BAB 12

1155 Words
8 bulan sudah aku menjadi akrab dengan kak Fernan. Ternyata dia orang nya baik, tidak seperti apa yang ku bayangkan. Dia ternyata sifat begitu jahil, suka banget bikin orang naik darah(kesel) untungnya aku sabar menghadapi sifat nya, yaa walaupum terkadang aku juga kesal dengan sifatnya itu. Di kantin... "Woyy Mei!" teriak Asya mengagetkan ku dari belakang "Ck! Kamu ngapain sih, Sya. Ngagetin aku aja" omelku "Lagian dari tadi aku lihat melamun aja." Asya duduk di bangku kantin sebelahku. "Gak papa. Kamu habis dari mana sih? Lama banget." "Hehe maaf, Mei. Udah pesen makanan?" "Sudah. Palingan bentar lagi datang." Tak lama Pak Tani membawakan nampan berisi 2 mangkuk bakso dan 2 es teh manis. "Nih dek pesanan nya." ucap Pak Tani "Iya, Pak. Makasih ya, Pak." ucapku dan Asya Aku dan Asya menikmati bakso kita masing-masing. Setelah 10 menit, bakso kami sudah habis. "Sya, kelas yuk!" ajak ku "Ayo!" kami pun berjalan menelusuri lorong-lorong sekolah. "Asya!" "Hmm?" "Nanti setelah pulang sekolah temenin aku ke barak bang Nando ya" "Kamu mau ngapain ke barak nya abang Nando?" "Mau nganterim makan siang, tadi pagi dia udah nitip buat aku anterin ke barak nya. Mau ya?" "Okelah. Tapi aku gak bawa motor nih... Kamu bawa motor kan?" "Iya, tenang aja aku bawa kok." Tak lama bel masuk berbunyi, dan guru fisika ku masuk dan memulai mapel nya. *** Tringg.. Tringgg Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi. Semua siswa/i berhaburan keluar kelas dan sekolah. Aku dan Asya berjalan menuju tempat parkiran. "Mei, ini langsung ke barak apa beli makan siang buat bang Nando?" tanya Asya sambil naik ke jok belakang motorku. "Hmm aku beli makan siang nya dulu baru ke barak nya." jawabku "Emang bang Nando kenapa? Kok gak beli makan siang sendiri?" "Dia lagi sakit, Sya. Udah 2 hari ini badan nya lemes banget." Asya hanya mengangguk mengerti. Sebelum ke barak bang Nando, aku berhenti membeli kan makan siang dan buah-buahan untuknya. Setelah itu barulah aku menuju ke barak nya. "Assalamualaikum" salamku sambil mengetuk pintu barak nya... Namun, tak ada jawaban. Pintu sih ketutup tapi biasa nya kebuka kok. Apa lagi gak ada orang ya? "Mei, gak orang kali. Pintu baraknya aja tutup, kan gak mungkin kalau bang Nando ada didalam terus pintu nya di tutup, ini kan kamar buat yang lain." ucap Asya. Iya juga sih... Tapi kalau abang gak ada, terus abang kemana? Segera aku mengeluarkan handphone ku dan mengetik nomor handphone bang Nando. 'Nomor yang ada tuju, tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi!' Ahh malah mbak-mbak operator yang jawab. Aku panik, celingak-celinguk mencari bang Nando. Aku mengelilingi barak, siapa tau abang lagi dibelakang kan. Namun, hasil nya nihil. Asya pun juga membantu ku mencari bang Nando. "Aduuhh abang kemana sih?" tanya ku sendiri sambil terus menelusuri jalan barak. Tiba-tiba Asya datang... "Mei!" "Gimana? Bang Nando udah ketemu?" tanyaku panik "Belum, Mei." Fixx, aku semakin panik dan khawatir. Pasalnya, kemarin pas aku dan bang Ferdi datang, si abang lemes banget, jalan aja harus dituntun. Sebenarnya kemarin udah mau di rawat di RS tapi dia nya gak mau. Saat aku masih keliling barak, tiba-tiba ada seseorang yang bertanya... "Maaf dek, adek ini lagi cari siapa? Saya lihat seperti sedang mencari orang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang yang memakai pdl loreng "Ahh iya, Om. Jadi gini, Saya sedang mencari abang saya di barak nya, tapi pintu barak nya di pintu dan tidak ada orang. Orang nya pada kemana ya, Om?" tanyaku sopan "Maaf nama abang dek siapa?" "Bang Nando, Om." "Nando? Nama lengkap nya siapa, dek?" "Hmm Muhammad Anando Syahputra, Om." "Ohh bang Nando." ucap Om itu "Iya. Om, tau abang saya dimana?" tanyaku "Iya, saya tau. Dia sedang ada dirumah sakit." "Hah?! Di rumah sakit? Kok bisa om?" ucapku kaget... "Iya, dek. Soalnya tadi bang Nafi teman satu barak nya bang Nando, melihat bang Nando pingsan di dekat pintu kamar mandi." Deg! Seketika mulutku kaku dan badanku lemas... Alhasil aku terjatuh duduk dibawah sambil meneteskan air mata. Asya segera menopang ku dan mengelus punggung ku. "Mei yang sabar ya!" ucap Asya Aku hanya diam dan menangis. Tak lama ada orang lagi yang datang menghampiri aku, Asya dan Om Yuda yang ku ketahui nama nya dari nametag di baju loreng nya. "Loh Yuda, ada apa ini?" tanya orang itu. "Ini bang, adek nya bang Nando." ucap Om Yuda "Meidy!" panggil orang itu. Aku pun mendonggakan kepalaku. "Kak Fernan!" aku langsunh berdiri dan spontan memeluk nya erat. Ia pun membalas pelukan itu. Alhasil aku menangis di dalam dekapan nya terutama di d**a nya, karena tinggi ku hanya sedada bidang nya. "Hikss... Hikss kak, bang Ando, kak.. Hikss" "Sudahlah, Mei. Bang Nando baik-baik aja. Sudah jangan menangis." bujuknya.. Bukan nya berhenti menangis, aku malaj tambah mengeluarkan air mata dan hasil nya jaket nya kak Fernan sudah basah dengan air mata ku. Kemudian, kak Fernan melepaskan pelukan dan menangkup wajahku. "Dik, dengarkan kakak. Bang Nando tidak apa-apa. Kondisi nya sudah membaik tapi masih belum sadarkan diri." jelasnya "Ta... Tapi abang kenapa bisa pingsan, kak?" tanyaku di sela-sela nangisku "Dia seperti nya kena DBD sama kecapekan aja. Kata dokter dia gak parah..." jawab kak Fernan "Sudah ya kamu jangan nangis. Kuat! Doakan bang Nando lekas sembuh. Oke?" lanjutnya Aku hanya mengangguk. Kemudian, kak Fernan mengusap pipiku dengan tangan nya. "Ya sudah, ayo kita kerumah sakit." ajak ku "Oke. Kamu bawa motor kan?" tanya kak Fernan "Iya." "Ya sudah kunci motor kamu mana?" aku pun menyerah kunci motorku pada kak Fernan. Kemudian, dia berikan pada Om Yuda. "Yud, saya titip motornya Meidy. Nanti bakalan diambil lagi. Saya mau ke RS dulu." ucap kak Fernan "Siap, bang. Kalau titipkan salam saya pada bang Nando dan juga saya mau kembali ke pos jaga." pamitnya. Kak Fernan hanya mengangguk Di RS... Aku melihat sudah ada Ayah, Ibu dan bang Ferdi di depan kamar bang Nando. "Ibu!" aku pun berlarian menuju Ibu dan kembali menangis dalam pelukan nya. Yaa saat ini Ayah dan Ibu sedang panik.. Karena seperti yang ku ketahui bang Nando itu, orang nya kuat. Gak gampang terkena sakit. "Sabar ya, dek. Abang gak papa. Dia cuma kecapekan sama kena DBD. Kamu jangan khawatir ya." ucap Ibu menenangkan ku. Aku pun melepaskan pelukan ku. "Dek, mau masuk?" tanya bang Ferdi yang sedari tadi di sebelahku. Aku pun mengangguk... Aku masuk ditemanin oleh bang Ferdi. Di kamar inap, tangisan ku kembali pecah... "Hikss... Abang.. Bangun... Abang sakit apa? Abang kecapekan? Kenapa abang gak bilang adek? Supaya adek jagain abang?" "Sudahlah, dek. Kamu jangan nangis." bang Ferdi berusaha menenangkan ku. "Hikss.. Bang Nando kenapa belum sadar, bang?" tanyaku "Abang kondisi nya lemah banget dek. Dia kecapekan terus ditambah dia kena DBD." jawab bang Ferdi *** Sekarang aku sudah di rumah. Ayah dan Ibu memaksa ku untuk pulang, alhasil aku dibawa pulang oleh kak Fernan dan bang Ferdi. Dan Asya hari ini menginap dirumah ku karena harus menemani ku... Sampai jam 9 ini aku terus menangis, sampai-sampai mata ku sudah sangat sembab. Untung besok adalah hari sabtu, libur. "Mei, sudahlah. Jangan menangis terus, lihat tuh mata kamu." ucap Asya Aku pun hanya terdiam. Kemudian, bang Ferdi masuk kekamar ku. "Astagfirullah.. Belum selesai juga nangis nya." ucapnya Ia pun mendekat dan mengelus rambutku. "Dek, sudahlah. Abang kan bilang jangan menangis terus, lebih baik kamu berdoa supaya abang Nando cepat sadar dan sembuh." aku hanya mengangguk "Ya sudah, sekarang kamu tidur. Abang temenin sampai kamu tidur." aku pun merebahkan badanku di kasur. Sambil kepala ku di elus oleh bang Ferdi, aku pun terlelap dalam hitungan detik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD