Bagian Lima

1036 Words
“Arutala memang anak kandung saya, tapi bukan dari kamu karena dia punya ayah kandung. Saya sudah punya suami, dan dia ayah kandungnya Aru. Jadi jangan sembarang mengakui Aru, karena ayahnya bisa marah kalau tahu. Paham?” Di tengah kegiatannya mengemudi, Altariga sedikit mengerutkan kening setelah ucapan Flora di sekolah beberapa waktu lalu, melintas kembali di benaknya. Melontarkan dugaan tentang status Arutala, Altariga mendapat omelan dari Flora yang langsung menyangkal praduga darinya itu. Tidak cukup sampai di situ, Flora juga tanpa ragu mengungkap siapa ayah kandung dari putranya itu sehingga tanpa bisa berkutik, Altariga diam. Selanjutnya—menyudahi pembahasan tentang insiden lima tahun lalu, urusan Altariga dan Flora kembali pada mobil. Tidak mau berurusan terlalu panjang dengannya, Flora memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi sehingga setelah ini, Altariga diminta untuk tidak berinteraksi lagi dengan perempuan tersebut. “Apa iya Arutala anak dari Flora dan suaminya?” tanya Altariga, yang kini sudah tahu nama dari perempuan yang pernah ditidurinya itu. “Enggak tahu kenapa perasaanku aneh ketika berjabat tangan dengan Arutala, dan aku yakin itu ikatan batin.” Altariga adalah pria dengan insting yang kuat. Bertemu kembali dengan Flora setelah kejadian lima tahun lalu, dia langsung menduga jika anak dari perempuan itu adalah anaknya juga, sehingga ketika Arutala datang, tanpa ragu dia melontarkan keyakinannya itu. Flora menyanggah, Altariga tidak langsung percaya, karena selain perasaan aneh, dia juga merasa respon perempuan itu sedikit berlebihan. “Kayanya aku harus cari tahu lebih dalam,” ucap Altariga lagi, setelah sibuk dengan pikiran sendiri. “Aku enggak bisa percaya gitu aja sama ucapan Flora, karena bisa aja dia bohongin aku.” “Ya, aku enggak bisa diam.” Altariga yang sedang dalam perjalanan pulang, menambah kembali kecepatan mobilnya. Tidak hanya dia yang selama mengemudi, sibuk memikirkan berbagai hal, jauh di jalanan lain Flora pun serupa. Sudah meninggalkan sekolah dengan Arutala yang duduk manis di samping kirinya, sejak tadi Flora sibuk mencari solusi untuk menjauhkan Arutala dari ayah kandungnya. Bukan bermaksud jahat, Flora hanya tidak ingin kekacauan terjadi, karena tanpa Altariga pun, selama ini dia dan Arutala hidup dengan cukup baik. “Aru, kalau Mami pindahin sekolah Aru ke tempat lain, mau enggak?” Setelah hampir dua puluh menit suasana di mobil hening, Flora akhirnya membuka percakapan—membuat Arutala yang semula sibuk dengan mainan, menoleh dengan raut wajah penasaran. “Kenapa dipindahin, Mi?” tanyanya polos. “Tempatnya enggak bagus?” “Enggak, sayang, bukan gitu,” ucap Flora. “Cuman ….” Flora bingung sendiri, setelah tidak menemukan alasan yang tepat untuknya memindahkan sekolah sang putra ke tempat lain. Tidak bisa bermain-main dengan Arutala, dia harus berhati-hati karena meskipun sang putra masih terbilang sangat kecil, pikirannya cukup kritis. “Karena apa, Mami?” tanya Arutala penasaran. “Oh ya, yang mami maksud tuh Aru pindah sekolah, atau gedung sekolah Aru dipindahin? Aru sedikit bingung dengar ucapan Mami.” “Bukan gedungnya yang dipindahin, tapi Arunya yang pindah sekolah, Ganteng,” ucap Flora, coba memberi pengertian. "Setelah dengar Aru disuruh macam-macam sama kakak kelas, Mami jadi khawatir Aru digangguin lagi ke depannya. Jadi gimana kalau pindah aja? Setuju enggak?" Arutala menekuk wajahnya, sambil memainkan mainan robot yang sejak tadi dipegang. Tidak diam saja, selanjutnya—selang beberapa detik, dia buka suara. "Aru suka sekolah yang sekarang, Mami," ucapnya—membuat rasa kecewa menghampiri Flora. "Kakak kelasnya Aru enggak jahat kok, mereka cuman penasaran aja sama kaya Aru, cuman enggak berani lakuin. Jadi nyuruh Aru. Selain itu, Aru udah punya teman juga di kelas. Jadi bakalan sedih kalau Aru pindah sekolah." "Tapi kan, Sayang—" "Aru males cari teman lagi, Mi, kalau pindah sekolah," potong Arutala, sebelum Flora menyelesaikan ucapannya. "Aru nyaman sama kelas dan teman Aru yang sekarang. Jadi Aru enggak mau pindah. Lagian Om yang tadi udah maafin Aru kok. Jadi Mama jangan khawatir." Flora menghela napas kasar. Jika sudah seperti ini, dia tidak boleh terus memaksa Arutala, karena alih-alih mau menuruti keinginannya, sang putra justru akan semakin kuat. Sejak Arutala lahir, Flora berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat sang putra nyaman hidup bersamanya, sehingga pertengkaran sekecil apa pun selalu dia hindari agar di hati Arutala tidak ada setitik pun rasa benci atau kesal padanya. "Oke, kalau gitu enggak apa-apa," ucap Flora setelahnya. "Maaf ya, kalau usulan Mami barusan bikin Aru kesal. Mami cuman takut Aru digangguin di sekolah. Mami sayang banget sama Aru, dan Mami enggak mau Aru diapa-apain. Aru tuh berharga banget buat Mami." "Iya, Mami, no problem," ucap Arutala. "Aru enggak kesal kok sama Mami. Aru sayang Mami." Flors tersenyum tipis, sebelum kemudian mengusap lengan Arutala di sela kegiatannya mengemudi. "Aru sehat-sehat terus dan harus selalu sama Mami ya," ucapnya setelah itu. "Mami enggak bisa soalnya kalau enggak sama Aru." "Iya, Mami," ucap Arutala. "Aru pasti sama Mami terus. Aru enggak akan kaya Papi yang pulang ke Tuhan duluan terus ninggalin Mami." Flora tersenyum tipis. Tidak menimpali ucapan Arutala, selanjutnya dia memilih diam, hingga tidak berselang lama sampailah mereka di butik milik Flora. "Kita udah sampai, Ganteng, ayo turun," ucap Flora sambil melepas seatbelt. "Okay, Mami." Meskipun memiliki orang tua lengkap, yang selalu siap untuknya mau pun Arutala, Flora lebih suka hidup mandiri sehingga semenjak sang putra lahir, dia jarang sekali membebankan Arutala agar diasuh oleh kedua orang tuanya itu. Tidak hanya hal tersebut, Flora juga memilih untuk tidak tinggal di kediaman orang tuanya setelah memiliki Arutala, karena meskipun tidak punya suami, dia merasa harus memisahkan diri usai menjadi seorang ibu. "Aru mau main dulu apa langsung makan siang?" tanya Flora, sambil menuntun Arutala menuju lantai dua—tempat studionya berada. "Kalau mau makan, Mami pesanin sekarang." "Aru mau main dulu aja Mami," ucap Arutala. "Makannya nanti agak siangan." "Oh, oke kalau gitu." Sampai di lantai dua, Arutala berlari menuju tempat bermain yang sengaja dibuat untuknya ketika ikut bersama Flora ke studio. Tidak ada perubahan sikap, dia menikmati kegiatannya seperti biasa, sementara Flora justru mencari pojokkan untuk duduk. Tidak langsung melanjutkan pekerjaannya, Flora memilih untuk merogoh ponselnya dari tas lalu kemudian menghubungi seseorang. Tidak menunggu lama, panggilan darinya dijawab, kemudian suara berat seorang pria pun terdengar. "Halo, Sayang, kenapa?" "Kamu sibuk?" tanya Flora. "Aku pengen ketemu buat ngobrolin sesuatu." "What happen?" "Arutala," jawab Flora. "Hari ini dia ketemu sama Papinya." "Altariga maksud kamu? Kapan? Kok bisa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD