Bagian Enam

1077 Words
*** "Bu, permisi ada tamu." Flora yang semula fokus pada Arutala, menoleh pelan setelah suara sang art terdengar dari ambang pintu. Malam menjelang, dia sudah di rumah sejak pukul lima sore tadi. Meskipun cukup sibuk dengan pekerjaannya, Flora tidak lupa pada kewajiban dia sebagai ibu, sehingga semenjak pulang, kesibukan Flora adalah; menemani Arutala menjalani segala kegiatan hingga akhirnya terlelap. "Siapa, Bi?" tanya Flora pada Bi Eni—salah satu dari dua art yang dia miliki di rumah. "Pak Asta, Bu." "Oh," ucap Flora. "Bilang ke dia tunggu sebentar. Saya mau benahin dulu posisi Aru tidur." "Baik, Bu." "Bikinin cappucino dingin seperti biasa ya," pinta Flora lagi. "Di kulkas juga ada cheese cake, sajiin aja. Dia suka banget." "Oh, siap, Bu." Tidak menimpali lagi, Flora hanya mengukir senyum sebagai respon. Bi Eni pergi, dia kembali pada Arutala, lalu membenarkan posisi sang putra yang terlelap sekitar sepuluh menit lalu. Menyelimuti tubuh sang putra kemudian mendaratkan kecupan, sebuah kalimat Flora lontarkan sebelum pergi. "Mami enggak akan biarin Aru dibawa siapa pun. Aru punya Mami. Jadi sesulit apa pun caranya, Mami akan mempertahankan Aru." Flora mengukir senyum tipis, sebelum menjauh dari kasur tempat Arutala terlelap. Berjalan menuju pintu, dia mematikan lampu kemudian pergi untuk menemui Asta di lantai bawah. "Udah lama datang?" tanya Flora, sesampainya di bagian bawah tangga. "Aku pikir kamu enggak jadi ke sini, karena sibuk sama kerjaan." "Sebanyak apa pun kerjaan aku, waktu luang buat kamu harus selalu ada," ucap Asta, sambil mengukir senyum. "Lagian ini menyangkut Arutala, kan? Itu penting buat aku." Flora tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya menuju sofa. Menghampiri Asta, dia mengambil posisi di depan pria itu kemudian selang beberapa saat, Bi Eni datang membawa kopi dan kudapan. Bukan orang asing, Jenggala Astaguna Wirawan adalah kekasih Flora yang sudah berpacaran dengan perempuan itu selama lima bulan lamanya. Saling mengenal sejak menempuh pendidikan sarjana, di salah satu universitas di kota Depok, keduanya bertemu kembali satu tahun lalu. Memiliki hubungan yang baik, Flora dan Asta semakin dekat seiring berjalannya waktu, sampai akhirnya lima bulan lalu, Asta memberanikan dirj untuk menyatakan cinta. Sebagai kekasih, Asta sudah tahu tentang Arutala berikut asal-usul bocah empat tahun tersebut. Tidak merasa keberatan, dia menerima dengan baik Arutala, bahkan siap menjadi ayah untuk putra semata wayang Flora tersebut. Didukung takdir, kehadiran Asta diterima dengan baik oleh Arutala, sehingga hubungannya dengan Flora pun terbilang lancar. Namun, untuk menikah, Flora masih belum siap, sehingga Asta pun masih harus menunggu. "Jadi gimana asal muasal Aru bisa ketemu sama Altariga?" tanya Asta, sepeninggalnya Bi Eni. "Ketemunya pas sama kamukah? Atau lagi sendiri?" "Sama aku," ucap Flora, yang kemudian menceritakan semuanya pada Asta. Disimak dengan baik, seusainya bercerita, dia berkata, "Aku sekarang enggak tenang, As, karena setelah kejadian tadi, Altariga pasti cari tahu lebih dalam tentang Aru. Aku bukan bermaksud menghalangi dia tahu soal anaknya, cuman gimana ya? Aru tuh udah terlanjur ngira Papinya meninggal. Jadi kalau Altariga tiba-tiba ngaku sebagai Papinya, aku khawatir mental Aru keganggu. Kamu paham, kan, maksud aku?" "Sangat paham," jawab Asta. "Sampai detik ini, kamu udah punya solusi belum buat ngatasin semua ini?" "Aku tadinya mau pindahin sekolah Aru ke tempat lain, cuman Aru enggak mau," jawab Flora dengan raut wajah gelisah yang cukup kentara. "Aku juga enggak bisa maksa, karena Aru nantinya enggak nyaman." "Aku pikir itu bukan solusi terbaik sih, karena dengan dipindahinnya Aru, Altariga akan semakin curiga," ucap Asta. "Kalau memang kamu enggak mau Altariga tahu siapa Arutala, lebih baik dihadapi aja sampai kecurigaannya luntur." Mendengar ucapan Asta, Flora menaikkan sebelah alisnya. "Maksud kamu?" "Ya Arutala biarin beraktivitas kaya biasa," ucap Asta. "Kalau dipindahin, Altariga justru akan heran karena kamu menjauhkan Aru dari dia, dan kalau udah gitu, aku yakin Altariga akan semakin gencar buat cari tahu." "Tapi kalau terus sekolah di sana, Altariga sama Aru bakalan sering ketemu, As," desah Flora. "Ikatan batin ayah sama anak tuh kuat. Jadi aku pikir Altariga lama-lama bakalan sadar." "Kamu bilang Altariga mau beli sekolahnya terus cuman jadi kepala sekolah, kan?" tanya Asta—mengungkit cerita Flora. "Kalau kaya gitu, aku rasa intensitas pertemuan dia sama Aru enggak akan sering. Kecuali, kalau Altariga jadi guru. Baru sering ketemu." "Terus sekarang gimana?" "Biarin Aru sekolah kaya biasa supaya Altariga enggak curiga," ucap Asta. "Buat meyakinkan dia tentang status Aru, nanti aku sempetin datang ke sekolahnya biar dia yakin sama ucapan kamu tentang Aru yang punya ayah." "Kalau Altariga cari data diri Aru di sekolah, gimana?" tanya Flora. "Di sana aku cuman mencantumkan namaku sebagai orang tua Aru." "Kalau Altariga bertindak sampai ke situ, kamu tinggal jawab kalau Aru memang anak sambungku," ucap Asta. "Nah, pas Altariga nanya siapa ayah kandung Aru, kamu bilang aja ayahnya meninggal pas kamu hamil. Jadi namanya enggak dicantumkan." "Menurut kamu, Altariga bakalan percaya atau enggak?" "Selagi kamu enggak nunjukin gelagat enggak biasa di depan dia, seharusnya Altariga percaya," ucap Asta. "Kita usahain itu aja dulu. Kalau dia masih ngotot, baru kita cari solusi lain." "Oke deh," ucap Flora. "Makasih ya, karena udah dukung keputusanku buat enggak mengenalkan Aru ke Altariga. Aku pikir kamu bakalan minta aku jujur biar Aru enggak sepenuhnya diasuh sama kita." "Kamu pikir aku sejahat itu?" tanya Asta, sambil tersenyum. "Selain cinta sama kamu, aku sayang juga lho sama Aru. Jadi enggak mungkinlah pikiranku sejahat itu." "Maaf," ucap Flora. "Aku enggak bermaksud nuduh kamu macam-macam." "No problem," ucap Asta. "Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Di butik kan banyak juga kerjaan yang kamu urus. Aku enggak mau kamu sakit." "Makasih, As." "As always, Sayang." Flora tersenyum. Tidak terus membahas Arutala, dia dan Asta juga membicarakan hal lain. Berbeda dengan keduanya yang larut dalam obrolan, jauh di sana—di sebuah ruang kerja yang tersedia di sebuab kediaman mewah, seorang pria justru hanyut dalam lamunan. Altariga. Berniat untuk menuntaskan pekerjaan, sejak beberapa menit lalu dia justru bersandar pada sofa dengan ingatan yang terus tertuju pada Flora juga Arutala. "Wajah anak itu kalau dipikir-pikir mirip aku sedikit pas kecil," ucap Altariga. "Cuman, kalau dia anakku, harusnya mata dia enggak coklat. Ck." Altariga hanyut dalam kebingungannya sendiri, hingga setelah berpikir panjang, sebuah keputusan diambil. Menarik punggung dari sofa, Altariga mengambil ponsel kemudian menghubungi sebuah kontak. "Halo, Pak, kenapa?" "Saya ada kerjaan tambahan buat kamu." "Apa, Pak?" "Cari tahu tentang seseorang," ucap Altariga. "Terserah mau pake cara apa, tapi yang jelas saya mau tahu semua tentang dia." "Oke, boleh. Atas nama siapa?" "Syalitta Flora Alexander," ucap Altariga. "Enggak tahu masih bagian dari pemilik Alexander grup, atau cuman namanya yang mirip, yang jelas saya mau tahu semua tentang dia." "Oh, oke, Pak." "Bisa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD