Dating?

1164 Words
Hari ini Aldrick berpakaian rapi seperti biasanya. Dengan memakai jas silver dan juga setelan celananya. Tidak lupa dengan jam tangan yang setiap hari digunakan untuk melihat jam tangan supaya tidak boros waktu kalau diluar. Dia melangkahkan kaki keluar dari apartemennya, sesekali mengecek ponsel miliknya apa ada pesan masuk dari Hallen. Ternyata tidak. Dia kira setelah dirinya pulang, Hallen memberi kabar sama dia. Tanpa berpikir panjang pria itu masuk ke dalam lift dan memencet tombol memanggil untuk menelpon Hallen. Dan tidak lama kemudian akhirnya panggilan itu diterima disana. “Kenapa tidak mengabariku,” kata pria itu dengan to the point. ‘Lah? Kenapa harus mengabari kamu?’ kata seorang gadis yang jauh dari sana dengan suara paraunya. Kening Aldrick mengekrut, dia sempat meringis. Tapi yang dikatakan oleh gadis itu ternyata benar adanya. Dia bukan siapa-siapanya. “Kamu masih ingat? Kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih?” ‘H-hah? Dari kapan?” suara nyaring itu nyaris membuat pria itu melepaskan ponselnya dari telinga. “Bisa kecilkan volume suaramu?” ucap pria itu dengan suara datarnya. Dia melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju ke parkiran untuk mengambil mobil yang terparkir di sana. ‘Ya gimana Om, kan Om ngadi-ngadi ngomongnya,’ kata gadis itu dengan nada polos. “Kamu lupa kalau aku sudah bicara ddi depan ayahmu dan kamu juga bicara di depan mantanmu?” Aldrick terhenti ketika hendak membuka pintu mobilnya. ‘Yakan di depan mereka Om, bukan berarti kita sudah pacaran.’ Pria itu tersenyum miring ketika mendengar pernyataan Hallen barusan. Bukannya menyelak karena jawaban gadis itu, justru dia sangat menyukainya. “Yasudah, kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita pacaran?” ujar Aldrick dengan nada santai diselingi dengan kekehan kecilnya. ‘Om gila?” Tut! Sambungan dari sana langsung ditutup. Pria itu menatap layar ponselnya, sudut bibirnya tertarik dengan lemut disana. “Sangat lucu,” gumamnya, kemudian dia langsung memaski mobilnya dan segera pergi dari tempat tersebut menuju ke cafe miliknya. *** Sebuah mobil mewah milik Aldrick terparkir rapi di parkiran cafenya, kemudian dia menuruni kendaraan tersebut, tidak disangka banyak orang yang menatapnya penuh kagum. Tanpa memperdulikannya dirinya langsung masuk ke dalam cafenya. “Bos, ada makanan untukmu,” kata salah satu karyawan disana sambil menyodorkan makanan untuk Aldrick. Sehingga membuat langkah pria itu terhenti melihat paperag yang diberikan untuknya dan menerimanya. “Dari siapa?” tanya Aldrick dengan kening mengkerut menatap karyawan tersebut. “Gadis kemarin yang sama Bos, cantik,” kata karyawan itu sebelum pergi dari hadapan pria tersebut. Sudut bibir pria itu reflek mengembang, dia yakin kalau yang mengirim makanan adalah Hallen. Segera dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pribadinya. Setelah duduk di kursinya, Aldrick langsung membuka paperbagnya dan ternyata ada kertas yang bertulisan ‘Terimakasih Om.’. Tidak salah lagi kalau Hallenlah yang mengirimi untuknya. Dia langsung membuka box makanannya dan memakannya tanpa ragu. Sebelum melanjutkan makan, pria itu mengirim pap ke nomor Hallen. “Terimakasih Hallen, masakanmu sangat enak,” gumamnya sambil mengetik pesan, lalu mengirimkan ke Hallen dan meletakkan ponselnya kembali. Sedangkan di sisi lain tepatnya di dalam restoran, seorang gadis yang bernama Hallen sedang melihat ponselnya tanpa henti. Tanpa disadari kalau sikap Hallen membuat Emily merasa heran, akhirnya dia mengintip apa yang dilihat oleh gadis terrsebut. “Pantas saja, ternyata chat an sama om-om kemarin,” kata Emily sembari memungutkan kepalanya. Merasa ada yang melihat, Hallen langsung menoleh ke belakang. Dia menatap temannya itu dengan tatapan kesal. “Emily! Kenapa lihat-lihat hah!” Emily menghindar dan menunjukkan dua jari sembari mejajarkan gigi putihnya. “Penasaran, lagian dari tadi fokus terus. Gimana nggak penasaran dengan ponselmu