Gedung Rektorat yang biasanya berdiri megah sebagai simbol supremasi intelektual, siang itu terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap bagi Reyna. Setiap langkah kaki yang ia ambil di atas lantai granit yang mengkilap seolah bergema, memanggil perhatian dari setiap pasang mata yang berpapasan dengannya. Oksigen di koridor panjang itu terasa tipis, digantikan oleh aroma pengkhianatan dan penghakiman yang pekat. Reyna menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya yang pucat pasi. Namun, ia tidak bisa menutup telinganya. Suara klik dari kamera ponsel yang diambil secara sembunyi-sembunyi terdengar seperti dentuman meriam di telinganya. Bisikan-bisikan jahat merayap seperti ular, mematuk harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping.

