Kegelapan di dalam apartemen itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia baru saja berhenti berputar. Di depan pintu kamar mandi, atmosfer menjadi begitu berat, dipenuhi oleh uap air yang hangat dan aroma sandalwood yang tajam. Reyna bisa merasakan panas dari d**a Bima menembus handuk tipisnya. "Pak... lepaskan," bisik Reyna, suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar di tengah deru napas mereka yang bersahutan. Bima tersentak. Ia perlahan melonggarkan pelukannya, namun tangannya masih bertengger di bahu Reyna yang licin. "Maaf," gumam Bima parau. "Aku... aku hanya ingin memastikan kau tidak terluka. Kau baik-baik saja, kan? Sebenarnya apa yang terjadi?" "Saya nggak apa-apa, Pak. Entah mengapa lampu kamar mandi tiba-tiba meledak." jawa Reyna cepat, mencoba mengalihkan fokus dari debar

