kesini buat hibur aku."
"Dek, kamu harus sabar... Jangan bersedih dan menangis... Kirimkan doa untuk bang Nando agar disadarkan dan disembuhkan." ucap Kak Riko. Aku hanya mengangguk...
Tak lama terdengar suara motor yang memasuki halaman garasi rumah. Seperti itu bang Ferdi dan Asya.
"Assalamualaikum" salam Asya dan bang Ferdi
"Wa'alaikumsalam"
"Eh ada lu, Ko." kak Riko pun berdiri dan berjabat tangan sambil merangkul..
"Lama sudah tak kesini, tiba-tiba muncul saja... Dari mana kau selama ini? 6 bulan loh?" tanya bang Ferdi
"Habis pulang tugas dari Kalimantan. Baru sampai 2 hari yang lalu aku, Fer." jawab kak Riko
Kemudian, aku dan Asya meninggalkan mereka berdua.. Kami berjalan menuju dapur untuk memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas.
"Itu teman letting bang Ferdi, Mei?" tanya Asya
Aku hanya merespon dengan anggukan.
Setelah disusun di kulkas. Aku dan Asya masuk kekamar dan bernyanyi ria.. Menghilang beban yang ada... Asya yang bermain gitar dan aku yang menyanyi.. Kami suka menyanyi lagu Fourtwnty-Zona Nyaman..
1
2
3
Pagi ke pagi
Ku terjebak didalam ambisi...
Seperti orang-orang berdasi yang gila materi...
Rasa bosan membukakan jalan mencari teman keluarlah dari Zona Nyaman...
sembilu yang dulu
biarlah berlalu
bekerja bersama hati
kita ini insan
bukan seekor sapi
sembilu yang dulu
biarlah membiru
berkarya bersama hati
Selesai menyanyikan lagu itu dan lagu-lagu lain. Tak terasa waktu sudah memasuki adzan dzuhur.. Bang Ferdi dan kak Riko sholat dimusholla, sedangkan aku dan Asya sholat berjamaah di kamarku...