itu. Kalau boleh tau, om-om itu udah jadi pacar kamu ya? Wah! Bagus dong! Berarti kamu sudah tidak sama cowok yang nggak tau diri itu,” kata Emily dengan membanggakan temannya itu. Hallen membuatkan matanya, melihat karyawan lainnya yang sedang menatap ke mereka. Dia langsung menutup mulut Emily tanpa rasa ragu. "Bisa kecilkan suara kamu itu," gerutunya. Emily langsung diam, langsung menyengir kuda. "Gimana ceritanya? Aku mau dengar," katanya dengan menjajarkan tubuhnya dengan Hallen. Gadis yang berada di depannya itu hanya mendesah pelan melihat kelakukan temannya. "Oke, tapi nanti kita kerja dulu oke." "Jangan lupa traktir makan kita, ya," bisiknya, kemudian keluar dari tempat itu. Hallen hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. *** Sore hari itu, Hallen keluar dari cafenya untuk membuang sampah di tempatnya. Tak disangka setelah membuang sampah, dia melihat anak kucing yang berjalan pinjang. Tentunya membuat dirinya merasa kasihan, akhirnya gadis itu mendekatinya dan mengambilkan makanan untuk kucing tersebut. "Makan dulu ya, kamu pasti kelaparan bukan," kata Hallen dengan menatap kucing tersebut makan. "Hallen, kamu sedang apa?" Gadis itu menoleh ke sumber suara, dia mengerutkan keningnya. "Om? Kenapa kesini?" "Pengen ketemu kamu saja, apa tidak boleh?" Hallen mengerjapkan matanya kikuk. "B--boleh kok." Pria itu tersenyum kecil, kemudian ikut berjongkok menjajarkan gadis itu. "Kucing siapa?" "Tidak tau, kakinya luka. Jadi saya ambilkan makanan, habis ini saya obati." "Kita ke dokter hewan saja, saya antarkan." Hallen mengambil kucingnya itu untuk mengecek luka yang ada di kakinya. "Biar Hallen obati saja, nanti bayar lagi kalau kesana." "Saya bayarin, kamu tenang aja Hallen. Kasihan juga dia kesakitan, lihat matanya." Hallen mengerucutkan bibirnya menatap nanar sang kucing itu, kemudian mengangguk kecil. "Saya izin keluar dulu, tunggu disini," kata dia sambil memberikan kucing itu ke Aldrick. Tentunya pria itu menerima kucing tersebut. Tidak disangka kalau gadis itu juga menyukai kucing. Suatu kebetulan bukan? "Kamu sangat beruntung bertemu dengan gadis itu, kucing. Kalau ada orang yang melihatmu, pasti mereka sangat jijik padamu," ucap seorang pria itu dengan kekehan kecilnya. Tapi kucing tersebut hanya membalas dengan suara lucunya itu. Tidak lama kemudian, Hallen kembali dengan memakai tas Selempangnya. "Ayo Om, kasihan itu kucingnya." Aldrick mendongakkan kepalanya, kemudian dia beranjak dan melangkah ke arah mobil tersebut. Banyak bisikan yang terlontar di sana. Sehingga membuat telinga mereka agak risih. "Om, maaf ya mulut orang sana. Nanti nggak usah kesini lagi, takut salah paham," kata gadis itu dengan memainkan tangannya. Aldrick yang baru masuk pun sempat terheran-heran, dia memberikan kucingnya itu ke Hallen. "Bukannya kita sudah pacaran?" "Kenapa tanya itu lagi sih Om? Gak ada topik lain apa?" gerutu gadis itu, sembari mengusap kucingnya yang berada di pangkuan dia. Tentunya membuat pria itu tertawa kecil saat menatap gadis itu dari spion mobilnya. "Kan sudah aku bilang, kita sudah resmi pacaran sejak obrolan yang di telepon tadi," katanya sembari tersenyum kecil. Hallen mendesah kesal, kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau harus bilang apa sama Om. Tapi menurutku itu sangat memaksa anak remaja seperti aku." Kekehan itu muncul di mulut pria tersebut. "Daripada mantan kamu tau kalau kamu itu berbohong pada dia kan?" kata Aldrick dengan wajah santainya. Itu membuat Hallen membungkam langsung dan menahan rasa kesalnya. Selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai di toko hewan dan mereka keluar dari mobil tersebut untuk masuk ke dalam toko itu. "Berikan kucingnya ke mbaknya, biar diurus sendiri," suruh pria itu dengan lembut kepada gadis itu. Gadis berpakaian layaknya anak kecil itu memberikan kucing itu ke orang tersebut. "Kasih penanganan yang baik ya Mbak, biar kucingnya bisa sehat lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD