Bagian Sepuluh

1100 Words
*** Nekad mendekati Arutala bahkan mengantar bocah tampan itu pulang ke butik Flora, Altariga mendapatkan konsekuensi berupa tamparan keras dari perempuan yang pernah dia tiduri beberapa tahun ke belakang. Sedikit terkejut, Altariga pikir dirinya hanya akan mendapat omelan dari Flora. Namun, ternyata perempuan itu lebih galak dibanding yang dia duga. Tidak cukup hanya ditampar, Altariga mendapat pula omelan sebelum akhirnya diancam jika terus mendekati Arutala. Dia takut? Jawabannya adalah tidak, karena dibanding rasa takut terhadap Flora, rasa penasaran terhadap status Arutala lebih menguasai hatinya. "Kamu bikin aku semakin penasaran, Flora," ucap Altariga, sambil menoleh di sela langkahnya menuju parkiran. "Kalau memang Arutala bukan anakku, seharusnya respon kamu atas tindakanku hari ini enggak sekeras itu. Kamu terlalu mencolok." Sampai di mobil yang dia parkir di depan butik, Altariga masuk kemudian melajukan mobilnya pergi meninggalkan butik milik Flora. Tanpa emosi, pria itu berlalu dengan perasaan yang tenang sementara di dalam butik sana, Flora masih diselimuti marah. "Aku enggak akan biarin kamu ambil Arutala, Altaiga," desis Flora, dengan tangan yang masih mengepal. "Dia anakku, dan sampai kapan pun cuman aku yang berhak jadi orang tuanya." Setelahnya Flora mengatur napas. Sudah merasa cukup tenang, dia kembali ke lantai dua dengan tujuan; memulai pekerjaannya yang sempat terpotong. Belum sempat Flora menyentuh pekerjaannya atau menghubungi Asta, Arutala yang sedang bermain, menghampiri dengan raut wajah ceria. "Mami, Om baiknya mana?" tanya bocah itu polos. "Mami udah berterimakasih, kan, karena Om baik anterin aku?" "Udah," jawab Flora bohong. Mendadak penasaran akan sesuatu, dia merendahkan posisinya. "Boleh Mami tanya sesuatu enggak?" "Boleh. Mami mau tanya apa?" "Ngobrol apa aja sama Om baik?" tanya Flora. "Perjalanan dari sekolah Aru ke sini, kan, dua puluh menit. Nah, sepanjang perjalanan itu, Aru sama Om baik itu saling diam apa bicara?" "Bicara," jawab Arutala. "Cuman enggak terlalu banyak." "Bicara apa aja?" "Om baik nanyain Papinya Aru," jawab Arutala—membuat Flora berdecak dalam hati. "Katanya Papi Aru ke mana, kok enggak pernah kelihatan ke sekolah." "Terus Aru jawab apa?" "Aru jawab aja kalau Papi Aru udah di surga," jawab Arutala polos. "Cuman Aru juga bilang kalau Aru punya Papi Asta sebagai pengganti. Jadi Aru enggak kesepian." "Ngobrol apalagi selain itu." "Hm ...." Arutala bergumam, coba mengingat sesuatu yang mungkin dia lupakan. Tidak lama, dia tersenyum setelah mendapat memori yang sempat memudar. "Aru bicarain anak Om baiknya juga Mami. Aru tanya soal anaknya Om baik, tapi ternyata Om baik enggak punya anak." Flora mengerutkan kening. "Tapi punya istri enggak, katanya?" "Punya," jawab Arutala—membuat perasaan Flora campur aduk. "Namanya Tante Gisella. Katanya selain Om baik, Tantenya bakalan sering juga main ke sekolah, dan Om baik pengen Aru kenalan sama istrinya itu." "Terus Aru jawab apa?" tanya Flora. "Enggak jawab mau, kan?" "Kalau jawab mau memangnya kenapa, Mami?" tanya Arutala. "Tadi Aru bilang kalau Aru mau kenalan sama istrinya Om baik, dan dia senang." "Arutala ...," panggil Flora sambil memegangi kedua bahu sang putra. "Om baik itu orang asing buat Aru mau pun Mami. Jadi Aru jangan terlalu dekat sama dia, karena kita enggak tahu dia gimana. Sekarang mungkin baik, tapi ke depannya kan kita enggak tahu. Iya enggak?" "Tapi wajah Om baik itu kelihatannya enggak jahat, Mami," ucap Arutala. "Wajah enggak menentukan sifat seseorang, sayang," ucap Flora, coba menasihati sang putra selembut mungkin. "Orang jahat enggak semua wajahnya kelihatan jahat." "Oke," ucap Arutala. "Terus Aru harus gimana setelah ini? Enggak boleh dekat lagi sama Om baik?" "Iya," jawab Flora. "Mami bukan berniat atur-atur Aru, cuman Mami takut aja Aru dimacam-macamin sama orang lain. Aru tuh harta Mami yang paling berharga. Jadi sebisa mungkin Mami pengen selalu menjamin Aru selalu baik-baik aja. Paham, kan, maksud Mami, anak ganteng?" "Paham, Mami," ucap Arutala, sambil mengangguk. "Maaf kalau Aru bikin Mami khawatir. Aru enggak bermaksud." "No, Sayang, enggak perlu minta maaf," ucap Flora. "Aru enggak salah. Aru selalu baik—bahkan terlalu baik sampai welcome pada orang yang baru dikenal. Jangan diulangi ya. Aru cukup dekat sama teman-teman aja dan Miss Yuka di sekolah. Siap?" "Siap, Mami," ucap Arutala. "Sekarang Aru boleh main lagi?" "Boleh," ucap Flora. "Setengah jam lagi makan siang ya. Mami mau telepon Papi Asta dulu buat kasih tahu kalau Aru udah pulang. Tadi Papi Asta berencana buat jemput Aru soalnya." "Iya, Mami." "Gih, main," ucap Flora. "Tapi hati-hati." "Okay, Mami." Arutala dan Flora berpisah. Arutala berjalan menuju tempat bermain, sementara Flora melangkah menuju bangku untuk kemudian duduk di sana dan menghubungi Asta. Belum sampai ke sekolah, sang kekasih ternyata baru di jalan sehingga tidak terlambat untuk Flora memberitahu Asta tentang Arutala yang sudah berada di butiknya. Tidak batal bertemu, Asta katanya akan tetap datang ke butik untuk mengajak Flora dan Arutala makan siang di luar, sehingga—melupakan jawaban Arutala untuk pertanyaan Altariga tentang sang papi kandung, perasaan Flora perlahan menenang. "Ya udah aku tunggu kalau gitu ya," ucap Flora. "Kamu hati-hati di jalan, terus kabarin kalau udah sampai biar aku jemput." "Siap, Sayang," ucap Asta. "Coba tanyain ke Aru dari sekarang soal tempat makannya. Dia biasanya suka ngegrill gitu, tapi siang ini siapa tahu berubah." "Oke, aku tanyain habis ini," ucap Flora. "Aku nebak sih dia pasti pengen ngegrill kaya biasa." Asta terkekeh. "Kalau emang iya, enggak apa-apa," ucapnya. "Aku tinggal reservasi di tempat langganan kita biar dia senang. Apa pun untuk Arutala, aku dengan senang hati ngabulin." "Manisnya," puji Flora. "Aru yang diperlakuin dengan sangat baik, aku yang meleleh." "Bisa aja." Flora tersenyum. Setelahnya obrolan dia dengan Asta berakhir. Kembali menunda pekerjaannya, Flora beranjak untuk menghampiri Arutala kemudian bertanya tentang tempat makan yang ingin sang putra jalani. Berbeda dengannya yang sibuk dengan Arutala, jauh di sana Altariga justru masih di dalam mobil—mengemudi dengan cukup tenang. Tidak akan langsung ke kantor, Arutala punya tempat lain untuk dituju yaitu; rumah sakit. Tidak sembarang rumah sakit, yang akan Altariga datangi adalah rumah sakit tempat dokter pribadi sang Opa bekerja, karena memang bukan sekadar berkunjung, dia memiliki tujuan. "Akhirnya sampai," ucap Altariga, setelah hampir satu jam di jalan. Turun dari mobil, dia berjalan menjauh dari parkiran kemudian pergi menuju taman rumah sakit—tempat dia dan Dokter Reno bertemu. "Halo, Mas Alta." "Halo, Dok," sapa Altariga. "Satu jam dari sekarang saya ada meeting. Jadi langsung saja ya." "Boleh." Tidak banyak berbasa-basi, Altariga mengeluarkan dua plastik klip dari saku celananya. Tidak kosong dua plastik klip tersebut memiliki isi yaitu; dua helai rambut berukuran pendek. "Ini," ucap Altariga. "Tolong dites dengan hati-hati ya. Saya enggak mau hasilnya salah." "Rambut yang mau di tes DNAnya itu punya Mas Alta?" tanya Dokter Reno, yang dijawab anggukan oleh Altariga. "Iya." "Satu lagi sampel rambutnya Arutala," ucap Dokter Reno lagi, yang kemudian memandang Altariga. "Siapa memangnya Arutala, Mas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD