1— Pernikahan yang Tidak Diinginkan.
Helena bangun lebih awal dari biasanya.
Wanita itu menatap ke arah sofa di sudut kamar, tempat Damien masih tertidur di sana. Seperti biasa, pria itu memilih sofa daripada ranjang yang seharusnya mereka tempati bersama.
Helena hanya menghela napas, kemudian turun dari ranjang.
Seperti biasa, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi.”
Helena menyapa asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu berada di dapur.
“Pagi, Nyonya. Apakah Anda akan membuat sarapan untuk Tuan?” tanyanya.
Helena tersenyum kecil dan mengangguk.
“Iya.”
Wanita itu mulai menyiapkan bahan-bahan makanan. Tidak ada yang istimewa. Dia hanya membuat sarapan sederhana untuk mereka berdua.
Beberapa waktu kemudian, semuanya selesai.
Helena menata hidangan di atas meja makan. Baru saja dia hendak menarik kursi, terdengar langkah kaki dari arah tangga.
Dia menoleh.
Damien sudah turun dengan pakaian rapi. Jasnya telah dikenakan, rambutnya tertata, seolah dia sama sekali tidak berniat menghabiskan waktu di rumah.
Helena tersenyum.
“Kau mau sarapan di rumah atau membawanya ke kantor?” tanyanya.
Damien tidak berhenti.
Langkah pria itu melewati meja makan begitu saja.
“Tidak perlu.”
Hanya dua kata.
Bahkan Damien tidak menoleh sedikit pun pada sarapan yang sudah Helena siapkan.
Senyum Helena perlahan memudar.
Namun, hanya sesaat.
“Baik.”
Dia kembali menatap meja makan, kemudian menarik kursi dan duduk sendirian.
Seperti pagi-pagi sebelumnya.
—
“Davina, ambilkan dokumen laporan minggu lalu,” pinta Helena kepada asisten pribadinya.
“Baik, Nona.”
Seperti hari-hari biasa, Helena kembali menghabiskan waktunya di kantor.
Pekerjaannya tidak pernah sedikit. Sejak pagi, dia sudah memeriksa berbagai laporan, menandatangani dokumen kerja sama, hingga menghadiri beberapa rapat.
Tanpa sadar, waktu makan siang pun terlewat begitu saja.
“Nona.”
Helena yang tengah membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya.
“Tuan Besar menelepon saya. Beliau meminta saya menyampaikan bahwa malam ini ada janji makan malam keluarga.”
Helena terdiam sejenak.
Tatapannya beralih pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Layarnya mati.
Dia memang terbiasa mematikan ponsel ketika sedang benar-benar sibuk. Namun, kali ini kebiasaan itu membuatnya hampir melupakan makan malam bersama keluarganya.
“Oh.”
Helena menutup laporan yang sedang dibacanya.
“Terima kasih, Davina.”
“Sama-sama, Nona.”
Helena mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi sang Ayah.
Baru setelah sambungan tersambung, dia menyadari satu hal.
Hari ini adalah makan malam keluarga.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Helena mulai memikirkan apakah Damien akan datang bersamanya.
[“Nak, kau tidak lupa kalau malam ini ada acara makan malam keluarga, bukan?”]
Helena tersadar dari lamunannya saat mendengar suara sang Ayah dari seberang telepon. Rupanya, sambungan mereka sudah tersambung.
“Ya, Papa. Aku tidak lupa. Aku akan datang—”
Belum sempat Helena menyelesaikan ucapannya, sang Ayah kembali bersuara.
[“Damien sudah datang satu jam yang lalu. Dia bilang kau tidak bisa dihubungi dan mengira kau sudah datang.”]
Helena menggigit bibirnya.
“Aku benar-benar sibuk di kantor, Pa. Mungkin aku akan datang sedikit terlambat.”
Terdengar helaan napas dari seberang sana.
[“Jangan terlalu sibuk. Kau sudah menjadi seorang istri sekarang, Helena.”]
“Baik, Pa.”
Hanya itu yang mampu Helena katakan.
Sambungan telepon berakhir.
Helena menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Tatapannya jatuh pada tumpukan berkas di atas meja.
Dia kembali melihat jam.
Sudah hampir waktunya makan malam.
Helena terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya meraih tasnya.
Sepertinya, hari ini dia memang harus pulang lebih cepat.
Di kediaman keluarga Ruther, suasana ruang makan terasa hangat. Seluruh keluarga sudah berkumpul, kecuali Helena yang masih dalam perjalanan.
“Damien, maaf jika Helena terlalu sibuk dan mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri,” ujar Devon, kepala keluarga Ruther sekaligus Ayah Helena.
Damien menoleh kepada Ayah mertuanya. Pria itu hanya tersenyum kecil.
“Dia dididik terlalu sempurna untuk menjadi seorang pemimpin. Ini salahku karena membuatnya terlihat mengabaikanmu akibat terlalu sibuk dengan perusahaan.”
Damien menggeleng pelan.
“Helena cukup bertanggung jawab, Pa. Papa tidak perlu khawatir.”
Di saat yang sama, Helena baru saja tiba.
Wanita itu sempat berhenti ketika mendengar ucapan Damien dari ambang pintu.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Setidaknya, Damien masih mau membelanya di depan keluarganya.
“Apakah aku terlambat?”
Semua orang menoleh.
Helena segera menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka bergantian. Setelah itu, Hanna langsung bangkit dan memeluknya.
“Kakak tidak terlambat. Masih ada beberapa menit sebelum makan malam dimulai.”
Helena tersenyum.
Dia kemudian mengambil sebuah paper bag yang dibawanya dan menyerahkannya kepada Hanna.
“Ini untukmu.”
Hanna menerimanya dengan wajah bingung.
“Kakak membawakan hadiah untukku lagi?”
Helena mengerutkan kening.
“Lagi?”
Hanna mengangguk.
“Kakak Ipar sudah membawakan hadiah. Katanya itu dari Kakak.”
Helena terdiam.
Tatapannya tanpa sadar beralih kepada Damien.
Barulah dia melihat sebuah buket mawar merah di samping Hanna, lengkap dengan paper bag Pandora yang diberikan Damien.
“Ah...” Helena tersenyum kecil. “Aku lupa kalau aku sudah menitipkannya pada Damien.”
Dia kembali menatap Hanna.
“Tidak masalah. Ini tambahan hadiah untukmu.”
Hanna tersenyum senang.
“Terima kasih, Kak.”
Helena membalas senyum adiknya.
Namun, sesaat kemudian tatapannya kembali jatuh pada bunga mawar merah di samping Hanna.
Entah kenapa, senyum di wajahnya terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.
Makan malam bersama berlangsung hangat. Mereka berbincang santai, sesekali membahas pekerjaan dan perkembangan perusahaan.
Namun, Helena tidak banyak bicara.
Tatapannya masih beberapa kali jatuh pada buket mawar merah yang berada di dekat Hanna.
Di tengah percakapan keluarga, hanya Damien dan Hanna yang terlihat begitu banyak berbicara.
Damien bahkan lebih sering mengajukan pertanyaan.
“Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini, Hanna?”
“Cukup baik. Aku baru saja menyelesaikan beberapa proyek.”
“Benarkah? Proyek yang waktu itu kau ceritakan?”
Hanna mengangguk sambil tersenyum.
“Iya. Ternyata lebih sulit dari yang kukira.”
Percakapan sederhana itu terus berlanjut.
Helena hanya diam memperhatikan.
Entah mengapa, ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya.
Bukan karena Hanna.
Dia tidak pernah menyalahkan adiknya.
Hanya saja, Helena baru menyadari sesuatu yang sederhana.
Senyum Damien yang hangat itu... tidak pernah diberikan kepadanya.
Selama menjadi istrinya, Helena bahkan hampir tidak pernah melihat Damien begitu antusias hanya untuk mendengarkan ceritanya.
Wanita itu menundukkan pandangan, lalu perlahan mengaduk makanannya yang sejak tadi hampir tidak disentuh.
Mungkin...
Dia memang terlalu berharap pada pernikahan ini.
Helena menggeleng kecil ketika pikiran itu kembali terlintas di kepalanya.
'Tidak, tidak... Kenapa aku berpikir sejauh itu?'
Dia menarik napas pelan, lalu kembali menatap makanan di hadapannya.
'Aku hanya perlu sedikit berusaha lagi.'
'Kalau begitu, semuanya akan baik-baik saja.'
Helena kembali tersenyum kecil.
Setidaknya, dia masih percaya bahwa pernikahan mereka belum terlambat untuk diperbaiki.
“Pa, Ma. Aku pulang dulu.”
Setelah makan malam selesai, Helena dan Damien berpamitan untuk pulang. Kedua orang tuanya sebenarnya sudah meminta mereka menginap, tetapi Helena dan Damien menolaknya.
“Helena, kau akan pulang bersama Damien?” tanya Sara, Mama Helena.
Helena menoleh kepada Damien.
Tentu saja dia ingin pulang bersama suaminya. Setidaknya, dia ingin menghabiskan sedikit waktu bersamanya di perjalanan.
Namun, sebelum Helena sempat menjawab, Damien lebih dulu bersuara.
“Helena, maafkan aku. Bukan aku tidak ingin mengantarmu terlebih dahulu. Orang kantor baru saja menghubungiku. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan.”
Helena terdiam.
Dari cara Damien berbicara, dia tahu pria itu memang tidak ingin pulang bersamanya.
Senyumnya Sara dan Devon sedikit luntur.
“Malam-malam seperti ini?” tanya Devon. Nada suaranya terdengar mulai menahan amarah.
“Pa,” sela Helena cepat. “Mungkin perusahaan Damien memang sedang sibuk akhir-akhir ini. Lagipula, aku membawa mobil sendiri. Aku bisa pulang.”
Dia tidak ingin ada pertengkaran yang tidak perlu hanya karena dirinya.
Devon mendengus pelan.
“Kau boleh pergi.”
Damien mengangguk singkat.
“Kalau begitu, saya pergi dulu, Pa, Ma.”
Pria itu kemudian berbalik dan pergi.
Tanpa menoleh sedikit pun kepada Helena.
Helena hanya tersenyum ketika mendapati Ayahnya menatapnya.
Bagaimanapun juga, Devon tahu rumah tangga putrinya tidak sedang baik-baik saja.
“Pulanglah. Berhati-hati di jalan.”
Devon mengelus rambut putrinya dengan lembut. Tatapannya tampak sedikit sendu.
Helena tersenyum.
“Aku pulang dulu. Mama dan Papa juga segeralah beristirahat.”
“Baik. Telepon Papa kalau sudah sampai.”
“Iya, Pa.”
Helena kemudian mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
Kali ini, dia benar-benar pulang sendirian.
—
Saat memarkirkan mobil, Helena dengan jelas melihat mobil Damien yang sudah terparkir di garasi.
“Dia tidak pergi ke perusahaan?”
Gumaman kecil itu lolos dari bibirnya. Namun, Helena tidak terlalu memikirkannya.
Yang penting, Damien ada di rumah.
Helena masuk ke dalam rumah dan mendapati Damien sedang berdiri sambil memegang ponselnya. Pria itu bahkan tidak menyadari kehadirannya.
“Kau tidak jadi pergi ke kantor?”
Damien baru menyadari keberadaan istrinya.
“Tidak.”
Jawabannya singkat.
Helena mengangguk kecil.
Namun, sebelum Damien sempat menyimpan ponselnya, Helena sempat melihat layar tersebut.
Itu adalah foto yang diambil saat makan malam keluarga tadi.
Tatapan Helena berhenti.
Damien sedang memperbesar salah satu bagian foto itu.
Hanna.
Pria itu men-zoom wajah adiknya.
Helena terdiam.
Seketika, semua yang terjadi malam ini kembali terlintas di kepalanya.
Bunga mawar merah.
Hadiah dari Pandora.
Percakapan mereka di meja makan.
Dan senyum Damien yang begitu hangat ketika berbicara dengan Hanna.
Helena menundukkan pandangan.
Ternyata...
Damien tidak sedang memikirkan pekerjaan malam ini.