BAB 1: Perangkap di Balik Wajah Malaikat

1323 Words
Udara pagi di rumah petak itu selalu memiliki aroma yang sama: perpaduan getir antara minyak kayu putih, keringat akibat udara panas, dan sisa kelembapan dinding yang mulai berjamur. Begitu kelopak matanya terbuka, Reyna disambut oleh seberkas cahaya matahari yang menyelinap paksa melalui celah ventilasi. Cahaya itu seolah menjadi lampu sorot bagi ribuan partikel debu yang menari-nari di udara—sebuah pertunjukan sunyi yang mengingatkan Reyna bahwa dunianya masih tetap sama; sempit dan berdebu. Belum sempat kesadarannya terkumpul utuh, sebuah suara parau membelah keheningan. Batuk yang berat, kering, dan terdengar menyakitkan itu datang dari balik sekat kamar sebelah. Suara itu bukan sekadar gangguan pagi, melainkan alarm bagi realitas yang harus ia hadapi. Ibu! Reyna segera bangkit, mengabaikan rasa pening yang sesekali mampir akibat kurang tidur. Ia segera mengisi ketel dengan air keran, menaruhnya di kompor, dan pergi mandi. Beberapa menit kemudian, Reyna sudah mandi dan segar. Ia kembali ke dapur sekecil liang lahat itu, lalu jemarinya bergerak cekatan menyeduh teh dari air yang baru saja matang. Reyna berjalan menghampiri kamar ibunya. Dan benar saja, sang ibu sudah bangun dari tidurnya. Ia sedang bersandar pada bantal tipis yang sudah kehilangan bentuk. Wajah wanita itu pucat pasi, dengan garis-garis kelelahan yang memahat dalam di bawah matanya. Sejak kecelakaan kerja merenggut nyawa ayahnya dua tahun lalu, kesehatan ibunya ikut runtuh bersama ekonomi keluarga mereka. Infeksi paru-paru kronis itu adalah tamu tak diundang yang rakus; ia tidak hanya menggerogoti tubuh sang ibu, tetapi juga melahap setiap keping tabungan yang Reyna kumpulkan dengan peluh. "Ibu, aku sudah taruh sarapan di meja makan, setelah ini ibu makan ya..." Ibu Reyna, Ratih, menyeruput teh yang baru saja disodorkan anaknya, setelah habis separuh, ia menaruhnya ke atas meja dengan tangan gemetar. Reyna refleks membantunya. "Sudah, Nak. Jangan khawatirkan Ibu. Cepat berangkat, nanti kamu telat kuliah," suara ibunya serak, setiap kata yang terucap tampak seperti perjuangan melawan sesak di d**a. Reyna hanya mampu menghela napas panjang sembari mengusap punggung tangan ibunya yang kini terasa seperti kertas tua—kering dan rapuh. Sebagai mahasiswi S2 Farmasi dengan beasiswa penuh, hidup Reyna adalah sebuah simulasi ketahanan fisik dan mental yang brutal. Pagi ia kuliah, siang hingga malam ia bekerja sebagai Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) di sebuah apotek waralaba, dan malamnya ia harus belajar hingga larut. "Reyna! Sudah siap?" Suara klakson mobil yang nyaring dari depan rumah membuat Reyna tersentak. Ia mengintip dari jendela kayu yang catnya sudah mengelupas. Sebuah mobil SUV putih mengkilap terparkir di sana. Sang pemilik, Arkan, melambaikan tangan dengan senyum yang terlihat begitu tulus. "Nak Arkan datang lagi, ya Na?" tanya ibunya sambil mengulum senyum. "Jangan-jangan dia suka sama kamu, Na!" Reyna menoleh, lalu tersenyum kecil. Jauh di dalam hatinya ia merasakan kepedihan getir. Di antara beban berat yang ia pikul, Reyna telah lama menyimpulkan satu hal: cinta hanyalah sebuah anomali atau kemewahan yang tidak tercatat dalam anggaran belanja bulanannya. Baginya, bertahan hidup adalah satu-satunya ambisi yang tersisa. Maka dari itu, Reyna merasa segan saat Arkan Laksmana tiba-tiba mendekatinya, tiga bulan lalu. Entah ada angin apa, karena Arkan adalah tipe mahasiswa yang populer—bengal, kaya, dan selalu dikelilingi teman-teman yang berisik, dunia yang tidak mungkin bersinggungan dengan Reyna. Awalnya Reyna menolak mentah-mentah setiap ajakan Arkan, namun kegigihan cowok itu perlahan meruntuhkan benteng pertahanannya. Arkan sering menjemputnya tanpa diminta, membelikannya makan siang saat ia lupa makan karena praktikum di lab, bahkan sesekali membawakan vitamin untuk ibu Reyna. Di mata Reyna yang polos dan kurang pergaulan, Arkan adalah sosok "malaikat" yang dikirim Tuhan untuk sedikit meringankan beban hidupnya yang abu-abu. "Ya sudah Bu, Reyna siap-siap kuliah, dulu ya." ……………………………… "Ayo, Na! Kita nggak mungkin telat di hari pertama semester baru, kan?" Tanya Arkan menggoda, begitu Reyna keluar rumah. Reyna hanya meminta maaf singkat, lalu berterima kasih saat Arkan membukakan pintu mobil dengan sopan untuknya. Sikap Arkan ini, diam-diam selalu berhasil membuat pipi Reyna sedikit bersemu. Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Arkan adalah pembicara yang baik, ia tahu cara mencairkan suasana tanpa membuat Reyna merasa terintimidasi. "Na, nanti malam sibuk nggak?" tanya Arkan sambil memutar kemudi dengan santai. Reyna menggeleng kecil, "Aku dinas di apotek dari jam tiga sampai jam sembilan malam, Kan. Seperti biasa." "Nah, pas banget! Setelah jam sembilan, kita jalan yuk? Sekali-kali keluar malam. Kamu kerja terus, belajar terus, aku takut kamu berubah jadi robot beneran," Arkan terkekeh, melirik Reyna dengan tatapan yang seolah penuh perhatian. "Tapi jam sembilan itu sudah malam, Kan. Ibu sendirian di rumah..." "Cuma sebentar, Reyna. Anggap saja sebagai perayaan. Aku dengar jurnal penelitianmu tembus publikasi internasional, kan, kemarin? Aku cuma mau ajak kamu makan dan cari udara segar. Janji, jam sebelas kamu sudah sampai rumah. Aku yang antar sampai depan pintu." Reyna bimbang. Seumur hidupnya, ia tidak pernah keluyuran malam. Dunianya hanya berputar antara rak-rak obat, tabung reaksi, dan tempat tidur ibunya saja. Namun, melihat wajah Arkan yang penuh harap, Reyna merasa tidak enak untuk menolak lagi. Arkan sudah terlalu baik padanya belakangan ini. "Yaudah... tapi jangan sampai terlalu larut ya?" "Siap, Tuan Putri!" seru Arkan dengan nada riang, namun jika Reyna lebih teliti, ada binar yang berbeda di mata cowok itu—binar kemenangan yang licik. Sembilan jam kemudian, tubuh Reyna terasa remuk. Berdiri selama enam jam di apotek untuk melayani resep dan mengecek stok obat, benar-benar menguras energinya. Begitu ia keluar dari apotek jam sembilan malam, mobil Arkan sudah terparkir manis di depan. "Capek ya?" Arkan menyambutnya dengan senyum lebar. "Sedikit," jawab Reyna singkat. Arkan kemudian tidak langsung membawanya makan. Mobil itu justru melaju menuju kawasan pusat kota yang masih sangat ramai. Reyna mulai merasa ada yang aneh ketika mereka berhenti di depan sebuah gedung dengan lampu neon berwarna-warni yang berkedip-kedip mencolok. Dentuman musik bass yang berat bisa terdengar bahkan dari luar gedung. "Arkan... ini tempat apa? Kok banyak orang pakai baju terbuka?" tanya Reyna cemas, tangannya meremas tali tasnya kuat-kuat. "Ini diskotek, Na. Santai saja, ini tempat paling hype di sini. Teman-temanku sudah di dalam, mereka juga mau kasih selamat buat kamu," jawab Arkan sambil menarik tangan Reyna. "Aku nggak mau, Kan. Aku pulang saja. Aku nggak suka tempat berisik seperti ini." "Sebentar saja, Reyna. Cuma masuk, sapa mereka, terus kita pergi. Kalau kamu nggak mau minum, ya nggak usah. Aku nggak maksa." Dengan setengah menyeret, Arkan membawa Reyna masuk. Begitu pintu terbuka, aroma alkohol, asap rokok, dan parfum yang menyengat langsung menyerbu indra penciuman Reyna. Ia merasa seperti domba yang terjebak di sarang serigala. Arkan membawanya ke sebuah lounge eksklusif di pojok ruangan. Di sana, sudah ada lima orang teman Arkan yang sedang tertawa keras dengan gelas-gelas berisi cairan berwarna di tangan mereka. Mereka menatap Reyna dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara remeh dan haus akan tontonan. "Wih, si Robot datang juga akhirnya!" seru salah satu teman Arkan, membuat Reyna semakin ingin menghilang. "Haus nggak, Na? Ini, minum ini saja. Lemonade, nggak ada alkoholnya sama sekali. Aku tahu kamu anti yang begituan," Arkan menyodorkan sebuah gelas berisi cairan kuning bening dengan irisan lemon di pinggirnya. Reyna yang merasa tenggorokannya kering akibat rasa takut dan panik yang melanda, akhirnya menerima gelas itu. Ia menyesapnya. Rasanya memang manis dan asam, segar. Tanpa curiga, Reyna meminumnya hingga setengah. Namun, hanya dalam hitungan detik, dunia di sekelilingnya mulai bergoyang. "Arkan... Gempa, ya? Kok... Ruangan ini goyang-goyang?" Tanya Reyna lirih. Hampir berupa bisikan. Lampu-lampu disko yang tadinya gemerlap kini berubah menjadi garis-garis cahaya yang menyakitkan mata. Suara musik yang tadinya memekakkan telinga perlahan meredup, digantikan oleh denging yang panjang di telinganya. Reyna mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti kapas. Ia terjatuh kembali ke sofa. Saat pandangannya mulai mengabur dan kesadarannya perlahan menghilang, ia sempat melihat Arkan. Laki-laki yang tadinya terlihat seperti malaikat penolong itu kini duduk bersandar dengan santai. Tidak ada lagi raut cemas atau perhatian di wajahnya. Yang ada hanyalah sebuah seringai lebar yang mengerikan—sebuah ekspresi penuh kepuasan dari seorang pemenang taruhan yang baru saja menjerat mangsanya. "Kerja bagus, Arkan. Tinggal bawa ke kamar atas, kan?" suara salah satu teman Arkan terdengar sayup-sayup, sebelum kegelapan total menjemput kesadaran Reyna. ………………………………
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD