BAB 22: Penghakiman di Lereng Kabut

1425 Words
Kabut Sukabumi kian menebal, menyelimuti pabrik teh tua itu dalam kebisuan yang mencekam. Hanya suara deru mesin mobil sedan Arkan yang masih menyala, menjadi latar belakang dari ketegangan yang nyaris meledak. "Akhirnya, si robot cantik datang juga," sapa Arkan dengan nada mengejek, mengembuskan asap rokoknya ke udara dingin. "Tempat yang bagus untuk mati, bukan? Sunyi, dingin, dan tidak ada dosen pahlawanmu itu untuk menyelamatkanmu kali ini!" Reyna berdiri gemetar, tangannya yang tersembunyi di balik saku kemeja diam-diam menyalakan fitur perekam di ponselnya. Itu adalah senjata terakhirnya, bukti yang ia butuhkan jika malam ini menjadi akhir dari segalanya. "Apa maumu, Arkan?! Hapus video itu, hapus semua foto itu! Apa kau tidak muak dengan semua ini?! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan padamu! Berhentilah!" teriak Reyna, suaranya pecah, menggantung pilu di tengah kesunyian malam. "Aku akan memaafkanmu karena sudah menjadikanku bahan taruhan, bahkan memaafkanmu karena memberiku obat tidur dengan niat memperkosaku. Tapi aku mohon... Berhentilah... jangan bertindak lebih jauh lagi." Arkan melangkah mendekat, matanya berkilat liar—campuran antara pengaruh alkohol dan dendam yang sudah mendarah daging. Ia tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyeramkan di bawah cahaya bulan yang pucat. "Maaf?! Apa kau gila?!" Arkan meludah ke tanah. "Aku tidak sudi meminta maaf kepada rakyat jelata sepertimu! Saat ini aku hanya ingin melihatmu merangkak di kakiku, Reyna. Aku ingin kamu memohon ampun karena sudah membuatku dipermalukan oleh si Bima itu. Dan setelah itu..." Arkan mencengkeram rahang Reyna dengan kasar, memaksa gadis itu menatap wajahnya yang dipenuhi kebencian. "Setelah itu, aku akan menunjukkan pada ibumu betapa murahnya harga diri putrinya. Biar dia mati jantungan, sekalian!" Mendengar nama ibunya disebut dengan nada mengancam, akal sehat Reyna seolah dimatikan paksa oleh rasa takut yang luar biasa. Arkan menyunggingkan senyum miring, lidahnya menjilat bibirnya sendiri dengan tatapan lapar yang menjijikkan. Baginya, taruhan itu hanyalah alasan remeh; nafsu terbesarnya malam ini adalah menghancurkan wajah sok suci Reyna, melukai kulit putih menggiurkan di balik baju kebesaran Reyna, yang selama ini menolak disentuh oleh tangannya. Detik berikutnya, Arkan menarik paksa Reyna menuju kursi belakang mobilnya. Reyna memberontak, mencakar, dan berteriak sekuat tenaga, namun tenaganya tidak sebanding. Saat tangan Arkan mulai merobek ujung kemeja Reyna, sebuah cahaya senter yang sangat terang tiba-tiba muncul dari arah kegelapan jalan setapak, menyilaukan pandangan mereka. ​Bima melangkah keluar dari balik bayangan pohon-pohon besar. "Lepaskan dia, Arkan," ............................. Jauh sebelumnya, di rumah bibi Reyna, Bima yang sebenarnya memang tidur dengan tidak tenang, langsung terbangun begitu mendengar suara pintu depan ditutup secara paksa—meskipun Reyna sudah berusaha sangat pelan. Suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Bima yang waspada. Bima langsung beringsut maju mendekati pintu. Melalui jendela kaca ruang tamu yang buram oleh embun, ia sempat menangkap siluet kecil Reyna yang berjalan terburu-buru menjauh menembus kabut. Firasatnya secepat kilat memburuk. Bima segera menyambar senter besar yang terletak di atas nakas sudut ruang tamu. Detik berikutnya, ia keluar tanpa alas kaki yang layak, mendekati mobilnya. Hendak mengejar Reyna, sebelum hal buruk apa pun terjadi. Namun Bima menghentikan langkahnya. Ia tahu, deru mesin SUV-nya akan membangunkan seisi rumah dan memicu kegaduhan yang tidak perlu. Karena firasat yang semakin memburuk, Bima akhirnya berlari menembus udara dingin, mengejar siluet Reyna yang sudah tidak terlihat. Hanya bermodalkan aplikasi pelacak di ponselnya yang menunjukkan titik merah Reyna yang sedang bergerak ke arah pabrik teh tua. Hingga akhirnya, saat ini Bima beruntung menemukan Reyna, sebelum terjadi hal lebih buruk. Detik Bima melihat kondisi Reyna di bawah kurungan Arkan, wajahnya yang tertutup bayangan gelap, semakin mengelam, auranya begitu mengintimidasi hingga udara di sekitarnya seolah membeku menjadi es. Berbanding terbalik dengan bara api kemarahan yang seolah meletup dari setiap sudut jiwanya. "Lepaskan dia, Arkan," suara Bima terdengar sangat rendah, jenis suara dingin yang menjanjikan kematian bagi siapa pun yang tidak patuh. Arkan tersentak, tangannya masih memegang kerah baju Reyna yang robek. "Lagi-lagi kau! Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?!" Bima tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang, namun setiap langkahnya memancarkan ancaman yang nyata. Saat Arkan mencoba mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya, Bima bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia menangkap pergelangan tangan Arkan, memutarnya hingga terdengar bunyi krak yang memilukan. "Aaaarrgh!" Arkan melolong kesakitan, namun Bima tidak memberi ampun. Ia menghantamkan wajah Arkan ke kap mobilnya sendiri dengan tenaga yang luar biasa. "Aku sudah memperingatimu berkali-kali," bisik Bima tepat di telinga Arkan yang merintih kesakitan. "Jangan pernah menyentuh milikku! Apa kau tuli?!" Bima mengambil ponsel Arkan yang terjatuh, menghancurkannya dengan tumit sepatunya hingga berkeping-keping. Ia kemudian memberikan satu tendangan telak ke perut Arkan yang membuat pria itu terkapar tidak berdaya di tanah. "Apa ada video atau foto Reyna selain di ponsel ini?!" Tanya Bima. Setiap kata yang ia ucapkan diikuti oleh satu tinjuan yang menghantam wajah Arkan. "T-tidak... tidak ada..." Arkan menggeleng lemah, wajahnya sudah bersimbah darah. "Kalau begitu pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan membiarkanmu membusuk di dasar jurang Sukabumi ini," ancam Bima dingin. "Kalau sampai aku melihat atau mendengar ada foto atau video lain tentang Reyna, aku tidak segan-segan membunuhmu, Arkan!" Arkan, yang sudah kehilangan nyali dan kekuatannya, merangkak masuk ke mobilnya dengan gemetar dan memacu kendaraannya pergi dengan terhuyung-huyung, meninggalkan kepulan asap di udara malam yang dingin. Hening kembali menguasai area pabrik teh itu. Reyna masih berdiri terpaku, napasnya tersengal-sengal, air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. Ia menatap Bima dengan pandangan yang sulit diartikan—antara rasa syukur yang mendalam dan rasa takut pada sisi gelap pria itu yang baru saja ia saksikan. Bima mendekati Reyna. Ia berdiri di depan gadis itu, membiarkan napasnya sendiri kembali tenang. Ia melihat kemeja Reyna yang sedikit robek di bagian bahu, memperlihatkan kulit putihnya yang gemetar karena kedinginan dan trauma. Tanpa berkata apa-apa, Bima melepas kaus lusuh yang ia kenakan—pinjaman dari paman Reyna, dan menyampirkannya ke bahu Reyna. Ia kemudian menarik Reyna ke dalam pelukannya—kali ini dengan sebuah kelembutan yang menyayat hati. Wajah Reyna langsung menempel pada d**a polos Bima. "Maaf... aku terlambat. Kamu sampai harus melalui ini," bisik Bima, tangannya mengusap puncak kepala Reyna dengan sangat protektif. Reyna tidak lagi melawan. Ia menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Bima, dan menekan punggung Bima hingga melukainya, dengan kuku yang mulai memutih. Isakannya pecah, memenuhi kesunyian lereng Gunung Gede. Di pelukan Bima, Reyna merasa aman sekaligus terancam; ia merasa terlindungi namun sekaligus menyadari bahwa ia semakin terikat pada sang monster yang baru saja menyelamatkannya. Perlahan, Bima menangkup wajah Reyna dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap namun penuh dengan intensitas emosional. "Jangan pernah lagi berpikir untuk melawannya sendirian, Reyna," ucap Bima parau. "Tetaplah di sisiku. Biarkan aku yang menjadi perisaimu, agar tidak ada orang lain yang bisa menyakitimu." Bima menunduk, mencium kening Reyna dengan lama, sebuah gestur yang terasa seperti janji sekaligus pengukuhan kepemilikan. Sensasi intim itu merayap di antara mereka, membangkitkan memori gairah yang belum tuntas beberapa hari lalu. Di bawah langit Sukabumi yang tanpa bintang, Reyna menyadari bahwa ia telah benar-benar kalah. Ia bukan lagi sekadar asisten riset; ia adalah pusat dari obsesi seorang Bima Adi Wijaya. "Sekarang kita pulang dan tidur, sebelum ibu terbangun dan khawatir," ajak Bima lembut, membimbing Reyna menuju mobilnya. "Besok kita kembali ke Jakarta. Ibumu aku pastikan aman. Aku akan menempatkan orang untuk menjaga rumah bibimu dari jauh." Reyna hanya bisa mengangguk pasrah. Saat Bima melihat kaki Reyna yang lemas, dan sepertinya tidak mungkin bisa berjalan kembali ke rumah melewati jalan setapak yang licin, dengan mudah. Bima segera berjongkok di depan Reyna, memunggungi gadis itu. "Naik ke punggungku," ucap Bima lembut namun tegas. Reyna, yang sudah kehilangan seluruh tenaganya untuk membantah, akhirnya melingkarkan tangannya di leher Bima. Pria itu menggendongnya dengan mantap, menapaki jalan setapak kembali ke rumah bibinya dalam keheningan malam yang sunyi. Baru beberapa langkah menjauh dalam gendongan Bima, Reyna menoleh ke belakang, ke arah bangunan tua yang menjadi saksi bisu bagaimana Bima menghabisi Arkan hingga remuk. Ia tahu, setelah malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah menukar kebebasannya dengan perlindungan mutlak dari pria yang paling ia benci, sekaligus satu-satunya pria yang membuatnya merasa benar-benar aman. Bima, di tengah perjalanan, merasakan napas Reyna yang semula memburu perlahan mulai menjadi teratur di ceruk lehernya. Kepala gadis itu terkulai di bahu Bima, matanya terpejam karena kelelahan emosional yang luar biasa. Mengetahui Reyna telah jatuh tertidur dalam perlindungannya, Bima mempererat pegangannya pada kaki Reyna. "Kau aman sekarang, Reyna," bisik Bima lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin gunung. "Aku janji." Bima terus berjalan menembus kabut, membawa gadis itu pulang ke gubuk bibinya, menyadari bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi sekadar pelindung, melainkan pemilik dari seluruh ketakutan dan rasa aman gadis di punggungnya. .........................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD