Bagian Delapan

1057 Words
*** Senin pagi. Setelah libur selama dua hari dari sekolah, pagi ini Arutala kembali pada kegiatannya. Tidak ada yang berbeda, urutan aktivitasnya di pagi hari masih sama seperti biasa—bahkan yang mengantar Aruta ke sekolah pun masih Flora. Tanpa supir, setiap hari Arutala memang selalu bersama Flora ketika bersekolah mau pun pulang, sehingga tugas sopir di rumah hanyalah mengantar art berbelanja atau sesekali menemani Arutala ke rumah kakek dan neneknya. "Sudah siap ke sekolah hari ini?" tanya Flora, setelah Arutala yang rapi dengan seragam Tknya, duduk manis di kursi sebelah kiri. "Siap, Mami," jawab Arutala, bersemangat seperti biasa. "Dua hari enggak sekolah, Aru kangen teman-teman dan Miss Yuka. Enggak sabar rasanya pengen belajar." "Anak pintar," puji Flora sambil tersenyum. "Yang lain malas ke sekolah, ini malah semangat. Keren." "Anak Mami harus selalu keren, kan?" tanya Arutala—membuat Flora tersenyum. "Of course," ucap Flora. "Dan Aru udah sangat keren di mata Mami." Arutala tersenyum bahagia. Tidak mengobrol terlalu banyak, Flora melajukan mobilnya usai memastikan seatbelt yang dia dan Arutala gunakan, aman. Dari rumahnya, perjalanan menuju sekolah memakan waktu sekitar lima puluh menit, sehingga jika berangkat pukul tujuh pagi tepat, mereka akan sampai pukul delapan kurang sepuluh menit. "Tunggu dulu, Sayang, jangan turun," pinta Flora ketika Arutala hendak membuka pintu mobil, usai mobilnya berhenti di parkiran. "Kenapa, Mami?" "Mami harus pastiin dulu parkirannya aman," ucap Flora, sambil mengedarkan pandangan guna memastikan ketidakberadaan Altariga. Semenjak bertemu dengan pria itu harus kamis lalu, Flora dilanda waswas setiap kali mengantar Arutala ke sekolah. Meskipun jumat lalu Altariga tidak ada, dia merasa harus waspada sehingga sebelum Arutala turun dari mobil, dia harus memastikan Altariga tidak ada. "Sudah aman, Mami?" tanya Arutala, usai menunggu Flora mengedarkan pandangan. "Aman, Sayang," jawab Flora pada akhirnya, sambil menoleh. "Aru bisa turun, tapi hati-hati ya. Awas kejedot mobil orang lain." "Okay, Mami." Tidak membiarkan Arutala turun sendirian, Flora membuka pintu di waktu yang sama, kemudian menyambut sang putra di depan mobilnya. Menuntun Arutala sampai ke gedung sekolah, dia bertemu Miss Yuka seperti biasa kemudian menitipkan sang putra. "Miss, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Flora, setelah Miss Yuka kembali usai membimbing Arutala ke kelas. "Boleh, Bu, mau tanya apa?" "Apa benar sekolah ini mau dibeli, terus kepala sekolahnya ganti?" tanya Flora memastikan, setelah jumat lalu lupa untuk bertanya tentang hal tersebut. "Yang hari kamis lalu ketemu sama saya, dia tuh teman lama saya dan dia bilang katanya mau beli sekolah ini. Saya tanya buat pastiin." "Betul, Bu," jawab Miss Yuka—membuat Flora spontan mengumpat dalam hati. "Sekolah ini dibeli oleh Pak Altariga, dan katanya mau dikelola langsung oleh beliau. Hari ini sepertinya beliau akan ke sini." "Hari ini banget?" tanya Flora. "Kapan?" "Kalau waktunya sih saya kurang tahu, Bu," ucap Miss Yuka. "Ibu Flora apa mau titip pesan?" "Enggak," jawab Flora. "Cuman boleh enggak saya minta tolong sesuatu?" "Minta tolong apa, Bu?" "Aru jangan dibiarin ngobrol sama orang asing siapa pun itu termasuk Alta," ucap Flora. "Dia emang teman lama saya, cuman omongannya tuh kadang enggak bisa dijaga, Miss. Saya enggak mau Aru kena pengaruh jelek. Jadi kalau misal Alta pengen ngobrol sama Aru, sebisa mungkin jangan diizinin. Bilang aja dilarang sama Maminya atau apa pun itu, terserah. Yang jelas jangan sampai mereka dekat. Bisa, kan?" "Oh, begitu," ucap Miss Yuka. "Akan saya usahakan ya, Bu, tapi sepertinya Pak Altariga juga enggak akan sering ke sini, karena yang saya dengar, beliau mengelola perusahaan. Jadi waktunya ke sekolah mungkin sedikit." "Bagus deh kalau gitu," ucap Flora. "Intinya saya titip Arutala ke Miss ya. Kalau sampai kelakuannya jadi aneh karena sekolah ini, saya enggak akan segan pindahin dia. Saya mau yang terbaik soalnya buat Aru." "Baik, Bu." Tidak berlama-lama mengobrol dengan Miss Yuka, Flora berpamitan. Berjalan menuju parkiran sambil merogoh ponsel dari tas, dia tidak sadar jika dari jalanan, sebuah mobil memasuki parkiran bahkan berhenti persis di sampingnya. Masih berjalan sambil menunduk, detak jantung Flora nyaris berhenti setelah sebuah sapaan terdengar. "Selamat pagi, Bu Syalitta Flora Alexander." Setelah berhenti secara mendadak, Flora mengangkat pandangan kemudian kembali mengumpat dalam hati, setelah sosok Altariga dia dapati berdiri di samping mobilnya. "Kamu ...," panggilnya dengan raut wajah kaget yang tidak bisa disembunyikan. "Kenapa?" tanya Altariga, sambil melangkah. "Kok kaget begitu lihat saya? Lagi menyembunyikan sesuatu ya?" "Sembunyiin apa?" tanya Flora, masih cukup sinis seperti pertama bertemu. "Saya kaget karena kamu tiba-tiba nyapa. Bukan karena hal lain. Sembarangan." "Oh ya?" tanya Altariga, sambil menaikkan sebelah alis. Mendekati Flora dengan sebelah tangan masuk ke saku celana, dia berhenti pada jarak satu meter di depan ibu kandung Arutala tersebut. Diam sejenak sambil memandangi perempuan di depannya itu, Altariga berkata, "Semenjak saya nebak kalau Arutala itu anak kandung saya, kamu makin sinis sepertinya," ucap Altariga. "Kenapa? Takut kebohongan kamu ketahuan?" "Kebohongan apa maksud kamu?" tanya Flora. "Bukannya saya udah jelasin ya soal Arutala? Apa itu kurang jelas? Ah, atau jangan-jangan kamu aslinya enggak bisa bahasa manusia? Iya?" "Kasar banget bicaranya," ucap Altariga, sambil mengukir senyum tipis. "Padahal, lima tahun lalu waktu minta disentuh, suara kamu manja banget lho. Lupa?" "Altariga, stop ya!" desis Flora geram. "Kejadian itu udah berlalu lima tahun ke belakang. Jadi tolong berhenti ungkit! Saya udah menikah, dan saya enggak mau suami saya salah paham. Kamu juga udah punya istri, kan? Tolong jaga sikapnya." "Darimana kamu tahu saya udah punya istri?" tanya Altariga. "Apa diam-diam kamu cari tahu tentang saya?" Flora tersenyum miring. "Apa kamu sepenting itu?" tanyanya. "Darimana saya tahu soal status kamu, kamu enggak perlu tahu. Yang jelas tolong berhenti ganggu saya, dan bersikap seolah kita akrab karena kita bahkan enggak saling kenal. Saya risih kalau mau tahu." "Gimana mau berhenti ganggu kalau soal Arutala aja kamu bohong?" tanya Altariga—membuat Flora mengerutkan kening. "Bohong apa maksud kamu?" "Kamu bilang Arutala adalah anak kandung kamu dan suami kamu. Padahal, status ktp kamu saja masih gadis," ucap Altariga. "Itu berarti kamu belum pernah menikah, kan?" Flora tidak menjawab, sementara degupan jantungnya mendadak tidak menentu. "Tidak hanya dari ktp, kamu juga belum pernah mendaftarkan pernikahan di mana pun. Jadi suami siapa yang kamu maksud ayah kandung Arutala, hm? Suami orang?" "Altariga ...," panggil Flora, mendadak kehilangan kosa kata. "Setelah dipikir-pikir, Arutala juga wajahnya sedikit mirip dengan saya," ucap Altariga lagi. "Jadi saya mau tanya sekali lagi sama kamu. Arutala anak kandung saya, kan?" Flora masih membisu, sementara dengan raut wajah penasaran, Altariga kembali bertanya, "Kenapa diam, Flora Alexander? Saya butuh jawaban."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD