Bagian Tujuh

1063 Words
*** "Sayang, bangun." Mendengar suara lembut sekaligus merasakan pula sentuhan di bagian bahu, Altariga membuka matanya secara perlahan. Masih dengan kesadaran yang belum terkumpul, dia menyipit sambil memandang rak yang terletak tidak jauh dari tempatnya berada. "Sayang?" Kembali dipanggil, Altariga yang semalaman terlelap dengan posisi duduk, lantas mengangkat kepala kemudian menoleh ke asal suara. Di dekatnya, dia mendapati seorang perempuan dengan penampilan yang cukup rapi. Bukan pelayan, perempuan dengan dress berwarna broken white tersebut adalah Gisella Tristania—sang istri yang sudah lima tahun Altariga nikahi. Berawal dari perjodohan, Altariga dan Gisella menjalani rumah tangga yang cukup damai, meskipun belum dikaruniai keturunan. Tidak diam saja, keduanya sempat melakukan beberapa program. Namun, belum berhasil, sehingga pada akhirnya—di tahun ke lima pernikahan, Altariga dan Gisella memutuskan untuk pasrah. "Jam berapa ini?" tanya Altariga dengan suara parau. "Aku ketiduran lagi di sini ya?" "Menurut kamu?" Gisella balik bertanya. "Aku tuh semalam ke sini tahu jam sebelas. Cuman kamu udah tidur, dan karena aku enggak sanggup ngangkat, seperti biasa aku biarin kamu di sini. Hobi banget tidur di kursi kerja. Secinta itu kamu sama kerjaan?" "Aku ngantuk berat semalam, Gisell," ucap Altariga. "Jadi jangankan pindah, nyamanin posisi aja enggak sempat aku lakuin." Bukan sekali dua kali, Altariga sudah sangat sering tertidur di ruangan kerjanya, karena memang sejak sang kakek meninggal dua tahun silam, perusahaan menjadi tanggung jawab dia sepenuhnya, sehingga pekerjaan Altariga pun setiap hari menumpuk. "Terus kalau ngantuk kenapa maksain, Mas?" tanya Gisella. "Seharusnya kalau mata udah kerasa berat, kamu cepat balik ke kamar. Hobi banget bikin istrinya kesepian." Altariga tersenyum tipis. Drama tidur tidak menjadi panjang, selanjutnya dia dituntun keluar dari ruangan kerja. Berjalan bersama sambil berpegangan tangan, Altariga dan Gisella pergi menuju kamar kemudian di sana, Altariga bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Sekitar pukul setengah tujuh pagi, Altariga sudah rapi dengan penampilan ngantornya seperti biasa. Dilayani dengan baik oleh Gisella, kini dia dan sang istri berhadapan karena setelah kemeja dan jas, tiba waktunya Gisella memasangkan dasi di leher. "Kapan kamu mau ke sekolah lagi?" tanya Gisella di sela kegiatannya. "Aku enggak sabar deh buat lihat anak-anak di sana. Pasti pada gemesin." Tentang sekolah TK yang Altariga beli, semuanya adalah ide Gisella yang tiba-tiba ingin mengelola sebuah taman kanak-kanak. Bukan tanpa alasan, keinginan tersebut muncul karena rasa kesepian dan bosan yang Gisella alami. Katanya—karena tidak memiliki anak, Gisella tidak punya kegiatan, sehingga untuk mengisi waktu kosong, dia ingin mengelola sebuah sekolah. "Enggak tahu," ucap Altariga. "Pembayarannya udah selesai kemarin. Cuman, masih ada beberapa proses yang harus diurus. Jadi hari ini kamu belum bisa ke sana kayanya." "Oh, oke deh." "Tentang kepala sekolah di sana, aku aja ya yang pegang jabatannya," ucap Altariga—membuat Gisella mengernyit. "Sekolah yang aku beli bukan sekolah ecek-ecek, terus standarnya juga internasional. Jadi aku pikir lebih baik aku yang pegang kendali." "Kamu ngeraguin aku?" "Ya enggak," ucap Altariga. "Cuman aku takut aja kamu terbebani sama tugas-tugasnya. Kamu pengen beli sekolah buat cari hiburan, kan? So, jadi guru aja menurutku dibanding kepala sekolah. Guru, kan, lebih sering berinteraksi sama murid. Iya enggak?" "Iya sih," ucap Gisella. "Tapi di sana masih butuh guru emang?" "Sekolahnya sekarang punya aku. Jadi butuh enggak butuh, kamu bisa masuk." Gisella tersenyum. "Oke deh," ucapnya. "Kapan aku bisa ngajar?" "Nanti ya, Gisella," ucap Altariga lembut. "Seperti yang aku bilang, masih ada beberapa hal yang harus diurus. Jadi kamu sabar dulu oke? Bisa, kan?" "Iya-iya, bisa," ucap Gisella, yang pada akhirnya menyelesaikan tugasnya membuat simpul dasi. "Ayo sarapan. Aku minta bibi bikin pancake hari ini." "Boleh." Tidak terus di kamar, Altariga dan Gisella berjalan bersama menuju ruang makan. Di sana—layaknya pasangan suami istri pada umumnya, keduanya menikmati sarapan. Tidak ada obrolan, Altariga dan Gisella fokus dengan makanan masing-masing, hingga tidak berselang lama Altariga tiba-tiba teringat lagi pada Flora mau pun Arutala. Tidak diam saja, dia sudah meminta asistennya untuk bertindak. Namun, memang sampai sekarang, Altariga belum mendapatkan informasi apa-apa. "Kenapa?" tanya Gisella, peka terhadap tatapan Altariga yang tidak tertuju padanya. "Kamu kaya lagi mikirin sesuatu. Apa ada yang terjadi?" "Nope," ucap Altariga. "Aku cuman tiba-tiba kepikiran cerita yang aku baca." "Cerita apa?" tanya Gisella, nampak penasaran. "Tumben banget kamu baca cerita." "Enggak sengaja lewat," ucap Altariga. "Ceritanya tuh tentang seorang laki-laki yang tiba-tiba ditemuin sama perempuan dan anak kecil." "Terus?" "Si perempuan itu bilang kalau anak yang dia bawa adalah anak mereka. Padahal, si laki-laki udah punya istri," kata Altariga lagi. "Laki-lakinya selingkuh?" "Enggak," jawab Altariga. "Laki-laki itu hamilin perempuan tersebut sebelum nikah sama istrinya. Jadi aku pikir itu bukan selingkuh." "Ah, i see," ucap Gisella. "Terus gimana?" "Ya si perempuan itu minta pertanggungjawaban," ucap Altariga lagi. "Dia pengen anaknya diakui sama si laki-laki, dan itu bikin laki-lakinya bingung karena dia kan udah punya istri." "Dia sama istrinya udah punya anak?" "Belum," jawab Altariga. "Di cerita itu, si istri menerima kehadiran anak dari suaminya sama perempuan lain. Menurut kamu, apa itu keputusan yang tepat?" Mendengar pertanyaan Altariga, Gisella mengerutkan kening. "Kenapa mendadak nanyain itu?" "Pengen tahu aja," ucap Altariga. "Menurut aku ceritanya menarik. Jadi aku pengen tahu aja gitu perspektif kamu sebagai perempuan gimana. Apa menurut kamu keputusan si istri di cerita yang aku baca udah benar, atau justru sebaliknya?" "Aku bingung sih," ucap Gisella. "Di posisi istri si laki-laki pasti enggak mudah, karena dia harus menerima anak suaminya dengan perempuan lain. Cuman, semua terjadi juga sebelum mereka menikah. Jadi ya enggak bisa disebut selingkuh." "Oke, lalu?" "Menurut aku keputusannya cukup tepat," kata Gisella—membuat Altariga mengukir senyum tipis. "Cuman harus ada perjanjian juga diantara mereka, karena bisa aja ibu dari si anak itu punya rencana jahat. Ambil suaminya misal? Iya enggak?" "Bisa jadi," ucap Altariga. "Nah, kaya gitu kurang lebih dari aku," ucap Gisella. "Keputusan buat nerima anak suaminya sama perempuan lain, oke-oke aja, tapi si istri jangan sampai lengah karena ibu dari anak itu bisa jadi punya tujuan jahat. Waspada intinya." "Aku paham," ucap Altariga. "Makasih atas tanggapannya." "Kenapa makasih?" "Ya makasih aja karena kamu udah mau menanggapi ceritaku," kata Altariga. "Padahal, ceritanya enggak penting." "Serius cuman cerita, kan?" "Maksud kamu?" Altariga balik bertanya. "Ya yang barusan kamu ceritain, beneran cuman cerita yang enggak sengaja kamu baca, kan?" tanya Gisella. "Kali aja kisah kamu sendiri." "Kalau seandainya itu kisahku, dan aku punya anak dari perempuan lain. Kamu gimana?" "Mas ...," panggil Gisella dengan raut wajah yang tiba-tiba serius. "Kamu enggak mungkin punya anak sama perempuan lain, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD