Dia Kekasihku

1179 Words
Disetiap perjalanan tidak ada suara mereka di dalam sana, terkecuali bunyi mobil yang melaju yang terdengar telinga disana. Sudut mata Aldrick melirik kearah Hallen yang sedang memainkan ponselnya sendiri. “Siapa?” Gadis itu menoleh ke samping, lalu menyembunyikan ponselnya ke dalam tas selempangnya. “Temanku.” Aldrick memungutkan kepalanya mengerti. “Aku kira mantanmu yang pernah kamu ceritakan kemarin,” kekehnya. “Dia sudah lost kontak sama aku,” jawabnya dengan memasang wajah polos, kemudian menoleh ke samping. “Tadi siapa Om?” tanya gadis itu tiba-tiba. Spontan membuat pria di sampingnya itu menoleh ke samping juga. Kening Aldrick mengkerut mendengarkan ucapan Hallen barusan. “Yang mana?” “Tadi yang digandeng Om.” Dia menjawabnya dan menatap ke depan. “Tara? Wanita yang menyapaku tadi?” Aldrick menghela napasnya pelan, kemudian melanjutkan perkataannya. “Dia mantan kekasihku.” “Om punya mantan juga?” “Menurutmu?” ringisnya. “Ya kan cuma memastikan saja.” “Oh ya, tadi kamu tidak diapa-apakan sama pria tadi kan?” Jujurly Aldrick masih tidak enak dengan Hallen karena dia lalai menjaga gadis itu, padahal dirinyalah yang membawa Hallen hadir ke dalam adara temannya itu. Hallen menggelengkan kepalanya. “Saya tidak apa-apa kok, cuma kaget aja tadi and—“ ucapan Hallen di gantungkan dan memainkan tangannya di bawah sana. “Takut saja kalau Om lagi marah tadi,” lanjutnya sembari meringis kecil. Kening Aldrick sempat mengkerut, tidak lama dia tertawa kecil ketika melihat dari spion bahwa gadis itu menunduk dengan memainkan jarinya di sana, kemudian menggelengkan kepalanya. “I’m sorry, saya tidak bermaksud menakutimu tadi. Hanya saja saya sangat kesal, makanya saya bersikap seperti itu.” “Ya sama saja aku takut sama kamu,” gerutu gadis itu dengan wajah datarnya. “Apa Om seperti itu terus, kalau lagi marah?” Pria itu mengedikkan bahunya. “Tergantung, kalau masalah seperti tadi. Kemungkinan banyak marahnya.” "Apalagi tadi kamu digodain sama orang juga," lanjutnya. Hallen hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Dia menatap ke depan kembali. Menatap lampu-lampu yang bersinar disana dan juga jalanan yang terang. "Kamu mau mampir dulu?" tawar Aldrick sembari fokus menyetir disana. "Tidak Om, Hallen sudah kenyang tadi," kata Hallen sembari mengusap perutnya yang nampak membengkak karena memakan beberapa makanan di acara tadi. Pria itu sempat terkekeh. "Okey, aku antarkan kamu pulang sekarang," ucapnya sebelum di sana kembali hening. Suasana di malam hari itu terasa sangat dingin sehingga menyengat ke kulit Hallen. Dia memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya sendiri. DIa lupa kalau dirinya memakai dres untuk ke acara tadi, pantas saja dirinya merasakan dinginnya yang luar biasa. Aldrick terdiam sejenak melihat gadis itu dari spion, tidak lama dia menghentikan mobilnya di komplek rumahnya. “Kamu kedinginan?” Gadis itu menoleh ke samping, dia menggelengkan kepalanya pelan. Pria itu sempat tertawa kecil, kemudian dia membuka jasnya dan meletakkan di tubuh Halen. “Pakai dulu, aku akan mengantarkanmu sampai di depan rumah,” kata ALdrick dengan nada lembut. Hallen sempat terdiam, hatinya merasa tenang dan hangat disana karena sudah diperlakukan dengan seorang pria seperti sekarang. Dia menatap Aldrik dari samping, sudut bibir gadis itu mengulas senyuman kecil disana. Aldrick merasa kalau dirinya tengah ditatap, langsung mengalihkan pandangan ke arah gadis itu. “Turun sana,” suruhnya. Gadis itu sontak menyadarkan lamunannya, kemudian dia membuka pintunya dan turun dari mobil Aldrick. “Saya bisa kesana sendiri, Om. Terima Kasih sudah antar Hallen sampai disini.” Bukannya mendengarkan ucapan Hallen, justru pria itu turun dari mobilnya dan menutup pintu mobil rapat. Kemudian dia melangkah ke arah gadis itu dan menggenggam tangan Hallen lembut. “Aku mau mastiin kalau kamu aman sampai ke dalam,” kata pria itu dengan tersenyum lembut, lalu dia menarik tangan Hallen ke dalam gang rumahnya. Hallen sempat terdiam, pipinya mulai memanas. Dia terus menatap tangan yang digenggam oleh pria yang berada di sampingnya, kemudian menatap pria itu dari samping. “Tuhan, kalau memang dia jodohku, dekatkan dia sama aku. Aku tidak peduli umur dia lebih tua dari aku. Aku merasa nyaman sama dia,” batinnya. “Hallen?” Ketika suara berat itu terdengar di telinga Hallen, sontak membuat gadis itu menoleh ke arah sumber suara itu. Dia mendapati pria yang dikenalnya, Gabriel mantan kekasihnya menunggu di depan rumahnya. Hallen mengerjapkan matanya, dia memicingkan matanya untuk memastikan bahwa yang berada di hadapannya adalah Gabriel. Sempat membeku, gadis itu berbicara. “Kenapa kamu disini?” Gabriel terdiam ketika mendapati pria yang berada bersama gadis itu, dia langsung mendekat ke arah mereka. “Aku menunggumu,” jawab pria tersebut tanpa memperdulikan pria di samping Hallen. “Buat apa?” tanyanya dengan memasang wajah datarnya. Sempat terdiam, Gabriel langsung menarik tangan Hallen. Tapi ditepis oleh Aldrick seketika. Sehingga membuat mata pria itu menatapnya tajam. “Jangan sentuh dia.” Kening Gabriel mengkerut. “Kamu siapa? Kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan aku sama dia,” kata pria itu dengan nada tegas. “Dia kekasihku, mau apa?” jawab Aldrick dengan spontan, sudut bibirnya tersenyum miris. “Aku sudah tahu siapa kamu,” lanjutnya. Mata pria muda itu membulat seketika. Sekilas dia melirik ke arah Hallen, pasti mantan kekasihnya itu bilang sama pria yang bersamanya ini. “Hallen, apa itu benar? Dia kekasih kamu?” tanya Gabriel dengan nada serius. Hallen sempat terdiam, mata gadis itu tidak dibohongi. Jujur saja Hallen masih mencintai Gabriel, tapi dia juga benci dengan mantannya itu. Kepala gadis tersebut ditundukkan, sebelum di dongakkan kembali. “Iya,” jawab Hallen dengan percaya diri, diselingi dengan senyuman lebarnya. “Dia kekasihku, bahkan aku sama dia mau tunangan,” lanjutnya. Gabriel terdiam, dia menatap mereka bergantian. Matanya memerah, tangan gadis itu diraih. “Kamu pasti bohong kan! Hallen tidak usah bohongin aku. Aku yakin kamu masih ada rasa sama aku kan!” “Kamu salah Gabriel! Aku sudah nggak ada rasa sama kamu! Kamu mengerti!” tegas Hallen kemudian mendorong Gabriel untuk tidak dekat-dekat dengannya. “Minggir!” Hallen melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya diikuti dengan Aldrick. Tapi Aldrick berhenti di samping pria muda itu sambil berucap. “Mungkin itu karmamu, siapa suruh menyia-nyiakan gadis baik seperti Hallen?” kata pria itu diselingi ketawa remehnya, kemudian masuk ke dalam rumah Hallen. Sudut mata Gabriel melirik kearah Aldrick, rahangnya kian mengeras, tangannya mengepal. Dadanya terasa sesak disana. “Brengs*k,” gumamnya, dia membanting tangannya kesal. Tidak lama Aldrick keluar dari rumah sederhana Hallen dan ternyata Gabriel masih di depan sana. Tanpa berpikir dia langsung mendorong tubuh Gabriel dengan wajah sangarnya. “Kenapa masih disini? Hah?” Gabriel menahan keseimbangan tubuhnya setelah didorong oleh Aldrick. Kemudian dia tersenyum miris. “Bukan urusanmu.” “Keras kepala, pantas saja dia tidak mau kembali sama kamu,” ucap Aldrick dengan ketawa mirisnya. Mantan Halllen itu hanya mendecih pelan, sudut matanya melirik ke arah rumah Hallen. Baru saja dirinya ingin melangkah, namun Aldrick menarik kerah bajunya. “Pergi dari sini, atau tidak nyawa kamu akan melayang?” Sontak membuat mata Gabriel membulat, dia melirik tangan pria itu kemudian menepisnya. “It’s okay! Aku pergi!” katanya sebelum dirinya pergi dari tempat sana. “Aku akan kembali Hallen dan merebutmu ke pelukanku lagi,” batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD