Bab 1. Mimpi yang Datang Lagi
"Hon, aku mau keluar besok siang, boleh?"
Antares Dirgantara yang tengah fokus pada laptop menyala di depannya, mengangkat kepala mengalihkan pandangan. Senyumnya mengembang melihat perempuan yang melangkah anggun memasuki ruangannya.
Perempuan itu, Ashana Berryl, istri Ares, duduk di depannya dengan kedua tangan terlipat. Menatap Ares ragu sejenak sebelum kembali membuka mulutnya bertanya.
"Dikasih izin, nggak?"
"Mau ke mana emang?" Ares balas bertanya.
"Ada reuni teman-teman SMA, aku mau dateng. Boleh, ya?" Nana menatap Ares dengan tatapan anak anjing, mata berkedip beberapa kali.
Tatapan yang sangat menggemaskan di mata Ares sehingga tak sadar membuatnya mengangukkan kepala. "Acaranya lama?" tanyanya mengusap pipi Nana.
"Nggak tau, belum nanya berapa lama," jawab Nana menggelengkan kepala.
Ares menutup laptop, bangkit, berpindah ke depan Nana. Duduk di sisi meja kerjanya. "Emang nggak dikasih tau?" tanyanya.
Lagi, Nana menggelengkan kepala. "Nggak ada kayaknya, Hon, atau aku yang nggak baca kali, ya."
Ares mengangukkan kepala beberapa kali. "Oke, boleh pergi, tapi ...."
Sengaja Ares menggantung ucapannya. Ia suka melihat wajah cantik Nana menekuk kesal, terlihat sangat menggemaskan di matanya.
Ah, tidak hanya itu saja. Ia menyukai semua yang ada pada Nana, mencintainya, memujanya. Seperti ia mencintai mendiang Mama. Cinta pertama dalam hidupnya yang meninggalkannya untuk selamanya di saat ia masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian seorang Ibu.
Tidak. Ares tidak menyalahkan Mama atas kepergiannya. Mama pergi bukan karena keinginannya sendiri, melainkan dipaksa Papa. Pria b*****t itu yang sudah merenggut Mama darinya.
"Tapi, apa?" tanya Nana cepat tanpa menyembunyikan penasaran dalam pertanyaannya. Wajahnya menekuk seperti yang diperkirakan Ares.
"Tapi, nggak boleh kenapa-kenapa. Jangan sampai kamu luka, apalagi...."
"Iya, iya, bawel!" potong Nana, pipinya menggembung. Terkadang, Ares memang secerewet ini. "Aku udah tua, Hon, bukan bayi. Aku bisa jaga diri."
Ares menaikkan sebelah alisnya menatap Nana. "Bukan bayi, hm? Udah gede, ya? Segede apa?" tanyanya jahil.
"Hon!" Mata Nana membelalak. Dia tahu yang dimaksud Ares dalam pertanyaannya. "Mulutnya ih!"
"Kenapa sama mulut aku?" tanya Ares jenaka. Tangannya memijit tangan Nana yang ada dalam genggamannya. "Mulut aku sexy, iya, aku tau!" katanya mengangukkan kepala.
"Ares, astaga!" Nana berdiri, menarik tangannya. Dia ingin meninggalkan ruang kerja suaminya yang tiba-tiba saja terasa panas dan membuatnya sedikit sesak. Rasa-rasanya, udara di ruangan ini menipis, semuanya diisap Ares. "Narsis!"
Nana memutar tubuh. Namun, belum sempat dia menjauh satu langkah pun, Ares sudah menangkap pinggangnya, menariknya mendekat.
"Ares!" Nana memekik antara sakit dan kaget. Bagian belakang kepalanya menabrak d**a bidang tanpa lemak. Keras seperti menabrak kayu. "Sakit!" rengeknya seraya mengusap belakang kepala.
"Kok, sakit? Kamu nabrak d**a aku, lho, Hon, bukan nabrak meja!" Ares meletakkan dagunya di bahu Nana yang terbuka. Istrinya malam ini hanya mengenakan gaun selutut dengan tali spaghetti di bagian bahu.
"Iya, d**a kamu, tapi kayak nabrak batu!" gerutu Nana sambil memutar tubuh. Kedua tangannya melingkari pinggang Ares begitu mereka berhadapan.
Ares tertawa kecil, mengusap belakang kepala Nana. "Di sini sakitnya?" tanyanya.
Nana mengangguk manja. "Masih sakit kalo aku belum balas," katanya tersenyum lebar.
"Balas?" ulang Ares menaikkan sebelah alisnya.
Lagi, Nana menggerakkan kepala naik turun satu kali. Lalu, membuka mulut, menggigit d**a Ares yang tertutup kemeja putih tipisnya.
"Aish!" Ares meringis tanpa sadar. Gigitan kecil itu hanya sedikit sakit, tetapi membuat bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri. "Hon, kamu nakal, ya?"
Nana menegakkan kepala, lalu menggeleng. Ibu jarinya terangkat, mengusap ruam kemerahan di d**a Ares. Bekas gigi tercetak samar di sana, giginya. "Ini sakit nggak, Hon?" tanyanya tersenyum manis.
Ares mengangguk. "Sakit, tapi bukan di situ, di tempat lain," jawabnya tersenyum m***m.
Nana mendelik, mengerti tempat lain yang disebutkan suaminya. Dia menarik tangannya, mengambil ancang-ancang untuk kabur dari ruangan itu.
Sayangnya, gerakan itu terbaca Ares. Ia yang sudah hafal dengan segala macam tingkah istrinya, langsung mengangkat tubuh mungilnya, menggendongnya di bahu seperti memanggul karung beras.
"Ares!" Nana memekik, memprotes. Kedua kakinya bergerak tak beraturan, berusaha untuk melepaskan diri. "Turunin!" pintanya sambil memukul pelan punggung lebar yang berkeringat. Kemeja putih Ares menempel di punggungnya, lembap terasa di tangannya.
Namun, Ares tak bergeming. Ia terus melangkah menuju kamar mereka. Pukulan itu tak berasa apa-apa, malah terasa seperti sentuhan lembut nan menggoda.
"Ares, turunin!"
Ares menulikan pendengaran. Alih-alih menuruti perkataan Nana, langkahnya justru semakin lebar saja.
Ares baru menurunkan Nana setelah tiba di kamar mereka, menjatuhkannya di atas tempat tidur. Lalu, menindihnya tanpa memberi kesempatan untuk bangun.
"Ares...!" Nana memekik.
Pekikan tertahan karena Ares lebih dulu membungkam mulutnya, melumat bibirnya rakus tanpa memberikan kesempatan untuk membalasnya. Ia seorang dominan dan terbiasa mengendalikan, begitu juga dengan permainan di atas ranjang.
"Ares, stop!" Nana menahan d**a Ares dengan kedua tangannya. Dia sudah kehabisan napas, paru-parunya kosong, rasanya panas seakan terbakar. Ares menutup seluruh jalan masuk udara. "Kalo nggak, aku bisa pingsan."
"Oke!" Ares mengangguk. Ia menegakkan tubuh, tetapi tidak beranjak. Ia masih berada di atas tubuh Nana, kedua lututnya masih mengunci pergerakan tubuh mungil yang terlihat tidak berdaya di bawahnya.
Ares menarik kemejanya, mengabaikan kancing-kancing yang jatuh berserakan di atas tempat tidur di sekitar mereka. Sedetik kemudian, ia sudah kembali membungkuk, memainkan bibir mungil Nana yang selalu terasa manis di mulutnya.
Kali ini, Nana tidak melawan, tidak juga menolak. Bibirnya pasrah seperti biasa. Kedua tangannya mengalung di leher Ares yang berkeringat, memeluknya dengan erat.
Erangan tertahan lolos dari mulut Nana. Ciuman Ares selalu sepanas ini, tak pernah berubah sejak pertama kali ia menciumnya. Selalu membuatnya kewalahan dan menuruti apa pun yang diinginkannya.
Terkadang, Nana merasa, Ares seperti orang lain saja. Di balik sikapnya yang memanjakan dan selalu meratukannya, seolah tersimpan sifat lain yang lebih menakutkan.
"Ares ... Hon ...!" Nana terengah, tanpa sadar meremas rambut hitam Ares sambil sesekali menekan kepala yang terbenam di dadanya.
Entah kapan Ares melepaskan gaunnya. Nana terlalu menikmati sapuan di bibirnya yang lembut dan liar di saat bersamaan. Indra pengecap Ares yang menari di mulutnya selalu berhasil membuatnya melupakan segalanya.
Ares melepaskan bibir Nana, beralih ke tubuh bagian depannya yang sudah tidak berpenutup. Gaun dan pakaian dalam Nana tergeletak tak berdaya di lantai setelah ia melemparkannya ke sembarang arah.
"Hon!" Nana membusungkan d**a, meminta lebih. Dia sudah tidak dapat bertahan lagi, setiap gerakan Ares terasa panas, membuatnya semakin terbakar.
Sayangnya, Ares tidak mau memberikan apa yang diinginkan istrinya. Tidak sebelum ia puas bermain.
"Hon, please!" Nana menggeleng. Jari-jari ramping Ares yang bergerak keluar masuk di bawah sana, terasa menyiksa.
Lagi, Ares mengabaikan. Ia mempercepat gerakan jarinya, membantu Nana mendapatkan pelepasan yang diinginkannya.
"Ares!" Nana memekik tertahan. Tubuhnya mengejang beberapa saat, sebelum akhirnya terkulai di atas tempat tidur. Mata terpejam rapat, d**a naik turun seirama tarikan napasnya yang memburu.
"Kamu nggak apa-apa, Hon?" tanya Ares mengusap keringat di pelipis Nana. Ia menindih tubuh mungil itu, menumpukan kedua siku sebagai penopang.
Mata yang terpejam, pelan-pelan terbuka. Nana tersenyum, menggelengkan kepala menjawab pertanyaan itu.
"Masih mau dilanjutin?" tanya Ares lagi setelah mendaratkan bibirnya di pelipis dan bibir mungil yang membengkak.
"Menurut kamu?" Nana balas bertanya. Suaranya serak.
"Kamu bohong kalo nggak mau." Ares tersenyum m***m.
***
"Mama!"
Ares berseru tertahan. Suaranya serak, tangan mungilnya terulur, berusaha meraih Mama yang tersungkur tak jauh dari posisinya berada.
"Mama!"
Ares berusaha bangkit, tetapi rasanya sangat berat. Seluruh tubuhnya sakit, perih di beberapa bagian. Rasa asin dan aroma karat memenuhi mulutnya.
"Papa, jangan pukul Mama!" pinta Ares lemah.
Pemandangan di depannya mulai mengabur, terhalang tirai air matanya yang jatuh semakin deras. Bahkan, Ares merasa matanya juga sakit karena terlalu banyak menangis.
Namun, Ares tetap memaksa membuka mata lebar-lebar. Ia tidak boleh kehilangan bayangan Mama satu kedipan mata pun. Ia takut jika melakukannya, ia akan kehilangan Mama untuk selamanya.
"Mama!"
Ares merangkak pelan-pelan ke arah Mama yang sudah tidak bergerak lagi. Tangan mungilnya gemetar mengguncang tubuh perempuan yang paling disayanginya.
"Mama, bangun!" pinta Ares disela tangis yang sudah tak terbendung. "Mama jangan tinggalin Ares, Ares sayang Mama! Ares janji nggak bakalan lagi, Mama. Ayo, bangun!"
Tangan mungil Ares terus mengguncang tubuh Mama, mengabaikan rasa dingin yang menjalar ke telapak tangannya dari tubuh Mama. Sudah lebih dari satu jam Mama terbaring tanpa bergerak di tempat setelah Papa mencekiknya.
Padahal, Ares sudah meminta Papa untuk berhenti, tetapi Papa mengabaikan. Kedua tangannya masih berada di leher Mama, menempel seperti capit kepiting.
"Mama!"
Mata Ares terbuka lebar. Bola matanya bergerak liar selama beberapa detik, menatap ke seluruh ruangan, sebelum kembali terpejam. Beberapa detik kemudian, mata itu kembali terbuka. Kali ini lebih redup, sinarnya penuh kesakitan.
Ares menarik tangannya yang dijadikan Nana sebagai bantal pelan-pelan agar tidak menggangu tidur istrinya itu. Bergerak bangun dengan hati-hati, bersandar pada kepala ranjang. Kedua tangannya mengusap wajah kasar, alis mengernyit, sedikit terkejut merasakan basah di wajahnya. Apakah ia menangis?
Ares mengembuskan napas melalui mulut dengan kuat, kepalanya menggeleng. Mimpi itu kembali datang lagi akhir-akhir ini, padahal sudah lama tak pernah lagi ia memimpikannya.
Sebenarnya, itu bukan hanya mimpi buruk, melainkan peristiwa nyata yang terjadi saat ia masih kecil. Di mana ia harus kehilangan perempuan cinta pertamanya untuk selamanya. Mama tewas di depan matanya akibat Papa yang mencekiknya.
Kejahatan yang tersembunyi dengan rapi. Tak ada hukuman untuk Papa. b******n itu mengatakan kepada publik, istrinya tewas karena serangan jantung.
Bangsat. Pria terkutuk. Seandainya saja negara ini tidak memiliki hukum. Seandainya menghabisi nyawa orang lain bukan merupakan tindakan kriminal. Sudah pasti pria itu tewas di tangannya.
Sayangnya, negara tempat ia tinggal memiliki hukum. Meskipun tidak merasa puas, tetapi Ares sedikit lega melihat pria itu berada di balik jeruji besi menghabiskan sisa hidupnya yang tak lagi lama.
Ares menumpukan kepala pada kepala ranjang, matanya terpejam. Denyutan kecil dirasakan di pelipisnya. Denyutan yang selalu datang setiap kali setelah mimpi buruk itu.
"Hon, kok, bangun? Mimpi buruk lagi?"
Pertanyaan itu membuat Ares kembali membuka mata. Bibirnya melengkungkan senyum, kepala menggeleng menjawab pertanyaan Nana.
"Kamu, kok, juga bangun?" Ares balas bertanya. "Masih malam, Hon. Ayo, tidur lagi!"
Nana tidak tahu tentang mimpinya, ia tidak pernah menceritakannya secara mendetail. Hanya mengatakan mimpi buruk saja.
Bukannya Ares tak jujur dari istrinya sehingga menyembunyikannya. Hanya saja, ia tak ingin membuat Nana takut dengan rahasia kelam keluarga.
Lagi pula, itu adalah aib yang tidak sepantasnya orang lain tahu. Tidak perlu diingat.
Apalagi, Nana. Istrinya terlalu polos dan rapuh untuk mengetahui hal-hal memalukan seperti itu. Nana pasti akan takut, dan kemungkinan besar akan meninggalkannya.
Tak akan ia biarkan itu terjadi. Selamanya, Nana akan terus berada di sisinya, tidak boleh ke mana-mana. Ia akan terus mempertahankannya apa pun yang terjadi, dan dengan cara apa pun.
Nana tidak boleh pergi, harus tetap bersamanya sampai kapan pun juga. Bila perlu, ia akan menghabisinya daripada harus kehilangan.