Episode 05

1972 Words
Percayalah... jika rasa nyaman yang ada di hati, semua tipe ideal yang sudah tersusun rapih akan lenyap tak tersisa. Langit mendung, hitam pekat dan mulai jatuh air hujan. Banyak murid di sekolah itu sebagian besar sudah meninggalkan sekolah. Hanya beberapa yang memilih menunggu hujan mereda. Salah satunya Jesika. Gadis itu berdiri di samping Aufar, memperhatikan tetes air hujan. Jesika mendekatkan dirinya, lalu membisikkan sesuatu yang membuat seorang Aufar mengepalkan tangannya, lantas menatap gadis itu dengan sinis. Kesalahan Jesika hanya satu, dia terlalu tergila-gila kepada Aufar. Hingga Aufar menjadi risih. "Jangan mencoba melakukan apapun, kalau kamu tidak ingin apa yang aku punya membuatmu malu" Sindir Aufar. Aufar mempunyai sesuatu yang bisa membuat Jesika menurut. "Tidak buruk juga kalau dipikir-pikir." Sahut Jesika. Dia menoleh, menunjukkan senyuman angker Dimata Aufar. "Kalau aku dikeluarin dari sekolah, tentu aku tidak ingin sendiri." Ujar Jesika tidak gentar. Malah tersenyum lebar. Jesika adalah bekas pacar Aufar, pacaran selama kurang lebih lima bulan. Itu sudah terhitung lama jika mengingat Aufar yang kerap berganti pasangan. Putusnya hubungan mereka dilandasi oleh keinginan Aufar untuk mendekati Tsauna, ditinggal kakak dan teman-temannya menjadikan gadis itu bebas. Aufar tidak perlu lagi hanya memperhatikan gadis itu dari jauh. Jika ingin mendekati... tinggal datangi. Akan tetapi Jesika seperti menjadi penghalang baru. Gadis itu merecoki rencana Aufar dengan cara mengancam dan menyakiti Tsauna. Niat untuk mendekati Tsauna harus pemuda itu tunda sesaat. Bagaimanapun caranya... dirinya harus bisa menyingkirkan Jesika. "Lebih baik kita berdamai, Jesika! kamu tidak bosan?" "Kalau kamu menyerah, aku bakalan tutup rapat aib kamu selamanya." Tidak Aufar sadari jika nada suaranya yang mulai keras menarik perhatian teman-teman yang lain. Beberapa ada yang bertanya-tanya, apakah aib seorang Jesika? Kali ini Jesika seperti menjilat ludahnya sendiri. Mendengar bisik-bisik itu saja sudah membuatnya takut. "Kita bisa mulai dari sini, kalau kamu mau." Ujar Aufar bersedekap di depan Jesika. Sepertinya Aufar melihat sinyal kemenangan. Dari gerak tubuh Jesika yang tampak tidak nyaman. Hahaha, Aufar tertawa dalam hati. Mau bermain-main dengannya. "Aku pegang omongan kamu Aufar. Cowok yang dipegang ucapannya." Ancam Jesika. "Setengah cowok juga harus menepati janjinya." Balas Aufar, menyindir. Setengah cowok itu apa maksudnya? mungkinkah Jesika penyuka sesama jenis? mungkin itu yang ada dipikiran orang yang mendengar ucapan Aufar. Jesika melihat sekelilingnya. Dia terdiam, menunduk tidak nyaman terus ditatap seperti itu. ..... Genangan air hujan di pinggiran jalan membasahi ujung rok panjang yang yang dikenakan oleh Tsauna. Padahal gadis bermata sipit itu sudah susah-susah menjaga seragamnya agar tidak basah ataupun kotor. Gadis itu bertemu dengan Ibu Nya di depang gang. Tsauna ingin menyapa, namun seorang perempuan muda memanggil dan berbicara kepada Ibunya. Tsauna tidak ingin mengganggu Ibu Nya. Gadis itu masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Niat hati akan membersihkan seragamnya yang kotor, namun apalah daya saat suara di perutnya lebih kuat. Akhirnya gadis itu melangkah ke dapur. Mencicipi semur tahu yang masih ada di atas kompor. Tsauna lalu mengambil piring, membuka magicom dan menambahkan dua centong nasi. Lauk semur tahu yang tadi dia cicipi sudah lebih dari cukup untuk menggugah selera. Ketika gadis bermata sipit itu makan dengan lahap di depan televisi, Ibu Nya membuka pintu. "Alhamdulillah Tsau... Ibu dapat rejeki lumayan hari ini." Ujar Firda meluap-luap. "Pesanan kue Ibu banyak?" Tebak Tsauna. "Ada pesanan kue kering seratus toples. Katanya buat acara pertunangan." Ujar Firda. Firda kemudian duduk di sebelah putrinya. Mengeluarkan uang muka yang jumlahnya separuh dari harga pesanan. "Tsauna mau tolong Ibu?" "Apa?" Tanya Tsauna, memandangi Ibunya. Firda memunguti butir nasi yang tercecer di meja, lantas menjawab pertanyaan putrinya. "Bantuin Ibu membuat kue. Tapi belanja dulu bahannya." "Ah... beres!" Tsauna mengacungkan telunjuknya. Mata sipit gadis itu semakin terbentuk seiring bibirnya yang tersenyum. Setelah membersihkan bekas makan dan berganti celana, Tsauna menemui Ibunya di depan rumah. Mereka akan ke supermarket terdekat untuk membeli bahan membuat kue. "Siap?" Fida menunggu putrinya di depan pintu, siap mengunci pintu. Bidadari tak bersayap itu keluar dari kamar menggunakan dres selutut berbahan katun. "Nanti mau naik angkot atau jalan?" Tanya Tsauna menunggu Ibu Nya mengunci pintu. Suasana di luar rumah ramai. Tetangga banyak yang duduk di depan rumah bahkan di depan gang. "Naik angkot saja ya?" Ucap Firda fokus mengunci pintu. Tsauna memicingkan matanya melihat langit yang beranjak menunjukkan tanda, bahwa hari akan berubah sore. "Udah mau sore Bu" Lapor gadis itu kepada Ibunya. Membuat Firda ikut melihat ke langit. "Yuk! keburu sore" Ucap nya mengajak Tsauna. Di depan gang masih harus menunggu angkot lewat. Jadi terpaksa Firda mengajak putrinya yang berwajah bidadari itu berjalan cukup jauh. "Udah jangan diladeni" Bisik Firda agar putrinya tidak terpengaruh dengan siulan dan godaan yang datang. Benar kata Tsauna, menjadi cantik itu adalah sebuah ketidak beruntungan. Belum lagi waktu naik angkot Firda harus menjaga putrinya betul-betul. Jangankan yang muda, yang sudah separuh umur saja masih suka lirik-lirik, duduk sengaja didempet-dempetin. Kalau yang perempuan sepertinya melihat Tsauna dengan pandangan iri. Tsauna bernafas lega begitu turun dari angkot. Dan masuk ke supermarket. Udara dingin sambil berkeliling di deretan beraneka produk, membuat siapapun betah. Untuk pertama kalinya Tsauna begitu kepo dengan bahan-bahan membuat kue. Mana yang lebih bagus dan mana yang lebih cocok untuk digunakan satu sama lain. "Kenapa tadi tidak beli yang satunya Bu? kan lebih murah?" Heran Tsauna sambil membawa belanjaan. "Karena yang ini lebih bagus kualitasnya. Yang mahal belum tentu bagus, begitu pun yang lebih murah belum tentu tidak bagus kualitasnya." "Jadi harus hati-hati kalau mau beli bahan-bahan makanan. Biar nanti hasilnya bagus." Firda melambaikan tangannya menyetop angkot. Baru saja masuk ke dalam angkot, Tsauna kaget bukan main waktu menemukan seorang Aufar duduk manis di sana. Harus pakai bahasa apa biar dia mengerti sih! Tsauna duduk saja di seberang Aufar. Tidak menggubris sedikitpun perbincangan Aufar dengan Ibu nya. Orang bilang, kalau mau menaklukan anaknya maka dekati dulu orangtuanya atau keluarganya. Sial! Aufar menggunakan taktik itu saat ini. "Ngapain ikut-ikut!" Pekik Tsauna. Aufar mengganggu kenyamanannya dengan bertamu ke rumahya lagi. "Tsau...." Firda memperingati. "Kamu ih begitu terus sama Aufar ya! jangan begitu, nanti ujung-ujungnya malah suka." Pletak Aufar mengaduh kesakitan kepalanya digetok oleh Tsauna. Ditatapnya wajah teduh itu dengan kaget. Gadis semanis dia bisa kasar juga? apa tindakannya bikin Tsauna sekesal itu? "Aku gemes kepengen kamu hilang dari bumi ini" Ujar Tsauna. Lalu melenggang masuk ke dalam rumah. "Sabar ya" Firda heran dengan sikap Tsauna belakangan ini. "Semenjak kakak nya kuliah di Jakarta, sikapnya jadi uring-uringan." "Iya tante. Eh, ini mau diletakkan dimana tante?" Aufar mengangkat belanjaan ke ruang tamu. Firda menuju dapur melihat tempat yang sekiranya kosong. Kemudian Aufar menyusul dan meletakkan belanjaan itu sesuai yang Firda tunjuk. Aufar kembali duduk di ruang tamu. Menunggu Tsauna yang tadi dia lihat masuk ke kamar mandi. Cukup melihat Tsauna saja senangnya tidak ada tandingannya. Ternyata Tsauna lama juga di dalam kamar mandi. Aufar melayangkan pandangan nya ke aquarium yang dihuni oleh dua ekor ikan Mas. Aufar tahu sekali arti dua ekor ikan itu bagi seorang Tsauna. "Ngapain kamu lihat ikan aku seperti itu?!" Tsauna berlari mendorong tubuh Aufar. Dan membentangkan tubuhnya di depan aquarium. Aufar maju selangkah dari tempatnya. "Ikan nya lucu seperti orangnya" Ucap Aufar manis. Tsauna mendengus. Darahnya mendidih hanya kerena mendengar suara Aufar. Apalagi ditambah dengan gombalannya yang sangat receh. "Kamu diam!" Tunjuk Tsauna dengan telunjuknya. "Jangan lakukan apa yang aku tidak suka! biar aku tidak tambah mumet lihat kamu." "Makanya kamu bilang sama aku, apa yang bikin kamu senang?" Tanya Aufar. Tsauna diam. Sejujurnya dia bingung dengan perasaan nya belakangan ini. Sering marah tanpa sebab. Uring-uringan. Kehilangan kehadiran seorang Dirta ternyata sedahsyat ini. Membuat seorang gadis yang tadinya lemah lembut bak bidadari tak bersayap, menjadi pribadi yang penuh kabut amarah. Aufar termenung memikirkan Tsauna yang tanpa sadar... membuat nya resah. Gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Apa yang harus dia lakukan? "Aku perlu bicara sama Dirta Bel" Ujar Aufar ketika Bela sengaja berkunjung malam itu. Bela tidak bisa diam saja jika Tsauna kenapa-kenapa. Tidak siapa pun boleh membuat gadis itu menderita. Kenapa Aufar harus mengejar perempuan yang sama dengan Dirta? apa tidak cukup keduanya bersitegang selama ini? Bela berusaha menutup mata dan menulikan telinga, meski cerita-cerita pelik itu kerap dia dengar. Bela tidak mau membela Aufar atau pun Dirta. Yang dia perdulikan hanya Tsauna. Apa pentingnya bicara dengan Dirta? pikir Bela. Malah justru semakin memperkeruh suasana. "Ngapain sih kak, masih mau bicara sama kak Dirta? nanti malah cekcok lagi. Sudah kak... kakak jangan tambahin masalah lagi. Bela kasihan sama Tsauna." Bela mendesah lesu. "Kalau kakak nekat, mendingan cari yang lain saja." Terbayang wajah bidadari seorang Tsauna. Ciri khasnya kulit putih mencolok dengan mata sipit disertai warna kemerahan di bawah kantung matanya. "Semua gara-gara Dirta" Desis Aufar. "Bisanya PHP in cewek. Tidak ingat apa kalau Mama nya-" "Cukup kak!" Bela menghentikan ucapan Aufar yang mulai kemana-mana. Bela tidak mau ikut campur urusan keluarga Aufar. Ya meskipun dia adalah sepupu Aufar, tapi Bela merasa tidak berhak ikut campur. Bela ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Aufar. Tetapi dia juga tidak tahu perasaan seorang Dirta bukan? "Sebenarnya apa sih, yang Tsauna suka dari Dirta? apa hebatnya dia? bisanya cuma nyakitin." Aufar mengusap samping kepalanya,merasa heran. "Jawabannya simpel kak, CINTA. Tsauna jatuh cinta sama kak Dirta. Cukup itu saja tidak perlu alasan yang lain." "Jangan bilang... kak Aufar sudah mulai jatuh cinta sama Tsauna? hayo... ngaku!" Desak Bela menggoda Aufar. Apakah terus menggoda gadis itu namanya bukan cinta ya? perduli juga termasuk cinta bukan? Aufar mengelak. "Apaan sih! jauh banget omongan kamu Bel. Lagian, siapa sih yang tidak suka sama bidadari tak bersayap, seperti Tsauna?" "Tidak ada sih" Bela mendesah bangga. Dia ingat betapa menyenangkan dan baik nya seorang Tsauna. "Tsauna masih suka mikirin si Dirta itu?" Tanya Aufar. Perasaan bencinya sama besarnya seperti Dirta membencinya. "Tsauna cinta mati sama dia" Ucap Bela. "Belum tahu aja idiotnya dia seperti apa." "i***t dari mana?" Bela mengingat paras Dirta, beserta karakternya dan segala aspek kehidupannya. "Perfect" Ucap Bela. Tidak setuju dengan komentar dari Aufar. "Gantengan aku, lebih kaya aku, lebih baik aku juga" Aufar menyombong. Mereka berdua sengaja berbicara di teras belakang, dekat kolam ikan. Tempat biasanya Aufar menghabiskan waktunya jika di rumah. Ayahnya yang bernama Brama Suhendra, membuatkan kolam ikan itu ketika ulangtahunnya yang ke empat belas tahun. "Om" Bela menyapa Brama. Tiba-tiba saja menghampiri, lalu tersenyum kepada mereka. "Aufar" Panggil Brama kepada putranya. "Kenapa Pa?" "Tadi ikannya belum kamu kasih makan? kemarin juga. Akhir-akhir ini kamu jarang ada di rumah" Ucap Brama. Aufar segera mencari alasan. Dia tahu Papanya sangat pemilih masalah teman dekat dan sejenisnya. Geng nya saja harus dia sembunyikan dari Papanya. Aufar memberi kode dengan mengedipkan matanya ke arah Bela. "Aufar sama Bela Pa, jalan-jalan. Iya kan, Bel?" Bela merutuki keberanian Aufar berbohong kepada Papanya. Kenapa dia dibawa-bawa? Bela mengangguk perlahan, jujur saja dia takut ketahuan bohong. "Jalan-jalan naik angkot?" Tanya Brama. Membuat Aufar membulatkan matanya. Darimana Papanya tahu? "Berani bohong kamu sama Papa" Gumam Brama. Intonasi suara yang Aufar tahu jika itu adalah bentuk kekecewaan. Aufar menyentuh kepala frustasi. Pikirannya langsung melayang kepada keamanan Tsauna. Lambat atau cepat Papanya akan mencari tahu informasi mengenai siapa yang Aufar temui selama ini. Bela tidak kalah khawatir. Brama itu menyenangkan dan banyak tersenyum. Tetapi dibeberapa waktu bisa menjadi orang yang sangat menakutkan juga. "Papa dari teras belakang nemuin Aufa ya?" Tegur Aida, istri kedua Brama. "Kasih tahu anak kamu" Ucap Brama, dia pusing sekali. Anak pertamanya sudah tidak bisa dia atur, masa iya Aufar juga begitu? Aida mendekati suaminya, menggandeng lengan Brama dengan manja. Seperti pasangan yang baru saja meresmikan hubungan. "Kenapa sih, Mas? jangan marah-marah terus. Tapi... (Aida memandang suaminya) jangan-jangan kamu barusaja dari rumah Dewi ya?" "Jangan ditanya!" "Berantem lagi sama Dewi?" Tanya Aida. "Kalau ketemu dia nggak berantem, mungkin dunia sudah mau roboh." "Ya kalau begitu... jangan marahnya sama Aufar? kasihan Aufar pasti kena marah terus sama Mas. Kali ini kenapa lagi?" "Papa lagi cari tahu, akhir-akhir ini dia dekatnya sama siapa" Ucap Brama. Hanya tinggal menghitung jam maka Brama akan mengantongi informasi tentang kehidupan Tsauna. Dari gadis itu lahir sampai saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD