Feeling Uneasy

1120 Words
Aldrick mengambil kucing yang sudah diobati oleh karyawan tersebut, kemudian mengusapnya dengan lembut. Tidak lama, seorang gadis yang bersamanya tadi mendekati pria itu. "Sudah baikan? Besok-besok jangan sakit lagi," kata Hallen sembari mengusap lembut punggung kucing itu. Pria itu menatap ke samping, begitu bahagianya Hallen ketika kucing yang ditemukan tadi sudah agak membaik. "Mau kamu namai? Kamu bisa membawanya pulang nanti." Hallen menoleh ke Aldrick. "Nanti orangtuanya nyariin lagi. Emm boleh, sebentar nama yang bagus buat dia apa ya ...." Dia mengetuk dagunya, seolah dirinya berpikir apa nama yang cocok buat kucing ini. Pria itu tertawa kecil. "Tidak mungkin, dia sepertinya sendirian. Ah ya kucing ini berjenis kelamin perempuan, bagaimana jika dinamai Allen?" "Allen?" kening Hallen mengekrut. Aldrick menganggukkan kepalanya. "Ya, itu nama dari Aldrick sama Hallen. Mirip seperti namamu, nggak papa kan?" Hallen tidak bergeming, tapi tidak salahnya dia menamai dengan namanya sendiri dan juga pria ini. "Nggak papa kok Om, bagus kok namanya," kata gadis itu sembari tertawa kecil. "Yasudah, kita balik yuk. Takutnya nanti kamu telat kerja lagi." Gadis itu masih fokus dengan kucingnya itu, kemudian mengikuti pria tersebut yang melangkahkan kakinya keluar dari toko. "Habis ini Hallen buatin makanan buat Om ya, hitung-hitung bayarin bensin yang dikeluarin sekarang dan juga bayaran ngobatin dari Allen." Pria itu tersenyum kecil dan masuk ke dalam mobilnya. "Saya mau makan sama masakan kamu, kebetulan saya lapar lagi," kata Aldrick diselahi dengan kekehan kecilnya. Hallen duduk di sebelah pria itu, dia tersenyum kecil. Tak lama, akhirnya mobil dijalankan dan kembali menuju ke restoran tempat Hallen kerja. Sesampai di tempat mereka langsung masuk ke dalam. Tapi tidak dengan Aldrick, dia langsung terhenti ketika melihat seseorang pria yang menghampiri Hallen dan mencekal tangan gadis tersebut. Tentunya membuat kening Aldrick mengkerut. Begitupun dengan Hallen, wajahnya sangat terkejut ketika mihat mantan kekasihnya kembali lagi, bahkan beraninya Gabriel menginjak restoran ini. Pria itu langsung menepis tangan pria muda tersebut dengan kasar. "Kamu kenapa kesini lagi? Sudah saya peringatkan kalau kamu tidak usah dekat-dekat lagi dengan Hallen, mengerti!" tegasnya. Gabriel menoleh ke Aldrick, senyuman mirisnya dilukis di bibirnya. "Aku tidak peduli, aku masih berhak berbicara sama Hallen." "Lebih baik kamu pergi Gabriel, aku nggak akan denger apa yang kamu katakan," kata gadis itu dengan wajah serius. Melihat keadaan yang berada disana, banyak pelanggan yang ikut merekam dan menyaksikan kejadian itu. Bahkan karyawan yang ikut menghentikan kegiatannya hanya untuk melihat mereka. "Kenapa kamu tidak bisa mendengarkan apa kataku sih Gabriel? Aku sudah muak sama kamu." "Tapi Hallen, kasih aku kesempatan. Bukan untuk menjadi pacarmu, tapi yang lain. Aku bisa menjadi temanmu," kata Gabriel denga wajah memohon. Hallen memalingkan wajahnya muak. "Jadi, apa kamu mau? Aku akan memperbaiki semuanya." Gadis itu menghembuskan napasnya pelan, menatap pria yang berada di hadapannya itu. "Kasih aku waktu, aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya." Senyuman Gabriel melebar, lalu mengangguk kecil. "Aku akan menunggumu, terimakasih," kata pria itu dengan wajah senangnya sesekali memegang tangan gadis itu, kemudian berlalu pergi dari hadapannya.. Dia menghembuskan napasnya pelan, menatap punggung Gabriel yang sudah menghilang dari pandangannya. "Apa kamu benar-benar mau memberi waktu buat dia?" Gadis itu menoleh ke Aldrick, kemudian dia mengangguk kecil. "Saya cuma kasih waktu dia buat berteman sama saya Om, tidak lebih. Lagipula, saya juga pernah punya salah sama orang, dan dia memaafkan kesalahan saya. Jadi, apa salahnya kalau saya memberikan waktu buat Gabriel?" Aldrick memungutkan kepalanya pelan, kemudian menatap ke sekitar. Sepertinya mereka sedang melihat kearah sini. "Kamu masuk saja, kalau butuh bantuan nanti kabari saya," kata Aldrick sembari tersenyum manis di depan Hallen. Hallen langsung mengangguk kecil. "Mau balik? Kalau begitu hati-hati ya Om." Pria itu menganggukkan kepalanya, sekilas dia menatap ke belakang Hallen. Nampak beberapa karyawan yang sedang mengintip dan berbisik di dalam sana, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu. "Teman-teman Hallen ternyata aneh semua," gumamnya kemudian melanjukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Aldrick terus fokus ke depan, tanpa disadari dia memikirkan apa yang dibicarakan oleh Hallen. Gadis itu memberi waktu untuk mantannya itu. Meskipun begitu, bisa saja mantan Hallen akan kembali lagi. Tangan pria itu mengucap keningnya yang sakit, dia meringis pelan saat nyeri yang ada di kepalanya menyerang terus. "Argh--shh--" matanya kini terlihat buram, dia tidak bisa mengendalikan mobilnya. Beberapa klakson terdengar ditelinganya, tanpa basa-basi pria itu langsung memarkirkan mobilnya di tepi jalanan. "Astaga, kepalaku," ringis pria itu, sambil menundukkan kepalanya. Tangannya meremas stir mobilnya. *** Prang! Gadis itu sontak kaget ketika dirinya memecahkan satu buah gelas, sekilas dia melihat kucing yang sedang menatapnya. Tanpa berpikir panjang dirinya berjongkok untuk memunguti pecahan kacanya. Tiba-tiba saja, pecahan itu mengenai tangannya sehingga membuat Hallen meringis pelan. "A--ada apa ini?" gumamnya sambil menatap jarinya yang berdarah. Perasaannya berkecamuk jadi satu. Pikiran gadis itu mendadak ke Aldrick. "Apa Om baik-baik saja?" Dilain sisi, Aldrick merasa sangat bingung karena dirinya sudah berada di kamar yang sangat mewah. Dia melihat sisi kanan dan kiri, mencari keberadaan seseorang disana. Seingatnya, dirinya sedang berada di dalam mobil dengan keadaan pusing. "Aku dimana?" gumamnya. "Sudah sadar?" tanya pria tua itu dengan membawakan secangkir teh panas yang diletakkan dimeja. Tentunya membuat pria itu menoleh ke sumber suara. Keningnya mengkerut, menatap pria tua itu dengan lekat. Apa pria ini? Aldrick memincingkan matanya. Dia ingat betul kalau pria itu adalah pria yang pernah dilihat saat di rumah Hallen. Tiba-tiba saja kepala pria itu terasa berat, sehingga membuat dia memegang kepalanya dan meringis pelan. "Tidak usah memikirkan apa-apa dulu. Minumlah, saya membuatkanmu teh hangat supaya badanmu hangat." Sudut mata Aldrick melirik kearah pria tua tersebut, sebuah desisan keluar dari mulutnya. "Seharusnya kau berterimakasih karena saya sudah membantumu tadi." Sekilas pria itu menghembuskan napasnya pelan. Bagaimana bisa dirinya ditolong oleh pria tua ini? "Kau dekat dengan putriku bukan?" Pertanyaan sangat konyol, kenapa banyak sekali pertanyaan yang melintas dimulut pria tua itu. "Tau tidak? Dia putriku satu-satunya. Kalau kau macam-macam sama dia, aku tidak bisa tinggal diam." Senyuman devil pria itu terangkat dengan mudahnya. "Dari kapan kau peduli dengan putrimu? Bahkan kau sangat kasar dengan dia," kata Aldrick dengan santai, dia bangkit dari tidurnya. "Bukan saya yang membuat dia luka, tapi dia sendiri." "Sama saja," desis pria itu. Mata pria tua itu menatap tajam ke Aldrick. "Jangan salahkan saya jika saya memberitahu kalau kaulah yang membunuh ibunya." Sudut mata Aldrick melirik kearahnya. "Kau mengancamku? Kenapa kau tidak memberitahu putrimu sejak awal? Kalau aku sudah meminta maaf padamu?" Hening, tangan pria itu mengepal. Tidak terima atas pembicaraan dari Aldrick. "Jangan mendekati putriku, atau tidak kau akan menyesal nantinya." "Itu hakku, lagipula itu tidak membuat menjadi miskin bukan?" kata pria itu. Dia beranjak dari tempatnya, lalu melangkahkan kakinya keluar. Sebelum keluar, dia menghentikan langkahnya di ambang pintu. "Terimakasih sudha membantuku, lain kali kau tidak perlu membantuku," ucap Aldrick sebelum pergi dari tempat tersebut. "Br*gsek! Pria itu harus disingkirkan, sebelum menguras otak putriku," gumam pria tua tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD