***
"99,9% cocok."
Dengan raut wajah yang terlihat begitu serius, sebuah gumaman terlontar dari mulut Altariga, setelah sebuah hasil dari pengetesan yang dilakukan dua hari lalu, selesai dia baca.
Bukan tes sembarangan, yang Altariga lakukan adalah tes DNA diantara dirinya dan Arutala. Tidak bisa membendung rasa penasaran akan status bocah empat tahun lebih tersebut, Altariga berbuat nekad dengan diam-diam mengambil rambut milik Arutala ketika mengantarnya pulang ke butik.
Melontarkan alasan yang cukup cerdik, apa yang Altariga lakukan tidak dianggap serius sehingga sampai hari ini, dia tidak mendapat labrakan apa pun dari Flora karena pengaduan bocah tampan itu.
"Sudah aku duga, Arutala memang anakku," ucap Altariga dengan senyuman tipis terukir. "Wajahnya memang tidak terlalu mirip denganku, tapi ikatan batin ayah dan anak tidak bisa dibohongi."
Hari ini Altariga bahagia. Membangun rumah tangga tanpa kehadiran anak, dia pada akhirnya tahu jika dari perempuan lain, seorang keturunan sudah lahir.
Entah apa tindakan yang akan dia lakukan selanjutnya, Altariga belum berpikir panjang karena setelah tahu Arutala adalah anak kandungnya, yang pertama dia pikirkan adalah Gisella.
Menahan diri untuk tidak menemui dulu Flora, Altariga akan mengurus sang istri karena tentang siapa Arutala, jelas tidak bisa dia sembunyikan dari siapa pun terlebih itu sang istri.
"Halo, Mas, kenapa?"
Masih di ruangan kerjanya, Altariga menghubungi Gisella. Tidak akan langsung to the point, dia berniat untuk memastikan dulu keberadaan sang istri di rumah karena tidak melulu diam, Gisella terkadang menghabiskan waktu di kediaman orang tuanya.
"Kamu di rumah?" tanya Altariga.
"Iya, aku di rumah," jawab Gisella. "Tadinya mau ke rumah Mama, cuman mendadak malas. Jadi diam aja. Kenapa?"
"Enggak, cuman memastikan aja," ucap Altariga. "Hari ini aku pulang lebih awal, karena mau bicarain sesuatu. Kamu jangan ke mana-mana ya."
"Mau bicarain apa?" tanya Gisella, terdengar penasaran. "Apa hal serius?"
"Sangat serius," ucap Altariga. "Jadi kalau bisa sebelum aku pulang, kamu jangan ke mana-mana. Bisa, kan?"
"Bisa, tapi apa yang mau kamu bicarain?" tanya Gisella. "Aku mendadak penasaran."
"Tunggu aja," ucap Altariga. "Setengah jam dari sekarang aku sampai di rumah."
"Oh, ya udah kalau gitu, hati-hati di jalan."
"Oke."
Tidak berlama-lama mengobrol, Altariga menyudahi panggilan dengan Gisella. Tidak terus duduk, dia beranjak dari kursinya kemudian menyambar jas hitam untuk selanjutnya dipakai sebelum pergi.
Pulang sebelum jam kerja berakhir, Altariga berpamitan pada sang asisten sebelum meninggalkan kantor. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaan dia mendadak tidak tenang karena respon Gisella yang belum bisa diprediksi.
"Seharusnya kalau pun Gisell marah, dia enggak akan terlalu murka, karena aku dan Flora tidur sebelum kami menikah," gumam Altariga, di sela kegiatannya mengemudi. "Jadi aku enggak bisa disebut berselingkuh karena status aku dan Gisell belum apa-apa."
Meskipun tidak yakin, Altariga coba mensugesti dirinya dengan hal-hal baik yang berkaitan dengan respon Gisella nanti.
Setengah jam lebih di perjalanan, mobil mewah yang dia kendarai akhirnya sampai di rumah besarnya dengan sang istri. Turun dari mobil tanpa meminta satpam untuk memasukan kendaraannya ke garasi, Altariga bergegas.
Tanpa harus memanggil Gisella, di ruang tengah dia disambut kehadiran sang istri yang sudah duduk manis di salah satu sofa. Coba menenangkan perasaannya yang tidak menentu, dia menyapa,
"Hai, Sell, aku pikir kamu bakalan nunggu di kamar."
"Setelah kamu bilang mau ngomongin sesuatu, aku jadi enggak tenang," jawab Gisella. "Jadi aku di sini aja biar cepat ketemu kamu. Mau bicarain apa?"
"Enggak mau suguhin dulu aku minum?" tanya Altariga, sedikit gugup.
"Tuh," kata Gisella, sambil mengarahkan dagunya pada sebotol air putih di atas meja. "Penting banget kayanya pembahasan kamu, sampai botol minum aja enggak kelihatan."
"Ah iya," ucap Altariga, dengan senyuman samar. "Botolnya kecil. Jadi aku enggak sadar."
"Kecil apanya? Itu 600 ml kok," jawab Gisella.
"Ya kecil, kan?" tanya Altariga, sambil mendudukan dirinya di sofa panjang. "Kalau 1500 ml itu baru gede."
"Ya udah deh terserah kamu," ucap Gisella. "Yang jelas sekarang apa pembahasan yang mau kamu bicarain sama aku? Jangan basa-basi, langsung to the point aja."
"Aku minum dulu," kata Altariga, sambil meraih botol dari atas meja untuk kemudian dia teguk isinya.
Tidak ada obrolan, selama beberapa detik suasana hening menyelimuti sampai akhirnya setelah Altariga menyimpan botol minum di atas meja, Gisella kembali bicara.
"Jadi apa?"
"Kamu sepenasaran itu sampai-sampai harus nodong aku kaya gini?" tanya Altariga, sambil tersenyum. "Sabar Gisella, aku butuh space sebentar."
"Ya salah siapa kasih bocoran?" tanya Gisella. "Kalau dari awal kamu enggak bilang mau bicarain sesuatu, aku enggak akan sepenasaran ini. Iya enggak?"
"Iya, aku salah. Maaf."
"Kamu enggak salah, cuman—"
"Aku punya anak dari perempuan lain," sambar Altariga spontan—membuat Gisella yang semula biasa saja, spontan mengubah ekspresi wajah.
Tidak ada santai, raut perempuan itu seketika berubah serius. Tidak memberi respon, selama beberapa detik dirinya diam sampai akhirnya tidak berselang lama, Gisella berbicara.
"Maksudnya apa kamu ngomong kaya gitu?" tanya perempuan tersebut, coba bersikap tenang meskipun degupan jantungnya tidak menentu. "Kamu selingkuh di belakang aku? Iya?"
"Enggak," sanggah Altariga. "Meskipun pernikahan kita terjadi karena sebuah perjodohan, aku enggak pernah berselingkuh dari kamu dengan siapa pun itu."
"Terus kenapa bisa punya anak sama perempuan lain?" tanya Gisella, dengan suara yang mulai bergetar. "Seorang anak enggak akan lahir gitu aja tanpa hubungan diantara kedua orang tuanya, kan?"
"Iya, memang," ucap Altariga. "Dan enggak aku pungkiri, aku pernah tidur dengan seorang perempuan."
"Altariga ...," panggil Gisella, kali ini dengan suara tercekat. "Apa kamu lupa sama janji kamu ke Opa buat enggak nyakitin aku? Apa kamu enggak ingat gimana seriusnya pesan Opa sebelum dia meninggal?"
"Aku ingat, Gisella, tapi aku pun pengen kamu dengar dulu semua ceritanya karena meskipun punya anak dengan perempuan lain, aku serius enggak selingkuhin kamu."
"Kalau enggak selingkuh, apa namanya, Altariga?" tanya Gisella, berusaha meredam emosi yang memuncak ke ubun-ubun. "Mendua? Iya?"
"Enggak, Gisella! Aku enggak mendua!"
"Ya terus apa?!" seru Gisella—membuat Altariga menghela napas kasar.
Tidak mau sang istri semakin emosi, dengan segera dia menghampiri kemudian bersimpuh di dekat sofa yang Gisella duduki.
Berusaha menenangkan perempuan itu dengan memintanya agar sedikit lebih tenang, Altariga berhasil sehingga setelah Gisella meredam kaget juga marah, dia lekas menceritakan semuanya.
Tidak ada kebohongan, dia menjelaskan apa yang terjadi diantara dirinya dengan Flora secara detail—membuat emosi Gisella perlahan menurun.
"Jadi anak itu sekarang udah gede, dan kamu baru tahu hari ini tentang statusnya?" tanya Gisella, setelah cerita Altariga selesai.
"Iya. Arutala usianya empat tahun lebih, dan aku baru tahu hari ini tentang status dia yang anak kandungku," jawab Altariga. "Aku bawa hasil tes DNAnya, sebentar."
Lekas mengeluarkan kertas dari saku, Altariga memberikannya pada Gisella. Menunggu sang istri membaca hasil dengan perasaan tegang, sebuah respon akhirnya diberikan Gisella.
"DNAnya cocok banget sama kamu," ucap perempuan itu.
"Iya. Aku pake rambutnya buat tes," jawab Altariga. "Fisiknya lebih mirip ke Flora, tapi dari awal aku ketemu sama dia, aku udah punya feeling, makanya aku diam-diam selidiki, dan sekarang—tepat seminggu, semuanya kebongkar."
"Terus sekarang kamu mau gimana?" tanya Gisella. "Apa kamu akan menikahi ibu dari anak itu sebagai bentuk pertanggungjawaban?"
"Aku udah punya istri, masa nikah lagi?" tanya Altariga. "Kalau kamu enggak keberatan, aku pengen tanggung jawab sama anaknya aja dengan memberikan peranku sebagai ayah."
"Terus hak asuhnya tetap di perempuan itu?"
"Iya," jawab Altariga. "Dia ibunya dan—"
"Kalau aku pengen kamu ambil hak asuh anak itu, apa kamu mau?" tanya Gisella—membuat Altariga mengerutkan kening. "Kalau dipikir-pikir, ini mungkin rezeki dari Tuhan karena sampai sekarang kita belum punya anak. Jadi kalau kamu pengen menyayangi anak kamu, aku pengen juga."
"Ambil hak asuh?"
"Iya," ucap Gisella. "Kamu ayah kandungnya. Jadi aku pikir kamu berhak juga atas anak itu."
"Tap—"
"Kenapa?" tanya Gisella. "Enggak mau?"