Humiliated

1245 Words
Disinilah mereka berada, di sebuah aula hotel megah dan tentunya elite. Semua makanan dan minuman disediakan di meja sana. Lamunan musik yang masuk di telinga mereka terdengar dengan sangat merdu. Beberapa sepasang kekasih ikut menikmati acara disana. Tapi tidak dengan gadis itu, nyaris tidak sadar bahwa dirinya hanya menemani Aldrick disini. "Hei! Aldrick! Wah, datang juga kamu." Salah satu pria tersebut melangkah mendekati ke mereka. Sudut mata Hallen melirik ke Aldrick, kemudian menatap pria itu. Ternyata, pria yang kemarin datang di cafenya Aldrick. "Sama Nona cantik juga?" guraunya, dengan mengulas senyuman jailnya disana. Hallen tersenyum kecil. "Iya, jangan sampai kamu macam-macam dengannya," kata Aldrick dengan memasang wajah tidak suka. "Wah, santai bro. Aku sudah ada kekasih, bahkan kita mau nikah," kata Vincent dengan ketawa renyahnya. "Kalau begitu silakan menikmati pestanya ya Al, Hallen. Tidak usah sungkan anggap saja ini pestamu sendiri ya!" Setelah berbicara, Vincent langsung berlalu di hadapan mereka. Aldrick mengkode Hallen untuk mendekat ke kerumunan orang-orang. "Ayo kita kesana." Hallenpun mengikuti Aldrick dari belakang. Dimana di depan panggung sana terdapat sepasang kekasih yang sudah terlihat tampan dan juga cantik. Siapa lagi kalau bukan Vincent dan juga calon istrinya sendiri. Senyuman Hallen melebar. Andaikan saja dirinya bisa sampai ke jenjang pernikahan bersama orang yang dia sayang. Pasti dirinya akan bahagia. Namun, semuanya tidak berjalan lancar. Semua hancur seketika. Wajah gadis itu yang tadinya sumringa, kini menjadi kusut. Sehingga membuat Aldrick merasa heran. Dia mengusap punggung tangan Hallen. "Hallen? Are you okay?" Lamunan gadis itu seketika buyar, kemudian dia mengerjakan matanya pelan. Menoleh kearah pria yang berada di sampingnya. Sekilas senyuman Hallen diperlihatkan. "I'm okay, Om," kata gadis itu diselingi kekehan kecilnya. "Are you serious, you're good?" tanya Aldrick memastikan. "Apa Hallen terlihat tidak baik-baik saja?" tanya gadis itu kembali. Aldrick mendenguskan napasnya. "Ya, kelihatannya seperti itu. Makanya saya tanya sama kamu." "Hallen baik-baik saja." "Kalau tidak nyaman bilang saja padaku, ya?" Gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil, pertanda dirinya mengerti apa yang dikatakan pria itu barusan. Setelah persembahan dari MC dan juga Vincent. Inilah yang telah dinanti-nantikan oleh semua orang. Penukaran cincin wanita dan juga pria. Semua berakhir dengan teriakan dan juga tepuk tangan tamu yang berada disana, terutama Aldrick dan Hallen. Mereka turut bahagia melihat acara mereka berjalan dengan lancar. "Mereka sangat serasi," gumam Hallen, matanya berkaca-kaca setelah melihat mereka berdua bertukar cincin. Mendengar perkataan Hallen, pria langsung angkat bicara. "Kamu ingin seperti itu?" Gadis itu menoleh ke samping, menatap pria itu yang lebih tinggi darinya. "Om dengar?" Pria itu ikut menoleh ke samping, lalu mengulas senyumannya di sana. "Tentu, kamu kita telinga saya tidak normal?" Kening pria itu mengkerut. Pria itu tertawa kecil. "Nanti kita akan seperti mereka, tidak usah khawatir," bisiknya disela-sela tertawanya. "Ya--ya--" gadis itu mengalihkan pandangannya. Pipinya memerah, dia terlihat salah tingkah. Tangan Hallen dimainkan dibawah untuk menutupi rasa malunya. Pria yang di sampingnya hanya tertawa terus-menerus melihat tingkah lucu dari gadis ini. Padahal Hallen hanya salah tingkah, namun dirinya tidak bisa menahan senyumannya itu. Setelah acara selesai, mereka masih stay di tempat tersebut untuk menyicipi makanan yang berada disana. "Kamu suka cupcake?" Kening pria itu mengkerut menatap gadis itu yang sedang memakan cupcake dengan santainya. Hallen menoleh, sembari mengunyah cupcake yang dimakan. Kemudian mengangguk kecil. "Iya Om, rasanya enak. Rotinya lembut dan juga creamnya manis." "Lebih manisan juga kamu," gurau pria itu sembari terkekeh kecil. Hal itu membuat pipi gadis itu memerah dan menatap pria tersebut. Dia mengambil satu piring dan mengambil daging yang sudah disiapkan disana. "Tidak mau daging?" tawar pria itu sembari memakan dagingnya yang sudah di potong. "Engh--" Hallen membuyarkan lamunannya. Dia menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak Om, makan saja," kata gadis itu dengan memasang cengiran khasnya. "Pipimu merah lagi?" "Apaansih, merah dari mana coba?" Hallen memegang pipinya, sesekali melirik ke pria itu. Sialnya, waktu dia mengambil ponselnya untuk berkaca. Ternyata memang benar. "Tidak usah khawatir, kamu masih tetap cantik kok," tambahnya. Damn! Benar-benar Aldrick membuat gadis itu melayang sampai ke angkasa. Jantungnya kini berdegup dengan kencang. Padahal dirinya tidak bersama kekasihnya. Tapi, kenapa dirinya terus salah tingkah seperti ini. "Astaga, Hallen. Pipimu itu kondisikan. Malu banget dilihat Om Aldrick," batinnya sembari mengumpat dalam hati. Dilain sisi ada seorang wanita yang melihat Aldrick dan juga Hallen. Tentunya membuat hatinya terasa panas. Tidak mau berpikir panjang akhirnya dia mendekati mereka untuk berbicara. "Aldrick? Hei!" Sapanya dengan senyuman hangatnya. Kedua orang tersebut menoleh ke arah wanita itu. Keningnya mengkerut, apalagi Aldrick yang merasa tidak suka akan kedatangan wanita di hadapannya ini. Siapa lagi kalau bukan mantan Aldrick, Tara. "Kamu diundang juga?" tanya Aldrick. Sudut matanya melihat kesana kemari. "Om, kamu kenal?" Aldrick menatap Hallen sekilas, kemudian menatap Tara kembali. Tara tersenyum pada Aldrick dan juga Hallen. "Ya jelas, kita sudah kenal lama. Yakan Aldrick?" Pria itu hanya diam, tidak lama kemudian dia meringis kecil. Jujur saja dirinya tidak nyaman disini. "Tara, bisa kita bicara sebentar?" "Tentu!" "Hallen, kamu disini dulu ya," kata Aldrick sebelum menarik tangan Tara agak jauh dari tempat sana dan melepaskan tangannya. "Tara! Kamu bisa tidak sih nggak ganggu aku sehari ini saja!" kata pria itu dengan tegas. "Aduh! Aldrick? Kamu kok kasar sih sama aku?!" Mata pria itu terpejam, memalingkan wajahnya sekilas untuk menahan rasa amarahnya. "Dengar ya Tara, jangan bikin drama lagi. Seolah-olah kamu tersakiti disini, okey!" "Tapi, Aldrick. Aku kangen sama kamu," kata wanita itu sembari memegang lengan Aldrick. Merasa risih, Aldrick langsung melepaskan tangan wanita itu dengan cepat. Dia menatap tajam wanita tersebut. "Jangan sentuh-sentuh aku lagi, you know!" ucapnya dengan nada tegas kemudian dia meninggalkan wanita itu di tempat sana. Sempat tidak percaya, Tara langsung mencebikkan bibirnya kesal. "Awas saja ya kamu Aldrick, kamu sudah mempermalukan aku disini. And-- gadis itu? Apa dia mempunyai hubungan dengan Aldrick?" Berbeda dengan Hallen, gadis itu tengah meminum jus yang sudah disediakan disana dengan pelan. Dia terus menatap kearah Aldrick pergi. "Apa tante tadi calon istri om? Tapi, kenapa wajah om kaget tadi? Kenapa juga Hallen dibawa kesini?" batinnya bertanya-tanya. "Hai cantik, sendiri saja?" goda pria muda berjas silver yang mendekati ke arah Hallen. Hallen sempat diam dan tersenyum kikuk pada pria tersebut. Namun, pria itu hampir saja menyentuhnya. Untungnya dia langsung menepis tangannya. "Ma--maaf Om, saya harus balik," ringisnya. "Kan kita belum kenalan cantik, bagaimana kalau kita kenalan dulu heum? Biar lebih dekat kitanya," kata pria itu dengan nada jailnya. "Please, Om! Jangan macam-macam!" Tidak lama kemudian Aldrick langsung menghampiri Hallen dan mendorong pria itu langsung. "Jangan membuat dia ketakutan," kata Aldrick, kemudian dia menarik tangan gadis itu. Sontak membuat gadis tersebut meletakkan gelasnya dan mengikuti pria itu. Hallen sempat menghela napas lega, karena ada pria yang cepat membantunya. "Untungnya Om Aldrick datang dengan cepat," batinnya sembari menatap ke belakang sesekali. "Om, mau kemana?" "Pulang, mau kemana lagi?" Hallen terdiam sejenak, dia menatap ke belakang. Bukannya tadi Aldrick dengan wanita tadi. Kenapa malah menarik dirinya? "Sebentar Om, tapi tante tadi?" "Saya tidak ada urusan sama dia," ucap pria itu dengan nada dingin. Okey, kali ini Hallen tidak bisa angkat bicara lagi. Seperti yang dilihat dia sekarang, kalau pria itu sangat marah. Entah apa yang membuatnya marah, dan itu membuat gadis itu takut. Tidak lama, mereka sampai di parkiran. Aldrick membukakan pintu mobil untuk Hallen. "Ayo masuk," suruhnya dengan tatapan seperti tadi. Tanpa menjawab, Hallen mengikuti kata Aldrick. Aldrick menghela napasnya pelan, kemudian masuk ke dalam jok pengemudinya. "Jangan lupa pakai seatbelt," kata Aldrick tanpa menatap gadis itu. Gadis itu mengangguk pelan dan mengikuti arahan Aldrick. "Kenapa Om jadi seperti ini ya? Bisa nggak Hallen kabur saja disini?" batinnya sembari menggigit bibirnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD