Imajinasi, siapa yang tidak pernah berimajinasi? Bahkan saya merasa orang-orang hebat diluar sana sebelum berhasil sampai detik ini, pastilah mereka berimajinasi terlebih dahulu.
Dengan kalian membaca kalimat diatas atau bahkan hanya melihat judul, mungkin sebagian kalian sudah berkelana dengan imajinasi masing-masing. Selayaknya saya.
Saya adalah tipe orang yang cepat menggambarkan visualisasi dengan hanya membaca satu kalimat atau objek didepan mata saya. Mungkin itu juga yang membuat imajinasi saya membludak.
Lain imajinasi lain pula bagaimana membuat orang ikut menggambarkan imajinasi yang ada dalam benak saya.
Sebagian orang beranggapan orang yang sering berimajinasi itu introvert, pendiam, tidak banyak teman. Dan saya tidak menutup kemungkinan karena saya juga termasuk, tetapi lebih kepada pendiam jika belum kenal.
Mungkin penggambaran tak kenal maka tak sayang yang cocok untuk menggambarkan sifat saya.
Tapi tidak sedikit pula orang-orang dengan sifat ekstrovert pandai berimajinasi.
Bila mungkin introvert berandai : Jika saja ada laki-laki seperti novel ini di dunia nyata.
Dan ekstrovert berandai : Andai aku mempunyai sebuah band terkenal dengan banyak penggemar.
Keduanya berimajinasi.
Jadi intinya apa?
Imajinasi itu memang sudah ada dalam sebagian diri kita, setidaknya itu yang saya pikirkan.
Hal yang berbeda adalah : “Apakah semua orang memiliki kemauan untuk menuangkan imajinasi tersebut?”
Dan jawabannya jelas Tidak Semua.
Jadi orang-orang yang menuangkan imajinasi mereka bukan hanya bercerita, menulis ataupun menggambar. Tetapi, mereka mengungkapkan imajinasi yang ada dalam benak mereka.
Orang yang menikmati dalam artinya yang membaca, melihat, mendengar tentunya ikut berimajinasi meski mungkin hanya sebagian tetapi pada umumnya dan kebanyakan sama, menikmati.
Jadi ada score 2:2!
Lalu apa bedanya?
Jelas beda! Mereka yang berimajinasi dan menuangkan imajinasi adalah yang membuat imajinasi tersebut, menyempatkan menuangkan imajinasi, mencuri waktu disela kesibukan, dan faktor lainnya yang dirasakan oleh masing-masing mereka.
Jadi sudah tahukan perbedaannya.
Dan setidaknya bila tidak menghargai, jangan menghancurkan dengan menjiplak, copy paste, screenshot, dan terparah mencantumkan nama diri sendiri dikarya milik orang lain.
Mungkin sebagian orang abai dan dapat memaklumi. Tetapi, tidak untuk sebagian yang lain. Mungkin terlihat tidak masalah, tetapi siapa yang tahu benak seseorang. Mungkin dirasa sepele, tetapi sadarlah bila posisinya diganti. Tentu tidak akan merasa baik-baik saja.
Sejelek-jeleknya karya seseorang, seburuk-buruknya karya seseorang, setidak ada respon (melihat, membaca, mendengar) sekalipun. Tetap saja, karya itu dibuat bukan jadi dan terbentuk tiba-tiba.
Ini kita lagi berbicara karya buatan manusia ya, bukan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Lalu intinya lagi apa?
Kembali lagi saya hanya menuliskan pengalaman saya dan mungkin sedikit mencurahkan apa yang ada didalam benak saya yang sebelumnya belum pernah tertuangkan.