Bagian Sembilan

1159 Words
*** "Sebentar." Setelah berhasil memojokkan Flora menggunakan beberapa informasi tentang perempuan itu, yang berhasil dicari tahu sang asisten, Altariga justru mendapat gangguan setelah ponsel di sakunya tiba-tiba berdering. Mendapat panggilan dari klien, Altariga tidak bisa mengabaikannya sehingga mau tidak mau dia mundur dari hadapan Flora. "Kamu jangan ke mana-mana dulu, saya mau jawab telepon," ucap Altariga lagi, sebelum menggeser gambar gagang telepon hijau di layar. "Pembicaraan kita belum selesai." Flora tidak memberi respon, sementara Altariga akhirnya menjawab panggilan. Tidak terus fokus pada Flora, obrolannya dengan sang klien perlahan mengalir—membuat dia yang semula menghadap perempuan yang sedang disidangnya itu, mengubah posisi. Altariga tanpa sadar berbalik, dan momen tersebut dimanfaatkan oleh Flora untuk melarikan diri. Berjalan cepat, Flora masuk ke dalam mobil, kemudian dalam hitungan menit perempuan itu melajukan kendaraannya pergi—membuat Altariga berdecak. "Ck, malah kabur dia." "Apanya yang kabur, Pak Altariga?" tanya sang klien—membuat Altariga yang sempat kesal pada perbuatan Flora, kembali fokus. "Ah, tidak, Pak, itu kucing peliharaan saya kabur," ucap Altariga. "Lanjut lagi pembicaraannya." Tidak bisa melakukan apa-apa, pada akhirnya Altariga pasrah. Melanjutkan lagi obrolan pentingnya dengan sang klien, pagi ini dia gagal mendapat jawaban tentang status Arutala yang dicurigai sebagai anak kandungnya. Altariga fokus pada klien, Flora sibuk menghubungi seseorang. Tanpa berhenti mengemudi, Flora menelepon sebuah nomor yang tidak lain adalah Asta—sang kekasih. "Semoga Asta lagi enggak rapat," gumam Flora, sambil terus mengendalikan kemudi. "Aku enggak mau libatin Mama dan Papa dalam masalah ini. Jadi satu-satunya yang bisa aku mintai tolong cuma dia." Flora terus menunggu, hingga tidak berselang lama panggilannya dijawab, kemudian suara Asta pun menyapa telinga. "Halo, Sayang, morning." "As, kamu lagi sibuk?" tanya Flora. "Aku butuh bantuan lagi." "Aku ada meeting pagi ini, tapi masih setengah jam lagi," ucap Asta. "Kamu butuh bantuan apa?" "Altariga, As," jawab Flora, dengan raut wajah gelisah. "Dia diam-diam cari tahu tentang aku, dan kayanya beberapa informasi udah dia kantongin. Barusan di sekolahnya Aru, dia mojokin aku pake statusku di ktp yang masih gadis. Aku panik banget, takut salah ngomong." "Terus gimana?" tanya Asta, dengan suara yang terdengar khawatir. "Dia enggak macam-macam sama kamu, kan?" "Macam-macam sih enggak, cuman dia makin ngotot soal statusnya Aru," ucap Flora. "Enggak cuman itu, Altariga juga mulai sadar kalau fisiknya Aru agak mirip sama dia. Aku harus gimana, As? Aku takut banget Altariga tahu soal Aru." "Altariga kayanya bukan orang sembarangan, Sayang, dan enggak akan susah buat dia cari tahu tentang kamu lebih dalam," ucap Asta—membuat tingkat kegelisahan Flora bertambah. "Cuman, kamu jangan panik, karena aku ada solusi." "Solusi apa?" "Aku bakalan ngakuin Aru sebagai anak kandungku," ucap Asta—membuat Flora mulai menyimak. "Biar dia enggak curiga karena status kamu masih gadis, aku nanti ngomong ke Altariga kalau pernikahan kita masih siri. Jadi emang datanya belum ada di KUA mana pun." "Kalau Altariga nanyain alasan gimana?" tanya Flora. "Aku yakin dia enggak akan percaya gitu aja sama pengakuan kamu. Dia tuh kelihatan licik." "Soal alasan biar nanti aku pikirin sambil meeting ya," ucap Asta. "Kamu jangan panik, karena kalau pikiran kamu enggak tenang, kerjaan kamu enggak akan benar." "Gimana aku enggak panik? Altariga ada di depan mata," keluh Flora. "Mending kalau setelah tahu Aru anak kandungnya, dia enggak ngapa-ngapain. Kalau sebaliknya? Worry banget aku sama mentalnya Aru." "I feel you," ucap Asta. "But, jangan terlalu worry karena aku enggak akan diam aja. Aku pasti bantu kamu." "Makasih ya," ucap Flora. "Dan maaf kalau lagi-lagi aku ngerepotin kamu." "Enggak ngerepotin, Sayang," ucap Asta. "Aru siang ini pulang jam berapa? Biar aku yang jemput. Siapa tahu aku ketemu Altariga, biar bisa sekalian ngobrol." "Hari senin agak siang, As, jam sebelas," jawab Flora. "Kamu bisa jemput?" "Bisa," ucap Asta. "Aku jam segitu enggak ada schedule. Jadi aman." Flora tersenyum tipis. "Makasih ya." "Sama-sama." Tidak mengobrol terlalu lama, selanjutnya Flora harus menyudahi panggilan setelah Asta meminta izin untuk bersiap-siap meeting. Sedikit tenang karena Asta yang bersedia turun tangan, Flora berusaha fokus mengemudi hingga kurang dari setengah jam, dia sampai di butik. Menyempatkan diri untuk menghubungi Miss Yuka sebelum bekerja, Flora memberitahukan rencana Asta menjemput Arutala siang nanti. Sudah beberapa kali datang ke sekolah, sosok Asta cukup dikenali Miss Yuka sehingga tanpa perlu meminta foto, ucapan Flora diiyakan. "Titip ya, Miss," ucap Flora sebelum menyudahi panggilan. "Ucapan saya yang tadi juga jangan lupa diingat." "Baik, Bu." Masalah Arutala selesai, Flora memulai pekerjaannya dengan perasaan yang perlahan menenang. Tidak hanya mengurus gaun juga sketsa, hari ini dia juga didatangi beberapa klien sehingga senin Flora pun sibuk. "Asta udah ke sekolah Aru belum ya?" tanya Flora, ketika jarum jam di arlojinya sudah ada di angka sepuluh pagi lebih beberapa menit. "Jarak kantor dia sama sekolah Aru tuh jauh. Jadi seharusnya udah berangkat dari sekarang." Tidak hanya bertanya-tanya, Flora memutuskan untuk menghubungi Asta. Namun, belum sempat dia menekan panggil, salah satu karyawannya di butik lebih dulu datang sambil menuntun Arutala. "Bu, dedek Aru sudah pulang." Flora yang kebetulan sedang berada di studio, berbalik dengan raut wajah kaget, sementara sang putra mengukir senyuman ceria seperti biasa. "Halo, Mami!" "Lho, Aru kok udah pulang?" tanya Flora, sigap menghampiri. "Ini baru jam sepuluh lho. Biasanya jam sebelas, kan?" "Miss Yuka sama Miss lain katanya ada rapat, Mami. Jadi pulangnya lebih cepat," jawab Arutala—membuat Flora yang berjongkok di depannya, mengerutkan kening. "Tadi Aru mau minta tolong Miss Yuka buat telepon Mami. Cuman enggak jadi karena ada Om baik yang nawarin buat anterin Aru pulang." "Om baik?" tanya Flora. "Itu lho, Mami, Om yang waktu itu mobilnya Aru lempar pakai batu," jawab Arutala—membuat raut wajah Flora seketika berubah. "Katanya Om itu sekarang jadi kepala sekolah di sekolahnya Aru. Jadi kalau ada yang belum dijemput, tugasnya Om itu." "Dan Aru mau?" "Om itu baik, Mami," ucap Arutala. "Dia beneran anterin Aru ke sini setelah dikasih alamatnya sama Miss Yuka." Flora menghela napas kasar. Memandang Arutala selama beberapa detik, dia kembali berkata, "Sekarang Omnya mana? Udah pulang atau—" "Ada di bawah, Bu," ucap salah satu karyawan, sebelum Flora selesai bicara. "Barusan katanya mau lihat-lihat baju." Flora mengepalkan tangan. Tidak mau menunjukan emosinya di depan Arutala, dia meminta sang putra untuk bermain seperti biasa. Arutala lengah, Flora turun menuju butik kemudian di sana, dia mencari kehadiran Altariga. Didukung takdir, dia mendapati pria tersebut di bagian pojok butik sehingga dengan langkah cepat, Flora menghampiri Altariga. "Altariga," panggil Flora—membuat Altariga yang sibuk melihat-lihat baju, berbalik. Tersenyum tipis, pria itu buka suara. "Eh, hai," sapanya. "Aru sampai dengan selamat di lantai dua, kan? Saya tadinya mau anterin dia sampai ke kamu. Cuman katanya selain klien, orang asing dilarang naik ke lantai dua. Jadi say—" Plak! Belum selesai Altariga bicara, Flora lebih dulu menamparnya—membuat dia terkejut, sebelum kemudian memegangi pipi. Meresapi perih selama beberapa detik, Altariga memandang Flora dengan raut wajah heran. "Kamu kenapa nampar saya?" Alih-alih menjawab, Flora justru balik bertanya, "Menurut kamu kenapa saya lakuin ini hah? Apa kamu enggak sadar perbuatan lancang apa yang sudah kamu lakuin?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD