Tidak Ada Kabar

1171 Words
Hallen terus menatap ponselnya, berharap ada pesan dari Aldrick di sana. Gadis itu menghela napasnya pelan, kemudian duduk di kursi dekat kasir dan mengusap keningnya supaya tidak pusing. "Kenapa aku bingung sendiri? Kan itu hak dia balas pesan aku atau nggak," desisnya. Gadis itu melihat kesana-kemari orang-orang berdatangan. Bukannya senang. Malah wajahnya semakin murung. "Kenapa lagi Hallen?" Tiba-tiba saja Emily langsung duduk di sebelah Hallen. Shingga membuat Hallen menoleh ke sumber suara dan meletakkan ponselnya di kantong celananya. "Nggak ada, cuma kesal aja." "Kesal karena Om kemarin nggak datang?" tanya Emily dengan wajah tak berdosanya. "Gak usah sok tau ya kamu, Em," desis gadis itu, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam dapur. Hallen terus melihat ponselnya, tanpa berpikir panjang dirinya langsung memencet nomor Aldrick dan menelponnya. Berkali-kali dia menelpon Aldrick, namun tidak ada jawaban dari sana. Sungguh, dirinya sangat khawatir karena ini tidak kebiasaan dari Aldrick. 'Hallo?' "Om?! Dari mana aja!" Terdengar kekehan kecil di sana, itu membuat Halle terdiam dan merasa kesal. "Kenapa tertawa?" 'Kamu mengkhawatirkanku?' goda pria itu dari sana. "Nggak, cuma mau dengar kondisi Om aja. Dari tadi Om nggak online, jadi kepikiran aja." 'Saya tidak apa-apa, Hallen.' Hallen terdiam sejenak. "Lalu, sekarang Om dimana?" tanya gadis itu dengan wajah datarnya. 'Saya dijalan, begini saja. Saya sekarang di halte, kita bertemu disana. Buat memastikan kalau Saya baik-baik saja,' kata pria itu. Gadis tersebut menghela napasnya pelan. "Oke, tunggu di halte dekat restoran. Saya ke sana sekarang juga," kata Hallen sebelum menutup panggilannya, kemudian mengambil tas selempangnya dan pergi dari tempat tersebut. "Hallen! Mau kemana lagi!" teriak Emily dengan keras. Tapi Hallen tidak memperdulikannya. Dilain sisi, Aldrick hanya tertawa kecil mendengar suara Hallen barusan. Tanpa basa-basi pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal supaya bisa sampai di halte yang dimaksud Hallen. Setelah sampai di halte, Aldrick langsung menuruni mobilnya dan berniat untuk duduk di kursi halte. Tapi niatnya terkurung ketika mendengarkan suara teriakan tidak jauh dari tempatnya. Seorang gadis cantik berlarian dengan cepat disana. Tentunya membuat senyuman pria tersebut melebar. "Om!" Hallen langsung menghempaskan tubuhnya ke tubuh besar milik Aldrick, tanpa memikirkan ada orang yang melihatnya dari sana. Senyuman lembut terukir dibibir Aldrick, tanpa disuruh untuk membalas pelukannya dia sudah membalasnya. Pelukan gadis itu direnggangkan untuk menatap Aldrick. Matanya berkaca-kaca di matanya. "Dari mana saja? Tumben banget nggak balas chat Hallen, biasanya juga cepat balasnya." Aldrick tertawa kecil, dia mengusap lembut rambutnya. "Saya ada kegiatan, maaf kalau bikin kamu kepikiran," kata pria itu sembari mengusap rambut gadis itu lembut. Bibir gadis itu dikecurutkan, lalu melepaskan pelukan dari Aldrick. "Besok lagi, mending kasih kabar saja. Biar Hallen nggak kepikiran lagi. Takutnya nanti Om kenapa-kenapa di jalan." "Baiklah, Hallen. Saya akan member kabar ke kamu 24 jam." Hallen tersenyum malu, dia menundukkan kepalanya sembari memainkan jarinya di bawah sana. "Om? Soal kemarin apa Om benar?" Kening Aldrick seketika mengkerut. "Yang mana?" "Soal hubungan kita," jawab gadis itu dengan malu-malu. Wajah Hallen bersemu merah. Benar-benar, Hallen tidak tau tempat. Pria itu terdiam sejenak. "Soal kita pacaran atau tidak?" "Ya, mana lagi coba?" Tangan Hallen dimainkan di bawah sana. Pertanyaan yang unik, sehingga membuat Aldrick terdiam menatap gadis itu dan menahan tertawanya. Hallen melihat kanan-kiri supaya tidak terlihat salah tingkah dihadapan Aldrick. Aldrick baru paham, kemudian dia tertawa kecil. "Kan sudah saya bilang kemarin kan? Kamu sudah menjadi pacar saya," kekehnya. "Saya serius Om, kalau emang benar. Saya mau ganti kosa kata supaya tidak terlalu formal sama Om." "Kalau itu yang bikin kamu nyaman kenapa tidak?" "Jadi boleh?" "Tentu boleh, siapa juga yang melarang?" jawab Aldrick dengan spontan. Senyuman Hallen melebar. "Ya kan, Om jadi Bos di cafe. Nggak mungkin juga Hallen bicara tidak sopan sama Om. Hallen juga sadar diri," gerutunya. Aldrick ketawa kecil, dia mengusap rambut gadis kecil itu kembali dengan gemas. "Boleh Hallen, bagaimana kita makan di luar sini? Ke kedai eskrim misalnya?" "Eskrim!" Mata Hallen berbinar, lalu menganggukkan kepalanya cepat. Sedetik pula pipinya digembungkan karena rambutnya kini sudah berantakan. Aldrik yang tau wajah gadis itu yang nampak kesal, diapun langsung membenarkan rambut Hallen. "Okey, kali ini saya traktir kamu," kata Aldrick, lalu menuju ke mobilnya dan membukakan pintunya untuk Hallen. "Ayo masuk." "Makasih Om!" Gadis itu mengangguk kecil dan langsung masuk ke dalam mobil pria itu tanpa sungkan sama sekali. Bukannya Aldrick merasa risih, malah dia makin senang karena sudah terbiasa dengannya. Dia langsung berlari ke jok pengemudi dan segera dia menjalankan mobilnya pergi dari tempat tersebut. Di setiap perjalanan Aldrick terus terfokus pada mobilnya, sedangkan Hallen bukannya diam. Malah dia menikmatinya dengan mengambil beberapa foto bahkan Aldrick diajak untuk foto bersama. "Aku post si snap ya Om, bentar nama i********: Om apa?" tanya Hallen sembari fokus dengan ponselnya disana. "Aldrick, double k. Cari saja." "Okey, Hallen tandai." Setelah itu Hallen tidak berbicara lagi. Sedari tadi Aldrick hanya memandangi gadis itu dari spion dan mengulas senyuman dibibirnya. *** Setelah sampai, mereka turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam kedai eskrim. "Mau eskrim rasa apa?" tanya Aldrick sembari melihat menu yang berada disana. Hallen diam tidak menjawab pertanyaan dari Aldrick. Dia terus menatap menunya mencari-cari apa yang diinginkannya. "Yang ini saja, rasa matcha. Sepertinya enak. Gadis itu menunjuk salah satu menu yang berada disana. "Okey, itu saja? Ada makanan. Kali saja kamu lapar?" tawar Aldrick. "Aku pengen eskrim aja Om. Hallen kenyang sekarang," kata Hallen dengan wajah polosnya. "Baiklah. Mbak, eskrim yang matcha ini sama coklat ya. Tambah sama potato chips dua porsi." "Loh kok? Kan aku nggak pesen itu Om." Gadis itu menoleh ke arah Aldrick. Namun pria itu hanya tersenyum. "Biar saya yang menghabiskan kalau kamu tidak mau, kita cari bangku saja." "Mas, bawa nomornya ini ya," suruh karwayan disana dengan menyodorkan sebuah nomor untuk diberikan nanti. "Terimakasih Mbak, kita di atas aja. Supaya bisa meliha toemandangan dari atas," kata pria itu melangkahkan kakinya terlebih dahulu. Hallen terus mengikut Aldrick dari belakang. Sesekali melihat orang-orang yang menikmati makanan disana. Ternyata bukan hanya sepasang kekasih saja yang datang kesini, tapi keluarga juga. "Sini," suruh pria itu setelah menarik salah satu kursi di samping kaca untuk Hallen. Tentunya gadis itu tersenyum lembut dan menduduki kursi tersebut. Setelah itu Aldrick menarik kursinya lagi tepat di hadapan Hallen. "Om?" "Apa?" Kening Aldrick mengkerut menatap Hallen yang nampak melihat ke sekitar cafe. Tentunya pria itu ikut melihat apa yang dilihat oleh gadis tersebut. "Kamu tidak nyaman sama tempat ini?" tanya Aldrick dengan nada berbisik. Hallen menerjapkan matanya, kemudian menatap Aldrick dengan wajah kikuknya dan menggelengkan kepala. "Bu-bukan begitu Om. Aku cuma nggak enak aja, kayaknya orang-orang disini semuanya kaya semua. Seperti Om, tapi Hallen?" "Apaansih, biasa aja. Ini kedai buat semua orang. Kalau tidak ada kamu, tidak ada orang-orang yang beli disini. Mungkin saja kedai tidak akan bisa seramai ini. Bukan hanya orang kaya yang ingin kesini, tapi yang lain juga. Entah kebetulan orang itu punya uang dan ingin beli disini. Dan itu wajar dan tidak ada yang salah," kata pria itu dengan mengedikkan bahunya. Hallen terdiam, mencerna apa yang diucapkan Aldrick barusan. Senyumannya melebar seketika. Ternyata buka baik juga, dia tidak memandang dia siapa dan orang lain siapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD