***
"Bisa berhenti di sini?"
Setelah sebelumnya terus mengikuti Altariga dari belakang, permintaan tersebut Flora lontarkan setelah dia dan pria itu berjalan sedikit jauh dari gedung sekolah.
Tidak pergi keluar, keduanya masih berada di lingkungan sekolah—tepatnya di taman bermain anak-anak yang berada di bagian belakang gedung.
Sempat terkejut bahkan shock usai bertemu kembali dengan Altariga, Flora kembali pada ketegasannya. Namun, meskipun begitu dia manut ketika Altariga mengajaknya menepi.
Bukan karena takut, Flora mengikuti Altariga karena khawatir pria itu berkata macam-macam di depan Miss Yuka mau pun kepala sekolah. Punya image yang cukup baik, Flora tidak mau Altariga merusak semuanya dengan berkata macam-macam.
"Oke, kita bicara di sini," ucap Altariga, yang akhirnya berbalik setelah sebelumnya berhenti dan diam selama beberapa detik.
"Mau bicarain apa?"
"Kejadian lima tahun lalu di salah satu Bar yang ada di Paris," ucap Altariga, tanpa basa-basi. "Kalau kamu pikir saya enggak akan ingat semuanya, kamu salah, karena sampai detik ini saya masih ingat apa yang kita lakukan malam itu. Saya bahkan enggak lupa wajah kamu meskipun kita bercinta dalam keadaan mabuk."
"Lalu?" tanya Flora, sambil menaikkan sebelah alis. "Waktu itu kita sama-sama mabuk. Jadi saya rasa enggak ada yang perlu dibahas. Anggap semua enggak pernah terjadi, karena saya sudah sangat lama melupakan kejadian menjijikan itu."
"Jadi menurut kamu apa yang kita lakukan malam itu menjijikan?" tanya Altariga, yang kemudian dijawab dengan pasti oleh Flora.
"Iya. Saya dan kamu bahkan enggak saling kenal. Jadi apa yang kita lakukan rasanya cukup menjijikan. Saya bahkan udah lama lupain hal itu saking jijiknya."
Mendengar ucapan Flora, Altariga mengukir senyum miring sambil memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Memandang Flora selama beberapa detik, dia berkata,
"Padahal, kamu sendiri yang meminta buat disentuh."
"Altariga!" ujar Flora, tidak terima. "Saya waktu itu mabuk. Jadi pikiran saya pun enggak bekerja dengan baik. Harusnya kamu tahu itu."
"Oke, saya mengerti," ucap Altariga. "Tapi darimana kamu tahu nama saya? Kita bahkan belum berkenalan, dan saya pun enggak tahu siapa nama kamu."
"Darimana saya tahu nama kamu itu enggak penting, tapi yang jelas jangan ganggu saya lagi karena apa yang terjadi diantara kita hanyalah kesalahan di masa lalu," ucap Flora, tegas. "Saya masih labil waktu itu. Jadi lupakan saja semuanya, dan tolong berpura-pura enggak kenal setiap bertemu saya. Paham?"
Altariga tidak menjawab, sementara netranya justru sibuk mematut Flora dari atas sampai ke bawah.
"Siapa nama kamu?" tanyanya setelah itu—seolah apa yang Flora katakan sebelumnya hanyalah angin lalu.
"Kamu enggak perlu tahu nama saya," ucap Flora. "Kita enggak seakrab itu dan—"
"Mau sebutin sendiri atau saya tanya ke kepala sekolah?" tanya Altariga. "Fyi, setelah ini kita mungkin akan sering bertemu karena sekolah ini siap saya beli. Saya juga akan memegang jabatan sebagai kepala sekolah di sini. Jadi enggak ada salahnya kamu—selaku orang tua murid, memperkenalkan diri."
Flora tidak menjawab, sementara kedua tangannya perlahan mengepal. Semenjak memutuskan untuk merawat Arutala seorang diri, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memperkenalkan Altariga sebagai ayah kandung dari sang putra.
Selain karena takut Arutala direbut darinya, Flora juga tidak mau merusak rumah tangga Altariga karena sebagai perempuan, pantrang baginya menyakiti sesama.
"Kenapa diam?"
Flora menghela napas pelan, hingga ketika dia membuka mulut, siap untuk menjawab pertanyaan Altariga, sebuah seruan lebih dulu terdengar—membuatnya dan sang lawan bicara menoleh.
"Mami!"
Jika biasanya Flora akan langsung tersenyum setiap kali mendengar panggilan tersebut, maka kali ini berbeda karena detak jantungnya justru berdegup kencang.
Namun, meskipun begitu Flora tetap harus menyambut sang putra karena Arutala pasti merasa sedih jika tidak disambut dengan senyuman.
"Aru," panggilnya dengan dua sudut bibir yang ditarik. "Kok ke sini? Bukannya Aru masih jam pelajaran?"
"Aru tadi pengen pipis, Mami, terus Aru enggak sengaja lihat mobil Mami. Jadi Aru tanya ke Miss Yuka," ucap Arutala.
Di usianya yang baru empat tahun lebih beberapa bulan, Arutala sudah sangat lancar berbicara, bahkan tidak hanya itu, dia juga memiliki postur tubuh yang cukup tinggi.
"Oh, seperti itu," ucap Flora. "Sini kalau gitu. Mami belum peluk Aru hari ini."
Arutala tersenyum, sebelum kemudian mendekat dan memeluk pinggang Flora erat. Belum sadar terhadap kehadiran Altariga, selanjutnya dia mengadu tentang perbuatannya hari ini.
"Aru minta maaf, Mami, Aru enggak sengaja," ucap Arutala, setelah menjelaskan semua yang terjadi, termasuk alasannya melempar mobil Altariga dengan batu berukuran sedang. "Aru penasaran tadi. Jadi Aru lempar."
"Iya, Sayang, enggak apa-apa," ucap Flora, yang sejak beberapa menit lalu berjongkok di depan sang putra. "Cuman ke depannya tolong jangan diulangi lagi ya. Mau diminta sama siapa pun, kalau itu merugikan orang lain, Aru harus tolak."
"Iya, Mami."
"Kalau kakak kelas Aru macam-macam, apalagi sampai gangguin Aru, bilang ke Miss Yuka biar nanti kakak kelasnya ditegur," ucap Flora lagi. "Paham?"
Arutala mengangguk polos. "Paham, Mami."
"Good boy," ucap Flora sambil tersenyum, hingga ucapan Altariga membuat atensinya mau pun Arutala menoleh.
"Om yang punya mobilnya lho, apa kamu enggak mau minta maaf?"
Mendengar ucapan Altariga, Flora pasang badan dengan sigap beranjak kemudian melindungi Arutala di belakangnya. Jika yang dirugikan oleh sang putra adalah orang lain, dia akan meminta Arutala untuk meminta maaf secara langsung.
Namun, karena sang pemilik mobil adalah Altariga, Flora tidak akan membiarkan sang putra terlalu dekat atau berinteraksi dengan pria itu.
"Mewakili Arutala, saya minta maaf," ucap Flora setelahnya. "Dia bilang enggak sengaja rusakin mobil kamu. Jadi saya harap kamu enggak memperpanjang masalah ini. Saya juga akan ganti rugi kerusakannya. Jad—"
"Apa seperti ini cara kamu mendidik anak?" potong Altariga. "Anak kamu memang masih kecil, tapi enggak ada salahnya kamu mengajarkan dia untuk bertanggungjawab dengan meminta maaf secara langsung."
Flora menarik napas panjang, sementara diam-diam Arutala keluar dari balik tubuhnya. Dengan wajah polos juga menahan takut, Arutala mengulurkan tangan mungilnya pada Altariga sambil berkata.
"Aru minta maaf, Om," ucapnya—membuat Flora menoleh kaget, sementara Altariga mengukir senyum tipis. "Aru enggak sengaja lemparin batu ke mobil Om. Aru janji bakalan ganti rugi meskipun pake uang mami."
"Karena kamu minta maaf, Om maafin kamu," ucap Altariga, sambil menyambut uluran tangan mungil Arutala, dan yaps! Dia merasakan sesuatu yang berbeda pada hatinya. "Jangan diulang lagi ya."
"Iya, Om."
"Nama kamu siapa?"
"Altariga," panggil Flora.
"Kenapa? Saya cuman mau tahu nama anak kamu," ucap Altariga. Beralih pada Arutala, dia kembali bertanya, "Jadi siapa nama kamu, Ganteng?"
"Arutala Galtero Alexander, Om," ucap Arutala. "Om bisa panggil aku Aru."
"Nama yang bagus," puji Altariga, sambil tersenyum.
Beralih pada Flora yang nampak tegang, dia memberikan tatapan sebelum kemudian mendekatkan wajah pada perempuan di depannya itu.
Tidak mendekati wajah Flora, Altariga mencondongkan wajahnya ke dekat telinga perempuan itu kemudian dengan raut wajah tenang pun suara pelan, dia bertanya,
"Apa anak ini hasil dari kegiatan kita malam itu?"