Singkat cerita...
Aku terbangun dari tidur ku, karena Asya memanggilku dari luar kamar.
Tokk... Tokk. Tokk
"Mei... Mei..." teriak Asya dari luar.
"Masuk aja!" suruhku
"Ishh kamu gimana sih, kan pintu nya kamu kunci dari dalam" ucapnya
Aku inget kalau tadi aku mengunci pintu nya, "iya iya sebentar" ucapku sambil berjalan dan membuka kan pintu.
"Lama banget, sampai pegel nih tanganku mengetukin pintu" ucapnya kesal
"Hehe maaf ya" ucapku sambil nyengir
Asya masuk kekamar dan duduk tempat tidur ku, aku pun juga duduk di samping nya.
"Mei!!!" ucap nya
"Apa?" tanyaku
"Temanin aku yuk!" jawabnya
"Temanin kamu? Kemana?" tanyaku
"Aku ingin membeli sesuatu di indomaret depan asrama bujang sebelah" jawab nya
Yaa,,, aku tinggal dikomplek yang jarak nya dekat dengan asrama para tentara remaja...
"Ya udah kalau gitu aku mau mandi dulu ya" ucapku sambil mengambil handuk
"Oke, aku tunggu di bawah ya" ucapnya
Aku pun segera kekamar mandi.
Selesai mandi, aku segera keluar dan bersiap tuk menemani Asya pergi membeli sesuatu. Setelah selesai aku segera keluar dan langsung turun kelantai bawah, aku mendapati Asya yang sedang menonton televisi sendirian di ruang keluarga. Aku segera menghampiri nya.
"Asya!" ucapku
"Apa?" ucapnya
"Kamu jadi pergi tak?" tanyaku
"Ah iya aku hampir lupa, ayo!" jawabnya sambil beranjak jalan menuju halaman depan.
"Sya, lihat bang Ferdi?" tanyaku
"Itu dia lagi di depan sedang ngobrol dengan bang Ando" jawab nya
Aku segera menghampiri bang Ferdi," bang Fer" ucapku
"Kenapa?"ucapnya
"Kunci motor ku mana?"tanyaku
"Ada" jawabnya
"Mana? Aku pinjam sebentar" ucapku
"Tuk apa, dek?" tanya nya
"Ini Asya mau membeli sesuatu di indomaret depan asrama sebelah" jawab Asya
"Ohh ya sudah nih" ucap nya sambil memberikan kunci motor ku
"Oh iya, dek. Nanti kamu beli bensin nya nih" ucapnya sambil memberiku uang
"Oke siip." ucapku menerima uang nya
"Hati hati bawa motornya jangan ngebut ngebut, dek" ucapnya
"Siap, Letnan!" ucapku sambil menyalakan mesin motor dan melaju motorku keluar rumah.
Sesampainya di indomaret depan asrama aku segera memarkirkan motorku dan menemani Asya masuk kedalam.
"Sya, kamu mau beli apa?" tanyaku
"Aku ingin membeli beberapa cemilan dan minuman, Mei" jawabnya
Aku pun terus mengikuti langkah nya dari belakang, setelah Asya merasa barang yang inginkan sudah diambilnya. Dia berjalan kearah kasir tuk membayar semua cemilan dan minuman yang ia beli, setelah selesai aku dengan nya keluar dari indomaret tersebut. Aku segera menyalankan motorku dan melaju nya kearah pom bensin terdekat. Yaa karena tadi bang Ferdi menyuruhku tuk membeli bensin. Aku mengantri dibarisan. Aku mematikan motorku, aku dan Asya turun dari motor. Saat aku sedang menunggu antri tiba tiba Asya menepuk pundak ku.
"Mei... Mei..."ucapnya sambil menepuk pundak ku
"Apa?" ucapku
"Itu tuh lihat deh orang yang sedang mengantri didepan kita!" suruh nya
Aku pun melihat kearah depan dan melihat siapa orang yang dimaksud Asya itu. Setelah aku lihat secara seksama, aku tau siapa yang dimaksud Asya tadi. Aku segera menengok kearah Asya.
"Bukan nya dia orang yang kamu marahi di dekat toilet itu dan dia bersama dengan teman nya yang waktu itu" ucap nya
"Ehh iya bener" ucapku
Saat aku bicara dengan Asya, tiba tiba orang itu menengok kearah aku dan Asya. Dia terus melihat kearah ku dan Asya, aku pun mulai sadar kalau dia sedang melihat kearah aku dan Asya. Dengan segera aku dan Asya menundukan kepala
"Sya,,, dia melihat kearah kita mulu"ucapku berbisik
"Iya, Mei. Dia ngelihatin kita mulu. Aduhh gimana nih?" tanya nya
Aku hanya mengangkat kedua bahu ku. Aku terus menunduk sampai saat nya giliran aku mengisi tangki bensin ku. Selesai mengisi bensin, aku segera mendorong motorku sampai depan. Aku segera menyalakan mesin motor dan melaju motorku.
Saat di perjalanan kerumah tiba tiba ada orang yang ngebut dan berteriak, "Haiii cewe galakkk!!!" ucap orang itu. Saat itu tidak melihat wajah orang itu, gara gara nya aku hampir aja menabrak pohon karena terkejut mendengar teriakan nya itu.
Aku pun mengerem motorku dan menepi kan motorku,"Kamu tak apa apa, Sya?" tanyaku
"Iya, aku gak apa apa." jawabnya
"Kita lanjut ya" ucapku dan Asya mengganggukan kepala nya.
Sampai dirumah aku segera memasukan motorku kedalam garasi dan menyerah kunci motorku kepada bang Ferdi. Kemudian, aku dan Asya duduk bersantai di halaman belakang sambil menikmati makanan dan minuman yang Asya beli tadi.
"Ishh siapa ya kira kira orang tadi? Hampir aja tadi menabrak pohon dijalan" ucapku kesal
"Iya iya untung aja kita gak menabrak pohon itu." timpal Asya
"Oh iya, kamu kan tadi duduk dibelakang. Kira kira kamu lihat gak wajah orang itu?" tanyaku
"Hmmm iya Mei, aku lihat wajah nya" jawab nya
"Ah yang bener, siapa?" tanyaku penasaran
"Itu orang yang waktu itu, Mei" jawabnya
"Orang yang waktu itu?"pikirku sejenak
"Hahh orang yang ku marahi didekat toilet mall kemaren kan" ucapku
"Nahh iya bener, orang itu yang teriak tadi" ucapnya
Ahhh orang itu sungguh menyebalkan, kenapa dia berteriak seperti tadi? Dan dia hampir membuat ku menabrak pohon dijalan.
"Ishh kenapa dia selalu membuat ku naik pitam, daassaarr menyebalkan!!!" ucapku
Asya yang melihat ku seperti itu hanya mengangkat kedua bahu nya yang artinya 'dia tak tau'.
"Awass aja kalau bertemu dengan nya lagi, akan aku-" belum sempat aku bicara, tiba tiba bang Ferdi datang dan memotong bicaraku.
"Akan aku apa? Kamu kenapa marah marah?" tanya nya sambil duduk didepan ku
"Ah aku gak papa, lagi emosi aja" jawabku
"Emosi kenapa? Emang kamu ada masalah apa?" tanya nya lagi
"Itu sama orang nyebelin" jawabku
"Iya, kamu emosi sama orang itu karena apa? Pasti kan ada sebab nya kan" ucapnya
"Asya kamu aja yang ceritain kejadian tadi" suruhku
"Lhoo kok aku yang kena?!" ucapnya kaget
"Ah kamu ini, abang suruh kamu yang ceritain bukan Asya" ucap bang Ferdi
"Hmm iya deh. Jadi, gini tadi pas mau pulang kerumah. Di jalan ada orang yang ngebut dan teriak di samping ku, aku hampir menabrak pohon dijalan karena kaget mendengar ia berteriak." jelasku
"Kamu hampir menabrak pohon?!" kaget nya
"Iya, bang. Untung nya aku dan Asya gak papa" ucapku
"Ahh syukurlah kalau tidak apa apa kalian" ucapnya
"Siapa orang itu? Kamu kenal dia?" tanya nya
"Aku gak kenal sama dia, tapi dia orang yang ku marahi didekat toilet mall kemaren" jawabku
"Emang nya kamu memarahi nya karena apa?" tanya nya
"Itu karena dia menatap wajah Asya dan Asya risih dengan tatapan nya itu, jadi aku memarahi nya. Aku pun pergi menjauh dari nya dan setelah aku menjauhi nya Asya bilang kalau dia sedang menatapku tajam" jawabku
"Ohh, lain kalian harus berhati hati dengan orang yang seperti itu takut nya dia punya niat buruk sama kalian. Kita memang gak boleh salah sangka kalau dia itu punya niat buruk, tapi setidaknya kita harus waspada" ucapnya
"Iya, bang" ucapku dan Asya bersamaan.
"Ya sudah tetap hati hati. Oh iya, besok kalian ada yang mau ikut abang?" tanya nya
"Kemana?" tanya Asya
"Itu abang mau main ke barak teman lettingan abang dulu" jawab nya
"Barak nya di mana?" tanyaku
"Kebetulan dia penempatan di Jakarta dan dia sekarang tinggal dibarak. Barak yonif dekat yang jual mie goreng itu" jawab nya
"Oh barak yonif itu tohh" jawabku dan bang Ferdi mengganggukan kepala nya
"Gimana ada yang mau ikut?" tanya nya
"Hmm, aku gak ikut deh" ucapku
"Iya, Asya juga gak ikut" timpal Asya
"Ya sudah kalau kalian gak mau ikut, tapi besok abang pergi nya sama bang Ando dan berangkat nya jam 9 an. Jadi, kalian tak apa kan kalau ditinggal berdua dirumah?" tanyanya
"Iya, gak papa. Aku sama Asya dirumah aja besok, palingan besok Naya sama Sasa main kesini" jawabku
"Ya sudah abang masuk dulu ya" ucapnya dan berlalu masuk rumah.
Tak lama aku dan Asya juga masuk kedalam dan masuk kamar. Aku merebahkan badanku di tempat tidurku sedangkan Asya duduk di bangku kamarku.
"Sya!" ucapku
"Apa?" ucapnya
"Bang Rifki sudah menelfon mu?" tanyaku
"Belum nih, mungkin dia masih sibuk." jawab nya
Tak lama aku mendengar ponsel nya Asya berdering menandakan ada panggilan untuk nya. Dia ngambil ponsel di saku celana nya.
"Siapa?" tanyaku
"Bang Rifki, Mei" jawab nya tersenyum
"Alhamdulillah, panjang umur dia. Angkatlah telfon nya" suruhku
Dia pun mengangkat ponsel nya dan berbicara dengan orang yang disebrang sana. Setelah selesai menelfon Asya mengakhiri panggilan nya. Ku hitung kira kira mereka berbicara kurang lebih 20 menit.
"Bagaimana? Apa kabar nya? Dia ngomong apa sama kamu?" tanyaku
"Alhamdulillah Mei bang Rifki baik baik aja dan sehat disana. Dia bilang 1 minggu lagi dia mau pulang dan dipindahkan tugas di Jakarta, Mei. Akhirnya, dia pulang" jawab nya sambil tersenyum
Aku tau dia sangat kangen dan merindukan kedua abang nya itu.
Hari sudah menjelang malam, waktu menunjukkan pukul 19.00. Aku duduk termenung mengingat kejadian tadi. 'Apakah orang dendam padaku ya?'tanyaku dalam hati. Tanpa kusadari Asya sedang melambaikan tangan didepan wajahku.
"Ehh Meidy jangan merenung begitu" ucap Asya
"Eh Asya. Kenapa?" tanyaku
"Itu kamu disuruh kebawah sama bang Nando" jawab nya
"Ohh ya udah, aku kebawah ya"
Sampai dibawah, aku melihat bang Nando sedang duduk di halaman depan.
"Apa, bang?" tanyaku
"Sini duduk!" pinta nya
Aku pun duduk didepan bang Nando,
"Emang bener tadi kamu hampir mau menabrak pohon dijalan gara gara kurang kerja itu?" tanya nya
"Iya bener. Bang Ferdi bilang ke abang ya" ucapku
"Iya. Tapi kamu gak kenapa napa kan, dek?"
"Alhamdulillah aku baik baik aja. Sudahlah bang jangan panik begitu" ucapku santai
"Ahh! Siapa orang itu? Berani berani nya ingin membuat kamu celaka!" tiba tiba bang Nando sedikit emosi
"Entahlah, aku gak tau orang itu. Sudah, abang jangan emosi dulu"
"Pokoknya mulai sekarang kalau kamu ada apa apa bilang sama abang ya" ucap nya
Aku hanya menganggukan kepalaku, tak lama bel rumah berbunyi aku segera membuka kan pintu pagar. Dan melihat Om Yusuf telah berdiri didepan.
"Assalamualaikum Meidy" ucap nya
"Wa'alaikumsalam om. Mau jemput Asya ya?"
"Iya betull, soalnya Ayah dan Mama Asya sudah pulang"
"Ohh ya udah, masuk dulu Om. Aku panggilkan Asya dulu" aku pun berjalan menuju kamarku, setelah dilihat ternyata Asya tidak ada dikamarku.
Aku turun lagi kebawah dan berjalan ke halaman belakang, dan akhirnya ketemu. Asya sedang duduk di bangku halaman belakang bersama bang Ferdi.
"Asya!" panggilku
Asya pun menengok kebelakang, "Apa, Mei?"
"Itu Om Yusuf udah ada didepan mau jemput kamu kata nya"
Asya beranjak dan mengambil barang barang yang sudah kemas didalam tas, bang Ferdi membantu Asya membawa kan barang barang selama 1 minggu menginap di rumahku.
"Om, kita pulang sekarang ya!" pinta Asya
Aku berpikir, tidak seperti biasa nya Asya ingin buru buru pulang. Om Yusuf hanya menganggukan dan membawa tas Asya kedalam mobil. Aku dan abangku menghantarkan kedepan pagar. Setelah Asya berpamitan, om Yusuf melaju mobil nya.
Aku segera masuk dan mengambil ponselku diatas meja dekat televisi. Aku masih binggung dengan tingkah Asya tadi, apa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku? Ahh entahlah. Setelah melihat tidak ada satu pun notifikasi masuk, aku mematika ponselku dan merapikan mata pelajaran yang akan dibawa besok pagi.