Prolog: Cuplikan Isi Novel
Pandangan Reyna mengabur. Lorong hotel berbintang itu terasa seperti komidi putar yang berputar terlalu cepat. Kepalanya berdenyut, efek minuman yang diberikan Arkan benar-benar membuatnya kehilangan koordinasi motorik. Sialan, cowok itu benar-benar ingin menjebaknya!
"Arkan... brengsek..." gumamnya lirih sambil berpegangan pada dinding.
Saat Reyna berusaha menyeret kakinya melewati kamar 404, pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka. Seorang pria dengan kemeja hitam yang kancing atasnya sudah terbuka kasar muncul dari dalam. Sebelum Reyna sempat bereaksi, sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya kuat-kuat.
"Akhirnya datang juga. Kamu telat sepuluh menit," suara bariton itu terdengar dingin, namun ada nada frustrasi yang kental di sana.
Deg.
Reyna ditarik masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi lampu temaram. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang mematikan.
"Lepas... siapa kamu?" Reyna memberontak, tapi tubuhnya terasa seperti jeli.
Pria itu—Bima—menatapnya dengan mata tajam yang memerah. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi. Pengkhianatan tunangannya malam ini membuatnya ingin menghancurkan apa saja, termasuk prinsip "menjaga kesucian" yang selama ini ia pegang teguh.
Ponsel di atas nakas berbunyi. Bima mengangkatnya, matanya tetap mengunci Reyna.
"Dia sudah di sini. Tapi dia agak... rewel. Ini bagian dari skenario? Pura-pura polos?"
Suara di seberang telepon tertawa. "Iya, Bim! Itu paket premium 'Gadis Lugu'. Kamu ikuti saja permainannya. Kalau dia berontak, ikat saja tangannya pakai sabuk atau selimut. Nikmati malammu, kawan!"
Bima menutup telepon. Ia menatap Reyna yang mencoba memukul dadanya dengan sisa tenaga yang ada. "Jadi, kamu mau main kucing-kucingan, hm?"
Tanpa kata, ia mengangkat tubuh mungil Reyna, mengempaskannya ke atas kasur king size yang empuk, dan dalam sekejap, ia menggunakan kain selimut untuk mengunci pergerakan tangan gadis itu di kepala ranjang.
"Lepaskan! Aku bukan—"
Kalimat Reyna terputus saat bibir pria itu membungkamnya.
Bima mulai menyusuri setiap inci kulit leher Reyna dengan bibirnya, memberikan sentuhan yang menuntut sekaligus memabukkan. Setiap kecupan yang diberikan Bima terasa seperti aliran listrik yang menyengat. Reyna yang awalnya memberontak, perlahan merasakan sensasi aneh yang mulai menjalar di perut bawahnya. Sentuhan Bima tidak kasar, melainkan penuh dengan gairah yang tertahan, seolah pria itu sedang mencari pelarian dari badai di dalam hatinya sendiri.
"Hentikan... Ah..." pinta Reyna, namun suaranya justru terdengar seperti undangan.
Tangan Bima yang bebas mulai menelusuri lekuk tubuh Reyna, berpindah dari pinggang menuju punggung, menarik gadis itu semakin rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Di bawah temaram lampu kamar hotel, gairah itu memuncak.
Bima tidak memberikan ruang bagi Reyna untuk berpikir, ia mengklaim setiap inci keberadaan gadis itu, mengubah malam yang seharusnya menjadi mimpi buruk menjadi labirin gairah yang tak terlupakan.
Di bawah naungan lampu redup dan deru napas yang memburu, malam itu menjadi saksi bisu bagaimana Reyna kehilangan segalanya kepada pria asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Sebuah kesalahan yang terasa begitu... benar di bawah pengaruh gairah yang meledak ini.
Keesokan Harinya – Kampus Fakultas Farmasi
Reyna duduk di barisan paling belakang kelas Kimia Analisis. Ia memakai kerah turtleneck tinggi untuk menyembunyikan tanda kemerahan di lehernya. Pikirannya kacau, jiwanya terguncang, dan ia bersumpah akan menganggap semalam hanya mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.
"Perhatian semuanya," suara asisten dosen membuat suasana kelas yang tadinya riuh menjadi senyap. "Hari ini, mata kuliah Kimia Analisis akan diampu oleh dosen baru kita yang baru saja menyelesaikan studinya di Jerman. Beliau dikenal sangat disiplin. Jadi, saya harap tidak ada yang membuat masalah."
Pintu kelas terbuka. Langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di lantai keramik.
"Salam kenal, saya Bima Adi Wijaya. Lalu... kamu!" Suara Bima menggelegar, memecah keheningan kelas. "Mahasiswi di baris belakang yang memakai turtleneck..."
Suara bariton itu bagaikan petir di siang bolong bagi Reyna. Ia mendongak perlahan, dan dunianya serasa runtuh.
Di depan kelas, berdiri pria yang semalam menghimpitnya di atas kasur, pria yang aroma maskulinnya masih bisa ia rasakan di permukaan kulitnya....
Bima Adi Wijaya.
Pria itu menatapnya dengan intensitas yang sama seperti semalam, namun kali ini dengan kacamata bertengger di hidungnya dan kemeja yang terkancing rapi.
"Kalau mau tidur, jangan di kelas saya. Memangnya semalam kamu kurang tidur?" Tanya Bima dengan nada datar, namun matanya berkilat penuh arti.
Reyna meremas ujung bukunya hingga lecek.
Dosen baruku... adalah laki-laki semalam?!
………………………………